Connect with us

Kabar

Cerpen Rupiah Jadi 6.500

Published

on

Jam sepuluh pagi, saya sudah diatur oleh seorang broker first class fund manager di Singapura untuk bertemu seorang investment banker dari New York. Ia sengaja datang ke Singapura. Pertemuan itu berlangsung di East Coast, di sebuah kafe yang berada di dalam hotel.

Saya menyerahkan kartu nama. Perusahaan investasi saya terdaftar di Grand Cayman. Di hadapan saya duduk seorang pria berusia belum genap lima puluh tahun. Rahangnya keras, tetapi dahinya lebar. Dari cara ia menatap, saya tahu ini bukan orang sembarangan. Ia cerdas, dingin, dan terbiasa membaca risiko lebih cepat daripada membaca wajah manusia.

Ia tidak memberikan kartu nama. Namun saya paham. Dalam dunia seperti itu, orang yang tidak memberi identitas kadang justru membawa identitas yang paling kuat. Saya sadar, ia bukan banker biasa. Ia bagian dari jaringan hedge fund.

Ia mengeluarkan dokumen tebal. Isinya strategi investasi, struktur portofolio, analisis kurs, proyeksi harga opsi, skenario volatilitas, sampai grafik-grafik rumit yang membuat kepala saya pening. Ada model korelasi antar mata uang, simulasi yield curve, value at risk, implied volatility, dan skema leverage atas obligasi pemerintah negara-negara G7.

Saya membaca sekilas. Seolah paham. Lalu mengangguk. Ia tampak puas.

“Saya sudah memeriksa sumber dana Anda,” katanya dengan nada meyakinkan. “Kita bisa menjadi mitra yang hebat. Ada peluang laba besar dalam waktu cepat.”

Saya tersenyum tipis. Ia tahu siapa saya. Dalam dokumen due diligence mereka, saya disebut sebagai bagian dari Moscow Connection. Semua profil saya sudah mereka periksa. Mereka tahu jalur dana saya, jaringan saya, dan kapasitas saya masuk ke permainan besar.

Saya menyerahkan long-form contract derivative. Dari sana, saya masuk ke obligasi pemerintah G7. Secara teknis, permainan ini bukan sekadar membeli obligasi. Ini adalah struktur leverage berbasis instrumen derivatif. Obligasi dijadikan underlying asset. Posisi dibangun melalui kontrak turunan, repo, opsi, dan swap, sehingga modal yang tampak terbatas bisa mengendalikan eksposur yang jauh lebih besar.

Di atas kertas, semua tampak elegan. Namun pada dasarnya, leverage selalu memiliki watak yang sama: ia memperbesar keuntungan, tetapi juga mempercepat kehancuran ketika arah pasar berbalik.

Saya membuka terminal trading melalui Clearstream. Selama sebulan pertama, saya melihat limit trading saya terus tergerus. Saya biarkan. Seperti orang yang sedang dirampok pelan-pelan, tetapi pura-pura tidak sadar. Dalam permainan besar, kadang kita harus tampak bodoh agar lawan merasa terlalu pintar.

Masuk bulan kedua, saya menenggelamkan USD 15 juta ke pasar leverage. Saya tetap tenang. Di rekening saya masih ada USD 50 juta. Itu batas napas saya. Dengan likuiditas sebesar itu, saya masih punya ruang untuk mengatur ritme permainan. Saya tahu saya sedang berhadapan dengan arus besar yang terhubung dengan LTCM.

Long-Term Capital Management waktu itu bukan hedge fund biasa. Mereka dihuni para matematikawan, ekonom peraih Nobel, dan trader kelas dunia. Model mereka dibangun di atas keyakinan bahwa anomali harga akan kembali menuju keseimbangan. Mereka bermain convergence trade: membeli aset yang dianggap terlalu murah dan menjual aset yang dianggap terlalu mahal, dengan asumsi bahwa selisih harga pada akhirnya akan menyempit.

Masalahnya, pasar tidak selalu tunduk kepada model. Dalam kondisi normal, teori bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika krisis datang, korelasi yang dianggap stabil bisa pecah. Likuiditas mengering. Harga tidak lagi bergerak berdasarkan nilai wajar, melainkan berdasarkan kepanikan.

Secara teknis, permainan saya bukan membeli rupiah. Saya masuk dari sisi lain: dari retakan struktur leverage global. Waktu itu LTCM terlalu percaya pada model matematikanya sendiri. Mereka yakin spread harga antar obligasi, swap, dan instrumen kredit akan kembali normal. Tetapi mereka lupa satu hal: pasar tidak selalu pulang ke teori. Dalam krisis, pasar pulang ke uang tunai.

Saya mengambil posisi berlawanan. Saya masuk ke obligasi pemerintah G7 melalui kontrak derivatif dan struktur leverage. Di atas kertas, posisi itu tampak kecil. Tetapi di belakangnya ada opsi, repo line, dan eksposur yang nilainya jauh lebih besar daripada modal awal. Saya tidak sedang bertaruh pada harga biasa. Saya bertaruh pada kepanikan.

Kalau pasar normal, LTCM menang. Spread menyempit, model mereka terbukti benar, dan posisi mereka menghasilkan laba. Tetapi kalau pasar panik, spread justru melebar. Ketika spread melebar, margin call datang. Untuk memenuhi margin call, mereka harus menjual aset. Penjualan paksa itu membuat harga makin kacau. Itulah spiral leverage.

Selama bulan pertama, posisi saya tergerus. Saya biarkan. Lawan harus percaya bahwa saya sedang kalah. Dalam pasar, kadang kita harus tampak bodoh agar orang pintar terlalu percaya diri. Masuk bulan kedua, saya menambah posisi. USD 15 juta saya tenggelamkan ke pasar leverage. Di rekening masih ada USD 50 juta sebagai napas. Itu bukan sekadar uang. Itu waktu. Dalam pasar leverage, yang menang bukan selalu yang paling benar, tetapi yang paling lama mampu bertahan sebelum lawannya dipaksa menyerah.

Lalu Agustus 1998 datang seperti badai. Rusia mendevaluasi rubel. Saya tersenyum. Inilah inti permainan. Pemerintah Rusia gagal memenuhi kewajiban utangnya. Pasar global panik. Semua model korelasi runtuh. Spread melebar liar. Investor tidak lagi bertanya mana aset yang murah atau mahal. Mereka hanya bertanya: mana yang bisa dijual sekarang untuk mendapatkan uang tunai?

LTCM mulai diguncang. Posisi mereka terlalu besar, terlalu kompleks, dan terlalu terhubung dengan banyak bank besar. Ketika kerugian berjalan, margin call datang seperti palu. Untuk bertahan, mereka harus melepas posisi. Tetapi setiap posisi yang dilepas justru memperburuk harga pasar. Ketika pasar membaca darah, semua orang ikut menyerang.

Di situlah permainan berbalik. Aset aman diburu. Obligasi pemerintah G7 yang paling likuid menjadi tempat berlindung. Volatilitas melonjak. Posisi derivatif saya yang tadinya dianggap hampir mati mendadak hidup. Opsi yang dulu murah berubah menjadi pisau tajam. Setiap forced liquidation di pihak mereka menjadi keuntungan di pihak saya.

Saya bukan lebih besar dari LTCM. Saya hanya berdiri di sisi yang berlawanan dari pihak yang terlalu leverage. Dalam pasar, pihak yang terlalu leverage bukan kalah karena semata-mata salah analisis, tetapi karena kehabisan waktu dan likuiditas.

Keuntungan datang dari beberapa lapis.

Pertama, harga obligasi aman naik karena investor global berlari ke safe haven. Ketika yield turun, harga obligasi naik. Kedua, posisi opsi dan derivatif menghasilkan convex payoff. Instrumen yang awalnya murah melonjak nilainya ketika volatilitas naik. Ketiga, forced liquidation membuat arah pasar bergerak semakin ekstrem. Mereka yang harus menutup posisi justru mendorong harga ke arah yang menguntungkan posisi saya.

Itulah mengapa laba bisa berlipat. Bukan karena obligasi naik sedikit, tetapi karena struktur opsi, leverage, timing, dan kepanikan pasar bertemu pada satu titik. Akhirnya, The Fed harus turun tangan. Bukan karena ingin menyelamatkan satu hedge fund, tetapi karena banyak bank besar menjadi counterparty LTCM. Jika LTCM jatuh tanpa kendali, efek dominonya bisa merusak sistem keuangan global.

Saya menutup posisi ketika darah sudah terlihat di lantai pasar. Di tengah skandal dan kepanikan itu, rekening saya masih utuh. Bahkan posisi saya berbalik menghasilkan keuntungan sangat besar. Bagi saya, itu bukan sekadar laba. Itu amunisi.

Amunisi untuk sesuatu yang lebih besar daripada rekening pribadi. Waktu itu rupiah sedang dihajar bukan hanya oleh fundamental ekonomi, tetapi oleh krisis kepercayaan. Pada saat semua orang panik, semua orang ingin memegang dolar. Importir membeli dolar. Debitur valas membeli dolar. Bank mencari dolar. Korporasi menahan dolar. Spekulan mengejar dolar. Akibatnya, rupiah jatuh lebih dalam, bukan hanya karena angka ekonomi, tetapi karena ketakutan yang beranak-pinak di pasar.

Dalam keadaan seperti itu, kurs bukan lagi sekadar harga mata uang. Kurs menjadi cermin kepanikan nasional. Maka keuntungan dalam dolar itu saya perlakukan bukan sebagai harta pribadi, melainkan sebagai peluru untuk mematahkan psikologi pasar. Dolar hasil permainan itu masuk ke rekening penampung. Dari sana ia bisa dipakai untuk operasi pasar: menambah suplai devisa, menjual dolar di titik-titik psikologis, membeli rupiah, dan mematahkan momentum spekulan yang terlalu percaya bahwa rupiah akan terus jatuh.

Caranya tidak bisa kasar. Tidak bisa sekaligus. Pasar valuta harus dipukul dengan presisi. Jual dolar terlalu besar di awal, pasar akan tahu kita panik. Jual terlalu kecil, spekulan akan menginjak. Maka operasi dilakukan berlapis. Dolar dilepas di level tertentu, order book ditahan, posisi long USD dipaksa berpikir ulang, lalu pasar dibiarkan merasakan bahwa rupiah tidak lagi sendirian.

Ketika spekulan sadar dolar tidak bisa lagi naik semaunya, mereka mulai menutup posisi. Mereka menjual dolar. Eksportir yang tadinya menahan devisa mulai melepas, karena takut kurs makin turun. Importir yang tadinya panik membeli dolar mulai menunda, karena berharap bisa membeli lebih murah. Perlahan, kepanikan berubah arah.

Dalam pasar valuta, perubahan psikologi sering lebih kuat daripada angka di neraca. Begitu orang percaya bahwa puncak kepanikan sudah lewat, mereka tidak lagi berebut pintu keluar. Mereka mulai kembali menghitung. Dari sanalah rupiah menemukan napasnya.

Rupiah yang sebelumnya terlempar ke sekitar Rp 17.000 per dolar mulai menguat. Bukan karena satu orang menyelamatkan mata uang. Tidak ada satu orang yang sebesar itu. Penguatan rupiah adalah hasil dari banyak faktor: perubahan politik, restrukturisasi perbankan, pengetatan moneter, dukungan likuiditas, dan pulihnya kepercayaan. Tetapi dalam krisis, kadang satu suplai likuiditas yang datang pada waktu yang tepat bisa menjadi korek api yang menyalakan kembali keberanian pasar. Dalam pasar valuta, kepercayaan adalah cadangan devisa yang tidak tercatat di neraca mana pun.

Pagi harinya, saya check out dari hotel dan langsung menuju bandara. Saat melewati gerbang imigrasi, hanya dalam hitungan detik, saya melihat petugas SIMEX bergerak mengejar saya. Mereka suspect saya terlibat insider trading dengan Moscow. Namun saya sudah berada di area international border. Saya berjalan santai menuju boarding gate.

Saya pulang.

Di ruang tunggu, saya membuka laptop. File-file terkait DTC dan Clearstream saya bersihkan. Bukan karena takut, tetapi karena permainan sudah selesai. Closed file.

Saya tersenyum sendiri. Dalam hati saya berkata, “Kalian pernah ikut merampok negara saya. Sekarang rasakan dirampok oleh hantu.”

Tiga bulan saya berada di luar negeri. Lalu saya kembali ke tanah air pada September 1998. Dari bandara, seorang petugas menjemput saya. Di ruang VIP, saya menyerahkan kode rekening penampung dana hasil permainan itu. Setelah itu, saya pulang naik taksi. Di kantong saya hanya tersisa uang USD 200. Itu pun recehan.

Saya tersenyum membayangkan nasib saya sendiri. Setelah melewati permainan bernilai puluhan juta dolar, saya pulang tanpa tabungan pribadi. Tidak ada pesta. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada nama di koran. Tidak ada penghargaan.

Hanya saya, taksi, dan sisa uang kecil di kantong. Bulan-bulan berikutnya hingga tahun 1999, rupiah terus menguat. Dari titik krisis yang pernah menembus sekitar Rp 17.000 per dolar, rupiah perlahan kembali ke level yang jauh lebih kuat, bahkan sempat menuju sekitar Rp 6.500 per dolar.

Banyak orang kemudian membaca itu sebagai pemulihan makroekonomi. Bagi saya, itu juga cerita tentang bagaimana kepanikan bisa dipatahkan ketika pasar melihat bahwa negara masih punya napas.

Pada era Megawati, pengaruh IMF perlahan berhasil ditekan dari pusat kebijakan Indonesia. Negara mulai mengambil kembali sebagian ruang kedaulatannya. Tetapi saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai kerja satu tangan. Sejarah selalu ditulis oleh banyak kekuatan: politik, pasar, keberanian, kebetulan, dan tangan-tangan sunyi yang tidak pernah masuk laporan resmi.

Sementara saya?

Saya harus membenahi hidup saya sendiri.

Begitulah hidup. Kadang kita ikut dalam permainan besar, tetapi pulang sebagai orang biasa. Kadang kita menggerakkan angka yang tidak pernah diketahui publik, tetapi tetap harus makan dari uang receh di kantong sendiri. Di situlah saya belajar: tidak semua perjuangan harus dicatat sebagai sejarah. Ada yang cukup selesai sebagai rahasia antara manusia, pasar, dan Tuhan.

Karena dalam krisis, yang paling mahal bukan uang. Yang paling mahal adalah keberanian membaca kabut, tetap tenang ketika semua orang panik, dan tahu kapan harus menutup posisi sebelum keserakahan berubah menjadi kuburan. Dan dalam hidup, tidak semua kemenangan harus dibawa pulang sebagai harta. Ada kemenangan yang memang harus dikembalikan kepada tanah tempat kita lahir.

Disclaimer. Undisclosed.

Erizeli Jely Bandaro

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement