Kesehatan
Profesor Riset BRIN Sebut: Tingkat Kematian Akibat Kanker di Indonesia Capai 59,24%
JAYAKARTA NEWS – Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker dan total kematian 242.099. Artinya, tingkat kematian penderita kanker di Indonesia mencapai 59,24%. Prevalensi kanker di Indonesia pada 2023 berdasarkan data Kemenkes tersebut, berada di angka 1,2 per 1000 penduduk pada 2013, menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018. Dikutip dari Laman BRIN, Jumat (8/11/2025).
Semakin meningkatnya kasus kanker di Indonesia dan di dunia pada umumnya, membuat para peneliti berlomba-lomba untuk membantu menyelesaikan permasalahan penyakit tersebut. Masalah paling krusial pada kanker adalah tingginya angka kematian dan beban ekonomi yang besar bagi pasien dan keluarga, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan.
“Salah satu metode nuklir yang telah diakui dan digunakan di dunia kedokteran nuklir untuk diagnosis dan terapi kanker dengan menggunakan isotop. Zat dengan memancarkan radiasi nuklir yang disebut sebagai radionuklida atau radioisotop medis. Dengan kata lain, radionuklida medis adalah isotop radioaktif yang digunakan dalam bidang kedokteran, terutama untuk diagnostik dan terapi,” jelas Imam Kambali salah seorang profesor riset dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor Riset di Gedung B.J. Habibie Jakarta, baru-baru ini.
Radionuklida pemancar positron atau sinar gamma energi rendah dapat digunakan dalam diagnosis kanker melalui modalitas Positron Emission Tomography (PET) dan Single Emission Computed Tomography (SPECT). Untuk terapi kanker dapat digunakan radionuklida yang memancarkan radiasi beta maupun alfa. Beberapa radionuklida bahkan mempunyai fungsi ganda, yaitu dapat digunakan sebagai radionuklida terapi dan diagnosis, atau yang biasa disebut dengan radionuklida teranostik.
Periset bidang teknologi nuklir dari Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia ini menjelaskan, munculnya berbagai penyakit baru seperti covid-19 ternyata dapat didiagnosis dengan radioisotop PET, bahkan komplikasi pasca covid-19 juga dapat didiagnosis dengan radioisotop F-18. Hal ini membuktikan bahwa radionuklida medis akan selalu dibutuhkan di masa depan akibat munculnya berbagai penyakit baru.
Menurut pria kelahiran Mojokerto Jawa Timur 45 tahun yang lalu ini, radionuklida medis dapat diproduksi dengan menggunakan reaktor nuklir maupun akselerator, khususnya siklotron. Neutron yang dihasilkan di dalam reaktor nuklir ditembakkan ke target tertentu melalui reaksi nuklir (n,γ) sehingga dihasilkan radioisotop medis.
“Salah satu kekurangan produksi radioisotop medis dengan reaktor nuklir adalah investasinya yang sangat mahal, sehingga dewasa ini teknologi produksi radionuklida medis bergeser ke siklotron karena investasinya yang jauh lebih murah. Jenis radionuklida medis yang dihasilkan dari siklotron pun jauh lebih banyak dibandingkan dengan reaktor nuklir,” ujar periset yang sudah menghasilkan 61 Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini.
Kini, lebih dari 1.200 siklotron di seluruh dunia yang digunakan untuk produksi isotop, terutama isotop medis seperti F-18, C-11, Ga-68, Tc-99m, dan lain-lain.
Sayangnya, keterbatasan fasilitas siklotron dapat mengganggu kemajuan riset teknologi produksi radionuklida medis sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada pelayanan kedokteran nuklir Indonesia. Penguasaan teknologi produksi radioisotop medis diharapkan semakin baik dan meningkat mengingat aplikasi radioisotop untuk diagnosis dan terapi berbagai penyakit akan semakin berkembang.
Di sisi lain, kerja sama yang erat antara rumah sakit sebagai pengguna radionuklida medis dan periset dari berbagai disiplin ilmu di berbagai lembaga yang kompeten, akan sangat membantu percepatan pemanfaatan teknologi nuklir dalam kedokteran nuklir.
“Keterbukaan informasi antara pelaku riset, lembaga perijinan dan kementerian kesehatan akan secara signifikan meningkatkan kemampuan penyedia teknologi dalam membantu memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi oleh dunia medis,” terang periset yang menyelesaikan S3nya di University College Dublin, National University of Ireland 2014 ini.
Radionuklida medis memiliki peran strategis dalam mendukung target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029 untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular menuju visi Indonesia Emas 2045. Peran ini mencakup berbagai aspek kesehatan, penelitian, dan pengembangan teknologi, yang sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, khususnya di sektor kesehatan dan inovasi teknologi.
Dirinya menegaskan, peran strategis radionuklida medis dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan mencakup diagnosis dan terapi berbagai penyakit. Dengan mengembangkan kapasitas produksi radionuklida domestik, melalui fasilitas akselerator, layanan berbasis radionuklida dapat diperluas hingga ke daerah terpencil.
Selain itu, pengembangan industri berbasis teknologi tinggi ini akan mendorong peningkatan kemampuan Indonesia dalam memproduksi radionuklida. Selain itu juga akan mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, memperkuat industri farmasi nuklir, dan mendukung kemandirian teknologi.
“Bahkan investasi dalam riset dan pengembangan teknologi nuklir medis dapat menciptakan ekosistem inovasi yang memperkuat daya saing nasional di sektor teknologi tinggi. Dengan diagnosa dan pengobatan yang lebih baik, radionuklida medis dapat menurunkan beban penyakit, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperpanjang harapan hidup, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” beber pria yang telah menghasilkan 3 paten ini.
Ia menginginkan, permasalahan ketersediaan radioisotop dan radiofarmaka di Indonesia akibat ketergantungan produk impor lebih dari 90% pasar radioisotop medis, perlu segera diselesaikan. salah satunya dengan peningkatan kapasitas SDM dalam penguasaan teknologi produksi radionuklida medis, dan fasilitas siklotron tidak hanya terpusat di Jawa. “Harus tersebar di seluruh tanah air, karena radionuklida medis mempunyai waktu paruh yang pendek,” tegas anggota Institute of Physics UK and Ireland pada 2010-2013 ini.
Dia juga berharap, semua pemangku kepentingan harus duduk bersama dalam menyelesaikan masalah yang ada. “Kedepan, radionuklida medis diharapkan akan digunakan sebagai metode primer dalam deteksi kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Sehingga mampu mengurangi beban kesehatan masyarakat Indonesia secara signifikan,” pungkasnya.***/mel
