Jusuf Kalla akan Bertemu Tokoh Perdamaian dan Kemanusiaan dari Berbagai Negara di Roma

JAYAKARTA NEWS— Wakil Presiden RI ke-10 dan 12 yang juga sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (25/10/2025) malam ini bertolak ke Roma, Italia, untuk menghadiri Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Dunia (International Meeting for Peace) yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio (La Comunità di Sant’ Egidio) Minggu 26 hingga Selasa 28 Oktober 2025.

Forum tahunan bergengsi bertema “Daring Peace” (Berani Mewujudkan Perdamaian) ini mempertemukan para pemimpin dunia, tokoh lintas agama, akademisi, dan pegiat kemanusiaan dari berbagai negara, guna memperkuat semangat dialog lintas iman dan mencari solusi atas beragam konflik global yang masih berlangsung.

Acara pembukaan akan berlangsung pada Minggu, 26 Oktober 2025 pukul 17.00 waktu setempat, di Santa Cecilia Hall, Auditorium Parco della Musica, Roma.

Sejumlah tokoh dunia akan tampil sebagai pembicara utama, antara lain:

● Sergio Mattarella – Presiden Republik Italia

● Emmanuel Macron – Presiden Republik Prancis

● Her Majesty Mathilde – Ratu Belgia

● Pietro Parolin – Kardinal, Sekretaris Negara Takhta Suci, Vatikan

● Kondo Koko – Penyintas bom atom Hiroshima (Hibakusha)

● Pinchas Goldschmidt – Presiden Conference of European Rabbis

● Ahmed Al-Tayyeb – Grand Syeikh, Al-Azhar, Mesir

● Manuel Castells – Sosiolog, Universitas California Berkeley, Spanyol

Jusuf Kalla dan Jusuf Kalla dan Hamid Awaluddin

Pada Senin, 27 Oktober 2025 pagi Jusuf Kalla akan menjadi salah satu pembicara utama dalam Forum 1 bertema “An Unarmed and Disarming Peace”, yang digelar di Teatro Olimpico, Roma.

Dalam forum tersebut, JK akan menyampaikan pandangan tentang pentingnya membangun perdamaian tanpa kekerasan melalui dialog, solidaritas, dan peran tempat ibadah sebagai pusat penyebaran nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Selain Jusuf Kalla, forum ini juga menghadirkan tokoh-tokoh dunia lainnya:

● Fridolin Ambongo Besungu – Kardinal, Uskup Agung Kinshasa, Republik Demokratik Kongo

● Donia Kaouach – Presiden Leaders pour la Paix Foundation, Prancis

● Maurizio Landini – Sekretaris Jenderal CGIL, Italia

● Tarek Mitri – Wakil Perdana Menteri Lebanon

● Pierbattista Pizzaballa – Patriark Latin Yerusalem, Tanah Suci

● Touch Sarith – Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association (D.B.A.), Kamboja

● Matteo Zuppi – Kardinal, Uskup Agung Bologna, Presiden Konferensi Waligereja Italia

Masih di hari yang sama, Senin sore, 27 Oktober 2025, akan digelar Forum 14 bertema “Remembering Pope Francis” di Sinopoli Hall, Auditorium Parco della Musica, Roma.

Forum ini dimoderatori oleh Marco Impagliazzo, sejarawan sekaligus Presiden Komunitas Sant’Egidio.

Adapun para pembicara meliputi:

● Mohamed Abdlsalam Abdellatif – Sekjen Muslim Council of Elders, Mesir

● Zaid Mohammed Bahr Al-Uloom – Direktur Al-Khoei Institute, Irak

● Elisabetta Piqué – Koresponden Vatikan untuk La Nación, Argentina

● Baldassare Reina – Vikaris Jenderal Takhta Suci untuk Keuskupan Roma, Italia

● Abraham Skorka – Rabbi, Argentina

● Antonio Spadaro – Wakil Sekretaris Dicastery for Culture and Education, Vatikan

● Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. – Menteri Agama Republik Indonesia, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Pada senin 27/10 sore itu juga, akan digelar Upacara Perdamaian (Peace Ceremony) di Koloseum Roma, didahului dengan doa lintas agama.

Acara ini akan dihadiri langsung oleh Sri Paus Leo XIV, bersama para pemimpin agama dunia, sebagai simbol komitmen bersama terhadap perdamaian dan persaudaraan umat manusia.

Penutup rangkaian acara akan berlangsung pada Selasa, 28 Oktober 2025  pagi, dengan Forum 22 bertema “Economy and Solidarity” di Sinopoli Hall, Auditorium Parco della Musica, Roma.

Forum ini menghadirkan para pembicara berikut:

● Luigino Bruni – Ekonom, esais, dan jurnalis, Universitas LUMSA, Italia

● Jean-Baptiste de Franssu – Presiden Istituto per le Opere di Religione (IOR), Vatikan

● José Manuel de Sousa Rodrigues – Sekretaris Regional Bidang Ekonomi, Madeira, Portugal

● Abbas El Halabi – Tokoh Komunitas Druse, Lebanon

● Eric Le Compte – Presiden Jubilee Network, Amerika Serikat

● Lapo Pistelli – Direktur Urusan Publik ENI, Italia

● M. Arsjad Rasjid P.M. – Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) / Pendiri 5P Global Movement, Indonesia

Dalam forum tersebut, Arsjad Rasjid akan menyampaikan gagasan tentang pentingnya ekonomi berlandaskan solidaritas dan nilai kemanusiaan untuk mendorong kesejahteraan bersama.

Kehadiran Jusuf Kalla, Prof. Nasaruddin Umar, Hamid Awaluddin dan Arsjad Rasjid di forum internasional ini menjadi bukti nyata peran aktif Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dunia dan dialog lintas agama.

Melalui Dewan Masjid Indonesia (DMI), Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, solidaritas, dan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan.Tokoh Perdamaian dan Kemanusiaan dari Berbagai Negara di Roma.***

Mengenang Komjen Pur Syafruddin Kambo


PENGANTAR REDAKSI
Banyak orang tersentak mendengar berita duka, wafatnya mantan Wakapolri sekaligus mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Komjen Pol Purn Syafruddin, Kamis (20/2/2025). Komjen Syafruddin menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan. Demi mengenang kepergiannya, redaksi kembali menurunkan catatan Egy Massadiah (yang ditulis pada tahun 2018). Egy adalah kawan lama almarhum. Dua minggu sebelum wafat, mereka bahkan sempat buka puasa Senin, makan mie Aceh bersama di Cikajang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berikut catatannya.

Catatan: Egy Massadiah

Egy Massadiah, Syafruddin, Jusuf Kalla. (ist)

Foto di atas dijepret sekitar awal Ramadhan, 12 September 2007. Tepatnya di ruang tengah kediaman Wakil Presiden Jalan Diponegoro Jakarta Pusat.

Saya ditugaskan oleh DPP Partai Golkar merekam gambar Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla untuk kepentingan ucapan Selamat Berpuasa dan Selamat Iedul Fitri.

Saat itu JK baru saja kembali dari lapangan sepakbola PTIK menjadi “wasit” pertandingan persahabatan antara kesebelasan Nahdathul Ulama vs kesebelasan Muhammadiyah dengan skor 4 – 2 untuk keunggulan Muhammadiyah.

Kesebelasan Muhammadiyah diperkuat oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Mendiknas Bambang Sudibyo, Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas, Jeffrie Geovanie, dan aktor Primus Yustisio.

Sementara kesebelasan NU diisi oleh Duta Besar RI untuk Qatar Rozy Munir, Menneg Koperasi dan UKM Suryadarma Ali, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, Idrus Marham, Masduki Baidlawi, Nur Iskandar SQ dan raja dangdut Rhoma Irama.

Ajudan Wapres yang bertugas mendampingi adalah Kombes Pol Drs Syafruddin (baju putih). Menjelang pengambilan gambar, Jusuf Kalla mencermati narasi yang sudah kami siapkan.

Sigap Kombes Syafruddin mengulurkan pulpen kepada Wapres yang kemudian melakukan beberapa perubahan kata.

Sepotong ingatan, usai pengambilan gambar Kombes Syafruddin lalu menyuguhkan aneka makanan dan kue dari dapur rumah wapres.

Sebuah kenangan yang amat berkesan dari ADC kepada para crew syuting. Sungguh sebuah nikmat Ramadhan yang tak terwakili kata kata.

Pandanglah wajah Kombes Syafruddin dalam foto 11 tahun silam. Saat itu tiga melati di pundaknya.

Kini sudah ada tiga bintang. Kesibukannya terbilang padat, sebagai Komandan Kontingen CdM Asian Games 2018, Wakil Ketua Dewan Mesjid Indonesia dan tentu saja tugas utamanya sebagai Wakapolri.

Setidaknya dalam catatan saya dua tiga pekan terakhir agenda Komjen Syafruddin sangat padat. Terbang ke Kabul Afganistan mendampingi wapres Jusuf Kalla dalam misi perdamaian.

Menyemangati team Persija di Stadion GBK Jakarta.

Kemudian hadir dalam acara Pertemuan Ulama Jord Qodama di Cikampek Jawa Barat.

Mengunjungi rumah Aipda Nurman anggota Polres Mamuju Sulbar yang gugur saat mengevakuasi korban banjir bandang.

Juga mampir shalat di mesjid Imam Lapeo ( ulama penyebar agama Islam di jazirah Mandar 1838 – 1952 ) sekaligus bersilaturahim dengan Ummi Isa (90 tahun) putri Imam Lapeo.

Hampir setiap hari ia hinggap di berbagai markas cabor menggemakan semangat juang kepada para atlet yang sebentar lagi akan mengibarkan merah putih di ajang Asian Games.

Dua hari lalu, jenderal asal Sulawesi Selatan ini menerima anugerah “Tokoh Perubahan Republika 2017”.

Semasa kecil pria yang pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Timur ini terbiasa bangun sebelum mentari terbit.

Syafruddin kecil bertugas menimba air untuk memenuhi kolam air wudhu di masjid sekitar Makassar, Sulawesi Selatan.

Jika waktu shalat telah tiba dan belum ada yang mengumandangkan azan, Syafruddin yang ketika itu berusia tujuh tahun bertindak sebagai muazin.

Masyarakat sekitar akan berdatangan untuk mendirikan shalat berjamaah.

Rutinitas seperti itu terus dia tekuni setiap hari.

Saat remaja, penyuka olahraga renang ini diberi amanah untuk menyusun jadwal khatib shalat Jumat dan merancang kegiatan keagamaan dan meramaikan tempat sujud.

Ada kisah di awal 2010 saat Brigjen Syafruddin bertugas di Sumut.

Jusuf Kalla yang tidak lagi menjabat wakil presiden berkunjung ke Medan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia.

Salah satu titik yang ditinjau adalah pelayanan mobil ambulans milik PMI.

JK kemudian bertanya kepada petugas yang mengendalikan operasional ambulans tentang kendala kendala yang dihadapi.

Sang petugas menjawab bahwa banyak penelpon yang meminta layanan ambulans, dan ketika didatangi ternyata penelpon iseng.

JK kemudian memanggil Wakapolda Sumut Brigjen Syafruddin dan mengatakan, “Syaf kau tangkap itu orang yang suka telpon telpon. Lalu umumkan di koran supaya jangan lagi ada yang bercanda.”

Sigap Brigjen Syafruddin menjawab siap Pak.

Tak berapa lama, dengan setengah berbisik dan saya pun mendengar sendiri, JK bilang, “Wah saya lupa kalau Syaf itu sudah jenderal ya, saya kira dia masih ajudan saya, dan saya juga lupa saya pikir saya masih wapres,” ujar JK berkelakar.

Hari ini 12 April 2018, Komjen Syaf berulang tahun.

Sehat ki selalu dan tetap dilimpahkan kucuran kesehatan dalam menjalankan tugas tugas mulia yang dipercayakan oleh pertiwi khatulistiwa.

Sekali lagi salamakki Jenderal. Tabe.

Jakarta 12 April 2018

Doni Monardo dan Syafruddin. Dua sahabat yang telah menghadap Sang Khalik. Semoga mereka bertemu di surga. (ist)

Jusuf Kalla Jumatan di Masjid Assassutaqwa Tuban Bali

KUTA, JAYAKARTA NEWS – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sedang berada di Bali menikmati akhir pekan bersama keluarga. Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat ini menunaikan ibadah salat Jumat, 12 Januari 2024, di Masjid Assassutaqwa Tuban, Kuta, Kabupaten Badung.

Kehadiran Pak JK, panggilan akrabnya, disambut di teras masjid oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, Dr. H. Masrur Makmur, M.Pd.I. didampingi pengurus masjid.

Menariknya, suami dari Hj. Mufidah ini terlihat berpenampilan santai dan banyak mengumbar senyum. Pak JK pun terlihat asyik berbincang dengan H. Masrur Makmur. Sesekali keduanya tampak melepas tawa.

Kedatangan Pak JK untuk Jumatan di masjid yang berlokasi tak jauh dari Bandara Ngurah Rai itu terkesan luput dari perhatian warga sekitar masjid. Ini juga tak disadari kebanyakan umat Islam yang melaksanakan ibadah Jumat siang tadi.

Khutbah Jumat disampaikan H. Masrur Makmur yang menjabat pula Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Bali. Masjid Assassutaqwa Bali ini berada di lokasi yang strategis di wilayah Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta.

Banyak pejabat penting dari pusat yang saat bertugas di Bali melaksanaan ibadah salat Jumat di masjid yang memiliki sejarah penting perjalanan Islam di wilayah tersebut. (Syam Kelilauw)

Diplomasi peri-Kebinatang-an ala JK

PENGANTAR REDAKSI

Komodo, salah satu binatang purba yang masih hidup di Tanah Air, kembali “naik daun”, bersamaan dilangsungkannya KTT ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Fakta tersebut tidak memungkiri hadirnya tokoh bangsa bernama Jusuf Kalla.

Sosok yang dua kali menjabat Wakil Presiden itulah yang sejak tahun 2011 getol mempromosikan Komodo. Dalam status “jeda” sebagai Wakil Presiden, pria berkumis khas itu menjadi Duta Komodo. Kini, buah kerja 10 tahun yang lalu, menampakkan sinarnya.

Sebagai bagian dari gerakan “melawan lupa”, redaksi menayangkan ulang tulisan jurnalis senior, Egy Massadiah tahun 2013 berikut ini.

***

Dengung komodo sebagai The New 7 Wonder World Nature (7 Keajaiban Dunia) sudah berlangsung setidaknya sejak 3 tahun silam. Namun untuk memenangkan gelar tersebut terasa senyap dan sunyi karena terus terang sebagian besar masyarakat tidak mendapat pemahaman yang tuntas. Hal lain cara menyampaikan informasi tersebut sulit dicerna masyarakat awam.

Di hari pertama JK dilantik sebagai duta besar komodo, saya termasuk salah satu yang rada “protes”: Ada urusan apa lagi JK ujug-ujug urus peri-kebinatangan bernama Komodo? Padahal saat ini JK adalah ikon peri-kemanusiaan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PMI? Bukankah tugas peri-kemanusiaan masih sangat membutuhkan energi JK, ngapain pula urus lagi peri-kebinatangan?

Untunglah Jusuf Kalla (JK), si gesit lincah yang mampu memberikan pemahaman utuh, singkat, padat, sederhana dan menukik ke kalbu serta sangat masuk akal sehat kita; kenapa kita sebagai anak negeri harus mendukung komodo. Cara JK menjelaskan pun menggugah emosi kebangsaan kita.

Jusuf Kalla dan komodo. (foto: dokpri)

Lahirnya Sang Bintang

Perlahan kekuatiran dan protes saya dapat terjawab secara lebih cepat dan lebih baik. Itu berkat cara JK menjelaskan perihal komodo dengan logika sederhana.

Pertama-tama JK memberi latar belakang bahwa di zaman dulu pemilihan semacam bintang radio dan televisi dipilih oleh dua atau tiga juri. Setelah itu lahirlah sang bintang atau sang penyanyi. Tujuh keajaiban dunia tempoe doeloe semacam Piramid, Babylone, Menara Pisa, Tembok Cina dll juga dipilih dan ditetapkan beberapa orang ahli saja.

Begitupula pemilihan gubernur bupati dulu cukup dipilih oleh sekitar 50-100 anggota DPRD.

Demokrasi dan teknologi mengubah segalanya di era sekarang. Demokrasi menjadi sebuah cara yang pada akhirnya melahirkan “sesuatu”. Teknologi menjadi alat atau salah satu instrumentnya. Penyanyi atau bintang macam American Idol atau Indonesia Idol (untuk menyebut beberapa contoh) dinobatkan sebagai selebriti baru, berdasar banyaknya orang yang memilih baik melalui jalur sms atau pun internet.

Artinya demokrasi untuk memilih, menetapkan seseorang atau apa pun berdasarkan suara terbanyak. Tentu saja setelah melewati tahapan penyaringan yang disepakati bersama dan terbilang ketat.

Adapun komodo juga telah melewati tahapan tahapan semacam itu. Awalnya ada sekitar 400 an lebih nama yang diusulkan sebagai calon 7 keajaiban dunia. Kemudian tersaring menjadi 75 an nama hingga terakhir tersisa 28 finalis. Komodo termasuk yang tengah bertarung meraih gelar 7 keajaiban dunia.

200 Juta HP

Mengerucut kepada pemilihan komodo sebagai 7 keajaiban dunia, dimata JK semestinya bukanlah hal yang sulit. Pertama Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih 230 juta dengan jumlah pengguna handphone aktif sekitar 150 an juta (data lain menyebutkan 200 juta). Optimisnya jika 150 juta pemilik hp terpanggil untuk vote komodo maka dapat dipastikan komodo akan masuk sebagai pemenang dengan angka sms tertinggi.

Pesimisnya kalau yang vote hanya 30 persen toh kita masih bisa mendapat peluang menang dengan sekitar 45 an juta sms. Angka 45-an juta tersebut saya aminkan sebagai hal yang bisa terwujud. Paling tidak jika membandingkan dengan jumlah sms yang beredar saat hari Raya Idul Fitri.

Namun pemahaman yang paling masuk akal dan logis adalah penjelasan JK. Katanya, inilah cara paling murah mempromosikan Indonesia di tengah keterpurukan dan kegaduhan negatif dalam negeri. Sepak bola yang kita dambakan mampu mengibarkan merah putih di kancah dunia untuk sementara harus lengser dulu. Tapi kita punya harapan dan mimpi baru yang sebentar lagi menjadi kenyataan, yaitu komodo.

“Komodo tetap komodo, komodo seratus tahun lagi tetap binatang, hidup di kubangan. Komodo tidak butuh baju baru, rumah baru, tidak butuh hp baru. Bahkan komodonya pun tidak tahu kalau dirinya terpilih menjadi tujuh keajaiban dunia,” ujar JK. ”Tapi yang terbantu secara signifikan adalah masyarakat sekitar komodo dalam hal ini provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jika kelak komodo terpilih menjadi 7 keajaiban dunia (dan terbukti akhirnya Komodo masuk 7 Wonder) otomatis kunjungan turis naik 10 kali lipat. Ekonomi NTT bergerak lebih cepat. Infrastruktur akan terbangun, hotel akan penuh, guide dapat order, restoran ramai, penjualan kerajinan tangan meningkat dan masih banyak lagi. Intinya melalui peri-kebinatangan bernama komodo kita membantu mensejahterahkan manusia. Dan saya percaya komodo bisa menjadi Bali kedua,” kata JK yakin.

Binatang Tertua

Jusuf Kalla sebagai “Duta Komodo”. (foto: dokpri)

Banyak hal pada saat itu yang memang bisa membuat kita optimis tampil sebagai pemenang. Pertama jumlah pengguna hp kita yang besar. Kedua, dari 28 finalis yang masuk hanya ada dua katagori binatang yaitu kura kura dari Ecuador dan komodo dari Indonesia yang konon sudah ada sejak 40 juta tahun silam. Selain itu komodo adalah binatang yang paling tua di dunia saat ini yang masih bisa kita saksikan di alam nyata.

Langkah JK sebagai duta besar komodo memang sangat kencang. Sesuai dengan motonya Lebih Cepat Lebih Baek. Dua hari setelah mendapat mandat sebagai dubes komodo JK sudah hinggap di pulau komodo. Ia hadir bersama rombongan pendukung dan pecinta komodo yang diangkut dua pesawat jet carter.

Dalam berbagai kesempatan tampil ia mengkampanyekan komodo. Misalnya saat memberi kuliah umum di universitas ataupun saat penganugerahan gelar doktor HC-nya di Universitas Brawijaya Malang. JK tidak lupa mengkampanyekan vote komodo.

JK memang sangat piawai memahami dimana dan dengan siapa dia berkampanye. Saat di Makassar JK memunculkan informasi tentang adanya suku Bugis di pulau komodo. Hal itu secara langsung menggugah khalayak warga Sulawesi Selatan untuk vote via sms.

Seusai shalat jumat di masjid Jenderal M Yusuf Al Markaz Makassar JK tampil ke mimbar. Ia mengajak jemaah untuk mengeluarkan handphone dan sms vote komodo. “Jumlah komodo saat ini sekitar 3000-an terbagi di dua pulau. Pada salah satu pulau hanya ada dua mahluk hidup yang hidup. Pertama, sekitar 1500-an komodo. Kedua, 300-an orang Bugis yang berprofesi sebagai nelayan sejak lebih 50 tahun silam,” papar JK yang disambut tawa hadirin.

Cerita yang lain JK diundang menghadiri ulang tahun sebuah perusahaan celana dalam dan BH (kutang) merek internasional produksi dalam negeri. Momen tersebut JK manfaatkan berkampanye komodo.

BH dan Komodo

JK bercerita bahwa dulu saat masih menjabat wapres, ia mengkampanyekan sepatu JK Collection buatan Cibaduyut. Dengan mudah JK mengecek apakah menteri menterinya menggunakan sepatu produksi dalam negeri; dengan cara menyuruh membuka sepatunya. Lalu bagaimana cara JK mengecek apakah pengguna celana dalam dan BH memakai merek yang dimaksud?

“Anda sebagai perusahaan celana dalam dan BH harus mendukung komodo. Kalau komodo terpilih maka turis akan banyak yang datang ke NTT. Itu artinya, ekonomi makin membaik dan saya yakin penjualan celana dalam dan BH produksi anda juga akan naik di NTT.

Sekarang catat berapa omzet penjualan Anda dan bandingkan nanti setelah komodo terpilih. Pasti (nanti) penjualannya meningkat, ” kata JK yang lagi-lagi disambut gelegar tawa hadirin. Ya JK memang pasti kesulitan jika meminta orang membuka BH seperti dia menyuruh orang melepas sepatu.

JK memiliki sejumlah identitas yang menonjol. Pertama sebagai birokrat dan politisi; pernah menjabat menteri, Ketua Umum Partai dan terakhir sebagai Wakil Presiden. Kedua, sosok JK sebagai saudagar. Tidak heran cara berpikir dan bertindak JK selalu beraroma efisien, cepat, tepat, dan tanggap. Baginya tantangan bukanlah halangan, tetapi peluang. Sebagai duta besar Komodo, saya melihat keterlibatan JK untuk ihktiar perbaikan ekonomi Indonesia.

Dari perspektif kondisi ekonomi kekinian, dunia benar-benar telah menyatu dalam satu sistem ekonomi yang saling mengkait dan tak terpisahkan. Maka tantangan pada setiap negara dan masyarakat dunia adalah bagaimana mengemas diri. Tujuannya agar tampil “sexy” sehingga dapat menjadi perhatian global, dan pada akhirnya menjadi pemain global. Dalam bahasa yang lain JK memberikan “kemasan” pada komodo yang kelak menghasilkan nilai tambah ekonomi yang berlipat lipat. Ujung dari semua itu tentu untuk kemakmuran dan mensejahterahkan rakyat.

Ibarat panglima perang, JK kini tengah berada di garis depan memimpin rakyat Indonesia berjuang menginternasionalkan Pulau Komodo. Kita percaya kelak komodo menjadi 7 keajaiban dunia. Saat itulah, efek domino akan menggema ke penjuru negeri. Tinggal melahirkan komodo-komodo baru yang sebenarnya masih banyak tersembunyi di pelosok nusantara.

Terus terang ada satu pertanyaan saya yang belum terjawab. Dan memang tidak ingin saya tanyakan ke JK. Tujuannya agar jangan melahirkan kegaduhan baru: kemana dan ada dimana posisi pemerintah dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada hajatan komodo yang kelak menjadi tujuan pariwisata penting dunia? Tapi sudahlah, negara memanggil solidaritas kita berbangsa.

September 2013
Egy Massadiah

Udang Mufidah JK

Kisah ini sekitar 2012. Saat Ibu Mufidah Jusuf Kalla sedang jeda menyandang sebutan istri wakil presiden. Hari itu Ibu Mufidah memasang display picture blackberry messenggernya foto udang segar. Saat itu aplikasi whatsapps belum seramai kini. Saya lalu “ping” dan menuliskan : Wow udangnya segar segar ya bu.

Tak berapa lama muncul balasan : Egy mau?  Ambil di rumah.

Saya pun bergegas ke rumah pribadi ibu Mufidah dan mengangkut pulang sekitar 3 kg udang segar. Dari bibi di rumah Jalan Brawijaya saya dapat info bahwa udang tersebut adalah hasil panen tambak udang milik ibu Mufidah Jusuf Kalla.

Begitulah Ibu Mufidah. Dalam hati, saya memang mau makan udang. Namun belum lagi terucap ingin meminta, beliau sudah to the point menawarkan dan bahkan langsung memberi. Konkret, gayung bersambut. Naluri seorang ibu yang sangat bersahaja.

Nah kisah tentang tambak udang milik Ibu Mufidah yang berlokasi di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan ini penuh lika-liku dan keringat perjuangan. Memang bukan slogan yang bisa merubah batu jadi intan, tapi kerja keras bermandikan peluh.

Alberthiene Endah menuangkannya dengan apik dalam novel JODOH 5 Dasawarsa Cinta Jusuf Kalla & Mufidah Jusuf  yang diluncurkan 2017 lalu. Sebuah sajak cinta untuk Mufidah yang dituliskan Jusuf Kalla dan dibacakan malam itu mengharukan hadirin : setengah abad yang indah.

Cinta Lima Abad, Jusuf Kalla dan Mufidah Jusuf. (dokpri)

Diawali dengan pengembangan usaha Hajji Kalla, Jusuf Kalla membeli tambak di sekitar Pare Pare Sulawesi Selatan. Namun usaha tersebut terhenti karena panen udang selalu gagal dengan beragam persoalannya. JK sendiri memutuskan menutup usaha tersebut dan memilih melupakannya.

Diam diam Mufidah mencari tahu inti permasalahannya. Melalui para ahli dan juga pekerja di lapangan Mufidah mengorek informasi. Panen udang tergantung pada kualitas bibit, air, vitamin serta antisipasi penyakit udang rawan virus.

Mufidah bermimpi besar dan sungguh menemukan passion dalam usaha tambak udang. Pengalaman bisnis udang di bawah bendera usaha suaminya itulah, justru melecut semangat Mufidah. Apalagi Mufidah sudah mulai paham operasional tambak udang termasuk risiko-risikonya.

Tanpa sepengetahuan JK, Mufidah membeli lahan tambak seluas 2 hektare di daerah Takalar, Sulawesi Selatan. Dibantu adiknya yang bernama Buyung, kerja senyap itu berlangsung tertutup. Panen pertama gagal. Panen kedua pun demikian. Panen ketiga tak ada hasil. Ke empat tetap total lost.

Tapi Mufidah tak keok. Pengalaman itu tak membuatnya surut. Layar sudah dikembangkan, tak kenal kata mundur. Mufidah seorang perempuan tangguh nan gigih. Hingga kemudian, akhirnya, berkah panen udang berpihak ke Mufidah.

Udang-udang gemuk dan segar melimpah. Tujuh tambak mengalirkan udang tak habis-habis. Udang siap panen mengalir mengikuti arus air yang dipicu oleh kincir angin menuju lorong yang akan berujung dengan jala.

Tambak udang Mufidah di Dusun Punaga ini luasnya mencapai 41 hektare dengan total 30 empang. Usaha tambak udang yang terletak sekitar 50 kilometer dari ibu kota Takalar itu dalam setahun bisa dua kali panen. Hasilnya dikirim langsung diekspor ke sejumlah negara seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok.

Tadinya usaha tambak Mufidah sama sekali tak terendus JK. Suatu hari JK mendapati sang cucu bermain dengan cangkang keong laut. JK bertanya ke sang cucu, kamu dapat dimana itu. Spontan sang cucu bilang, abis jalan-jalan di tambak udang milik neneknya. Nah, rahasia yang berujung indah pun terkuak.

Secara berguyon Pak JK bilang, Ida (Panggilan JK ke Mufidah) lagi banyak dollar itu, panen udangnya berhasil. Produksi udang Mufidah memang mendulang dollar.

Dalam satu kesempatan ke Bucarest, Rumania mendampingi Pak JK berbicara di forum Club Of Rome, Oktober 2012, saat mampir di Doha, Bu Mufidah menyelipkan dollarnya itu ke saya. Ini untuk beli oleh oleh anakmu Egy. Alhamdulillah.

Momeng kenangan ulang tahun Ibu Mufidah Jusuf Kalla. (dokpri)

Mufidah yang kini sudah dua kali menyandang predikat istri wakil presiden Republik Indonesia, dengan jeda 5 tahun, memang tetap seorang ibu yang bersahaja.

Senyum, keramahannya tak ada yang berubah. Bahkan meski menjadi istri orang nomor dua di negeri ini, Mufidah tetap terjun langsung di dapur meracik dan menyiapkan masakan, khususnya yang akan disantap oleh Pak JK sekeluarga.

Minggu lalu masakan bekal yang rutin dibawa ke kantor wapres turut dinikmati Presiden Jokowi yang ikut makan siang di ruangan kerja Pak JK.

Lisa, putri pertamanya yang kini menetap di London, suatu kali bercerita blak-blakan dalam acara Mata Najwa. Sambel yang terhidang di atas meja dengan mudah ditebak oleh Pak JK apakah hasil racikan bibi rumah tangga atau olahan tangan langsung ibu Mufidah. Tangan wanita Minang itu memang cetar di dapur.

Kisah yang lain, di penghujung 2017, saat syukuran pernikahan Halim Kalla terhidang masakan Kapau. Mata saya tertuju pada tiga menu andalan: Gulai Otak, Gulai Kikil mix Rebung Bambu Muda dan Rendang. Cita rasanya “nendang” bingits.

Pasti ini bukan orderan catering. Dugaan saya 100 persen tepat. Saya konfirmasi langsung, benar ini masakan olahan Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Di setiap acara pribadi menu tersebut selalu hadir. Dan yang membuatnya sangat khas adanya campuran rebung pada gulai kikilnya.

Saya pun berbisik kepada ibu Mufidah untuk membungkusnya. Ibu Wapres pun ramah mempersilakan dan bahkan menyuruh seorang petugas membagikan plastik ke saya untuk dibungkus.

Ketiga menu tersebut sangat cocok dengan pola makan saya saat ini, tinggi lemak, tapi NO Karbohidrat dan bebas gula.

Jadilah saya pasukan “Kolombus” yang artinya: Kelompok Bungkus Bungkus. Istilah Kolombus ini cukup viral di kalangan tamu-tamu yang hadir ke pesta dan pulang membawa bungkusan.

Mufidah yang bernama asli Mufidah Mi’ad Saad lahir pada 12 Februari 1943 di kota Sibolga, Sumatera Utara. Ia merupakan putri dari H. Buya Mi’ad (ayah) dan Sitti Baheram (ibu), pasangan perantau Minang asal Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatera Barat yang menetap di Sibolga sebelum berpindah ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Pagi ini Bu Mufidah menyambut tamu tamunya yang ramai berucap syukur atas hari jadinya. Karena banyak tamu, dan saya harus bergeser ke acara yang lain, maka acara “kolombus” tidak saya praktekkan.

Saya juga lupa bilang, setidaknya memberi saran, sebaiknya ibu Mufidah membuat buku kecil tips-tips mengelola tambak udang. Pengalaman beliau kaya dan mumpuni serta layak dibagikan kepada generasi muda.

Selamat ulang tahun ibu,

ibu bersahaja,

ibu yang ramah kepada semua,

sehat ki selalu.

*Egy Massadiah

12 Februari 2018*

Catatan ini Muncul kembali di lini masa FB saya 12 Feb 2023, dan selamat ulang tahun untuk ibu Mufidah yang ke 80. Segenap doa kami hantarkan.

Senja di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla

Kisah dari Lintau

Catatan Egy Massadiah

Syahdan pada Jumat 21 Oktober 2022, Letjen Pur DR HC Doni Monardo, dalam kapasitas sebagai anggota Dewan Penyantun ISI Padangpanjang memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400-an mahasiswa. Acara berlangsung di Gedung Pertunjukan Huriah Adam. Huriah Adam adalah nama maestro tari kelahiran Padangpanjang yang meninggal 10 November 1971.

Karena tiba sehari sebelumnya, Doni Monardo memanfaatkan waktu untuk “pulang kampung” ke Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.

Yang istimewa adalah, Doni Monardo mengajak saya mampir ke rumah gadang Ibu Mufidah Jusuf Kalla di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar. Ini adalah kali pertama saya menghirup udara Lintau.

Senja baru saja menjelang, saat menepi di tanah leluhur Mufidah. Sebuah rumah gadang Minangkabau nan cantik dan anggun menyergap pandangan mata saya.

Bersama Doni Monardo, mampir dan berfoto di depan rumah gadang Mufidah Jusuf Kalla, di Tanah Datar, Sumatera Barat.

Gadang Trend Setter

Ciri utama rumah gadang terletak pada bentuk atap yang melengkung lancip ke atas menyerupai tanduk. Masyarakat Minang menyebutnya gonjong.

Dua gonjong di kiri, dua gonjong di kanan, dan satu gonjong menjorok ke depan, mengesankan aroma megah. Ornamen di bidang “papan banyak” (dinding luar) didominasi ukiran nuansa coklat.

Dari kerabat Mufidah Jusuf Kalla, Syahrul Udjud, saya beroleh informasi bahwa pembangunannya dilakukan tahun 2003.

“Yang menarik, rumah gadang Ibu Mufidah, akhirnya menjadi trend setter,” ujar Syahrul Udjud, yang juga mantan Walikota Padang dua periode (1983 – 1993).

Untuk diketahui, saya sudah mengenal Syahrul Udjud sejak tahun 1990 an, saat masih menjabat walikota. Kala itu sebagai wartawan saya ikut rombongan Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana Soeharto dalam rangka perhelatan Kirab Remaja. Kami dijamu durian di rumah walikota Padang.

Jika Syahrul Udjud menggelari rumah gadang itu menjadi trend-setter, tentu ada alasannya. Ia mengatakan, setelah bangunan itu berdiri, ramai orang Minang bertandang ke sana. Selain untuk melihat dari dekat keindahan rumah gadang, juga tidak sedikit yang kemudian meniru.

Apa yang ditiru? Utamanya pemanfaatan ruang bawah. Sebelum tahun 2003-2004, rumah gadang identik dengan rumah panggung.

Pada bagian bawah, dibiarkan kosong. Kalaupun dimanfaatkan, biasanya untuk gudang. Berbeda dengan rumah gadang Mufidah, yang menutup rapat bagian bawah, dan memanfaatkan bidang yang ada menjadi kamar-kamar.

“Saya beberapa kali tidur di sana, di ruang bawah,” ujar Syahrul Udjud. Ditambahkan, selain kamar-kamar, juga dimanfaatkan untuk tinggal para pegawai yang mengelola dan merawat rumah gadang itu. “Jadi sangat fungsional, tanpa mengubah esensi arsitektur rumah gadang khas Minang,” tambahnya.

Jusuf Kalla dan Mufidah JK.

Proses Pembangunan

Ide pembangunannya muncul tahun 2001 ketika Menko Kesra Jusuf Kalla dan Mufidah JK bersama Mendikbud Malik Fadjar, berkunjung ke Sumbar. Syahrul juga ikut dalam kunjungan itu. Posisinya sebagai Deputi Menko Kesra.

Dalam kunjungan tersebut, JK dan rombongan mampir ke rumah keluarga besar sang istri di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara. Di lokasi, JK dan istri melihat tanah terhampar luas. Maka tercetuslah ide membangun rumah gadang.

Bupati Tanah Datar Masriadi Martunus (2000-2005) dan Kolonel (Mar) Anshar Miad (adik Mufidah JK) kemudian membuat desain dan rancangan.

Pembangunan dimulai tahun 2003. Syahrul Udjud terkenang, bagaimana JK dan Ibu Mufidah begitu detail mengikuti dan memperhatikan proses pembangunan rumah gadang tersebut. Termasuk ide mengubah space ruang bawah rumah gadang yang kosong.

Awal tahun 2004, JK dan Mufidah kembali berkunjung ke Sumbar. Saat itulah, pasangan Bugis – Minang ini bersama-sama meresmikan rumah tersebut. Mereka kemudian menaiki rumah gadang dan menginap di sana.

Di rumah gadang itu pula, otoritas adat mengukuhkan gelar datuk ke anak laki-laki satu-satunya pasangan JK-Mufidah, yaitu Solihin Kalla. Sejak itu, ia bergelar Datuk Rajo Panghulu.

Dalam rombongan JK, Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan yang beristrikan wanita Minang ikut serta. Tampak pula tokoh Minang Azwar Anas, di samping Buya Syafei Ma’arif dan Anregurutta Kyai Haji Sanusi Baco, ulama kharismatik asal Sulawesi Selatan.

Pepatah Minang

Jusuf Kalla dan Mufidah JK dalam balutan busana Minang.

Mufidah lahir dari pasangan suami-istri Minang yang juga perantau. Tak heran jika ia lahir di tempat rantauan orang tuanya.

Bernama asli Mufidah Mi’ad Saad lahir pada 12 Februari 1943 di kota Sibolga, Sumatera Utara. Ia merupakan putri dari H. Buya Mi’ad (ayah) dan Sitti Baheram (ibu), pasangan asal Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatera Barat yang menetap di Sibolga sebelum berpindah ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Sekalipun begitu, keluarga Mufidah tidak pernah melupakan kampung halaman. Syahrul Udjud menyebutkan ihwal pepatah Minang yang tetap dipegang teguh, “adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah“.

Falsafah tadi merupakan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Sebuah ajaran yang menjadikan Islam sebagai landasan dan atau pedoman tata pola perilaku dalam berkehidupan.

Dengan kata lain, adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai, merupakan kerangka atau pola berkehidupan masyarakat Minangkabau seutuhnya. Baik secara horizontal – vertikal dengan sang maha Pencipta, maupun secara horizontal – horizontal antar sesama manusia, ataupun dengan makhluk lain di alam semesta.

Taat pada filosofi Minang tadi, pasca berdirinya rumah gadang, Mufidah juga membangun Masjid Tanjung Bonai. Lokasi masjid kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah gadang Mufidah. Masjid itu diresmikan Jusuf Kalla dan Datuk Solihin JK serta Mufidah JK tahun 2019.

Menurut Syahrul, orang Minang beprinsip, jika sudah sukses di rantau, jangan sampai lupa memperhatikan kampung. Itu pula yang diwujudkan Mufidah dengan membangun rumah gadang dan masjid di Lintau.

Rumah gadang dan masjid adalah simbol dari adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah. Jika ada urusan kaum atau keluarga bisa dimusyawarahkan di rumah gadang. Jika telah selesai bermusyawarah atau tiba waktu sholat maka mereka segera ke masjid untuk sholat berjamaah.

Sekolah Tenun

Bukan hanya itu wujud kepedulian Mufidah terhadap kampung halaman. Mufidah juga mendirikan Sekolah Tenun di Lintau. Di sekolah tenun itulah para ibu dan kaum remaja warga Sumatera Barat belajar menenun. Kepandaian menenun menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga selain dari bertani.

Masyarakat Sumatera Barat antusias dan mengapresiasi pendirian Sekolah Tenun. Di luar aspek sosial dan ekonomi, pendirian Sekolah Tenun sekaligus memiliki makna besar dalam kegiatan pelestarian budaya tenun yang usianya sudah berabad-abad dan hampir dilupakan generasi sekarang.

Objek Wisata

Nah kembali ke Rumah gadang Mufidah Jusuf Kalla di Lintau. Keberadaannya, tak pelak menjadi salah satu destinasi wisata “tak resmi”. Tak jarang, para pelintas berhenti di depan rumah itu untuk sekadar berfoto dan ber-selfie. Maklumlah, objek rumah indah itu memang sangat instagramable.

Sekadar Anda ketahui, Tanah Datar memiliki banyak objek wisata yang memanjakan indera penglihatan. Sebut saja misalnya, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Benteng Van der Capellen, Panorama Tabek Patah, Kincir Air Talawi, Nagari Tuo Pariangan, Air Terjun Lembah Anai, dan masih banyak lagi.

Tanah Datar juga dikenal sebagai “Nagari” yang paling maju, di samping Koto Gadang di Kabupaten Agam. Dari daerah Tanah Datar juga banyak lahir para pemimpin politik sejak zaman pra kemerdekaan.

“Dokter pertama Indonesia dari Tanah Datar, namanya dr Saleh. Beliau adalah orang tua dari Chaerul Saleh, Ketua MPR RI yang pertama, serta menduduki berbagai jabatan Menteri hingga Wakil Perdana Menteri di era Presiden Sukarno,” papar Syahrul Udjud.

Tokoh Tanah Datar yang lain, di antaranya Ahmad Khatib Datuk Batuah, seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia pada awal abad ke-20.

Kuliner khas Padang.

Kuliner Ikan Sasau

Selain itu, Tanah Datar juga dikenal sebagai surganya kuliner Minang. Kuliner Tanah Datar, secara khusus banyak diburu para wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Beberapa kuliner khas Tanah Datar di antaranya Pangek Simawang. Pangek Simawang adalah makanan yang menggunakan ikan Sasau khas Danau Singkarak sebagai bahan utama.

Menu lain adalah sate didong. Sekilas mirip sate padang yang Anda sering lihat. Akan tetapi, cita rasanya jauh berbeda. Bahan kuliner yang satu ini dari daging sapi biasa yang ditaburi bawang di atasnya. Sate ini dilumuri kuah kuning yang harum dan memiliki cita rasa mantap.

Yang tak boleh Anda lupakan, adalah dadiah, kuliner khas yang menggunakan susu murni sebagai bahan utama. Olahan susu kerbau yang sebelum dikonsumsi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam tabung bambu. Biasanya dadiah dihidangkan bersama ampiang dan gula enau yang terkenal sehat dan legit. Saat mampir di rumah kerabat Doni Monardo, saya sempat mencicipi dadiah. Rasanya mirip keju.

Tentu masih sangat banyak menu lain yang bakal menggoyang lidah Anda. Itu pula yang membuat saya ingin kembali ke sana. Selain singgah di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla, sekaligus berburu kuliner lezat khas Minang di kesejukan hawa Lintau, Tanah Datar.

Sarang Hujan

Bicara Tanah Datar tempat rumah gadang Mufidah, kita sontak ingat Padangpanjang. Dua daerah ini hanya berjarak 28 km. Tidak terlalu jauh. Tidak heran jika keduanya memiliki topografi yang relatif sama. “Padangpanjang adalah kota yang berbahagia,” demikian tulis Ali Akbar Navis, pengarang ‘Robohnya Surau Kami’ yang fenomenal itu.

Mengutip AA Navis: di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup “walau kadang orang mati juga dilindasnya,” kata Navis lagi.

“Di kota kecil ini,” tulis Navis pula, “air berlebihan. Hingga ke mana pun kita bertandang, perempuan atau gadis-gadis cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita.”

Akan halnya Padangpanjang, maka Tanah Datar pun merupakan kota kecil yang berada di kaki gunung-gunung raksasa. Ada Gunung Singgalang di Barat, ada Gunung Marapi di Timur, ada Gunung Tandikek agak ke barat daya.

Untuk kita ketahui bersama, ternyata bukan hanya Bogor yang dikenal sebagai “kota hujan”, tetapi juga Tanah Datar. “We wonen hier in een regennest, Meneer!” kata seorang pelancong Belanda pada akhir abad ke-19. Yang artinya kurang lebih, “Kami tinggal di sarang hujan di sini, pak!”

Tarian Gempa

Doni Monardo, pria berdarah Minang yang saya kenal sejak berpangkat Mayor di tahun 97-an itu, pernah menjabat Kepala BNPB 2019-2021. Ia bercerita ihwal keistimewaan rumah gadang. Disebut istimewa karena rumah gadang yang benar, pasti tahan gempa.

Apa daya. Roda zaman terus berputar. Satu per satu, rumah gadang yang berusia di atas 100 tahun, mulai lapuk. Sebagian berhasil direnovasi, sebagian roboh dan diganti konstruksi rumah beton. Karena itu, rumah gadang mulai jarang ditemui di daerah perkotaan. Akan tetapi, Anda bisa menjumpainya di nagari.

Betapa rumah gadang ternyata juga mewarisi kecanggihan leluhur dalam membuat konstruksi rumah tahan gempa.

Kita mengetahui, bahwa Padang (Sumatera Barat) berada di zona subdiksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Hal ini memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Tak heran bila di sana, sering terjadi gempa bumi. Rumah gadang (yang benar) adalah rumah tahan gempa.

Saya mengulik lebih jauh referensi seputar rumah gadang. Ternyata, bangunan rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang. Bangunan rumah dibuat besar ke atas, namun tidak mudah roboh oleh goncangan.

Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Pada pertemuan antara dasar tiang dan batu dilapisi tumpukan ijuk.

Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu.

Alhasil, saat gempa mengguncang bumi, rumah gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tiang itu berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel.

Benar sekali pepatah “alam takambang jadi guru”. 

Salam sehat dari Lintau.(*)

Dukungan JK Bisa Menjadi Modal Airlangga Hartarto untuk Cari Cawapres

JAYAKARTA NEWS— Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai positif atas dukungan Wakil Presiden RI 2014-2019 Jusuf Kalla (JK) pada Ketum Golkar Airlangga Hartarto untuk manu sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2024.

Ujang mengungkapkan keduanya adalah tokoh Golkar, meski JK tidak masuk dalam kepengurusan Golkar. “Hal yang bagus-bagus saja jika Pak JK mendukung Pak Airlangga, kenapa? Karena keduanya juga tokoh Golkar, walaupun saat ini tidak masuk kepengurusan. Artinya keduanya memang dekat. Keduanya memang tokoh Golkar. Oleh karena itu saya melihat hal yang positif jika Pak JK itu mendukung Pak Airlangga,” tegas Ujang, Senin (19/9/2022).

Ujang mengungkapkan proyeksi nama pendamping sebagai calon wakil presiden (cawapres) ketika maju ke Pilpres 2024. Cawapres bisa diambil dari internal Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) atau dari eksternal. “Bisa di internal KIB. Di situ ada Zulhas, kalau Mardiono sulit ya, karena tidak dikenal. Atau dari pihak eksternal KIB,” ujarnya.

Ujang menegaskan jika Airlangga maju sebagai capres dari KIB, maka akan lebih baik jika cawapres diambil dari eksternal. “Jadi kalau skemanya jika JK mendukung Airlangga dan Airlangga (menjadi) capres di KIB, maka cawapres diambil dari eksternal. Bagus-bagus saja cawapres bukan diambil dari internal, karena Zulhas tidak mengantrol elektabilitas Airlangga, maka yang mengantrol adalah dari eksternal,” ungkapnya.

Menurutnya, cawapres dari eksternal diharapkan bisa mendongrak elektabilitas Airlangga. Ada beberapa nama yang bisa dipertimbangkan seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Menko Polhukam Mahfud MD.

“Itu yang bisa mendongkrak KIB atau Airlangga, Ganjar, Khofifah, Mahfud MD. Itu hal positif menurut saya seandainya skema itu terjadi. Karena ini semua masih panjang, masih dinamis, masih terus berjalan sesuai dengan perkembangan dinamika politik yang terjadi ke depan,” pungkasnya.

Anies Baswedan

Sementara itu, Pengamat Politik Adi Prayitno mengungkapkan bahwa manuver Jusuf Kalla yang memberikan dukungan kepada Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto (AH) sebagai upaya untuk mencari ‘teman’ bagi Anies Baswedan.

“Pak JK selalu dikaitkan, endorse Anies, kenapa nggak berat ke AH. Kalau kemudian Pak JK dikaitkan dengan endorse AH itu tidak lepas dari upaya upaya mencarikan mesin politik dan teman bagi Anies Baswedan untuk maju di 2024,” kata Adi, Senin (19/9).

JK sudah lama kenal dengan Anies Baswedan, dan sering disebut sebagai mentornya. Sementara dalam kapasitasnya sebagai sesepuh partai dan king maker. Anies kata dia, meski di endorse oleh Partai Nasdem, namun belum tentu akan berkoalisi dengan PKS maupun Partai Demokrat.

“Pak JK sebagai salah satu tokoh senior, king maker, sedang mencari partai dan partner koalisi yang paling mungkin diajak kerjasama,“ jelas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) ini.

Sementara Airlangga Hartarto adalah ketua umum partai ‘runner up’ pemenang Pemilu 2019.

Sebelumnya, JK mengatakan, “Sering orang bertanya, ‘Bapak dukung siapa?” “Sederhana saya jawab, saya dukung calon Pak Airlangga yang bisa membawa, memimpin negeri ini menuju kemajuan, kemakmuran yang berkeadilan, itu saja,” jawab JK.

Jika akhirnya dua ‘favorit’ JK ini bersatu, maka posisi ideal adalah ? “Kalau melihat parameter, cocoknya Anies-Airlangga, cuma ya pada level praktis gak mau airlangga, bagi Airlangga capres harga mati,” tandas Adi. (ctr)

Masjid Al-Markaz, Warisan Jenderal M. Jusuf

Jenderal M. Jusuf, salah satu jenderal TNI yang memiliki pengaruh besar di Tanah Air. Jenderal yang sarat prestasi, dekat dengan prajurit, dan hidup sederhana. Namanya harum. Seharum warisan yang ia tinggalkan berupa masjid Al-Markaz di Makassar, Sulawesi Selatan.

Putri Jusuf Kalla Laporan Pencemaran Nama Baik Terkait HRS

Putri ketiga Jusuf Kalla, Musjwira Jusuf Kalla hari ini (2/12/2020) menyambangi Bareskrim Mabes Polri, guna melaporkan pencemaran nama baik atas dua pihak yang dinilai mengganggu martabat keluarga.

Salah satunya unggahan vlog Rudi S Kamiri yang menyebut-nyebut nama “Chaplin” dan mengaitkan dengan posisi di balik HRS.

Brompton itu Laku 200 Juta

Jayakarta News – Sepda benar-benar menjadi barang buruan. Alat tranportasi itu menjadi idola sehingga kini begitu fenomenal. Apa pun mereknya dicari dan dibeli sehingga langka di pasaran atau bahasa anak sepeda ‘goib’.

Apalagi jika sepeda itu eksklusif. Untuk kegiatan amal, dikemas dengan baik, nilai jualnya sangat tinggi. Satu unit nyaris sama harga satu mobil keluarga, sekelas Toyota Avanza atau Daihatsu Xenia.

Itu yang terjadi pada sepeda brompton S2L oranye yang dilelang PMI DKI Jakarta pada kegiatan amal di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (11/8) pagi. Sepeda buatan UK itu terjual Rp 200 juta. Bukan main… top banget.

Sebenarnya sepeda ini biasa saja. Tidak dibuat terbatas (limited edition) dan tidak langka (rare). Kendati keluaran 2020, namun karena dua speed, harga normalnya di kisaran Rp 30 juta, atau paling mahal Rp 40 jutaan.

Sepeda besutan Mr Will Buttler Adams itu, menjadi sangat istimewa setelah frame-nya dibubuhi tandatangan mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla, dan mantan wakil Gubernur DKI Jakarta, Solahudin Sandiaga Uno.

Tanda tangan kedua tokoh ini, pada lelang mampu ‘melambungkan’ harganya sehingga membuat orang berdecak kagum. Mereka paham kenapa kendaraan tanpa asap itu berharga tinggi.

Ketua PMI DKI Jakarta, Rustam Effendy, yang juga Walikota Jakarta Barat dalam kegiatan charity lelang sepeda Brompton di kantor PMI DKI Jakarta, Jl Kramat, Jakarta Pusat. (foto: egu)

Selain ada tanda tangan kedua tokoh bangsa juga karena lelang amalnya itu sendiri. Pembeli semata-mata tidak mengejar eksklusifitas saja tapi juga ingin berbuat untuk kemanusiaan. Apalagi di Indonesia, banyak sepeda brompton, tapi hanya sepeda ini yang ditandatangani Jusuf Kalla dan Sandy Uno, jadi layak dimiliki untuk dikoleksi.

Indonesia, kini memang sedang meradang. Pandemi covid–19 yang tak kunjung usai, membuat semua serba sulit. Maka begitu Ketua PMI DKI Jakarta, Rusef (Rustam Effendy) mengadakan charity banyak yang ikut.

Sepeda ini milik kawannya yang dipinjamkan untuk olahraga. Karena tak ada waktu, atas seizin pemiliknya kemudian dilelang untuk amal agar bermanfaat.

Lelang dibuka di awal Rp 50 juta, angkanya langsung melonjak drastis. Peserta bersahut-sahutan menyampaikan tawaran hingga akhirnya mentok di angka Rp 200 juta.

“Saya berminat. Last minute ada yang lebih tinggi jadi ya nggak dapat. Ini amal bukan jor-joran adu kuat jadi nggak apa. Seneng saja sepeda laku tinggi,” ujar Mohamad Feriadi, CEO JNE yang menawar Rp 195 juta sebelum akhirnya diungguli pemenang.

Penggemar motor besar ini sedikit pun tak terlihat kecewa. Ia bahkan berharap kegiatan serupa banyak dilaksanakan agar dapat membantu mereka-meraka yang kesulitan. (eko guruh)