“Ratu Lebah”, Gagah Pasca Musibah

 “Ratu Lebah”, Gagah Pasca Musibah

Candra Lela di lokasi penangkaran lebah di Danau Lamo, Muaro Jambi, Jambi. (foto:ist)

JAYAKARTA NEWS – Candra Lela bisa jadi salah satu umat yang merasakan langsung makna kalimat “Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius”. Betapa tidak. Saat ia tertumbuk jalan buntu, seketika tersibak celah jalan keluar. “Ajaib!” desisnya penuh rasa syukur.

Ilustrasi di atas, sangat pas untuk menggambarkan bagaimana Candra Lela berjibaku dalam usaha madu hutan yang dirintisnya sejak tahun 2008. Laksana rasa madu: ada manis ada pula yang pahit. Itu pula yang dirasakan Candra saat jatuh-bangun mengelola usaha madu hutan.

Puncak persoalan menerjang tahun 2015 bersamaan tiupan kabut asap yang menyergap seantero Provinsi Jambi. Usahanya terpuruk, bahkan ambruk. Candra dipaksa menyerah dan pasrah.

Empat tahun terjebak pada jalan buntu, manakala datang pertolongan Tuhan tahun 2019. Tangan Tuhan begitu nyata terulur kepadanya melalui program PLN Peduli dan Rumah BUMN Jambi. Mereka bak dewa penyelamat bagi usaha yang “megap-megap”.

Mulai Dari Nol

Bagi Candra Lela, usaha madu ini awalnya bukan sesuatu yang menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber utama nafkah. Toh ada rasa penasaran di benak, demi mengetahui besarnya potensi madu hutan yang ada di kampungnya. Meski begitu, ia belum tahu harus berbuat apa, dan apakah setimpal untuk diperjuangkan.

Syahdan, tahun 2008 ia catat sabagai momentum pengambilan sikap, yang didasari keyakinan. Saat itu, posisinya adalah karyawati di salah satu perusahaan swasta. Hari itu, ia bertekad ikut masuk hutan membantu adik ipar mencari madu.

Ternyata keterlibatannya ini menjadi titik balik bagaimana akhirnya istri dari Budiarto ini berubah pikiran. Saat itu dia merasa kalau madu ini harus diperjuangkan, karena memiliki nilai jual. Ada prospek yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik.

Pengamatannya selama ikut ke hutan, pengelolaan madu, mulai dari pengambilan sampai proses dikemas ke dalam botol, dilakukan dengan serampangan. Selain itu dia juga merasa kasihan kepada pemanjat karena hasil kerja mereka sangat kecil, dihargai murah sekali. Padahal perjuangan pemanjat itu mempertaruhkan nyawa, menempuh bahaya dengan memanjat pohon yang relatif cukup tinggi.

“Saat itu madu hutan harganya hanya Rp7.500 per kg. Sangat tidak bernilai,” tuturnya kepada Jayakarta News, pertengahan Februari 2021.

Candra Lela dan suami, Budiarto. (ist)

Dalam pikiran Candra Lela ketika itu, ada sesuatu yang salah dengan pengelolaan madu hutan ini. Terutama dalam hal penanganannya. Tidak buang waktu, wanita ini langsung bergerak, memanfaatkan internet, browsing untuk mengetahui bagaimana caranya memperlakukan lebah dengan baik sehingga hasilnya memuaskan.

Belajar secara otodidak, termasuk dari sisi bisnisnya. Dengan kata lain, nyadur dari internet, kebanyakan dari luar negeri kemudian diterapkan langsung di lapangan. Ilmu lebah yang diperoleh dengan cara berselancar di dunia maya itu kemudian diterapkan langsung kepada para pemanjat. Mereka diedukasi soal lebah dan madu, bagaimana penanganannya, mulai dari pohon sampai dikemas ke dalam botol untuk dijual.

Sepengetahuan Candra Lela, di hutan Jambi banyak madu hutan dan tentu saja sangat disayangkan jika tidak dikelola dengan baik. Persoalan berikutnya masuk ke pemasaran. Baginya, segi bisnis dari madu hutan ini jelas merupakan poin penting setelah proses pengambilan dari hutan. Hasil panen bagus tapi tanpa strategi bisnis, tentu percuma.

“Kita prihatin. Di Jambi banyak madu tapi tidak bernilai. Akhirnya madu itu kita branding. Untungnya kita sudah tergabung dalam PIRT (Pengusaha Industri Rumah Tangga) sehingga proses branding-nya lancar,” jelasnya.

Perlahan tapi pasti perjalanan  usaha dengan brand “Rumah Madu Hutan Jambi”  yang dikelola Candra Lela mulai bergerak maju. Jika sebelumnya mereka bekerja sesuai order, menerobos pasar dengan sistem offline pun mulai dilakukan.

Madu dalam kemasan botol disuplai ke sejumlah toko di Kota Jambi. Hasilnya sangat memuaskan. Dari hari ke hari pesanan meningkat. Bukan hanya di Jambi, pesanan melebar ke sejumlah kota besar di Indonesia.

Ke depan, kehadiran media sosial juga sangat membantu pemasaran madu hutan. Terbukti pesanan dengan cara online dari hari ke hari terus meningkat.

Ada satu hal yang membuat Candra Lela tidak pernah surut dalam menjalankan usahanya. Banyak hambatan, tantangan, diakuinya terkadang membuat dirinya galau. Sebut saja misalnya soal perijinan, sangat sulit dan berbelit-belit. 

Belum lagi menghadapi cibiran orang yang tidak suka, yang berburuk sangka dan lainnya. “Tapi syukur semuanya saat ini sudah bisa diatasi. Prinsip saya, harus tetap fokus pada tujuan. Bukan fokus pada masalah. Dari awal buka usaha kita terus belajar dari kegagalan, memperbaiki dan sampai saat ini kita terus belajar dan belajar demi hasil yang lebih maksimal,” jelasnya.

Tidak mengherankan kalau akhirnya Candra Lela memutuskan berhenti sebagai karyawati dan fokus menangani madu hutan. Wanita ini dengan jelas melihat gambaran sebuah prospek yang menjanjikan.

Lucunya, saat itu juga muncul kesadaran dalam dirinya bahwa selama ini dia hanya membuang-buang waktu dengan bekerja di perusahaan milik orang lain, sementara ada pekerjaan besar di depan mata dibiarkan berlalu begitu saja.

Dalam perjalanan waktu, Candra Lela yang terus-menerus menggali ilmu melalui internet, menyadari kalau budidaya lebah merupakan salah satu pilihan untuk tetap eksis di bisnis tersebut. Keberadaan madu hutan jelas tidak bisa diperkirakan sampai kapan, sementara jika budidaya, ketersediaan madu bisa terjamin. 

Selain itu pekerjaan mengumpulkan madu lebah hutan cukup berat dan jika bisa dibudidayakan, tentu akan lebih menguntungkan. Terutama dari sisi ekonomi, karena tidak perlu setiap hari berkeliling hutan. Sejak 2014 wanita ini pun mulai belajar bagaimana caranya membudidayakan lebah.

Sayang, niat budidaya ini terganjal bencana alam pada 2015. Ketika itu kebakaran hutan melanda sejumlah hutan di Indonesia, tak terkecuali Jambi. Kabut asap akibat kebakaran hutan ini secara langsung menghantam keberadaan lebah  hutan.

Kabut asap yang meluluhlantakkan usaha madu hutan Candra Lela. (sumber foto: blog.peduly.com)

Dan bagi Candra Lela, masa 2015 sampai 2017 ini merupakan masa yang suram bagi usahanya.  Kerugian besar akibat hilangnya lebah hutan dihantam kabut asap tidak bisa dihindari. Perhitungannya, sekitar 70 persen lebah hutan hilang akibat kabut asap. Jika sebelumnya bisa dikumpulkan sekitar 24 ton per bulan, saat kabut asap melanda, yang terkumpul hanya sekitar 3 ton per bulan. “Nyaris putus asa saat itu. Bisa dibilang kita stop usaha selama setahun. Terutama pengiriman ke berbagai kota, tidak bisa dilakukan,” ceritanya.

Kabut asap menghilang, dengan semangat baru wanita kelahiran 1978 ini kembali bangkit. Rencananya melakukan budidaya lebah kembali masuk dalam program kerjanya. Bagi Candra Lela, tergantung kepada madu hutan sangat riskan.

Bencana kabut asap yang sempat menghantam usahanya merupakan contoh bagaimana rapuhnya usaha madu jika hanya mengandalkan lebah hutan. Dan tidak tanggung-tanggung, wanita ini kemudian membuat site plan untuk budidaya lebah dengan anggaran Rp 2 miliar. 

Selain budidaya, Candra Lela juga sekaligus merencanakan adanya Rumah Wisata Edukasi, khusus menyangkut lebah. Sayangnya, rencana ini tak kunjung terwujud karena tidak ada dana.  

