• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Festival Muria Raya#6: Catatan dari Ujung dan Pangkal Sebuah Perjalanan

Festival Muria Raya#6: Catatan dari Ujung dan Pangkal Sebuah Perjalanan

September 1, 2026
KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

October 16, 2026
BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

October 15, 2026
Arumi Bachsin Dorong Penguatan PAUD dan Perlindungan Pendidik dalam RUU Sisdiknas

Arumi Bachsin Dorong Penguatan PAUD dan Perlindungan Pendidik dalam RUU Sisdiknas

October 15, 2026
Maruli Jadi Wakil Panglima, Tandyo Jabat KASAD: Dua Jenderal Berganti Peran

Maruli Jadi Wakil Panglima, Tandyo Jabat KASAD: Dua Jenderal Berganti Peran

October 15, 2026
Target 500 Ribu Calon PMI, Pemerintah Perkuat Pelatihan dan Pelindungan Pekerja Migran

Target 500 Ribu Calon PMI, Pemerintah Perkuat Pelatihan dan Pelindungan Pekerja Migran

October 15, 2026
2.074 Layanan Penempatan PMI ke UEA, KP2MI Bidik Peluang Baru di Sektor Hospitality

2.074 Layanan Penempatan PMI ke UEA, KP2MI Bidik Peluang Baru di Sektor Hospitality

October 15, 2026
Geger! Netflix PHK 1.000 Karyawannya, Pengurangan Tenaga Kerja Terbesar Sejak 2022!

Geger! Netflix PHK 1.000 Karyawannya, Pengurangan Tenaga Kerja Terbesar Sejak 2022!

October 15, 2026
UpDate Kasus Warga Kalteng Korban TPPO di Kamboja: Supiat Kini Berada di KBRI Phnom Penh

SMK Go Global Jadi Andalan Ekspor Tenaga Terampil Indonesia di TEI 2026

October 14, 2026
Upaya Beri Nilai Tambah pada Produk Pangan, BULOG Siap Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi

Bansos Beras 3 Bulan Cair Lewat Koperasi Merah Putih, Desa Tanpa Kopdes Gimana?

October 14, 2026
Sidak Mitra Makloon Sragen, Dirut BULOG Ultimatum Keras Penggilingan Swasta!

Sidak Mitra Makloon Sragen, Dirut BULOG Ultimatum Keras Penggilingan Swasta!

October 14, 2026
Pembahasan RUU Pemilu: Dari Dapil Konvensional ke Dapil Nasional, Ini Skema yang Diusulkan Golkar

Pembahasan RUU Pemilu: Dari Dapil Konvensional ke Dapil Nasional, Ini Skema yang Diusulkan Golkar

October 14, 2026
Ironi Azerbaijan, Serukan Perlawanan terhadap Islamofobia tetapi Larang Jilbab

Ironi Azerbaijan, Serukan Perlawanan terhadap Islamofobia tetapi Larang Jilbab

October 13, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 16, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Feature

Festival Muria Raya#6: Catatan dari Ujung dan Pangkal Sebuah Perjalanan

by admin
September 1, 2026
in Feature
0
Festival Muria Raya#6: Catatan dari Ujung dan Pangkal Sebuah Perjalanan
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Heri Mulyono

Di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, dua ujung tepuk tangan bertemu membentuk lingkaran—menutup perjalanan sebulan Festival Muria Raya (FMR) #6 yang mempertemukan musisi Prancis, penari Jepang, dan warga desa di sekitar Gunung Muria.

Malam itu, 29 Agustus 2026, panggung di Dombyang dipadati nama-nama yang datang dari berbagai penjuru: Langgeng Culture Center, Rendra Bagus Pamungkas, Mawlana Jawi, Deny Dumbo, Danar Agung, Sutanto Mendut, Y. Agung Wibowo, Rara Kencana, Mbah Lawu Warta, Subang Nyeni, Lakonika, hingga Cucu Khabib Yahya yang tampil bersama seniman residensi dan penari asal Jepang, Yuta Kuroki. Esoknya, giliran Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta, sesi Temu Cakap Desa, dan grup musik SVRNSA dari Blora melanjutkan rangkaian hingga penutup.

Di tengah keramaian itu berdiri sebuah batu. Prasasti tersebut dipahat dengan Aksara Waja dan dibawa berkeliling sepanjang rangkaian FMR #6, dijadikan penanda sekaligus simbol persaudaraan antara festival dan masyarakat yang menampungnya. Batu itu tidak menjelaskan dirinya sendiri—ia baru bisa dibaca jika perjalanan sebulan sebelumnya ditelusuri kembali dari pangkalnya.

Dombyang sendiri hanyalah dukuh kecil di Desa Jepalo, Pati, salah satu dari tiga kabupaten—bersama Kudus dan Jepara—yang mengapit kaki Gunung Muria. Bahwa panggung akbar sebuah festival justru ditutup di dukuh sekecil ini bukan kebetulan. Sepanjang enam edisinya, FMR memang lebih sering singgah di pelataran rumah warga dan halaman balai desa ketimbang gedung pertunjukan, dan malam penutupan di Dombyang meneruskan kebiasaan itu: prasasti dan panggung berdiri berdampingan dengan dapur warga yang masih menyalakan api untuk menjamu tamu dari berbagai negara.

BERMULA DARI DESA MENAWAN

Pangkal itu ada di Desa Menawan, Kudus, pada 5 Agustus. Di sanalah FMR #6 dibuka lewat ritus bernama Tepuk Gelang, sebelum rombongan bergerak ke Desa Japan pada 21 Agustus melalui babak Tumapaking Cakra Manggilingan, dan berakhir di Jepalo pada 29–30 Agustus. Tiga titik itu—Menawan, Japan, Jepalo—bukan sekadar panggung berpindah, melainkan lingkaran yang sengaja dirancang mengelilingi kaki Gunung Muria, sebuah pradaksina budaya yang sudah menjadi kebiasaan FMR sejak edisi pertamanya di Pati pada 2020, sebelum bergeser ke Jepara dan Kudus pada edisi-edisi berikutnya.

Nama Tepuk Gelang sendiri diambil dari gerak dua ujung yang bertemu dan menyatu menjadi bulatan. Brian Trinanda K. Adi, Ketua Yayasan Festival Muria Raya sekaligus kandidat doktor di Amsterdam School for Cultural Analysis (ASCA), University of Amsterdam, menyebutnya sebagai simbol persaudaraan yang melampaui manusia. “Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antar sesama manusia dan juga dengan sesama makhluk serta elemen alam, termasuk tumbuhan, binatang, air, angin, tanah, dan api, sekaligus saling mendoakan,” katanya.

Bagi Brian, rute yang mengitari Muria itu adalah perjalanan spiritual untuk merawat tali persaudaraan masyarakat se-Muria Raya agar tidak terputus—sebuah kerja yang, menurutnya, mesti terus diulang setiap tahun agar lingkaran itu tidak pernah benar-benar tertutup.

Cara berpikir semacam ini yang membedakan FMR dari festival kesenian pada umumnya. Alih-alih memusatkan seluruh acara di satu lokasi dengan satu jadwal padat, festival ini sengaja dipecah menjadi babak-babak yang berjarak, dengan jeda dua atau tiga pekan di antaranya. Jeda itu bukan kekosongan, melainkan waktu bagi warga dan seniman residensi untuk benar-benar tinggal, mengenal, dan bekerja bersama sebelum berpindah ke titik berikutnya di sepanjang lingkaran Muria.

KETIKA GAMELAN BERTEMU SAXOPHONE

Di pembukaan Menawan itulah lingkaran mulai memuat suara-suara yang tidak biasa. Belasan musisi dari Prancis, tergabung dalam Compagnie Kotekan, memainkan gamelan berdampingan dengan saxophone, trombone, dan terompet, sementara tiga penari Indonesia bergerak di antara komposisi lintas budaya tersebut. Mereka tampil bersama Gayam 16 Yogyakarta dalam pertunjukan yang menjadi salah satu penanda paling mencolok dari pembukaan festival.

Secara artistik, Compagnie Kotekan dipimpin musisi dan komponis Jean-Pierre “Pawak” Goudard. Perjumpaannya dengan gamelan bermula sekitar tahun 2000, ketika ia belajar langsung di Bali, sebelum membawa instrumen itu ke Prancis dan mengajak musisi, teman, serta muridnya ikut mempelajarinya. Dua dekade kemudian, jalur yang ia rintis itu membawanya berputar balik ke Jawa, kali ini ke lereng Muria. “Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama,” kata Sarah Andrieu, Presiden Compagnie Kotekan.

Panggung yang sama juga dihadiri komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus dan Yuta Kuroki dari Jepang, yang membawakan Kijin Kagura, tari ritual dari Shiiba, Miyazaki. Yuta berasal dari garis keturunan penari Kagura, dan kehadirannya di Muria bukan sekali pentas: ia mengikuti program residensi bersama seniman dan masyarakat setempat, sebuah jejak yang kelak terus muncul di babak-babak berikutnya hingga malam penutupan di Jepalo.

Tiga tarian dan musik yang bertemu di Menawan sore itu—gamelan-jazz Prancis, Kagura dari Miyazaki, dan Caping Kalo dari Kudus sendiri—sekilas tidak memiliki benang merah selain panggung yang sama. Namun justru di situlah gagasan Tepuk Gelang bekerja: bukan menyatukan bentuk kesenian yang berbeda menjadi satu wujud baru, melainkan membiarkan masing-masing berdiri dengan caranya sendiri sambil saling berhadapan dalam satu lingkaran yang sama.

DESA SEBAGAI RUANG BELAJAR

Jika Menawan menjadi tempat gamelan bertemu dunia, maka Desa Japan pada pertengahan Agustus adalah tempat perjumpaan itu mengendap menjadi keseharian. Shafira Onky Parasmita, yang akrab disapa Rara, mengajarkan tembang macapat kepada anak-anak dan remaja Desa Japan, sekaligus terlibat dalam musik untuk kolaborasi Yuta Kuroki bersama anak-anak sekolah dasar setempat—memperpanjang jejak Kagura dari Miyazaki ke ruang kelas desa di kaki Muria.

Cucu Khabib Yahya, seniman lokal yang tampil dengan wayang kulit Bedhol Kayon lakon Ngguyang Sengkolo dan Tari Bujang Ganong, mengaku pengalamannya berjejaring dengan seniman lain dalam FMR mengubah cara pandangnya terhadap kesenian itu sendiri. “Dari mereka saya belajar bahwa seni tidak semata-mata soal uang, melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan,” ujarnya.

Perjumpaan itu turut menjalar ke M. Choirul Anam, pemuda Desa Japan yang lewat proses residensi memperoleh pengetahuan tentang pengarsipan sejarah desanya sendiri, hingga terdorong menelaah ulang kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Dari satu desa ke desa lain, pola yang sama berulang: festival tidak hanya numpang tampil, tetapi menitipkan keterampilan yang tertinggal setelah panggung dibongkar.

GAMELAN DARI PECAHAN KACA

Pola belajar-mengajar itu juga merambah ke eksperimen material. Salah satu karya yang paling mencolok di FMR #6 adalah Gatotkaca—akronim dari Gamelan Total Kaca—yang dikembangkan sepanjang perjalanan FMR dari edisi ke edisi dan kembali hadir kali ini melalui Nyai Murbeng Lungit, bersama Gempur Sentosa dari Subang dan Jawara Squad.

Instrumen ini lahir dari limbah kaca yang dilebur dalam tungku khusus, lalu melalui riset dan pengembangan organologi hingga bisa dimainkan selayaknya gamelan pada umumnya. Karya ini seolah menjadi antitesis dari anggapan bahwa menjaga tradisi berarti membekukannya, tidak boleh diutak-atik. Gatotkaca justru menunjukkan sebaliknya: tradisi bisa hidup lewat perubahan, percobaan, dan sikap adaptif terhadap material yang sama sekali tidak lazim bagi gamelan. Yang dipertahankan dari eksperimen ini bukan bentuk fisik semata, melainkan kemungkinan agar pengetahuan lama terus menemukan cara baru untuk dipakai.

Ada semacam kesejajaran yang tidak sengaja antara nasib limbah kaca dan nasib gamelan bambu yang dulu dipelajari Goudard di Bali: keduanya sama-sama material yang mula-mula dianggap berada di luar batas gamelan, sebelum akhirnya diterima justru karena kesediaannya untuk diubah. Dalam kerangka FMR, kesetiaan pada tradisi bukan berarti menolak segala sesuatu yang baru, melainkan kesediaan menguji seberapa jauh sebuah bentuk lama masih bisa bernapas dalam wujud yang berbeda.

JEJARING YANG MEMBENTANG

Menjelang babak akhir di Jepalo, jejaring FMR memperlihatkan bentangnya yang luas. Program residensi melibatkan, antara lain, Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad—nama-nama yang datang dari kota dan latar kesenian yang berbeda-beda: Pepep D.W. dari Bandung, Welda Sanavero dari Blora, Gempur Sentosa dari Subang, Subang Nyeni dari Sumbang, serta Sigit Febrianto bersama Jawara Squad dari Bandung.

Sebaran itu menegaskan bahwa FMR bukan festival yang berhenti pada satu jenis kesenian atau satu wilayah. Pada 29–30 Agustus, seluruh proses residensi dan kolaborasi itu dipresentasikan di Dukuh Dombyang lewat Gelar Cakra Manggilingan, sebuah pameran yang menghadirkan karya dari program Artists and Experts in Residence, Bala-Bala Muria, dan para seniman kolaborator—titik di mana catatan ini dimulai.

Kembali ke prasasti beraksara Waja yang berdiri di tengah pameran itu: batu itu sesungguhnya adalah ringkasan dari seluruh jejaring yang disebutkan tadi. Ia dipahat bukan untuk mengenang satu nama atau satu pertunjukan, melainkan untuk mencatat bahwa festival ini pernah singgah, dan bahwa persinggahan itu meninggalkan sesuatu yang lebih permanen daripada tepuk tangan penonton yang bubar begitu panggung usai.

APA YANG TERSISA SETELAH LINGKARAN MENUTUP

Bagi Maliyana Nur Rahma, bagian dari Tim Media Festival Muria Raya, apa yang terjadi di Muria selama Agustus ini melampaui sekadar agenda pertunjukan. “Festival Muria Raya bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa,” ujarnya. Setiap babak, menurutnya, menjadi “laboratorium perjumpaan dan jembatan persaudaraan”—tempat kebudayaan diperlakukan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bekal bagi masa depan, lewat perjumpaan, karya, dan dialog yang menjaga hubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

Pertanyaannya kemudian: ke mana perjumpaan ini berlanjut, setelah satu putaran selesai dan panggung di Dombyang dibongkar? Pertanyaan itu terasa lebih mendesak justru karena FMR selama ini tumbuh tanpa gedung tetap, tanpa anggaran besar dari satu sumber tunggal, dan sebagian besar bertumpu pada kesediaan warga meminjamkan halaman, dapur, dan waktunya. Sebuah festival yang tumbuh dari masyarakat, pada titik tertentu, membutuhkan ekosistem yang lebih luas untuk menopangnya. Negara memiliki sekolah, lembaga kebudayaan, arsip, kebijakan, dan jaringan yang dapat memperkuatnya, sementara inisiatif masyarakat tetap menjadi sumber energi yang membuatnya terus tumbuh. Tantangannya adalah menemukan bentuk hubungan yang saling menguatkan: dukungan yang memperluas kemungkinan, tanpa mengambil alih sesuatu yang sejak awal tumbuh dari bawah.

Cakra Manggilingan, tema yang menutup rangkaian di Jepalo, menggambarkan kehidupan seperti air yang mengalir dari mata air menuju sungai dan samudra, sebelum kembali lagi dalam siklusnya. Dalam gagasan FMR, begitu pula warisan leluhur: diterima generasi sekarang untuk kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya—tepat seperti dua ujung tepuk gelang yang bertemu di Menawan pada awal Agustus, lalu berputar melalui Japan, sebelum menutup lingkarannya di Jepalo.

Enam edisi FMR sejauh ini memperlihatkan bahwa perjalanan kebudayaan tidak harus selalu lurus. Gamelan bisa dimainkan musisi Prancis dan dipertemukan dengan saxophone, trombone, serta terompet; Kagura dari Jepang bisa bertemu anak-anak Muria; gamelan bisa dibuat dari kaca; dan cerita sebuah desa bisa mulai diarsipkan oleh pemudanya sendiri. Yang menentukan bukan hanya apakah festival ini dapat digelar kembali tahun depan, melainkan apakah perjumpaan-perjumpaan yang diciptakannya menghasilkan sesuatu yang bisa diteruskan.

Di Jepalo, satu putaran FMR #6 telah selesai. Prasasti beraksara Waja itu kini tinggal menunggu diangkut ke titik berikutnya, dan putaran yang menyusul berada di tangan mereka yang meneruskannya. (*)

Tags: catatan perjalananfestival muria rayaFMRheri mulyono
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

October 16, 2026
BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

October 15, 2026
Arumi Bachsin Dorong Penguatan PAUD dan Perlindungan Pendidik dalam RUU Sisdiknas

Arumi Bachsin Dorong Penguatan PAUD dan Perlindungan Pendidik dalam RUU Sisdiknas

October 15, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version