Mengisi dan memeriahkan peringatan ulang tahun Kemerdekaan RI ke-77, warga Parung Villa, Parung , Bogor menggelar banyak kegiatan yang menghibur. Salah satunya lomba makan kerupuk kategori bapak-bapak.
Tag: 17-an
Kisah Agita dan Seribu Gapura

Jayakarta News – Rasanya, seperti berlebihan ketika bicara tentang cinta tanah air kepada anak sendiri. Tetapi keingintahuanku begitu besar sehingga tidak tahan untuk bertanya dan mendiskusikannya. Apa yang dirasakannya ketika diperhadapkan begitu banyak karya anak bangsa yang masuk dan harus dilihatnya, diceknya dengan berbagai macam kriteria dalam suatu kegiatan “Festival Gapura Cinta Negeri 2019”.
Festival Gapura Cinta Negeri 2019 diselenggarakan dalam rangka HUT ke-74 Kemerdekaan RI. Puncak acara berlangsung dengan pemberian hadiah dari Presiden Joko Widodo kepada para pemenang di Istana Negara, Senin (2/9/2019). Festival ini merupakan ajang berkompetisi menghias gapura di daerah masing-masing mulai 17 Juli hingga 17 Agustus.
Semua tingkatan masyarakat bisa mengikutinya dengan mengirimkan setidaknya 10 foto gapura yang dibangun dengan segala hiasannya ke situs panitia. Bertujuan menumbuhkan kembali semangat persatuan dan menumbuhkan sikap nasionalis masyarakat. Ada sekitar 1.793 peserta yang membuat gapura Cinta Negeri dan pemenangnya dipilih melalui proses penjurian dan kurasi.
Dalam proses kurasi tentu dibutuhkan banyak orang dan salah satunya adalah putriku, Agita Kharissa Ginting. Beruntung baginya. Melalui proses melamar, ia diterima sebagai volunteer kurator Festival Gapura Cinta Negeri yang berlangsung di Gedung B Lt 2, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (6/8 – 19/8). Pada kurun waktu itulah, sambil mengisi hari libur kuliahnya, Agita melihat begitu banyak karya gapura dari seluruh Indonesia.
Sebutan “anak millenial” yang melekat pada anak-anak di zaman ini, bagiku seolah memberikan kesan bahwa dia dan kaumnya tidak paham lagi akan rasa cinta tanah air. Tapi, ini terpatahkan dengan pernyataannya bahwa dia bangga menjadi warga Indonesia. Begitu banyak karya anak bangsa yang dilihat dan disimaknya dalam kegiatannya sebagai kurator, telah membuatnya semakin mengenal dan menumbuhkan rasa cinta kepada tanah airnya.
Bahkan, yang membuat aku terharu, ia dapat memberikan kesimpulan yang begitu positif bagi bangsanya sendiri. Ia menyatakan kepadaku, bahwa: “Di Indonesia masih banyak warga yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, dan membuat saya sebagai anak muda di Indonesia menjadi semakin terpacu untuk lebih bisa membanggkan nama Indonesia.”
Sebuah jawaban yang membuat hati “emak-emak” seperti saya, bergetar mendengarnya. Juga bangga. Ternyata “produk millenial” ini, paham juga bahwa ia harus membanggakan negerinya. Bukan hanya emaknya.

Bukan hanya itu, lebih melambung tinggi lagi hati ini ketika dia menyatakan kebanggaannya terhadap karya-karya yang dilihatnya. Namun, untuk Gapura karya dari Papua sempat membuatnya terharu bukan hanya banggga. “Dari Papua,” katanya ketika ditanyakan karya mana yang membuatnya terharu. “Karena effort yang mereka keluarin juga pasti lebih besar sebab bahan baku di Papua kan, ngga semudah di Jakarta atau kota-kota besar lainnya.”
Mahasiswi Komunikasi Universitas Indonesia ini, tidak pernah menyangka bahwa melalui kegiatannya sebagai kurator dapat juga memberikan pengalaman berharga lainnya yaitu beracara ke Istana Presiden, Jakarta.
Acara pertama adalah Upacara Kemerdekaan 17 Agustus di Istana. Upacara bersama Presiden, menyanyikan lagu kebangsaan di Istana, menyaksikan putra-putri bangsa mengibarkan sang saka Merah Putih, “Merinding aku ada di situ dan terharu bisa upacara di Istana.”
Acara kedua yaitu ketika pemberian hadiah dari Presiden kepada pemenang Gapura, Senin (2/9). “Senang bisa ketemu Pak Jokowi. Kayanya nggak ada bedanya lihat Pak Jokowi di TV dan secara langsung. Hanya rasanya saya kagum karena bisa melihat beliau secara langsung di Istana Negara,” ujar Agita mengisahkan pengalamannya berada di Istana Negara.
Tujuan Festival Gapura Cinta Negeri 2019, setidaknya menurutku, telah tercapai. Menumbuhkan semangat persatuan dan menumbuhkan sikap nasionalis tidak hanya bagi masyakarakat yang mengikuti kegiatan ini. Tetapi terlebih semangat itu telah tumbuh dalam hati dan pikiran sang kurator, “produk millenial” yang nasionalis. Anakku sendiri.
Rasanya, tidak apa-apa dibilang “lebay” ketika membicarakan semangat persatuan, semangat cinta tanah air dengan anak sendiri. (melva tobing)

Gelar Pawai Budaya Desa Pakijangan

KARNAVAL, acap digelar dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selain upacara pengibaran bendera. Pelaksanaan karnaval tidak selalu tepat pada 17 Agustus. Selama masih bulan Agustus kegiatan menyemarakkan “Agustusan” terus dilakukan masyarakat di pelbagai kota maupun di kecamatan hingga desa-desa. Salah satunya Desa Pakijangan.
Desa kecil di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, ini benar-benar unjuk kreativitas dalam memeriahkan HUT RI ke-73 akhir Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung, desa berpenduduk sekitar 4.600 jiwa ini menggelar karnaval yang lebih pas disebut Pawai Budaya karena muatan seni yang diusungnya. Pesertanya warga setempat sebanyak lebih seribu orang yang terbagi dalam 23 kontingen/kelompok.
Masing-masing kelompok mengenakan kostum beragam. Mulai pakaian adat, busana raja, mahapatih, pasukan kerajaan, uniform bermacam profesi seperti tentara, atlet hingga kostum-kostum aneh hasil kreasi anak-anak muda kampung Pakijangan. Sang Kepala Desa Pakijangan, Suprapto, juga terlibat di dalamnya ikut pawai dengan menunggang kuda mengenakan seragam dinas putih-putih yang biasa dikenakan aparat saat momen penting, sementara istrinya, Atik Suprapto berhias seperti ratu atau putri raja.

Masyarakat Kecamatan Wonorejo sangat antusias menyaksikan pawai budaya ini. Daya magnitnya adalah penampilan kostum peserta dengan riasan wajah yang cukup berkarakter. “Kreativitas anak-anak muda di sini sangat bagus. Saya hanya memotivasi,“ kata Suprapto. Kaiikutsertaannya di barisan peserta, aku pak kades ini, biar warganya tambah semangat.
Karnaval Agustusan biasanya diselenggarakan pihak kecamatan, namun belakangan kegiatan ini jarang ditampilkan. Karena itu warga Pakijangan mengadakan Pawai Budaya sendiri untuk memeriahkan Agustusan. “Peringatan Hari Kemerdekaan Ini kan untuk mengenang nilai-nilai dan semangat kepahlawanan pejuang kemerdekaan,“ tambah Suprapto.
Meski hanya tingkat desa, namun Pawai Budaya ini mengingatkan orang pada Jember Festival yang sudah mengglobal dan menjadi agenda pariwisata nasional. Inspirasi Jember Festival tentu sah-sah saja, namun Pawai Budaya semarak yang ditampilkan warga Desa Pakijangan membuat penonton angkat topi.
Ternyata tak hanya show budaya yang membuat desa ini beda. Pakijangan dikenal pula kebersihannya. Selain jalan lingkungan beraspal atau mapping blok untuk gang-gang dan lorong-lorong yang tertata rapi, sungai maupun saluran air di desa ini juga bersih.
Menurut Suprapto, di desanya juga terdapat dua koperasi yaitu koperasi khusus wanita dan koperasi syariah, serta beberapa kelompok usaha bersama. Pembangunan infrastruktur desa berkat kucuran Dana Desa yang merupakan program nasional dalam memajukan desa, diakui Kades Pakijangan dua periode ini sangat membantu percepatan pembangunan desanya.
Ia dan segenap perangkat desa bertekad dapat memanfaatkan dana desa dengan baik dan tepat. Setelah pembangunan infrastruktur tertata, ke depan fokus kegiatan desa akan lebih menggerakkan sektor perekonomian, di antaranya dengan meningkatkan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi warga desa. (isw)

Tujuhbelasan di Kelapa Dua

Hajat nasional, Peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus dirayakan dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas ke Pulau Rote. Tak terkecuali di Kelurahan Kelapa Dua, Kebon Jeruk – Jakarta Barat, tepatnya di Jl Sasak II, RT 05/02.
Hadir Lurah Kepala Dua, H. Saiful Tarma S.Sos, M.Si, ketua penyelenggara Jiung Kurniawan, coordinator Nurkomariah, Aswadi, serta masyarakat tanpa kecuali. Suasana benar-benar meriah dengan aneka bendara dan hiasan bernuansa merah-putih.
Aneka lomba pun diselenggarakan, seperti lomba bendera, makan kerupuk, lari kelereng, memasukkan pensil ke botol, dan tarik tambang. Riuh-rendah suara para suporter, dan gelak tawa tak henti-henti melihat kelucuan tingkah para peserta.
Lurah Saiful Farma menyambut baik inisiiatif masyarakat merayakan HUT Kemerdekaan RI. Dengan kegiatan itu, diharapkan rasa nasionalisme serta rasa bangga terhadap NKRI terus dipupuk dari generasi turun ke generasi. (ritha)
