Kedaulatan Bahasa

 Kedaulatan Bahasa

Oleh Egy Massadiah

Awal Februari 2015 sisa salju masih menyapa Washington DC saat Ida Syukur menjamu kami di rumahnya di kawasan Besthesda Washington DC. Ida istri dari Prof Ismunandar orang ITB yang menjabat sebagai Atase Pendidikan KBRI USA sejak akhir 2014 yang juga adik kelas saya di SMP 6 Makassar. Segala macam kami perbincangkan seraya menyeruput soto ayam made in USA.

Salah satu topik yang kami bahas adalah cerita Tricia, orang Indonesia yang sudah menetap di DC tentang Rumah Indonesia. Tricia adalah penggiat kebudayaan khususnya mengajarkan anak anak Indonesia bermain angklung.

Selain mengajarkan angklung Tricia dan kawan kawan juga memberikan kursus singkat bahasa Indonesia. Muridnya beragam. Ada anak anak Indonesia yang lahir dan sekolah di Amerika meski bapak ibunya asli warga negara Indonesia. Ada juga Bule yang pernah bekerja di Indonesia baik sebagai staf kedutaan Amerika maupun expatriat swasta yang selalu menjaga lidahnya agar lemes berbahasa Indonesia.

Ada juga warga Amerika yang baru akan berangkat ke Indonesia dan ingin mengetahui Indonesia lebih banyak lagi. Intinya lingkungan perkumpulan itu adalah mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia dengan menggunakan/berbahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia di kalangan mereka sesuatu yang sangat istimewa. Sama istimewanya saat lidah saya pertama kalinya mengunyah steak terkenal dan mahal racikan juru masak Wolfgang di kawasan 4 Park Ave, New York. Ada kesedihan yang tak terlihat ketika kedua orang tuanya yang masih warga negara Indonesia namun anaknya yang lahir di Paman Sam itu tak bisa berbahasa Indonesia.

Sebelum kembali ke Jakarta saya sempatkan mampir di Los Angelas. Di sana saya bertemu pasangan Sandy Mattewakkang asli Jeneponto Sulawesi Selatan dengan istrinya Etin Winata Betawi keturunan China.

Keduanya menetap di Amerika sejak 25 tahun silam dan dikarunia putra bernama Egan. Egan belum pernah menginjakkan kakinya di tanah leluhurnya. Meski sehari hari makan rawon dan bakso Egan sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. Kedua orang tuanya pun mengajarkan sang anak untuk tetap berbahasa Indonesia.

Saat ini Egan berusia 15 tahun belum bisa berbahasa Indonesia namun Egan mampu memahami satu dua patah kata saat orang tuanya berbahasa Indonesia. Jika Egan ditanya dalam bahasa Indonesia, Egan butuh waktu beberapa saat untuk mencernanya dan kemudian menjawab pertanyaan itu dalam bahasa Inggris.

Tentu Egan dan anak anak yang berkumpul di Rumah Indonesia yang diprakarsai Tricilia tidak sendiri. Ada puluhan ribu anak anak Indonesia yang ikut orangtuanya di mancanegara senasib dengan Egan.

Saat transit di Dubai, sekitar dua jam sebelum take off ke Jakarta saya berkenalan dengan seorang mahasiswi asal Ukraina. Perkenalan diawali karena saya melihat Bule itu menggunakan tas bercorak batik Jawa.

Namanya Liana Snystar mahasiswi Darmasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Bahasa Indonesianya teramat fasih dan santun. Ia minta tolong kepada saya untuk dibookingkan tiket Jakarta – Yogya, mengingat saat mendarat nanti di Jakarta ia tidak bermalam di Jakarta. Kami pun sempat tukar tukaran alamat email setelah saya berhasil mendapatkan kode booking pesawatnya ke Jogya.

Sebulan kemudian saya membaca berita online Tribunews Jogya. Liana mengikuti lomba bertajuk Darmasiswa Got Talent, di Universitas Diponegoro (Undip), pada 17 Maret 2016. Selain Liana ada juga Shakir Samadamaeng (Thailand), Kim Soo Yeon (Korea Selatan) dan Li Lening (China).

Dalam lomba tersebut, Liana berhasil menjadi Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia disusul oleh Shakir di urutan ke dua. Sementara itu, Liana juga tampil bersama dua rekan lain yakni Soo dan Li untuk membawakan Tari Piring, yang meraih Juara 2 Lomba Pagelaran Seni Indonesia.

“Terima kasih UAD dan Tim Darmasiswa Indonesia yang telah memberikan saya kesempatan untuk yang kesekian kalinya dalam mengikuti lomba. Saya sangat senang dengan pengalaman luar biasa yang saya dapatkan selama tinggal di Indonesia. Semoga pengalaman ini bisa saya bagikan ke teman-teman di negara saya kelak jika sudah kembali ke Ukraina,” terangnya, saat jumpa pers di Ruang Sidang Rektorat UAD, Sabtu (2/4/2016).

Shakir, yang berasal dari Thailand mengaku sempat gugup dan butuh konsentrasi tinggi ketika berpidato dengan Bahasa Indonesia. Pasalnya selama ini ia hidup di kawasan Thailand Selatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, dengan bahasa Melayu yang mirip dengan Bahasa Indonesia.

Kisah yang lain, akhir April 2016, saya terbang ke Doha Qatar. Di negara seluas pulau Bali yang akan menjadi tuan rumah piala Dunia 2022 itu ada sekitar 30 ribuan orang Indonesia bekerja di sana. 8 ribu diantaranya bekerja di perusahaan oil and gas dengan gaji berkisar di atas 7500 USD per bulan dan mendapat fasilitas perumahaan yang sangat baik. Rata rata mereka memboyong istrinya dan sudah menetap lebih dari 10 tahun.

Marsekal Basri Sidehabi mantan pilot pesawat tempur F 16 yang kini menjabat sebagai Duta Besar RI di Doha menemukan keperihatian yang mendalam. Saat merayakan Hari Kartini ratusan warga Indonesia berkumpul di KBRI. Sebagian besar anak anak Indonesia yang hadir — kalau tidak ingin mengatakan semuanya — tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun saat menyanyikan lagu kebangsaan Qatar anak anak itu teramat fasih, maklum di sekolah mereka setingkat SD dan SMP lagu kebangsaanQatar akrab di telinga mereka.

Oleh karena itulah sebelum berangkat ke Qatar Pak Dubes menelepon saya untuk dibawakan buku buku pelajaran bahasa Indonesia dan Civic Kewarganegaraan setingkat SD, SMP dan SMA. Pak Dubes pun akan membuka kelas khusus Indonesia di aula KBRI secara gratis dengan muatan memperkenalkan Indonesia beserta budaya dengan pengantar bahasa Indonesia.

“Muridnya bebas, siapa saja yang mau ikut silahkan, terutama anak anak Indonesia yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Guru gurunya saya minta staf KBRI untuk mengajar. Bahkan saya sebagai dubes juga akan meluangkan waktu menjadi guru khususnya pelajaran bahasa Indonesia dan kewarganegaraan,” kisah Jenderal bintang 3 tersebut yang pernah menjabat sebagai Anggota DPR RI komisi I periode 2009 -2014.

Di Inggris Wakil Presiden Jusuf Kalla selalu mengajak Jamilah cucunya yang berusia 10 tahun dan sudah menetap di London sejak berusia 2 tahun untuk berbahasa Indonesia dan berbahasa Bugis.

Namun sang cucu yang sehari hari berbahasa Inggris di sekolah, ketika itu, kerap terbatas menjawabnya dalam bahasa Indonesia apalagi bahasa Bugis.

“Anak anak ini harus dibiasakan berbahasa Indonesia agar tidak lupa bahasa Indonesia. Alhamdulillah Jamilah sudah paham dan mengerti banyak kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa Bugis,” kisah Jusuf Kalla.

Ada cerita lucu Jamilah cucu Pak JK. Suatu hari kepada ibunya Jamilah berteriak “Hey banjar .. Hey banjar”. Orang tuanya pun mendekat dan bingung mendengar kata Banjar tersebut sebab mereka bukan berasal dari Bali dimana banjar adalah semacam Desa atau pun mungkin yang dimaksud adalah Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Apa lacur, sang anak menunjukkan genangan air. Ternyata yang dia maksud Banjar adalah Banjir.

Wakil Presiden Jusuf Kalla berbincang dengan salah seorang cucunya, Jamilah yang tinggal di London. Foto: detik.com

Seminggu bersama Mr. Jeff di Paris hampir tak pernah saya mendengarkan dia berbahasa Perancis. Bahasa Indonesianya dan juga bahasa Jawa Yogya nya membuat kami serasa berjalan jalan di Malioboro. Berdiri di bawah menara Eifel serasa melintasi Tugu Yogyakarta mendengarkan Mr Jeff ngoceh.

Di Azerbaijan negara pecahan Uni Soviet ada Emil Isbatli, pemuda muslim kelahiran kota Baku, yang juga menempatkan bahasa Indonesia teramat mulia bagi warga Azerbaijan yang ingin tahu tentang Indonesia. Mereka adalah sedikit dari pejuang pejuang bahasa kita di manca negara yang bekerja tanpa kilatan cahaya media.

Awal Mei lalu saya berkenalan dengan Alysaa Oaklay candidate Phd dari John Hopskin University Baltimore yang sedang merampungkan penelitiannya mengenai partai politik di Indonesia khususnya Partai. Golkar. Tiap kali saya berbicara bahasa Inggris Alyssa selalu menjawabnya dengan bahasa Indonesia yang sempurna dan santun.

Di Jakarta saya kerap bertemu dengan kalangan sosialita. Sebagian berpendapat bahwa anak anak mereka sejak usia 3-4 tahun sudah diajarkan berbahasa Inggris. Tak jarang mereka memasukkanya dalam sekolah Internasional dengan dua bahasa yaitu Inggris dan Mandarin. Di rumah pun anak anak itu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan orang tuanya.

Dalam sebuah kuliah S2 di salah satu universitas terkemuka di Jakarta seorang dosen dengan gigih melarang mahasiswanya berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Wajib bahasa Inggris. Sang dosen lebih suka mendengarkan mahasiswanya berbicara dengan bahasa Inggris yang terpatah patah ketimbang menggunakan bahasa Indonesia yang runut alur kalimatnya.

Fenomena

Itulah fenomana yang terjadi saat ini. Tentu apa yang yang terjadi di mancanegara sana dengan di Jakarta bukan untuk ditarik dan dipertentangkan sebagai sesuatu yang SALAH atau BENAR. Lebih kepada sebuah kisah bahwa bahasa Inggris yang sedang kita agungkan di Jakarta sementara bahasa Indonesia sungguh sangat dicintai di belahan dunia lain. Ini Cuma pilihan dan yang dipilih bukan soal Salah atau Benar, tergantung dimana kita berada dan untuk kepentingan apa kita memilih pilihan tersebut.

Berbicara tentang Kedaulatan Bahasa, khususnya bahasa Indonesia di era kini, tentulah wajib kita intrepertasi ulang. Kedaulatan yang bagaimana ? Seperti apa ? Seorang Bupati, Gubernur atau Kepala Dinas Pariwisata misalnya yang sedang berbincang dengan koleganya ataupun investor asing apakah wajib dan tetap bersikukuh menggunakan bahasa Indonesia? Lalu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa lawan bicaranya, meskipun sang pejabat itu sungguh sangat menguasai bahasa asing lawan bicaranya? Apakah itu yang kita maksud sebagai kedaulatan bahasa kita ?

Betapa banyak paper, data, informasi tentang sebuah wilayah atau informasi pariwisata kini telah tertuang dalam bahasa asing, Inggris, Arab, China dll. Sejumlah seminar, simposium dan pertemuan diskusi lainnya pun tak dapat dipungkiri juga menggunakan makalah makalah yang berbahasa Inggris, misalnya.

Dengan kenyataan tersebut apakah Bahasa Indonesia menjadi tidak berdaulat? Apakah kita bangsa yang dijajah karena kita menggunakan bahasa Asing di negeri kita sendiri. Masihkah bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Di mana letak peta bahasa asing dalam pola pikir masyarakat Indonesia kontemporer? Bagaimana pola penggunaan bahasa asing dalam kehidupan kontemporer? Saluran apa yang menjadi arus utama masuknya bahasa asing dalam kehidupan tersebut?

Siapa dan lembaga apa saja yang ikut meramaikan pemakaian bahasa asing? Bagaimana pola pertahanan yang dimiliki oleh masyarakat kontemporer untuk menyelamatkan bahasa Indonesia? Dapatkah bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu bagi seluruh warga negara Indonesia? Melihat ulang kedudukan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai sistem pertahanan nasional. Mati segan hidup tak hendak – bahasa Indonesia dalam masyarakat global ? Membaca ulang bahasa daerah sebagai sebuah sistem pengetahuan

Nah kembali kepada kedaulatan bahasa Indonesia, menurut pendapat saya, akan saya bagi menjadi dua point. Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi dan yang kedua bahasa Indonesia sebagai simbol negara/lambang negara.

Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, suka tidak suka, mau tidak mau akan bercampur dan “terkontaminasi” dengan bahasa asing demi memudahkan komunikasi itu berlangsung/terjadi. Misalnya dalam kegiatan seminar atau simposium, atau diskusi dengan orang asing.

Adapun bahasa Indonesia sebagai simbol negara/lambang negara karena memang sudah diatur dalam Undang Undang maka, khususnya presiden RI, terlebih khusus dalam acara acara kenegaraan maka bahasa Indonesia wajib tetap digunakan sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai lambang negara. Simbol kedaulatan bahasa kita.

Urgensi presiden berpidato dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam forum internasional juga didukung oleh beberapa klausul yang positif. Dalam forum PBB misalnya, dalam tata tertib Majelis Umum PBB pasal 53 disebutkan bahwa pembawa pidato bisa menggunakan bahasa nasional negara asal presiden, tetapi harus diterjemahkan ke salah satu bahasa yang ditetapkan oleh PBB. Selanjutnya satu bahasa itu juga kemudian diterjemahkan ke dalam lima bahasa resmi PBB. Dalam konteks konsitusional

Akhirnya, saat ini dan ke depan, suka tidak suka Bahasa Indonesia, khususnya di dalam negeri sendiri, akan terkontaminasi dan bercampur secara positif dengan bahasa asing. Namun itu hanyalah semata mata sebagai alat komunikasi. Tentunya terlalu berlebihan jika kita menstempelnya sebagai sebuah bentuk penjajahan dan tidak berdaulatnya bahasa kita.

Bahasa bagaimana pun juga adalah alat komunikasi. Saat Liana jago berbahasa Indonesia, saat Barack Obama mengatakan “Pulang kampung niye” tentulah bangsa Ukraina negeri asal Liana dan juga warga Paman Sam tidak serta merta menghujat Barack Obama sebagai orang yang melecehkan bahasa leluhurnya. Sebaliknya demikian, jika ada Bupati, kepala Dinas dll, yang jago to the point berbahasa asing dengan lawan bicaranya yang kemungkinan kelak menjadi investor, maka biarkan saja itu terjadi sebagai bagian dari globalisasi. Bagian dari cara berbicara yang praktis dan mudah dipahami. Bagaiman pun bahasa pada akhirnya adalah alat untuk membuat satu sama lain saling memahami dan mengerti apa yang kita sampaikan.

Kalau pun mau sedikit bawel, misalnya, mari kita mengharuskan semua pekerja asing yang sudah berada di Indonesia dan bekerja di Indonesia lebih dari 6 bulan maka wajib hukumnya ia mampu berbahasa Indonesia.

Kita bisa melihat Indonesia dengan utuh saat di luar. Dan kita pun yang di Jakarta menyimpulkan dari kacamata dimana kita berdiri melihatnya. Sebuah pendekatan yang sama sekali berbeda namun tak elok untuk dipertentangkan. Karena ini pilihan pilihan dimana kita berdiri dan memandangnya saja.

Pada akhirnya jati diri kita tidak selamanya ada pada bahasa itu sendiri. Terpulang pada perilaku dan keteladan serta menjadi orang yang baik. Itulah kedaulatan kita sebagai bangsa dan nilai nilai luhur kebaikan yang kita miliki di mana pun kita berada. Itulah bahasa yang paling berdaulat.

Jakarta, September 2016

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.