Saya “Ndeso”, Saya Indonesia

 Saya “Ndeso”, Saya Indonesia

Zainul Arifin yang akrab disapa Masza. (foto: dokpri)

Jayakarta News – Terbilang muda, 30 tahun, julukan sekarang masuk generasi Y. Namun komitmen jiwa mudanya turut menjaga harmonisasi negeri seperti tertanam di lubuk hati terdalamnya. Itulah Zainul Arifin yang suka disapa Masza.

Pemuda  Dusun Pasinan, Desa Karangbendo, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini bahkan sudah terusik hatinya ketika baru masuk SMK. Ia melihat warga sekampungnya kalau  ditanya malu menyebut nama desa asalnya. Selain merasa kecil hati disebut ndeso, di sana dikenal penduduknya tukang bikin mebel, atau tukang kayu.

“Umumnya tak ada kebanggaan terhadap desanya, bahkan malu karena ndeso,“ papar Masza.  Kebanyakan warga, kala itu, kalau mengaku dari kota kesannya keren, “wah, orang  kota”. Masza belia justru meronta batinnya, dan menganggap mereka kurang punya kecintaan terhadap desanya.

Mengapa harus malu dikatakan ndeso? Mengapa minder jadi tukang kayu? Itu kan karya juga, yang memerlukan ide-ide dan kreativitas agar menjadi karya yang bagus dan indah?

Letupan-letupan pertanyaan yang menggugat atas realitas di desanya itulah yang kemudian menuntun kiprahnya ikut andil dan peduli kampung halaman. 

Yang terbersit awalnya adalah kecintaan terhadap kampung halaman. Cinta wilayah lokal harus dibangkitkan terlebih dulu, tekadnya. “Ya, yang muncul mulanya cuma itu, pola pikir anak (usia) SMA seperti apa sih,“ ujar Masza.

Lalu, seiring meningkatnya pendidikan dan pergaulannya di kampus, maka komunitas yang dibangunnya kian menguatkan akar pijaknya. Menjaga harmonisasi ala anak muda dengan kiblat pada kearifan lokal, utamanya lewat jalur seni budaya.

6. Festival Semeru di Ranu Pane, Senduro-Semeru, Kabupaten Lumajang. (foto: dokpri)

Mengapa budaya? Karena pendidikan kearifan lokal melalui budaya, salah satunya seni, harus kita tanamkan terus menerus. “Kecintaan pada daerah itu sebagai pondasi awal penanaman kebangsaan dan nasionalisme,“ kata alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Universitas Wisnu Wardhana Malang (S1) dan Universitas Dr Soetomo Surabaya (magister manajemen) ini.

Motif yang mendasari aktivitasnya bersama pemuda di kampung terpacu oleh spirit membangun ekonomi desa yang berbasis budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. “Kegiatan ini saya lakukan dengan membentuk komunitas,“ ujar sulung dari 3 bersaudara yang pernah menjadi pengurus IPNU ini.

Komunitas itu bernama Culture Indonesia Organizations (CIO) Indonesian Arts Culture, dan terkait pengembangan dan pelestarian budaya.

Berhasil dengan komunitas CIO-nya, Masza pun acap diminta membina komunitas lain, tak hanya di Lumajang tapi di luar kotanya, seperti Madiun, Jatim, dan juga Gianyar, Bali. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (2018-2023) ini juga Pembina Duta Wisata di Lumajang sejak 2013 hingga sekarang, serta Pembina Genta Bhuana Arts, dan Pembina Villa Dancer Arts Management.

Kiprahnya dimulai 2007 dengan menghimpun para pemuda kampung. Banyak yang mendukung, meski ada juga yang tak setuju, termasuk keluarga. Namun Masza yang lahir 20 Februari 1989, berusaha meyakinkan bahwa apa yang dilakukan memang tidak berdampak hari ini, tapi akan berefek nanti, baik terhadap pekerjaannya maupun aktivitas tersebut.

Pikiran mudanya saat itu menerawang jauh. Ia melihat kampung mebel Pasinan bisa maju kalau digerakkan dan dikelola bersama-sama. Tidak bisa tanpa berjejaring. “Maka kolaborasi itulah yang kami bangun,“ kata Masza. Mindset pun diperbarui. Pekerjaan membuat mebel ini butuh ide-ide dan inovasi agar menghasilkan produk karya yang bagus. Ini bukan sekadar pekerjaan tukang, butuh sentuhan seni dan gagasan kreatif.

Masza seolah hendak menyatakan, ini pekerjaan juga punya citra apik. Dan karya yang bagus akan menarik konsumen, dan tentu makin dikenal. Lama-kelamaan kampung mebel Pasinan kian populer. Branding “Kampung Mebel” pun akhirnya melekat untuk Pasinan yang dulu dibilang ndeso. (iswati)

Wilayah yang dulu “ndeso” itu kini sudah dikenal secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional sebagai “kampung mebel” Pasinan. (foto: lumajangsatu.com)
BACA TULISAN TERKAIT:

“Tunggal Ika” Semeru Agung

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *