Ambulans Motor Mansetus, Si Dewa Penyelamat

 Ambulans Motor Mansetus, Si Dewa Penyelamat

Mansetus Kalimantan Balawala, penggagas ambulans motor. (foto: Facebook/mansetus)

Jayakarta News – Pria itu Mansetus. Nama lengkapnya Mansetus Kalimantan Balawala, asal Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menggagas Ambulans Motor.

Sebelum ambulans roda dua ini beroperasi, kematian pasien, utamanya ibu dan anak di Flores Timur terjadi nyaris setiap hari. Pertolongan medis selalu terlambat untuk penyakit yang sebetulnya sama sekali tak berisiko kematian. Demikian alasan di balik tercabutnya nyawa-nyawa mereka. 

Ambulans Motor Mansetus menjadi dewa penyelamat. Armada itu seperti memotong jarak. Fasilitas kesehatan menjadi dekat dengan masyarakat. Angka kematian ibu dan anak menurun drastis. 

Baca: Berkah di Angka Merah

Apa jadinya bila Mansetus terus mengembara di lain kota atau memilih hijrah ke negeri tetangga? Mungkin kisah pilu kematian ibu dan anak di tempat terpencil Indonesia Timur itu tak akan pernah berhenti.

Sudah menjadi ritual tahunan, para muda kampung itu hengkang. Kota lain atau negeri jiran Malaysia menjadi tempat tujuan. Latar belakangnya klasik. Minim pekerjaan di kampung. “Alam yang kering tak memberikan harapan, ketahanan ekonomi  masyarakat kami runtuh,” cerita Mansetus. 

Tempat yang jauh akhirnya menjadi tumpuan asa pendongkrak nasib: memenuhi biaya hidup, menyekolahkan anak dan membangun rumah batu. Kampung dengan segala pernak-pernik keterbatasannya pun mereka tinggalkan.

Untungnya Mansetus tidak. Mansetus pernah merantau. Namun ia memutuskan kembali ke kampung setelah dua tahun mengembara ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) dan Kupang, ibu kota NTT. Bukan karena ia mendapatkan rezeki nomplok atau pekerjaan dengan bayaran segunung tatkala langkah pulang kampung itu ia kukuhi.

Tahun 1998 Mansetus mendapatkan gelar S1 dari Fakultas Hukum Univeritas Nusa Cendana Kupang. Takdir kemudian mengantarkannya bekerja menjadi jurnalis di Harian Umum Novas, Timor Timur. Pasca ontran-ontran lepasnya Timor Timur dari Indonesia, Mansetus bergerak ke Kupang. Ia bergabung dengan Harian Surya Timur dan tabloid Timor File sebagai wartawan. 

Selanjutnya ia melepas status karyawannya itu, dan memilih menjadi penulis lepas. Tahun 2000, ia meliput forum diskusi tenaga kesehatan dan penyuluh Keluarga Berencana di Flores Timur. Mereka sedang merembuk kondisi kesehatan masyarakat setempat. 

Terungkaplah data bahwa di kawasan Flores Timur angka kematian ibu dan anak tinggi. Sebabnya, pertolongan medis terlambat pada kasus-kasus kelahiran emergensi, kelahiran yang disertai pendarahan hebat. Bila petugas medis dan semua perlengkapannya berada dalam jangkauan dan tepat waktu, kasus kelahiran darurat serta kasus-kasus pasien lainnya itu tidak sampai menghilangkan nyawa.

Ingatan Mansetus pun terbang melayang ke masa kecilnya, tatkala ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tragedi kematian serupa pernah menimpa banyak bocah dan balita di daerahnya. Sebabnya sepele, mereka terserang wabah diare. Sebenarnya penyakit ini tak mematikan karena obat-obat penangkalnya sudah tersedia. Tetapi, lagi-lagi masyarakat tak mampu menjangkau sarana kesehatan dengan cepat.

“Puskesmas hanya ada di kota kecamatan yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari desa kami,” kata Mansetus. Jarak yang jauh, infrastuktur jalanan yang buruk serta sarana transportasi yang nihil menjadi biang keladi. Pertolongan medis terlambat, nasib bocah-bocah penderita diare itu berakhir di liang lahat. Hampir setiap hari ini terjadi. “Celakanya, pemerintah pun tak tahu tentang wabah ini, karena waktu itu tak tersedia alat komunikasi,” tambahnya.     

Dua cerita itu, diare perenggut nyawa dan kelahiran emergensi yang mematikan, mengendap dalam batin Mansetus. Bayang-bayang muram maut itu menjadi semacam bahan bakar penyulut tekadnya. Kupang ia tinggalkan.

Ia pulang kampung tetapi tidak di desa kelahirannya. Mansetus menuju Larantuka, Flores Timur yang berjarak 4 jam dengan perahu plus satu jam perjalanan darat dari Tagawiti, Ile Ape, Lembata. Dulu, Lembata menjadi bagian Kabupaten Flores Timur. Tahun 1999, pemekaran wilayah membuatnya mengibarkan bendera lambang kabupaten sendiri. Setiap nyawa di tanah tumpah darahya mesti diselamatkan. Langkah Mansetus mantap.

Petugas kesehatan dengan Ambulans Motor YKS memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Adonara, Flores Timur, NTT. (foto: koleksi mansetus)

Ambulans Motor

Awal 2000, setelah pertemuannya dengan para petugas kesehatan itu, Mansentus berbuat sesuatu.  Terbersit dalam benaknya untuk menghadirkan ambulans motor. Motor lebih fleksibel dan luwes merespon wilayah geografis Flores Timur. 

Sebenarnya struktur alam kawasan itu relatif rata, dominan oleh hamparan padang savana. Bentangan bukit hanya tampak di beberapa titik. Namun, kondisi jalan berlubang menganga di banyak tempat, jalanan yang sekadar dikeraskan dengan tumpukan bebatuan lepas serta beratnya medan yang mesti ditempuh (panas dan berdebu bila kemarau serta berlumpur dikala penghujan tiba), lebih memungkinkan ditempuh dengan motor. 

Motor lebih gesit menjangkau desa-desa yang jauh di pelosok, berpuluh kilometer dari kota kecamatan. Motor lebih mudah pula naik turun perahu menyeberang pulau. 

Transportasi umum yang ada di wilayahnya sebatas truk yang disulap menjadi mobil penumpang. “Truk ini hanya beroperasi seminggu sekali pada hari pasar yang berlangsung di pusat kecamatan,” cerita Mansetus. Dengan demikian, andaikata ada seorang yang sakit pada hari Rabu, sedangkan truk penumpang berjalan pada hari Selasa, maka si pasien harus menunggu satu minggu lagi untuk bisa sampai ke Puskesmas di kota kecamatan.  

Sementara penduduk yang memiliki sepeda motor langka. Alat transportasi yang tersedia setiap saat hanya ojek motor. Namun, sarana angkutan ini tak ramah di kantong. Ongkos ojek mahal, tak terjangkau. Harganya jauh lebih tinggi dibanding struk tagihan berobat. 

Infrastruktur jalan yang buruk dan alat transportasi yang tak memadai menghambat warga Flores Timur pedesaan menjangkau fasilitas kesehatan dengan cepat. Juga sebaliknya, petugas kesehatan pun menjadi tak leluasa mendatangi seluruh warganya. Fasilitas kesehatan masih terbatas baik dalam ketersediaan sumber daya manusia (SDM) maupun kelengkapan prasarana pendukung seperti alat transportasi. Puskemas hanya ada di kecamatan dan ada sebuah saja rumah sakit di ibu kota kabupaten.  

Praktis dukun kampung menjadi pilihan tempat berobat satu-satunya. Pengobatan non medis ini, kenang Mansetus, tak mampu menyelamatkan nyawa-nyawa yang membutuhkan pertolongan cepat: persalinan emergensi pun pasien-pasien darurat lainnya. Kisah duka kematian pun tak terbendung. (Ernaningtyas)

TULISAN TERKAIT:

YKS, Yayasan Kesehatan untuk Semua

Tentang Gaji yang tak Pasti

Berkah di Angka Merah

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *