Connect with us

Kolom

Jejak Bantengan: Saat Roh Leluhur dan Hewan Suci Menari di Tanah Malang Raya

Published

on

Oleh Heri Mulyono, Malang

Di alun-alun desa, seekor “banteng” bertopeng kayu bertanduk asli meronta liar diiringi gamelan dan asap kemenyan. Bantengan, kesenian trans dari Malang Raya, menyimpan jejak relief Candi Jago era Singhasari, siasat perlawanan kolonial, dan spiritualitas leluhur yang masih hidup hingga kini.

Jejak di Batu Candi: Bukti dari Zaman Singhasari

Bantengan tidak lahir di ruang kosong, dan jejaknya bukan sekadar cerita tutur tanpa bukti. Para peneliti menelusuri asal-usul kesenian ini hingga ke abad ke-13, pada masa Kerajaan Singhasari dan kemudian Majapahit. Bukti fisiknya masih dapat disaksikan hingga kini pada relief Candi Jago di Tumpang, Kabupaten Malang, yang menggambarkan adegan aduan antara banteng melawan macan.

Pada era kerajaan kuno tersebut, gerakan-gerakan dalam pertunjukan diadopsi dari kembangan pencak silat dan berfungsi sebagai media ritual adat sekaligus penghormatan kepada leluhur. Banteng dipilih sebagai figur sentral bukan tanpa alasan. Hewan ini melambangkan sifat jujur, pemberani, mandiri, dan suka bergotong royong, nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup masyarakat agraris di lereng pegunungan Malang Raya sejak ratusan tahun lalu.

Kesenian ini tumbuh subur di kawasan pegunungan yang mengelilingi Malang Raya, terutama di lereng Gunung Kawi, Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro. Wilayah seperti Tumpang, Poncokusumo, Karangploso, Pujon, Ngantang, dan Batu menjadi basis utama kesenian ini sejak generasi-generasi awal penarinya mulai mewariskan gerak, musik, dan mantra dari mulut ke mulut.

Wajah Kolonial dan Lahirnya Perlawanan Tersembunyi

Versi sejarah lain menyebut bahwa Bantengan tumbuh sebagai bentuk perlawanan terselubung masyarakat pribumi terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, kegiatan berkumpul dalam jumlah besar dengan membawa senjata atau alat-alat yang menyerupai persiapan perang sangat diawasi dan dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda.

Untuk mengelabui pengawasan tersebut, masyarakat di pedesaan lereng gunung mengemas latihan ketahanan fisik, ilmu kanuragan, dan strategi berkelompok ke dalam bentuk kesenian yang tampak hiburan semata. Tarian Bantengan, dengan iringan gamelan dan tampilan kostum banteng yang mencolok, menjadi penyamaran sempurna bagi pertemuan-pertemuan yang sebenarnya bertujuan menjaga semangat kebersamaan dan keterampilan bela diri warga.

Unsur pencak silat yang masih kental dalam gerakan Bantengan hingga kini menjadi bukti kuat dari teori ini. Sebelum penari memasuki kondisi trans, biasanya ditampilkan rangkaian jurus-jurus silat yang dimainkan secara berpasangan atau berkelompok, sebuah elemen yang menurut para pegiat seni di Malang merupakan warisan dari masa-masa ketika seni bela diri harus disembunyikan di balik topeng kesenian rakyat.

Pada konteks ini, makna simbolis banteng dan macan memperoleh lapisan baru. Banteng dimaknai sebagai rakyat jelata yang bergerak bergotong royong melawan kelaliman penjajah, sementara sosok macan yang sebelumnya identik dengan kewibawaan leluhur kini juga ditafsirkan sebagai representasi kekuasaan VOC dan pemerintah kolonial Belanda yang menindas. Memasuki periode ini pula, bentuk kostum Bantengan mulai berkembang dengan menggunakan topeng kepala dari kayu yang dipasangi tanduk banteng asli, menggantikan bentuk-bentuk yang lebih sederhana pada masa sebelumnya.

Tiga Wajah Simbolik: Banteng, Macan, dan Kera

Jika kebanyakan orang hanya mengenal Bantengan sebagai pertunjukan dua hewan, banteng dan macan, sesungguhnya ada karakter ketiga yang tak kalah penting: monyet atau kera. Ketiga figur ini bersama-sama membentuk satu kesatuan narasi simbolis yang utuh, jauh lebih kompleks daripada sekadar pertarungan dua kekuatan.

Banteng melambangkan rakyat jelata, sosok yang mandiri, jujur, pekerja keras, dan berani namun bergerak dengan semangat gotong royong. Macan, dalam banyak versi sesepuh di Malang Raya, justru tidak digambarkan sebagai penjaga gaib yang netral, melainkan sebagai simbol penguasa yang zalim atau bisa juga mewakili hawa nafsu dalam diri manusia yang harus ditundukkan. Sementara itu, sosok monyet atau kera berperan sebagai provokator, pihak yang gemar memecah belah dan mengail di air keruh demi keuntungannya sendiri.

Pertarungan antara banteng dan macan dalam pertunjukan, dengan demikian, bukan sekadar adu kekuatan fisik antarhewan, melainkan dramatisasi dari pergumulan sosial: rakyat kecil yang harus berhadapan dengan kekuasaan yang menindas, sembari mewaspadai pihak ketiga yang berusaha memecah persatuan mereka. Narasi ini sejalan dengan konteks kemunculan Bantengan pada masa kolonial, ketika rakyat Malang berada di bawah tekanan kekuasaan asing.

Trans dan Dunia yang Tak Terlihat

Aspek yang paling mencolok dan sering menjadi perhatian penonton dari luar daerah adalah fenomena trans atau kesurupan yang dialami para penari Bantengan. Ketika musik gamelan dimainkan dalam tempo cepat dan dupa kemenyan mengepul tebal, sebagian penari yang mengenakan topeng banteng atau macan mulai menunjukkan perubahan perilaku drastis.

Mereka bisa berlari liar, menyeruduk penonton, memanjat pohon, bahkan mengonsumsi benda-benda yang secara medis tidak lazim dikonsumsi manusia seperti pecahan kaca, bunga, atau dedaunan mentah dalam jumlah banyak. Dalam pandangan masyarakat setempat, fenomena ini dipercaya sebagai masuknya roh leluhur, roh hewan, atau danyang penjaga desa ke dalam tubuh penari.

Sosok yang berperan penting dalam mengendalikan kondisi trans ini disebut pawang atau gamboh. Pawang bertugas memimpin ritual sebelum pertunjukan, memantau kondisi para penari yang kesurupan, dan yang paling krusial, menyadarkan kembali penari ke kondisi normal setelah pertunjukan usai. Proses penyadaran ini biasanya melibatkan mantra-mantra khusus, percikan air yang telah didoakan, serta sesaji tambahan jika roh yang masuk dianggap belum bersedia keluar.

Bagi sebagian kalangan akademis, fenomena trans dalam Bantengan dapat dijelaskan melalui pendekatan psikologi dan antropologi sebagai bentuk disosiasi yang dipicu oleh kombinasi musik repetitif, asap dupa, kelelahan fisik, dan kepercayaan kolektif yang kuat. Namun bagi masyarakat pelaku seni itu sendiri, penjelasan semacam itu tidak mengurangi keyakinan mereka bahwa yang terjadi adalah komunikasi nyata dengan dunia gaib dan leluhur yang menjaga desa mereka.

Mberot: Puncak Estetika yang Dinanti

Di antara seluruh rangkaian pertunjukan, ada satu momen yang paling dinantikan penonton dan sekaligus paling menegangkan bagi pawang: mberot. Dalam bahasa Jawa, mberot secara harfiah berarti memberontak atau melepaskan diri secara paksa, dan istilah inilah yang tepat menggambarkan ledakan amukan penari banteng saat roh sepenuhnya menguasai tubuhnya.

Proses menuju mberot berlangsung bertahap. Diawali dengan ritual pembuka, pawang atau yang biasa disapa bapa sesepuh membakar kemenyan sembari merapalkan mantra untuk mengundang roh leluhur atau roh sato, sebutan untuk roh hewan yang dipercaya bersemayam di sekitar tempat pertunjukan. Begitu musik pengiring berupa jidhor, gong, dan angklung dimainkan dengan tempo yang terus meningkat dan konstan, penari yang akan mengalami trans mulai menunjukkan tanda-tanda transisi fisik: tubuh gemetar, mata melotot, dan napas yang memberat, pertanda roh telah mulai memasuki raganya.

Pada titik inilah mberot terjadi. Pemain kehilangan kendali sadar sepenuhnya dan mulai mengamuk secara agresif, menirukan gerakan banteng liar yang menyeruduk ke segala arah. Karena Bantengan dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum, satu di bagian kepala dan satu di bagian ekor, momen mberot menjadi ujian kekompakan yang sesungguhnya. Kedua penari harus tetap sinkron dalam gerak liar tersebut agar tidak terjatuh atau saling mencederai.

Di sinilah peran pawang menjadi sangat vital. Dengan cambuk atau pecut di tangan, pawang mengarahkan amukan penari yang mberot agar tidak membahayakan penonton di sekitar arena. Setelah laga usai, pawang akan membacakan mantra penutup dan mengusap wajah penari yang mberot untuk memulangkan roh yang merasukinya dan mengembalikan kesadarannya secara perlahan.

Kostum, Musik, dan Anatomi Pertunjukan

Kepala atau topeng banteng dalam kesenian ini umumnya dibuat dari kayu, biasanya diambil dari pohon waru, nangka, atau dadap, dengan bobot sekitar lima kilogram. Topeng kayu tersebut dilengkapi tanduk asli kerbau atau banteng, meski di sejumlah daerah tanduk asli telah digantikan replika kayu karena banteng jawa semakin sulit ditemukan. Sementara itu, kerangka badan banteng pada beberapa varian, terutama di lereng Semeru dan Tengger, dianyam dari bambu atau penjalin, lalu dilapisi kain hitam yang menyambungkan kepala dengan bagian ekor. Dua orang penari biasanya berada di dalam satu kostum banteng, satu di bagian depan mengendalikan kepala dan satu di bagian belakang membentuk tubuh serta ekor.

Menariknya, jauh sebelum topeng kayu menjadi bentuk standar, sejarah lisan di kalangan pelaku seni menyebut bahwa wujud awal “topeng” Bantengan justru berasal dari tengkorak banteng asli. Konon, seorang sesepuh bernama Mbah Siran mengambil tengkorak banteng yang mati dalam perkelahian, membersihkannya, dan menjadikannya kepala pertunjukan karena kesan gagah dan berwibawa yang dipancarkannya, sebelum lambat laun digantikan oleh topeng kayu yang lebih tahan lama dan mudah diperbanyak.

Sementara itu, kostum macan dibuat menyerupai wajah harimau dengan warna mencolok, sering dipadukan dengan kain bermotif loreng yang dikenakan oleh penari tunggal. Selain dua figur utama tersebut, pertunjukan Bantengan juga dilengkapi dengan tokoh-tokoh pendukung seperti Bujang Ganong atau Genderuwo, sosok bertopeng dengan wajah menyeramkan yang berfungsi sebagai pengusir roh jahat sekaligus penghibur penonton dengan gerakan jenaka.

Iringan musik Bantengan biasanya terdiri dari kendang, gong, kenong, dan terompet atau slompret. Pola tabuhan kendang menjadi penentu utama perubahan suasana pertunjukan, dari tempo pelan yang mengiringi gerakan silat pembuka, hingga tempo cepat dan menghentak yang memicu masuknya kondisi trans pada para penari.

Dari Ritual Desa ke Identitas Kultural Malang Raya

Pada masa lalu, pertunjukan Bantengan umumnya hanya digelar dalam konteks ritual tertentu, seperti bersih desa, sedekah bumi, atau peringatan hari-hari besar yang berkaitan dengan keselamatan kampung. Pertunjukan semacam ini berfungsi sebagai media komunikasi spiritual antara warga desa dengan leluhur dan kekuatan alam yang diyakini menjaga wilayah mereka.

Memasuki era modern, terutama sejak satu hingga dua dekade terakhir, Bantengan mengalami pergeseran fungsi yang signifikan. Kesenian ini mulai ditampilkan dalam berbagai acara seperti karnaval, perayaan ulang tahun kota, festival budaya, hingga acara penyambutan tamu penting di wilayah Malang, Batu, dan sekitarnya. Pemerintah daerah pun mulai melirik Bantengan sebagai salah satu aset wisata budaya yang memiliki daya tarik unik dibandingkan kesenian sejenis dari daerah lain.

Komunitas-komunitas Bantengan kini tersebar di banyak desa, dengan masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi gerakan, kostum, maupun mantra yang digunakan. Wilayah lereng gunung seperti Tumpang, Karangploso, Poncokusumo, dan Batu menjadi basis terbesar bagi ratusan sanggar Bantengan yang masih aktif hingga sekarang. Beberapa kelompok bahkan mulai membentuk paguyuban atau perkumpulan formal untuk menjaga kelestarian kesenian ini, sekaligus memastikan regenerasi penari muda tetap berjalan di tengah gempuran budaya populer yang semakin mendominasi kehidupan generasi muda di perkotaan.

Salah satu wujud nyata dari pergeseran fungsi ini adalah digelarnya festival Bantengan Nuswantara secara rutin dalam skala besar di Malang Raya, yang mempertemukan ratusan sanggar dari berbagai penjuru wilayah sekaligus menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di banyak panggung jalanan masa kini, iringan musik tradisional jidhor dan gong bahkan kerap dipadukan, atau digantikan, dengan musik koplo dan DJ remix, menjadikan momen mberot semakin meriah dan menyedot perhatian ribuan penonton lintas generasi.

Pergeseran ini turut merambah bahasa sehari-hari anak muda Malang Raya. Kata “mberot” yang semula merujuk khusus pada ledakan amukan trans dalam pertunjukan, kini diadopsi sebagai jargon gaul untuk menggambarkan situasi apa pun yang terasa seru, liar, penuh energi, atau menunjukkan sikap pantang menyerah. Fenomena ini menjadi bukti betapa dalamnya kesenian Bantengan telah menyatu dengan identitas dan keseharian masyarakat di wilayah ini.

Tantangan Pelestarian di Tengah Arus Modernisasi

Meski popularitasnya meningkat sebagai tontonan, Bantengan menghadapi sejumlah tantangan serius dalam upaya pelestariannya. Salah satu yang paling mendasar adalah pergeseran makna dari ritual sakral menjadi sekadar tontonan hiburan semata. Banyak generasi muda yang tertarik menjadi penari Bantengan karena sensasi adrenalin dari atraksi trans, tanpa memahami konteks filosofis dan historis yang melatarbelakangi setiap gerakan dan simbol dalam pertunjukan tersebut.

Tantangan lain datang dari aspek keselamatan. Fenomena trans yang tidak terkendali kadang menimbulkan insiden, seperti penari yang terluka karena gerakan ekstrem atau penonton yang terdorong saat penari dalam kondisi kesurupan berlari ke arah kerumunan. Hal ini mendorong sejumlah pihak, termasuk akademisi dan budayawan di Malang, untuk mendorong dokumentasi yang lebih sistematis terhadap sejarah lisan, mantra, dan tata cara ritual Bantengan dari para sesepuh yang usianya semakin menua.

Beberapa kampus di Malang, termasuk yang memiliki program studi seni dan budaya, telah mulai melakukan penelitian dan pendokumentasian terhadap berbagai kelompok Bantengan di wilayah Pujon, Ngantang, Batu, dan Karangploso. Upaya ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi generasi mendatang untuk memahami Bantengan bukan hanya sebagai atraksi visual yang memukau, tetapi sebagai jendela untuk melihat bagaimana masyarakat agraris Malang Raya memaknai hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan sejarah panjang perjuangan mereka melawan kekuasaan asing di masa lalu.

Menjaga Roh di Tengah Perubahan Zaman

Kini, ketika seekor “banteng” bambu kembali menyeruduk di tengah keramaian festival kota, ia tidak hanya membawa hiburan bagi penonton yang berkerumun dengan ponsel di tangan. Ia membawa serta lapisan-lapisan sejarah: jejak perburuan di hutan lereng gunung, siasat perlawanan terhadap penjajah yang dikemas dalam tarian, serta keyakinan tentang dunia tak terlihat yang masih dijaga oleh para pawang dan sesepuh desa.

Bantengan, dengan segala kompleksitas sejarah dan spiritualitasnya, adalah cermin dari Malang Raya itu sendiri: sebuah wilayah yang berdiri di atas lapisan-lapisan peradaban, dari kerajaan kuno, masa kolonial, hingga era digital, namun tetap menyisakan ruang bagi roh leluhur untuk sesekali turun dan menari di antara manusia yang masih mau mendengarkan. ***

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement