Connect with us

Histori

BRIN Sebut Tsunami Raksasa di Selatan Jawa Pernah Terjadi Berulang

Published

on

BRIN) menyebutkan tsunami raksasa di selatan Jawa memang pernah terjadi berulang
BRIN menyebutkan tsunami raksasa di selatan Jawa memang pernah terjadi berulang (dok BRIN)

JAYAKARTA NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan tsunami raksasa di selatan Jawa memang pernah terjadi berulang dengan rentang waktu 600 – 1.200 tahun. Potensi nyata tsunawi di Jawa.

Sejak tsunami Pangandaran pada 2006, tim peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan serangkaian penelitian paleotsunami di berbagai lokasi di sepanjang pantai selatan pulau jawa.

“Secara historical atau yang pernah terjadi yang kita alami itu magnitudonya selalu di bawah 8. hasil perhitungan matematis oleh McCaffrey itu ya, bahwa perulangan gempa besar magnitudo 9 di selatan Jawa itu adalah setiap 675 tahun sekali,” ungkap Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Purna Sulastya Putera, dikutip Kamis (7/8/2025).

Lebih lanjut Purna menuturkan, pihaknya ingin buktikan adanya tsunami di selatan Jawa. Karena, jika terjadi gempa besar magnitudo 9, maka area yang terpatahkan itu bisa 900 kilo lebih.

“Itu artinya di seluruh selatan Jawa bisa terdampak,” tandasa Purna dalam forum Media Lounge Discussion (MELODI) di Jakarta, Rabu (6/8). 

Dari hasil penelitian dan studi paleotsunami, Purna mengatakan tim riset menemukan di antaranya di Lebak (Banten), terdapat lapisan pasir kaya mikrofauna laut dan bongkahan kayu di kedalaman kurang dari 1 meter yang bukan berasal dari rawa.

Selain itu ada juga temuan Mineral gloponid mengisi cangkang-cangkang dari foraminifera atau biota laut. Temuan branching coral atau coral bercabang dalam posisi berdiri yang tertimbun pasir. Diperkirakan berasal dari tsunami sekitar 400 tahun dan 3.000 tahun lalu.

Sementara itu, lanjut Purna, di Pangandaran (Jawa Barat) terdapat endapan tsunami berlapis, termasuk lapisan pasir bergelombang.

Hal tersebut, menurut Purna, mengindikasikan adanya dampak perubahan lingkungan yang berubah akibat uplift yang mengindikasikan telah terjadi gempa bumi dan tsunami yang besar.

Sedangkan di daerah Adipala, Cilacap (Jawa Tengah) pihaknya menemukan radiolaria, mikrofauna laut dalam yang jarang ditemukan, di dalam lapisan tsunami. Umurnya diperkirakan sekitar 1.800 tahun. 

Di Kulonprogo (DIY), tim peneliti paleotsunami menemukan lapisan berisi cangkang foraminifera, termasuk ‘baby foram’, sebagai bukti kuat transportasi material laut.

Tim menemukan ada tiga lapis paleo tsunami yang belum dilakukan dating. Umurnya diperkirakan lebih 1.800 tahun.

“Di Kulonprogo ini kita menemukan ada tiga lapis paleo tsunami yang sebenarnya hasil dating-nya atau umurnya kita belum tahu karena masih dianalisis,” ujar Purna.

BRIN berharap lapisan yang tengah dan paling atas itu itu lebih mudah dari 1.800 sehingga bisa merekonstruksi lebih detail perulangan dari tsunami raksasanya.

Sementara di Ujung Genteng (Jawa Barat) terdapat temuan lapisan pasir setebal 7 meter pada lingkungan rawa yang mengindikasikan tsunami berusia sekitar 4.300 dan 5.500 tahun.

Di Lumajang (Jawa Timur) juga terdapat lapisan pasir kontras di antara lapisan lempung yang umurnya sekitar 300–400 tahun. Diduga bukan bagian dari tsunami raksasa seperti di wilayah barat, tapi tsunami lokal.

“Bukti geologi keberadaan tsunami raksasa sudah ada. Tapi kita masih harus melakukan analisis lebih detil untuk memahami frekuensi dan dampaknya secara menyeluruh,” ujar Purna.

Purna mengakui tantangan terbesar bukan hanya mengidentifikasi keberadaan tsunami masa lalu, tetapi juga mengungkap karakteristiknya secara rinci.

“Kita belum bisa menjawab berapa jumlah gelombang tsunami masa lalu, seberapa besar genangannya, hingga berapa lama waktu evakuasi yang tersedia. Ini yang akan kita analisis lebih lanjut untuk mengetahui karakteristiknya,” jelas Purna.

Dengan semakin padatnya wilayah selatan Jawa, Purna menyebutkan diperkirakan hingga tahun 2030 sebanyak 30 juta penduduk dapat terekspos tsunami di selatan Jawa.

Jalan dan infrastruktur yang kini terhubung ke pesisir selatan dapat memperbesar risiko dampak bencana.

Oleh karena itu, Purna juga menekankan bahwa studi paleotsunami sangat krusial dalam mendesain sistem mitigasi dan peringatan dini serta menjadi catatan bagi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam melakukan pembangunan di wilayah pesisir selatan jawa, yang saat ini semakin berkembang. (yog)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement