Kisah Agita dan Seribu Gapura

 Kisah Agita dan Seribu Gapura
Agita Kharissa Ginting, volunteer kurator Festival Gapura Cinta Negeri. (ist)

Jayakarta News – Rasanya, seperti berlebihan ketika bicara tentang cinta tanah air kepada anak sendiri. Tetapi keingintahuanku begitu besar sehingga tidak tahan untuk bertanya dan mendiskusikannya. Apa yang dirasakannya ketika diperhadapkan begitu banyak karya anak bangsa yang masuk dan harus dilihatnya, diceknya dengan berbagai macam kriteria dalam suatu kegiatan “Festival Gapura Cinta Negeri 2019”.

Festival Gapura Cinta Negeri 2019 diselenggarakan dalam rangka  HUT ke-74 Kemerdekaan RI. Puncak acara berlangsung dengan pemberian hadiah dari Presiden Joko Widodo kepada para pemenang di Istana Negara, Senin (2/9/2019). Festival ini merupakan ajang berkompetisi menghias gapura di daerah masing-masing mulai 17 Juli hingga 17 Agustus.

Semua tingkatan masyarakat bisa mengikutinya dengan mengirimkan setidaknya 10 foto  gapura yang dibangun dengan segala hiasannya ke situs panitia. Bertujuan menumbuhkan kembali semangat persatuan dan menumbuhkan sikap nasionalis masyarakat. Ada sekitar 1.793 peserta yang membuat gapura Cinta Negeri dan pemenangnya dipilih melalui proses penjurian dan kurasi.

Dalam proses kurasi tentu dibutuhkan banyak orang dan salah satunya adalah putriku, Agita Kharissa Ginting. Beruntung baginya. Melalui proses melamar, ia diterima sebagai volunteer kurator Festival Gapura Cinta Negeri yang berlangsung di Gedung B Lt 2,  Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (6/8 – 19/8). Pada kurun waktu itulah, sambil mengisi hari libur kuliahnya, Agita melihat begitu banyak karya gapura dari seluruh Indonesia.

Sebutan “anak millenial” yang melekat pada anak-anak di zaman ini, bagiku seolah memberikan kesan bahwa dia dan kaumnya tidak paham lagi akan rasa cinta tanah air. Tapi, ini terpatahkan dengan pernyataannya bahwa dia bangga menjadi warga Indonesia. Begitu banyak karya anak bangsa yang dilihat dan disimaknya dalam kegiatannya sebagai kurator, telah membuatnya semakin mengenal dan menumbuhkan rasa cinta kepada tanah airnya.

Bahkan, yang membuat aku terharu, ia dapat memberikan kesimpulan yang begitu positif bagi bangsanya sendiri. Ia menyatakan kepadaku, bahwa: “Di Indonesia masih banyak warga yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, dan membuat saya sebagai anak muda di Indonesia menjadi semakin terpacu untuk lebih bisa membanggkan nama Indonesia.”  

Sebuah jawaban yang membuat hati “emak-emak” seperti saya, bergetar mendengarnya. Juga bangga. Ternyata “produk millenial” ini, paham  juga bahwa ia harus membanggakan negerinya. Bukan hanya emaknya.

Agita di Istana Negara. (ist)

Bukan hanya itu, lebih melambung tinggi lagi hati ini ketika dia  menyatakan kebanggaannya terhadap karya-karya  yang dilihatnya. Namun, untuk Gapura karya dari Papua sempat membuatnya terharu bukan hanya banggga. “Dari Papua,” katanya ketika ditanyakan karya mana yang membuatnya terharu. “Karena effort yang mereka keluarin juga pasti lebih besar sebab bahan baku di Papua kan, ngga semudah di Jakarta atau kota-kota besar lainnya.”

Mahasiswi Komunikasi Universitas Indonesia ini, tidak pernah menyangka bahwa melalui kegiatannya sebagai kurator dapat juga memberikan pengalaman berharga lainnya yaitu  beracara ke Istana Presiden, Jakarta.  

Acara pertama adalah Upacara Kemerdekaan 17 Agustus di Istana. Upacara bersama Presiden, menyanyikan lagu kebangsaan di Istana, menyaksikan putra-putri bangsa mengibarkan sang saka Merah Putih, “Merinding aku ada di situ dan terharu bisa upacara di Istana.”

Acara kedua yaitu ketika pemberian hadiah dari Presiden kepada pemenang Gapura, Senin (2/9). “Senang bisa ketemu Pak Jokowi. Kayanya nggak ada bedanya lihat Pak Jokowi di TV dan secara langsung. Hanya rasanya saya kagum karena bisa melihat beliau secara langsung di Istana Negara,” ujar Agita  mengisahkan pengalamannya berada di Istana Negara.

Tujuan Festival Gapura Cinta Negeri 2019, setidaknya menurutku, telah tercapai. Menumbuhkan semangat persatuan dan menumbuhkan sikap nasionalis tidak hanya bagi masyakarakat yang  mengikuti kegiatan ini. Tetapi terlebih semangat itu telah tumbuh dalam hati dan pikiran sang kurator, “produk millenial” yang nasionalis. Anakku sendiri.

Rasanya, tidak apa-apa dibilang “lebay” ketika membicarakan semangat persatuan, semangat cinta tanah air dengan anak sendiri. (melva tobing)

Berfoto bersama Presiden Joko Widodo. (ist)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *