Riset
BRIN Kembangkan Satelit untuk Berbagai Misi
JAYAKARTA NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan sejumlah satelit nasional, antara lain seri LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Satelit tersebut dimanfaatkan untuk berbagai misi, seperti observasi bumi, pemantauan maritim melalui Automatic Identification System (AIS), komunikasi satelit, serta eksperimen teknologi.
Hal itu disampaikan Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, saat menerima kunjungan Sekolah Alam Bogor di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, baru-baru ini.
“Indonesia sudah mampu membuat satelit sendiri dan ketiganya telah mengorbit. Satelit A1 diluncurkan pada 2007, A2 pada 2015, dan A3 pada 2016, dan ketiganya diluncurkan menggunakan roket India,” ujarnya.
Salma menjelaskan, pengembangan satelit nasional terus berlanjut melalui satelit generasi terbaru, Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1). Satelit ini dirancang dengan kemampuan lebih canggih dibandingkan generasi sebelumnya.
“Satelit ini dilengkapi kamera multispektral resolusi tinggi untuk observasi bumi, sensor magnetometer untuk pengukuran medan magnet, serta sistem komunikasi data. Mudah-mudahan dapat segera diluncurkan,” ujarnya.
BRIN juga tengah mengembangkan satelit Nusantara Equatorial IoT (NEI) yang difokuskan pada sistem peringatan dini bencana. Satelit ini bertugas mengumpulkan data dari berbagai sensor, seperti sistem peringatan tsunami, cuaca, dan gempa. Di samping itu juga mendukung komunikasi kebencanaan dan pemantauan aktivitas maritim maupun penerbangan.
“Satelit ini akan dirancang dalam bentuk konstelasi. Tujuannya untuk memantau wilayah Indonesia secara waktu nyata tanpa jeda. Harapannya, terdapat sekitar 10 satelit yang mengorbit di wilayah ekuatorial,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, satelit-satelit tersebut didukung oleh stasiun bumi yang berfungsi sebagai pusat komunikasi antara operator di darat dan satelit di orbit. Melalui stasiun bumi, berbagai data dapat dikirim dan diterima untuk mendukung kebutuhan riset maupun layanan publik. Hingga saat ini BRIN memiliki empat stasiun bumi, yaitu di Agam, Bogor, Parepare, dan Biak.
“Melalui pengembangan ini, BRIN terus berupaya meningkatkan kapasitas teknologi antariksa nasional. Ke depan, satelit-satelit tersebut diharapkan dapat memperkuat pemantauan wilayah, komunikasi, serta penanganan bencana secara lebih cepat dan akurat,” pungkasnya.***/mel
