Kolom
Disertasi dalam Kemasan dan Dunia Ilmu
Seno Gumira Ajidarma *)
***
Penerbitan hasil penelitian ilmiah adalah bagian yang ikut menentukan perkembangan ilmu dan pengetahuan umum, sedangkan kemasannya dapat menjadi pencapaian terpisah. Seperti terjadi dengan disertasi St. Sunardi, Saga dari Bengawan Nil.
***
Terbitnya Saga dari Bengawan Nil (586 hal) yang merupakan disertasi St. Sunardi, akan saya tanggapi dari dua sisi secara tak terlalu lazim, yakni tanggapan bukan atas isinya.
Buku memang memiliki dua pengertian, sebagai ide: dalam hal ini isi buku, yang akan termaktub dari judulnya, seperti buku ini, yang bersub-judul Ekstase Lahirnya Masyarakat Mesir Modern dalam karya Najīb Mahfūz; dan buku sebagai benda, yang pengertian teknisnya adalah kemasan.

Semenjak buku dapat beralih format menjadi digital, dan disebut buku-elektronik (e-book), bahkan dibuat langsung sebagai buku elektronik, tanpa versi kertas, terlacak usaha keras melawannya melalui kemasan: bahwa kemasannya sebagai benda buku mempunyai kualifikasi mandiri, yang dapat dinilai terpisah dari isi buku itu sendiri.
Dalam hal Saga dari Bengawan Nil, sebagian dari proses produksi kemasan itu bahkan perlu diperlihatkan, menjadikannya tamasya proses kreatif perjalanan gagasan, bahwa apa yang barangkali tampak sebagai kemewahan, terkurasi dari material yang sudah diabaikan dan akan ditinggalkan. Alih-alih terbuang, segenap material tergunakan bernilai langka, dan di sanalah kemewahan itu mendapatkan makna.

kemasan Saga dari Sungai Nil
Mulai dari stok kertas pilihannya yang menipis, mesin cetak tindas manual (hand press), berkombinasi dengan mesin satu warna djadoel, dan embossed cetak timbul pada sampul, sampai jilid jahit semi handmade, terhubungkan dengan pencapaian efek artistik yang memang menjadi tujuannya.
Buku, sebagai benda—kali ini benda artistik—mendapatkan harga jualnya lebih dalam konteks penghargaan pembeli kepada kolaborasi perancang, daripada sekadar perhitungan untung-rugi dari harga beli dan harga jual.
Ini merupakan bagian dari gejala kebudayaan, yang tumbuh sebagai perlawanan terhadap gelombang digitalisasi, bukan karena digitalisasi itu buruk, melainkan karena pemberagaman akan selalu muncul sebagai perlawanan terhadap dominasi penyeragaman.
Namun bagaimanakah kualifikasi mandiri terpisah itu menjadi relevan dengan yang dikemasnya?
***
Perbincangan tidak akan berlanjut dengan hubungan bentuk dan isi, karena saya sudah menjanjikan untuk tidak membahas isinya—meski dapat saya katakan betapa “hieroglif” Ugo Untoro pada sampulnya sungguh menampung gagasan “saga masyarakat Mesir modern”—tetapi jika bukan isinya, lantas apa?
Memang tentang disertasi, tapi hanya disertasi dalam status disertasi, bukan tentang Saga dari Bengawan Nil yang merupakan kajian atas gubahan penulis susastra Mesir bernama Najīb Mahfūz (1911-2006).
Disertasi St. Sunardi ini diselesaikan tahun 2000, dan meluluskannya dari Jurusan Sastra Arab di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies, Roma. Artinya, ditulis dengan bahasa Inggris, tetapi dengan penguasaan bahasa Arab, untuk terbit tahun 2025 sebagai terjemahan Landung Simatupang ke bahasa Indonesia.
Disertasi terhubungkan dengan gelar Doktor. Tanpa membuat disertasi, yang diandaikan melakukan inovasi dalam bidang ilmu tertentu, dan lulus dalam peng-ujian-nya, seseorang tidak berhak menyandang gelar tersebut. Setelah lulus pun, disertasinya diandaikan dapat diakses siapa pun, karena temuannya mesti dapat dirujuk demi pengembangan ilmu. Demi ilmu mau pun pengetahuan khalayak, disertasi kemudian diterbitkan.

(negara); disertasi Martin Suryajaya (815 hal) diterbitkan Gang Kabel (independen).
Penerbitan disertasi dilakukan lembaga ilmiah, negeri maupun independen, non-komersial maupun komersial, demi satu tujuan lazim: kemajuan dunia ilmiah dan perkembangan pengetahuan umum. Dunia ilmiah akan melibatkannya ke dalam wacana ilmiah, khalayak mendapat konsumsi bacaan bergizi, yang akan meningkatkan daya kritis terhadap manipulasi canggih tingkat tinggi dalam bidang apa pun.

Bukan hanya disertasi tentu, yang terwajibkan berkontribusi sebagai pertanggungjawaban etis, atas peluang dan fasilitas sosial budaya yang telah didapatkan dan dinikmatinya, melainkan juga skripsi S1 dan tesis S2, apalagi jika atas nama kualitasnya: skripsi bidang hukum Marsillam Simanjuntak yang mempersoalkan unsur Hegelian dalam pandangan negara integralistik dipuja-puji Daniel Dhakidae berkelas disertasi S3 (yang bagus), dan bukankah tesis master bidang sejarah Soemarsaid Moertono tentang kekuasaan Jawa, tepatnya Mataram Baru, menjadi rujukan dunia ilmiah internasional sampai hari ini? Sementara disertasi Arief Budiman tentang kudeta di Chile laris manis di pasar gelap sebagai buku bajakan.
Di Indonesia terdapat ribuan, jika bukan puluhan ribu manusia bergelar Doktor, karena perguruan tinggi masa kini memang seperti peternakan atawa pabrik sarjana, yang lebih peduli “target lulusan” daripada temuan ilmiah (ini pun terdengar “asing”). Namun disertasi yang berkontribusi sosial-ilmiah (yakni diterbitkan) tersila dihitung persentasenya.

Bukan hasil riset, tetapi perkenankanlah saya bermain-main dengan kategorisasi, tentang mengapa para sarjana tidak (boro-boro berjuang) menerbitkan skripsi, tesis, maupun disertasinya: (1) malu, karena kualitas ilmiah yang semenjana—tapi tidak malu lulus; (2) rendah hati, walau kualitas ilmiah lebih dari memenuhi syarat; (3) abai, tidak peduli, bahkan mungkin lupa, yang ketiganya—bersama No. 2—tetap menjadi masalah etika sosial; (4) hati-hati, atas nama metode, atau pun karena isyu yang bisa kontroversial, seperti dilema agama maupun peluang kloning manusia; (5) tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkannya, sedangkan untuk menerbitkan sendiri—walau secara digital—“tidak ada anggaran”.
***
Kategori terakhir itu mengembalikan dan menyambung kembali topik catatan ini: bahwa keberadaan publikasi ilmiah oleh penerbit menjadi bagian yang ikut—untuk tidak disebut sangat—menentukan pengembangan ilmu dan pengetahuan umum.
Bukankah Edmund Husserl (1859-1938), dalam pengisahan Heidegger, begitu bersyukur dan kagum terhadap Max Niemeyer, penerbit yang “telah memberanikan diri untuk menerbitkan suatu karya besar dari seorang dosen yang hampir tidak dikenal, yang menempuh jalan-jalan pemikiran yang tidak biasa dan karena itu tidak boleh tidak harus menimbulkan keheranan dunia filsafat waktu itu”.
Menurut Heidegger, “Penerbit pada waktu itu belum dapat mengetahui bahwa namanya di kemudian hari tetap berkaitan dengan fenomenologi, yang segera menentukan suasana pemikiran zaman itu di berbagai-bagai bidang, umumnya secara tak terungkap.” (Bertens 1987, 78).
Dalam suatu proses—termasuk penerjemahan Landung Simatupang–yang berlangsung 25 tahun, Saga dari Bengawan Nil: Ekstase Lahirnya Masyarakat Mesir Modern dalam karya Najīb Mahfūz terbit melalui Penerbit Buku Baik dan Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Sebagai bagian dari penelitiannya, Sunardi telah berbincang lama dengan Najīb Mahfūz, penerima Nobel bidang susastra pada 1988, di tepi Bengawan Nil di Mesir yang legendaris.
Penutup catatan Sunardi pada Mei 2025 bagi saya sungguh menarik, bahwa beliau berharap: “…….. buku ini bisa memberi sumbangan dalam cara meneliti sastra.” (Sunardi 2025, ix).
Penulisan beraksara miring (italics / kursif) atas kata cara,yang begitu penting dalam dunia penelitian, membuat saya bertanya-tanya, apakah tidak mungkin “suasana pemikiran” dalam penelitian susastra hari ini, telah menjadi lebih baik, karena perkembangan yang ikut ditentukan disertasi tersebut, yang terbit jauh lebih awal.
Namun 25 tahun yang lalu, mungkin belum ada Penerbit Buku Baik, walau pun Dodo Hartoko yang mendirikannya sudah hadir di Yogyakarta.

Pondok Ranji, Rabu 15 Oktober 2025. 13:11.
*) SENO GUMIRA AJIDARMA,
partikelir di Jakarta.
