Strategi “Zero Fear of Crime” ala Kombes Dadang

 Strategi “Zero Fear of Crime” ala Kombes Dadang
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si. (foto: faisal)

Jayakarta News – Inilah Kombes Pol. Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si. Pamen senior Polri yang pada tanggal 16 November mendatang, genap dua tahun memimpin Polrestabes Kota Medan. Lelaki kelahiran Surabaya, 24 November 1971 itu, punya strategi khusus dalam bertugas.

Berbicara pada acara book review “Polri dalam Arsitektur Negara” dan “Democratic Policing”, Kombes Dadang menguak banyak hal secara terbuka. Audiens yang terdiri atas sejumlah rektor perguruan tinggi, politisi, mahasiswa dan masyarakat umum itu, mendapatkan banyak sekali back ground informasi. Tak heran bila beberapa peserta mengaku belum puas, dan menghendaki ada kegiatan sejenis di lain waktu.

Kombes Dadang menyoal ihwal integrasi data, terkait kepatuhan hukum. Ia pun memimpikan, ada pusat data yang terintegrasi. Itu artinya, semua jenis pelanggaran juga terdata.

Dari waktu ke waktu, institusi Polri semakin profesional dan terbuka. Sudah ada jiwa demokrasi dalam tubuh Polri. Terlebih, Polri juga memilki grand strategy 2005 – 2025. Dua buku yang di-review pada pagi hari ini, Sabtu (2/11/2019) di Hotel Aston Medan, adalah salah satu implementasi grand strategy Polri.

Narasumber book review. Dari kiri: Prof Hermawan Sulistyo (penulis), Prof. Subhilhar, M.A., Ph.D, Guru Besar FISIP USU, dan Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si. (foto: faisal)

Lulusan Akpol 1994 itu menambahkan, sebagai Kapolrestabes Medan, ia pun punya standar. Misalnya, bagaimana standar pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas). Dalam perspektif ideal, Polri tidak saja menjaga dan memelihara Kamtibmas, tetapi juga harus memberi kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Artinya, menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat agar masyarakat bebas beraktivitas, berkegiatan sosial, termasuk berinvestasi. Karenanya, Kamtibmas menjadi prioritas,” tambahnya.

Dalam konteks itu pula, Kombes Dadang Hartanto menargetkan zero fear of crime. Tidak ada rasa ketakutan pada masyarakat untuk menjalankan aktivitasnya.

“Tidak ada perasaan takut dibegal kalau keluar malam,” kata Dadang seraya menambahkan, fear of crime rendah atau nol, harus menjadi parameter kinerja Polri. Setidaknya saya menerapkan parameter itu.”

Implementasi kerja sehari-hari, adalah tanggap atau responsif. Setiap ada komplain, cepat ditangani. Ada laporan kasus narkoba, segera direspon. Kecepatan bertindak aparat kepolisian ini juga menjadi parameter untuk menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif. Pendek kata, bila terjadi kasus, polisi harus segera menangani dan mengungkap.

“Untuk pelaksanaannya, saya punya tools. Bekerja base on data, lalu ada mapping, menentukan trend, prediksi, baru disiapkan langkah-langkah. Jika data lengkap, polisi bisa dengan mudah melakukan langkah antisipasi. Sebab, berdasar data tadi, tak jarang kita menemukan sebuah trend kejahatan berulang atau modus kejahatan yang terpola,” papar Dadang.

Contoh kongkrit diungkapkan, menjelang Hari Raya Idul Fitri, trend kejahatan meningkat. “Saya harus bisa memotong trend itu agar tidak meningkat, atau bahkan hilang sama sekali. Langkahnya pun harus ekstrem,” ujarnya.

Salah satu hasil analisa berdasar data, Kombes Dadang membentuk Tim Pegasus. Semua kekuatan dikerahkan di lapangan untuk melakukan upaya pre-emtif aktif.

“Setiap ada orang kumpul-kumpul, langsung kami datangi. Tidak jarang, polisi menemukan ada di antara orang-orang itu yang membawa leter-T, senjata tajam, dan lain-lain yang sering dipakai melakukan tindak kejahatan. Terbukti, tim Pegasus bisa menurunkan kejahatan di jalanan dengan drastis,” kata Dadang.

Komisaris Besar Polisi Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si . (foto: faisal)

Bukan hanya itu. Suatu ketika, ada rekaman yang menggambarkan aksi begal terhadap pejalan kaki. Korbannya sedang jogging. Nilai kerugiannya tidak seberapa, kecil jika diukur dari rupiah. Karenanya, korban tidak melapor.

Terhadap kasus itu, aparat Polrestabes Medan mendorong korban tadi untuk tetap membuat laporan. Atas dasar laporan itu, kemudian dilakukan penanganan perkara.

“Dari kasus sepele itu, saya akhirnya bisa mengungkap jaringan kejahatan yang lebih besar. Bahwa pelaku ternyata bagian dari komplotan yang selama ini sering melakukan praktik kejahatan di Medan,” tambahnya.

Di luar kriminalitas jalanan, Dadang juga tidak mengendurkan perhatian terhadap kejahatan kerah putih. Prinsipnya, masyarakat bebas beraktivitas tanpa adanya rasa takut. Akan tetapi, setiap kegiatan yang berdampak buruk pada kesejahteraan masyarakat, seperti korupsi, juga harus cepat ditangani. Termasuk kejahatan terorganisir lainnya.

Last but not least, saat ini Kombes Dadang sedang menaruh perhatian pada maraknya kasus narkoba. Di Medan, ada kecenderungan yang luar biasa. Sebagai indikasi, dari sekitar 1.000 tahanan Polrestabes Medan, 80 persen di antaranya terjerat kasus narkoba.

Dadang mengatakan, kesimpulan sementara, menangani narkoba tidak bisa parsial. Harus massif. Sebab kalau sporadis, satu ditangani akan muncul lagi kasus lain. Begitu seterusnya. Jaringan narkoba terkoneksi satu dengan yang lain. Memutus mata rantai narkoba sangat sulit. Setidaknya itu kenyataannya.

“Untuk itu satu-satunya cara memberantas atau menekan drastis kasus narkoba adalah dengan membangun imunitas pada masyarakat. Harus dilakukan program penanganan yang output-nya masyarakat kebal terhadap pengaruh narkoba,” kata Dadang.

Audiens setuju dan mengapresiasi paparan Kombes Dadang. Bahkan, Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo yang menjadi narasumber utama book review, kontan mengangkat mic dan berkata, “Apa yang dikatakan pak Dadang itu luar biasa. Belum pernah saya mendengar paparan Kapolrestabes seperti ini. Yang bisa paparan sebagus ini biasanya yaaa….,” belum habis bicara, hadirin serentak menyahut, “Kapolda!” Hadirin pun bertepuk tangan. (roso daras)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *