Kolom
Keheningan Candi Tebing Tegallinggah
Gde Mahesa
Salah satu cagar budaya Pulau Dewata yang terletak di Desa Tegallinggah, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, penulis sepertinya merasa rindu pada tempat ini.
Penelitian arkeologi menyebutkan bahwa candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-12 Masehi atau tepatnya pada masa Kerajaan Bedahulu atau Bedulu, konon dibangun oleh Mpu Kuturan, seorang pendeta Hindu yang menyebarkan agama Hindu di Bali.
Keunikan candi ini adalah dibangun di atas tebing batu kapur yang menjulang tinggi, dan pertama kali ditemukan oleh Krijsman, seorang ahli purbakala Belanda.
Candi ini mempunyai ceruk-ceruk yang bisa digunakan untuk bersemedi pada zamannya dan terdapat 3 lingga yang melambangkan sosok Dewa Tri Murti.

Bangunan candi yang terbuat dari batu andesit dan memiliki arsitektur khas Bali dengan perpaduan unsur Hindu-Budha, yang mana terdiri dari tiga teras yang saling terhubung dengan tangga.
Teras pertama menjadi tempat untuk sembahyang. Di sini terdapat beberapa arca yang menggambarkan dewa dan dewi dalam kepercayaan Hindu, seperti arca Ganesha, arca Dewi Durga, dan arca Nandiswara.
Teras kedua menjadi tempat untuk melukat, karena terdapat dan beberapa pancuran air yg keluar dari tebing. Kolam ini dipercaya memiliki khasiat untuk membersihkan diri dari energi negatif.
Pada teras ketiga, akan nampak pemandangan sekitar Candi Tebing Tegallinggah yang terbelah sungai Pakerisan.
Kembali pada perjalanan penulis, yang harus hati-hati menuruni jalan berundak dan berlumut, suasana hutan sangat terasa dengan suara air sungai Pakerisan. Sengaja penulis langsung menuju kolam kecil yang airnya keluar dari sela2 bebatuan, untuk bisa langsung ke ceruk candi, namun sayang diareal tersebut telah rimbun tertutup pepohonan, dan jembatan yang menghubungkanpun telah lapuk, tentunya sangat membahayakan bagi yang melintas.
Terlepas dari situasi dan keadaan tempat yang saat ini termasuk kurang terawat, bagi penulis Candi Tebing Tegallinggah tak mengurangi rasa yang paling dalam untuk menengok, tempat ini memang “magnet lingsir” luar biasa.

Boleh dibilang tidak banyak orang yang betah berlama-lama berada di tempat tersebut. Jika kuat dan betah bisa diartikan frekuensinya telah bisa menyatu.
Catatan yg menarik adalah, bahwa orang taunya candi ini sebenarnya, belum selesai dibuat. Tetapi di balik hal tersebut konon tempat ini adalah “Pertapaan walaupun Setengah Jadi” tetapi menjadi “simbol manusia”.
Jika Candi lain sudah megah, Tegallinggah sengaja “belum selesai” karena gempa.
Sungai Pakerisan ibarat “venanya Bali”. Semua pura besar Tirta Empul, Gunung Kawi, Tegallinggah berada di bantaran aliran sungai. Air yang mengalir dari utara ke selatan seakan mengalirkan karma, tentunya jika melukat di sungai ini, maka tak heran jika raga akan terasa diselaraskan dengan nafas Bali, sebab bagi penulis air tersebut bukanlah seperti air biasa, tetapi “air penglukatan” yang telah mengalir lebih dari 1000 tahun.
3 Lingga di Tebing = Tri Murti yang Diam
Brahma-Wisnu-Siwa, dipahat di tebing menghadap sungai, bermakna Tuhan tidaklah di atas, tetapi di tebing, di batu, di air, walaupun saat ini tertutup semak2 liar.
Mitologi Kenapa Ditinggal saat Gempa
Versi lontar dan cerita panglingsir Bedahulu :
Konon Resi Markandeya membelah Pakerisan memakai tongkat agar Bali tidak terkena musibah banjir. Tegallinggah adalah titik “palu”-nya. Maka tebing pun terbelah. Gempa yang menghancurkan sebenarnya Hyang Maha Dayalah yang “membelah” agar air kehidupan mengalir, sehingga bencana menjadi rahmat.
Tanpa terasa dikeheningan tebing seperti ada bisikan ditelinga :
“deras meluncur tanpa batas, meninggalkan swara disetiap sisi kanan kiri tebing, dedaunan seperti malu, satwa menjadi penunggu “
Sesaat penulis larut dalam sepi, dan berusaha menterjemahkan bisikan alam dengan rasa dan terkandung arti :
“deras meluncur tanpa batas” bisa berarti dewa Wisnu, air yang tak punya lelah dan keluh, mengalirkan kehidupan yang lebih dari 1000 taun. Dimana mengajarkan tentang “Madhyama yang mengalir, tanpa membebani dan tiada berhenti “.
“Meninggalkan swara disetiap sisi kiri kanan tebing” ibarat Brahma. Sebagai kehendak yang tidak kelihatan, tetapi meninggalkan jejak pada setiap ceruk ditebing sebagai pertapaan.
“Dedaunan seperti malu” bagai Siwa, yang lembut, pemalu, tetapi selalu menjaga. Dedaunan malu sebab merasa belum “nyawiji” dengan Sang Pemilik Kehidupan.
“Satwa menjadi penunggu” sebagai tempat pertapaan seutuhnya, semua satwa bak menjadi murid Resi Markandeya, sebagai penunggu yang setia, tanpa pamrih menjaga keheningan.
Suasana mistis, sakral namun sayang, saat kunjungan penulis situs ceruk goa tertutupi rumput liar dan jembatan penghubung telah rapuh. Penulis hanya bisa bergumam “Darurat purbakala”.
Bullllll….. bullllll… klepussss
