Respon Bendera Lusuh dan Compang-camping, FPK Ganti Bendera Baru

PASURUAN, JAYAKARTA NEWS – Unggahan di Media Sosial Facebook terkait kondisi bendera Merah-putih di Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Pandaan yang terlihat kusut dan compang-camping terkibar di tiang bendera, direspon cepat oleh seniman dan budayawan Pasuruan dengan segera mengganti bendera yang baru.

Lukas Cahyabuana, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan (DKKP) bersama Ketua Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Pasuruan hari ini, 7 Juni 2023 mengganti bendera tersebut bersama dengan seniman lainnya.

Bendera Merah-Putih di Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Pandaan yang terlihat kusut dan compang-camping/foto: istimewa

Kepada wartawan Lukas menyebutkan, pihaknya merasa trenyuh dengan kondisi bendera di kantor para pejuang dan purnawirawan yang kondisinya sangat memprihatinkan, dan ini merupakan wujud kecintaan kepada NKRI berikut simbol-simbol kebangsaannya.

Sejauh pengamatan Lukas, tidak tergantinya bendera tersebut, mungkin yang beraktivitas di tempat tersebut rata-rata berusia sepuh.

“Mungkin yang beraktivitas di sini para bapak purnawirawan yang sudah sepuh, kami ganti bendera ini sebagai wujud kecintaan kami para seniman kepada NKRI” ujarnya.

Di tempat yang sama, Agung Setiyono, ketua FPK Pasuruan menambahkan, jika urusan nasionalis, simbol-simbol negara termasuk bendera adalah tanggungjawab semua komponen bangsa, termasuk seniman dan budayawan.

Untuk itu pihaknya langsung merespon ketika tahu jika unggahan tersebut obyeknya ada di Pasuruan.

“Ini tindakan sederhana sebagai bentuk cinta kami kepada nusa dan bangsa” tuturnya. (Dian)

Bipang Jangkar Pasuruan Halal dan Melegenda

JAYAKARTA NEWS—–Nama “Bipang” tiba-tiba menjadi viral di medsos usai sambutan Presiden Jokowi yang menyebut makanan tersebut pada suatu acara. Tapi Bipang yang sedang didatangi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini lain dengan Bipang yang lain.

Usai meninjau Pasar Besar di Kota Pasuruan, Khofifah bersama Walikota Pasuruan Gus Ipul berkesempatan meninjau dan memamerkan produk lokal Bipang Jangkar yang di Showroomnya juga menjual aneka produk-produk lokal khas asli Kota Pasuruan yang telah melegenda.

Menariknya, Bipang Jangkar khas Pasuruan ini telah berproduksi dan melayani pelanggannya selama 72 tahun. Untuk melihat produksi yang dihasilkan, orang nomor satu di Jatim itu melihat secara dekat produksi Bipang Jangkar di Jl. Lombok No. 36 Trajeng, Pangunggrejo, Kota Pasuruan, Minggu (9/5/2021).

Setelah berbelanja dan memborong oleh-oleh Bipang Jangkar, dihadapan awak media, Gubernur Khofifah menyampaikan, bahwa Bipang Jangkar merupakan produk halal yang melegenda.

Bahkan di setiap pengajian yang dikunjungi hampir selalu ditemukan produk Bipang Jangkar, dimana bahan baku utamanya berasal dari beras yang diolah. Hal ini menunjukkan bahwa produk Bipang Jangkar adalah produk yang halal untuk dikonsumsi.

“Kunjungan saya ke Bipang Jangkar ini sekaligus memastikan bahwa Bipang Jangkar berbeda dengan yang sedang viral yang berbahan baku tidak halal. Jadi saya ingin menyampaikan kepada semua pihak, bahwa Bipang Jangkar Produksi Pasuruan sudah berusia 72 tahun dan halal,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah didampingi Walikota Pasuruan Saifullah Yusuf bersama Plh. Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono menyatakan, bahwa menjelang lebaran seperti ini biasanya permintaan meningkat. Baik untuk oleh-oleh maupun sajian di rumah. Oleh karena itu untuk memastikan bahwa Bipang di sini halal agar tidak ada kekhawatiran bagi pembelinya

“Banyak produk-produk Bipang Jangkar ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan aneka olahan rasa serta dikemas secara menarik. Sekali lagi masyarakat jangan khawatir, produk Bipang ini sudah 72 tahun dan halal serta banyak yang sangat suka menikmatinya,” tegasnya.

Bipang Jangkar sendiri, dirintis sejak 1940 oleh Kwee Pwee Bhook. Jajanan ini sudah terkenal di kalangan pelaut yang singgah di Pelabuhan Pasuruan untuk dijadikan oleh-oleh. Berpusat di Jalan Lombok dekat pelabuhan Kota Pasuruan, jajanan yang terbuat dari beras dan berasa manis itu pun sangat digemari masyarakat Jawa Timur.

Selain bisa memilih Bipang aneka rasa, di toko tersebut juga bisa melihat langsung pembuatan Bipang hingga roti yang diproduksi. Sehingga menjadi sensasi tersediri dan percaya akan kualitasnya oleh penikmat. “Pembeli akan tahu sendiri bahan dan alat yang digunakan cukup higenis,” tuturnya.

Setiap harinya, Bipang Jangkar mampu menjual produk dan omset sekitar Rp10-20 juta per hari. Jumlah itu akan meningkat pesat di hari libur maupun akhir pekan. Tak hanya itu, Bipang Jangkar Pasuruan juga mampu melayani pemesan secara online.(poedji)

Tanggul Jebol di Pasuruan Disiapkan Skema Relokasi dan Rekonstruksi

JAYAKARTA NEWS— Bencana Alam banjir menerjang Kabupaten Pasuruan. Banjir di Pasuruan ini terjadi setelah Sungai Kedunglarangan dan Sungai Kabeng Pulungan meluap setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu (3/2).

Untuk melihat perkembangan musibah itu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Kabupaten Pasuruan HM Irsyad Yusuf, Kadis Cipta Karya yang juga Plt. Dinas Sumber daya air, Plt.Kalaksa BPBD Jatim Yanuar Rachmadi meninjau lokasi jembatan yang jebol di Dusun Ngerong Desa Ngerong dan tanggul di Desa Kepulungan Kec. Gempol Kab. Pasuruan.

Banjir tersebut melanda 4 Kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Diantarnya Kec. Gempol, Desa Kalirejo, Desa Tambakan, Desa Kalianyar Desa Manarui Desa Masangan di Kecamatan Bangil, Desa Kedungringin, Desa Kedungboto di Kecamatan Beji dan Desa Tambakrejo Kecamatan Kraton dengan rata-rata Ketinggian air mencapai 20-30 cm.

Banjir yang terjadi disinyalir akibat meluapnya Sungai Kedunglarangan dan Sungai Kabeng Pulungan ini telah mengakibatkan 2 orang meninggal dunia, 6 rumah hanyut, 40 jiwa mengungsi dan 8 rumah mengalami rusak berat dan 31 rumah mengalami rusak ringan.

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Khofifah menyiapkan skema relokasi sementara warga sekitar agar memperoleh hunian sementara dan rekonstruksi untuk menyambungkan kembali jembatan yang putus di dusun Ngerong Desa Ngerong Kec. Gempol.

“Setiap ada bencana alam, ada proses tanggap darurat, ada proses recovery, ada proses rekonstruksi,” Kata Gubernur Khofifah seusai meninjau daerah terdampak banjir di Kab.Pasuruan, Jumat (5/2) pagi.

Proses rekonstruksi sangat dibutuhkan untuk dapat menghubungkan kembali jembatan yang putus. Jembatan tersebut merupakan akses yang menghubungkan Dusun Ngerong dan dusun Payaman di Desa Ngerong.

“Sesungguhnya pemerintah sedang menyiapkan format untuk anggaran-anggaran yang terkait dengan infrastruktur dengan format skema SMI. Tetapi tanggul, jembatan dan sedimentasi sungai banyak yang harus diperbaiki sehingga Pemprov harus menyiapkan skala priotas dari yang prioritas,”ungkapnya.

Lebih lanjut Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa untuk percepatan proses ini dirinya telah mengkomunikasikan dengan Kepala Dinas Perhubungan Jatim yang juga Plt. Kepala Dinas PU Bina Marga. Ia menjelaskan bahwa untuk proses rekonstruksi ini memerlukan waktu paling cepat 2 bulan untuk Detail Engineering Design(DED).

“Ini td saya komunikasikan kalau DEDnya bisa 2 bulan mungkin tahun ini masih bisa dapat skema SMI untuk infrastruktur dengan grass period 2 tahun dan prpses mencicil 10 tahun bagi daerah itu sangat dimungkinkan jadi kira-kira begitu. Mengingat APBD tahun 2021 sudah jalan,”jelas Gubernur Khofifah.

Gubernur Khofifah juga menyiapkan skema relokasi sementara untuk penanganan jangka pendek agar masyarakat yang rumahnya hanyut dan rusak berat dalat hunian layak. Karena diketahui daerah tersebut telah mangalami penurunan tanah sejak tejadi peristiwa lumpur Lapindo sehingga menjadi langganan banjir. Hingga saat ini penurunan tanah yang terjadi di sana diperkirakan lebih dari dua meter.

“Kemudian menyiapkan format relokasi untuk menyiapkan hunian yang lebih layak bagi warga,” imbuhnya.

Selain itu, Gubernur Khofifah juga menyarankan kepada Bupati Pamekasan untuk melakukan recovery psikologi bagi masyarakat. Karena menurutnya melihat dampak yang ditimbulkan pastilah berdampak pada psikologi masyarakat. Oleh sebab itu, dirinya menilai penting untuk dillakukan recovery psikologi.

“Proses recovery kita akan koordinasi dengan pak bupati, ada mungkin psikological recovery itu penting karena mungkin ada trauma-trauma yang dialami oleh warga,”

Untuk mendukung recovery psikologi ini, Gubernur Khofifah mengajak untuk melibatkan tokoh-tokoh masyarakat di Kabupaten Pasuruan untuk terlibat didalamnya.

“Kalau di sini saya rasa tokoh lokal mungkin biasanya efektif” pungkasnya.(poedji)

Gelar Pawai Budaya Desa Pakijangan

Karnaval warga Desa Pakijangan, Kecamatan Wonorejo, Pasuruan, Jawa Timur memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan, akhir Agustus lalu. Foto: Iswati

KARNAVAL, acap digelar dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selain upacara pengibaran bendera. Pelaksanaan karnaval tidak selalu tepat pada 17 Agustus. Selama masih bulan Agustus kegiatan menyemarakkan “Agustusan” terus dilakukan masyarakat di pelbagai kota maupun di kecamatan hingga desa-desa. Salah satunya Desa  Pakijangan.

Desa kecil di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, ini benar-benar unjuk kreativitas dalam memeriahkan HUT RI ke-73 akhir Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung, desa berpenduduk sekitar 4.600 jiwa ini menggelar karnaval yang lebih pas disebut Pawai Budaya karena muatan seni yang diusungnya. Pesertanya warga setempat sebanyak lebih seribu orang yang terbagi dalam 23 kontingen/kelompok.

Masing-masing kelompok mengenakan kostum beragam. Mulai pakaian adat,  busana raja, mahapatih, pasukan kerajaan, uniform bermacam profesi seperti tentara, atlet hingga kostum-kostum aneh hasil kreasi anak-anak muda kampung Pakijangan. Sang Kepala Desa Pakijangan, Suprapto, juga terlibat di dalamnya ikut pawai dengan menunggang kuda mengenakan seragam dinas putih-putih yang biasa dikenakan aparat saat momen penting, sementara istrinya, Atik Suprapto berhias seperti ratu atau putri raja.

Kepala Desa Pakijangan, Suprapto dan istri ikut memeriahkan karnaval dengan menaiki kuda. Foto: Iswati

Masyarakat Kecamatan Wonorejo sangat antusias menyaksikan pawai budaya ini. Daya magnitnya adalah penampilan kostum peserta dengan riasan wajah yang cukup berkarakter. “Kreativitas anak-anak muda di sini sangat bagus. Saya hanya memotivasi,“ kata Suprapto. Kaiikutsertaannya di barisan peserta, aku pak kades ini, biar warganya tambah semangat.

Karnaval Agustusan biasanya diselenggarakan pihak kecamatan, namun belakangan kegiatan ini jarang ditampilkan. Karena itu warga Pakijangan mengadakan Pawai Budaya sendiri untuk memeriahkan Agustusan. “Peringatan Hari Kemerdekaan Ini kan untuk mengenang nilai-nilai dan semangat kepahlawanan pejuang kemerdekaan,“ tambah Suprapto.

Meski hanya tingkat desa, namun Pawai Budaya ini mengingatkan orang pada Jember Festival yang sudah mengglobal dan menjadi agenda pariwisata nasional. Inspirasi Jember Festival tentu sah-sah saja, namun Pawai Budaya semarak yang ditampilkan warga Desa Pakijangan membuat penonton angkat topi.

Ternyata tak hanya show budaya yang membuat desa ini beda. Pakijangan dikenal pula kebersihannya. Selain jalan lingkungan beraspal atau mapping blok untuk gang-gang dan lorong-lorong yang tertata rapi, sungai maupun saluran air di desa ini juga bersih.

Menurut Suprapto, di desanya juga terdapat dua koperasi yaitu koperasi khusus wanita dan koperasi syariah, serta beberapa kelompok usaha bersama. Pembangunan infrastruktur desa berkat kucuran Dana Desa yang merupakan program nasional dalam memajukan desa, diakui Kades Pakijangan dua  periode ini sangat membantu percepatan pembangunan desanya.

Ia dan segenap perangkat desa bertekad dapat memanfaatkan dana desa dengan baik dan tepat. Setelah pembangunan infrastruktur tertata, ke depan fokus kegiatan desa akan lebih menggerakkan sektor perekonomian, di antaranya dengan meningkatkan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi  warga desa. (isw)

Festival Jember pun menjadi inspirasi warga Desa Pakijangan dalam memeriahkan momen Agustusan. Foto : Iswati