• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Saturday, September 26, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Serayu, Sungai yang Dinikahi Kembali

Serayu, Sungai yang Dinikahi Kembali

admin by admin
September 3, 2026
in Feature
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Heri Mulyono

Di Kaliori, Banyumas, sungai bukan sekadar aliran air. Pada Bisik Serayu Festival 2026, warga menikahkan manusia dengan Sungai Serayu lewat ritual Manten Gethek, mengingatkan bahwa sungai pernah menjadi bagian paling akrab dari kehidupan mereka.

SUNGAI YANG MENGHIDUPI

Dari kejauhan, panggung Bisik Serayu tampak sederhana: sebuah tepian sungai, beberapa gethek, dan barisan warga yang menonton dari darat. Namun di balik kesederhanaan itu, festival ini sesungguhnya sedang mempertaruhkan sebuah gagasan besar, bahwa sungai bisa kembali menjadi pusat kehidupan budaya, bukan sekadar latar yang kebetulan indah untuk difoto.

Serayu tidak lahir untuk sebuah festival. Ia berhulu di kawasan Pegunungan Dieng, Wonosobo, mengalir melintasi Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas, sebelum menuju Cilacap dan bermuara di Samudra Hindia. Ratusan kilometer perjalanannya melewati sawah, permukiman, dan jalur-jalur kecil yang selama berabad-abad menjadi urat nadi warga di sepanjang alirannya. Sepanjang jalur itu, sungai menopang pertanian, permukiman, dan mobilitas masyarakat. Ia bukan sekadar bentang alam yang dilewati, melainkan ruang hidup yang ikut membentuk cara masyarakat Banyumas mengorganisasi hari-harinya, dari musim tanam hingga musim ketika air meluap dan surut kembali.

Jejak hubungan itu terekam jauh sebelum kata “festival” dikenal di wilayah ini. Pada awal abad XIX, Serat Centhini mencatat pertunjukan tayuban dan ronggèng dalam episode perjalanan Cebolang di Wirasaba, sebuah gambaran bahwa kesenian dan kehidupan sungai sudah lama berkelindan dalam catatan sastra Jawa. Beberapa dekade kemudian, sebuah jurnal kolonial tahun 1886 menyebut nama Karsijah, seorang ronggèng yang sekitar tiga puluh tahun sebelumnya sangat masyhur di Purbalingga. Pada awal abad XX, gamelan dan terbang masih lazim mengiringi pesta perkawinan dan sunatan di desa-desa sekitar sungai, menjadikan musik bagian yang menyatu dengan siklus hidup warga, bukan sekadar hiburan tambahan di sela-sela kerja.

Yang menarik dari catatan-catatan itu adalah betapa keseniannya tidak membutuhkan panggung dalam pengertian modern. Ia tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari, di sela sawah, sungai, dan halaman rumah warga. Batas antara bekerja dan berkesenian nyaris tidak ada; keduanya berlangsung dalam ruang dan waktu yang sama, dengan sungai sebagai salah satu latarnya yang paling konsisten.

BUNYI DARI AIR

Di Desa Plana, jejak semacam itu masih bisa dirunut hingga ke sebuah kebiasaan sederhana bernama Kunclungan. Dahulu, sepulang bekerja di sawah, warga turun ke Serayu untuk mandi dan beristirahat, melepas lelah setelah seharian membungkuk di antara tanaman padi. Dari sanalah muncul permainan bunyi: tepukan tangan yang digerakkan di permukaan air menciptakan irama tersendiri, tanpa alat musik, tanpa panggung, dan tanpa penonton yang sengaja diundang. Air menjadi instrumen, tubuh menjadi pemainnya, dan sungai menjadi ruang pertunjukan yang tidak pernah diniatkan sebagai pertunjukan.

Pengalaman semacam itu menempatkan sungai bukan sekadar sebagai sumber air, melainkan tempat orang bertemu, bermain, dan tanpa sadar menciptakan kesenian. Pada 2024, Kunclungan dibawa kembali ke dalam Bisik Serayu Festival, dihadirkan bukan sebagai rekonstruksi museum, melainkan sebagai praktik yang masih bisa dihidupkan. Setahun berikutnya, sungai menjadi ruang ruwatan dan labuhan, sekaligus pengingat akan Blabur Banyumas, banjir besar akibat meluapnya Serayu pada 1861, sebuah peristiwa yang mengajarkan bahwa kedekatan dengan sungai juga berarti hidup berdampingan dengan risikonya. Tahun ini, hubungan manusia dan sungai itu dirumuskan ulang lewat sebuah simbol yang lebih personal dan intim: Manten Gethek.

DARI KALIORI KE TOKYO, DAN KEMBALI

Festival semacam ini jarang muncul begitu saja dari ruang kosong. Ia biasanya lahir dari biografi seseorang yang cukup lama bergerak di antara dua dunia, cukup dekat dengan tradisi untuk memahaminya dari dalam, dan cukup jauh merantau untuk melihatnya kembali dari luar dengan mata yang berbeda.

Untuk memahami Manten Gethek, ada baiknya menelusuri dulu perjalanan orang di baliknya. Rianto lahir di Kaliori, tumbuh dalam lingkungan kesenian Banyumas, dan dikenal luas sebagai penari sekaligus koreografer Lengger Lanang. Sejak kecil ia menyaksikan bagaimana kesenian rakyat hidup berdampingan dengan sungai, sawah, dan ritme desa, sebuah pengalaman yang kelak menjadi rujukan ketika ia merumuskan festival ini puluhan tahun kemudian.

Dari desa itu, Lengger Lanang membawanya menembus panggung internasional, hingga ke Jepang. Di sana, bersama istrinya, penari Jepang Miray Kawashima, Rianto mendirikan Dewandaru Dance Company di Tokyo, sebuah kelompok tari yang mempertemukan estetika Banyumasan dengan sensibilitas seni pertunjukan Jepang. Tahun ini, Dewandaru justru kembali tampil di Kaliori, berdampingan dengan sang pendirinya sendiri, dalam festival yang menjadikan Serayu sebagai ruang perjumpaan lintas negara. Selain dari Jepang, hadir pula Florence Boyer, penari, koreografer, dan peneliti seni asal Prancis; Thamizhavanan Narayanasamy dari Malaysia; serta kelompok Yamato No Tamashii, juga dari Jepang.

Perjalanan Rianto seperti mengulang gerak yang sama, berputar dan kembali ke titik semula dengan muatan yang lebih kaya: dari Kaliori, kesenian membawanya ke dunia; dari Jepang dan panggung internasional, ia kembali ke Kaliori dengan pengalaman, jejaring, dan bentuk kolaborasi baru. Tradisi lokal, dalam perjalanan itu, tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku dan harus dijaga persis seperti aslinya, melainkan sesuatu yang terus bergerak, menyerap, dan tumbuh setiap kali bersentuhan dengan pengalaman baru.

PENGANTIN DI ATAS GETHEK

Sabtu sore, 29 Agustus 2026, di tepian Serayu, sebuah perkawinan berlangsung secara simbolik. Sepasang laki-laki dan perempuan tampil dengan busana serta rias pengantin lengkap, seolah sedang menjalani prosesi perkawinan yang sesungguhnya. Prosesi dimulai dari darat: keduanya diarak menuju tepian sungai, disaksikan warga dan pengunjung yang berdiri di sepanjang jalan setapak, lalu naik ke atas gethek yang perlahan membawa mereka ke tengah Serayu, meninggalkan daratan di belakang mereka.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak segera terjawab bagi siapa pun yang baru pertama kali menyaksikannya: siapa sebenarnya yang sedang dinikahkan?

Jawabannya ada dalam Manten Gethek, salah satu bagian utama Bisik Serayu Festival 2026 di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas. Gethek, manusia, dan sungai dipertemukan dalam sebuah pertunjukan ritual yang mencoba membayangkan kembali hubungan manusia dengan Serayu, bukan sebagai relasi yang berjarak, melainkan sebagai ikatan yang setara dan penuh hormat. Rianto, sang penggagas festival, menyebut Manten Gethek sebagai pertunjukan berbasis air atau water-based performance yang memvisualisasikan “pernikahan suci” antara manusia dan Sungai Serayu.

“Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah laku spiritual dan kosmologi Banyumasan,” ujarnya.

Gethek yang dahulu digunakan warga untuk menyeberangi sungai, sekadar alat transportasi yang fungsional, kini menjadi bagian dari prosesi yang justru membawa manusia mendekat ke sungai, bukan menjauh darinya. Sepasang figur berbusana pengantin mempertegas simbol “manten”, sementara air menjadi ruang tempat hubungan itu dipertunjukkan kepada publik, disaksikan bersama alih-alih dijalani secara diam-diam sebagaimana kebiasaan warga di masa lalu.

TIGA PILAR, SATU RUANG

Bisik Serayu tahun ini tidak berdiri sendiri sebagai satu pertunjukan tunggal di tepi sungai. Rianto merumuskan festival melalui tiga pilar yang saling menopang: Bisik Air atau Svara Tirta, Pijak Bumi atau Prajna Pertiwi, dan Temu Rasa atau Manunggaling Warga. Ketiganya menjadi kerangka yang menaungi rangkaian acara, mulai dari ritual di sungai hingga pertunjukan seni pertunjukan dan sastra di darat, dari air menuju bumi, dari bumi menuju perjumpaan antarwarga.

Festival ini menghadirkan sanggar-sanggar Banyumas, komunitas, ketoprak, dan sastra secara berdampingan dengan seniman nasional maupun mancanegara, tanpa memisahkan keduanya ke dalam panggung yang berbeda. Ketoprak Kaliori, Serat Centhini, dan Komunitas Anak Sawah tampil bersama kolaborasi Dewandaru Dance Company dari Jepang dengan Rianto dan Agung Gunawan dalam repertoar Kulu-kulu dan Lengger Lanang. Ruang pertunjukan menjadi tempat pertemuan antara sanggar kampung dan koreografer yang biasa tampil di panggung dunia, tanpa salah satu meniadakan yang lain, dan tanpa salah satu diperlakukan sebagai pelengkap bagi yang lain.

GUNUNG, SUNGAI, DAN KEJUJURAN

Perspektif Rianto mendapat resonansi dari Siti Mukaromah, anggota DPR RI yang hadir dalam festival. Ia menyebut Bisik Serayu memuat esensi falsafah Banyumas yang bertumpu pada tiga unsur: Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter blakasuta, watak berterus terang yang lekat dengan identitas masyarakat setempat.

“Gununge mulang kukuh, Serayune mulang mili, serta Blakasuta mulang jujur,” katanya.

Gunung, dalam penjelasannya, mengajarkan keteguhan; Serayu mengajarkan keluwesan untuk terus mengalir, tidak pernah berhenti meski menghadapi tikungan dan hambatan; sementara blakasuta mengajarkan keberanian untuk berkata jujur, apa adanya, tanpa berbelit. Tiga unsur itu, menurutnya, bukan sekadar simbol geografis yang kebetulan berdampingan, melainkan cara masyarakat Banyumas memahami dan mendefinisikan dirinya sendiri dari generasi ke generasi.

DUA EKOSISTEM, SATU CERITA

Nisa Roiyasa, pegiat budaya sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, hadir bersama relawan Rumah Cibun, komunitas pelestari tradisi maca Babad Pasir Luhur di Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu. Baginya, Bisik Serayu adalah wujud ekspresi estetik dari rasa cinta pada alam, khususnya Sungai Serayu yang telah lama menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya, jauh sebelum sungai itu dikenal sebagai lokasi festival budaya.

Menurut Nisa, Banyumas sesungguhnya memiliki dua ekosistem kebudayaan besar yang selama ini kerap dibicarakan secara terpisah: Gunung Slamet dan Sungai Serayu. “Saya berharap ke depan kedua ekosistem ini bisa berkolaborasi,” katanya, “sehingga kita dapat menyusun cerita yang lebih utuh tentang peradaban Banyumas kuno.” Harapan itu menempatkan Manten Gethek bukan sebagai pertunjukan yang berdiri sendiri, melainkan satu babak dari cerita besar yang masih terus ditulis, sebuah upaya merangkai kembali kepingan-kepingan yang selama ini berserakan dalam catatan dan ingatan yang berbeda-beda.

MEMBACA ULANG, BUKAN MENGULANG

Harapan Nisa itulah yang membuat Manten Gethek layak dibaca dengan cara yang lebih luas, melampaui sekadar tontonan di tepi sungai. Ritual ini tidak perlu dianggap sebagai warisan kuno yang sejak dahulu dilakukan persis dalam bentuk yang disaksikan hari ini, sebab kesenian rakyat semacam ini jarang pernah benar-benar statis. Yang dilakukan festival adalah membaca kembali simbol-simbol lama tentang hubungan manusia dengan sungai, lalu memberinya bentuk baru yang bisa dipahami dan dirasakan oleh generasi sekarang, tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Serayu sendiri jauh lebih tua daripada Bisik Serayu, dan akan tetap mengalir jauh setelah tenda-tenda festival dibongkar. Sungai itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum ada festival, panggung modern, atau istilah revitalisasi kebudayaan yang kini banyak diperbincangkan. Yang dicoba dilakukan Bisik Serayu barangkali bukan mengembalikan masa lalu secara harfiah, sebuah upaya yang mustahil dan tidak perlu, melainkan mengingatkan bahwa sungai pernah menjadi bagian yang begitu dekat dengan manusia: tempat bekerja, beristirahat, bermain, berdoa, bercerita, dan menciptakan kesenian, semuanya dalam satu tarikan nafas yang sama.

Di Kaliori, hubungan itu diucapkan kembali lewat tubuh, bunyi, gethek, ritual, dan sebuah perkawinan simbolik di atas air, dihadiri oleh mereka yang datang dari desa sebelah maupun dari benua yang jauh. Kali ini, giliran Serayu yang menjadi pengantin, dan warga di sepanjang alirannya yang menjadi saksi sekaligus keluarga besarnya. (*)

Tags: bisik serayu festival 2026festival sungai serayusungai serayu
Previous Post

UNSAKA Beri Beasiswa 200 Putra-putri Purnawirawan TNI-AD

Next Post

Ketika Pohon Berdoa, Manusia Mendengar

admin

admin

Next Post
Ketika Pohon Berdoa, Manusia Mendengar

Ketika Pohon Berdoa, Manusia Mendengar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version