PLN Peduli bak Oase

Pengunjung “Wisata Edukasi Rumah Madu Hutan Jambi” mengenakan alat pelindung diri. (ist)

Sempat melupakan rencana budidaya lebah dan membangun Rumah Wisata Edukasi, pada 2019 titik terang itu pun muncul. Ketika itu ada kabar dari Rumah Kreatif BUMN Jambi kalau ada tim dari pusat ingin melakukan survei ke tempat usaha wanita ini.

Awalnya tidak terpikir kalau kunjungan tim, yang katanya dari pusat itu merupakan titik balik bagi usahanya. Memang selama ini juga usaha madu hutan sudah ikut dalam grup Rumah Kreatif BUMN Jambi, yang merupakan binaan dari PLN. “Awalnya saya ngga tau tujuannya datang. Saya cuma bilang kalau saya tidak mau ditawarin pinjaman, ditawarin utang,” tuturnya.

Ketika tim dari pusat tiba, berbagai tawaran disampaikan kepada Candra Lela. Tapi wanita ini bersikukuh kalau dia berkeinginan membuat Rumah Wisata Edukasi khusus tentang lebah serta budidaya. 

Bisa jadi bagi tim dari PLN usul tersebut sangat bagus sehingga instansi ini memutuskan menjetujui dan membantu dana sebanyak Rp 20 juta. Jauh memang dari harapan, tapi Chandra Lela tidak kecewa.

Dengan dana bantuan PLN itu budidaya lebah sekaligus Rumah Wisata Edukasi pun dibangun. Sangat sederhana, di atas lahan sekitar 400 m2. Dan wanita ini mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat tempat tersebut seapik mungkin. “Saya ingat, pengunjung pertama rumah wisata edukasi rombongan TK anak saya sendiri,” tuturnya.

Wisatawan Rumah Madu Hutan Jambi mengenakan baju pelindung agar aman dari sengatan lebah.

Awalnya memang sepi kunjungan. Karyawan pun masih cukup 3 orang. Tapi dari hari ke hari kunjungan semakin banyak. Sehari bisa tiga sampai empat rombongan yang berkunjung, mulai dari TK sampai mahasiswa. Malah ada yang magang. 

Berbagai organisasi usaha, sekolah-sekolah serta masyarakat umum akhirnya menjadikan wisata edukasi Rumah Madu Hutan Jambi sebagai salah satu pilihan wisata di kota ini. “Luar biasa, usaha kami kembali pulih, bahkan merangkak naik lagi. Selain mendapatkan pemasukan dari wisata edukasi kami juga bisa mempromosikan madu hasil budidaya,” urainya.

Sementara itu pihak PLN dan Rumah BUMN secara konsisten memberikan bantuan, khususnya pendampingan dalam pengembangan bisnis serta pelatihan terkait budidaya madu yang baik. Dengan menggandeng Asosiasi Perlebahan Indonesia (API), Candra Lela pun semakin paham dan terampil dalam budidaya lebah dan madu sehingga produksi madu dari waktu ke waktu makin meningkat.

PLN juga memberikan bantuan sarana dan prasarana pengembangan wisata edukasi dan sarana produksi rumah madu hutan. Hasilnya sungguh fantastis. Saat ini Rumah Madu Hutan Jambi telah memiliki fasilitas dan ruang edukasi yang semakin menarik bagi pengunjung. Produk-produk yang dihasilkan juga semakin bervariasi.

Pada 2020 pertambahan karyawan pun dilakukan menjadi 20 orang karena usaha budidaya mulai diperbesar. Saat itu Candra Lela mendirikan usaha budidaya di atas lahan sekitar 200 Ha, sistem bagi hasil dengan pemilik lahan. Sejak budidaya, perjalanan madu hutan mulai meningkat. Pemesanan sudah datang dari berbagai kota di Indonesia.

Ketika pandemi covid-19 mendera Indonesia, berbagai jenis usaha terpuruk. Sebagian malah terpaksa mengurangi karyawan, ada yang malah tutup total karena tidak sanggup lagi beroperasi.

Ternyata usaha madu hutan milik Candra Lela malah sebaliknya. Omzetnya naik terus dan sejak covid melanda, omzet menjadi Rp 150 juta sampai Rp 200 juta per bulan. Sebelumnya hanya sekitar Rp 20 juta- Rp 35 juta per bulan.

Permintaan madu naik drastis. Bisa jadi karena warga merasa  mengkonsumsi madu merupakan salah satu cara mencegah covid. Dan memang itu jelas benar karena madu akan menambah stamina dan imun.

Go International

Candra Lela saat wawancara via video call dengan Jayakarta News.

Mengawali tahun 2021 Rumah Madu Hutan Jambi akhirnya menembus pasar internasional. Sebagai salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mitra binaan PLN di Kota Jambi, saat ini produk madunya tidak hanya dikonsumsi masyarakat dalam negeri, tapi sudah siap diekspor ke negara tetangga Singapura, akhir Februari ini. Jumlahnya juga lumayan, sekitar 60 ton per tahun atau 5 ton per bulan. “Jelas ini pencapaian yang sesuatu banget,” ceritanya.

Kalau dilihat proses bergabungnya Rumah Madu Hutan Jambi sebagai mitra binaan PLN pada 2019 lalu, jelas pencapaian ini sangat spektakuler. PLN bersama Rumah BUMN Jambi memberikan program pembinaan dan pengembangan Rumah Madu Hutan Jambi dengan penyediaan alat untuk kapasitas produksi, pemberian pelatihan dan pendampingan serta memperluas jangkauan komunitas petani lebah.

Dukungan PLN ini jelas membuat Rumah Madu Hutan Jambi makin berkembang. Meski sempat terpuruk dihantam musibah (kabut asap), tapi akhirnya mampu bangkit dan tampil gagah sebagai UMKM yang membanggakan.

Candra mengakui, peluang menjadi eksportir tidak lepas dari dukungan PLN yang membantu menggiatkan pemasaran melalui media online seperti website, facebook dan instagram.  Gencarnya pemasaran melalui media sosial ini membuat keberadaan madu hutan Jambi dikenal di manca negara. 

Pendampingan dari PLN Peduli tidak hanya sekedar pengelolaan bisnis madu hutan, tapi juga pengembangan turunannya. Saat ini Candra Lela berusaha mengembangkan jenis usahanya, terkhusus mengembangkan produk turunan dari madu seperti Lemon Madu dan lainnya. 

Beberapa waktu lalu Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, Agung Murdifi menyatakan pihaknya secara rutin terus ikut serta membantu berbagai usaha, khususnya UMKM di Indonesia. Program PLN Peduli, katanya, telah terbukti memberikan dampak dan manfaat bagi masyarakat.

Contohnya warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Rumah Madu Hutan Jambi. “Saat pandemi, di mana banyak sektor usaha ambruk, Rumah Madu Hutan Jambi justru melejit dan mampu menerobos pasar ekspor. Ini membuktikan bahwa kolaborasi antara PLN dan Rumah Madu Hutan Jambi mulai menampakkan hasil,” jelas Agung.

Tentang program PLN Peduli, Agung mengatakan, PLN berupaya mewujudkan UMKM berkembang dan mandiri. Program PLN Peduli diharapkan mampu mendorong usaha masyarakat dan memiliki dampak berkelanjutan. Tujuannya tentu saja peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dijuluki Ratu Lebah

Sepanjang tahun  bergaul dengan lebah membuat Candra Lela sangat memahami karakter unik serangga tersebut. Apalagi, dalam proses pengenalannya, wanita ini sudah ratusan kali merasakan sengatan lebah. Yang menarik, tercatat hanya Candra Lela satu-satunya wanita di Indonesia yang berkecimpung langsung menangani lebah. Mulai dari era pengambilan madu di hutan sampai budidaya, tetap ditanganinya langsung.

“Walau sudah budidaya saya tetap turun langsung bersama para petani. Begini juga, ya, seminggu ngga liat lebah, kayaknya gimana, seperti ada sesuatu yang kurang,” urainya menggambarkan kedekatannya dengan serangga penghasil madu itu.

Mungkin karena sering disengat, Candra Lela akhirnya memahami karakter lebah. Baginya lebah itu hewan yang unik. Instingnya kuat. Ada ikatan emosional antara lebah dan pemiliknya. Jika pemiliknya stres, galau atau suasana hatinya tidak enak, lebah akan merasakannya. Jika itu terjadi maka hasil madunya juga tidak bagus, kurang maksimal.

“Jadi, pengalaman saya, mengelola lebah ini harus dengan hati ihklas, tulus sehingga hasilnya juga menggembirakan,” tuturnya riang. (Melva Tobing)

SIMAK JUGA VIDEONYA:

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *