Pengidap HIV/AIDS tak Layak Dapat Stigma Buruk

 Pengidap HIV/AIDS tak Layak Dapat Stigma Buruk
Dr. H Edy Ikhsan SH MA bersama Manager Program Medan Plus, Samara Yudha Arfianto dan pengurus lainnya. (Foto. Ist)

Jayakarta News –  Anak yang terjangkit HIV/AIDS membutuhkan perhatian serius. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menghilangkan stigma buruk terhadap mereka. Demikian salahsatu pembahasan antara Medan Plus dengan Balon Walikota Medan Dr H Edy Ikhsan SH MA, Senin (26/8/2019) sore.

Medan Plus merupakan lembaga sosial yang aktif memberikan pendampingan kepada para penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara. Manager Program Medan Plus, Samara Yudha Arfianto kepada wartawan mengatakan ada dua point penting dalam membahas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) khususnya anak-anak.

Pertama soal stigma yang selama ini kurang baik dialamatkan kepada ODHA khususnya anak-anak. “Anak-anak sejak lahir terjangkit HIV. Atau perempuan yang tak tahu ikut terjangkit dari pasangannya. Ini tentu bukan ingin mereka dan mereka tak layak dapat stigma itu. Tapi yang paling penting stigma buruk itu tak seharusnya ada,” kata pria yang akrab disapa Yudha itu.

Yudha yang juga Kordinator Jaringan Indonesia Positif (JIP) Kota Medan itu mengajak seluruh pihak dalam tatanan sosial memberi perhatian soal penghapusan stigma ini. Point kedua, sambung Yudha, dalam pemberian nutrisi bagi ODHA khususnya anak yang terjangkit HIV/AIDS.

Menurutnya, nutrisi ini penting bagi tumbuh kembang dan keberlangsungan hidup ODHA. “Dan ini semua perlu perhatian serius pemerintah. Untuk itu kita berharap pemerintah tidak alpa dalam hal ini,” kata Yudha.

Disinggung jumlah anak yang terjangkit HIV/AIDS, Yudha mengatakan ada 202 anak yang mereka dampingi. “Yang kita dampingi 202 anak dengan HIV/AIDS. Tapi jika kita menilik data Dinkes, tentu masih sangat banyak. Insha Allah tahun depan ada kuota 50 orang yang mendapat rehab di Balai Rehab Bahagia yang di Jl Pancing,” urai Yudha.

Sementara itu Edy Ikhsan menyampaikan anak dengan HIV/AIDS adalah salahsatu cluster yang baru dalam kelompok anak yang membutuhkan perlindungan khusus (Children in Need Special Attention) selain anak-anak penyintas bencana alam.

Cluster sebelumnya hanya mengenal pekerja anak, anak jalanan, anak berhadapan dengan hukum, anak korban eksploitasi sexual, anak-anak minoritas dan anak-anak dalam situasi perang.

“Sering sekali pemerintah abai merespon munculnya cluster baru seperti anak dengan HIV/AIDS ini. Kehadiran teman-teman Medan Plus yang umumnya diisi oleh generasi muda Medan dan sekitarnya membuktikan bahwa tanpa kehadiran pemerintah pun, kerja-kerja kemanusiaan ini bisa mereka jalankan,” kata Edy Ikhsan.

Menurutnya, harus ada apresiasi yang tinggi terhadap kerja kawan-kawan di Medan Plus yang tidak pernah menyerah memberikan dukungan dan kasih sayangnya kepada kelompok ODHA, terutama anak-anak. (*/Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *