Modal Buku Satu

 Modal Buku Satu
Buyar Winarso gemar memberi motivasi generasi muda, menularkan inspirasi sukses. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Syahdan, usaha perguruan Global Islamic School (GIS) berjalan baik. Winarso pun teringat pada dirinya yang sempat putus kuliah karena terlalu sibuk bekerja. Dia marasa saat inilah yang tepat untuk melanjutkan pendidikan, apalagi setelah ia memiliki lembaga pendidikan sendiri.

Tepat tahun 2003, Winarso pun mendaftar di Universitas Krisnadwipayana, Jatibening, Jakarta Timur. Seperti kuliah sebelumnya di Universitas 17 Agustus 1945, kali ini pun dia mengambil jurusan yang sama, yakni ekonomi manajemen. Tahun 2007, ia pun menyelesaikan pendidikan Strata I di bidang ekonomi manajemen.

“Yah… pendidikan saya tersendat-sendat memang sudah dari sononya… ha…ha… ha…,” ujarnya sambil tertawa. Ia teringat kisah sekolahnya yang memang tidak mulus sejak lulus SD dulu. Bayangkan, di tingkat SD saja, ia tercatat tiga kali keluar masuk.

“Beberapa waktu lalu saya ketemu kepala sekolah SMA di Kebumen, dan juga bertemu guru-guru SMP. Mereka bilang, ‘modal buku satu kok bisa jadi kayak gini’… ha… ha… ha….,” katanya sambil tertawa.

Buyar Winarso pun teringat, saat-saat sekolah di SMP Tamtama dan SMA Muhammadiyah Kebumen. Setiap hari hanya mengantongi satu buku tulis yang dilipat dan diselipkan di kantong celana bagian belakang.

Kini, puluhan tahun kemudian, meski terlihat semua usahanya berjalan mulus, namun bukan berarti tidak ada yang gagal. Ada sejumlah usahanya “mandeg” di jalan, setelah dia tidak lagi intens menangani. Sebut saja pembangunan pabrik rokok (home industry) yang akhirnya kandas, atau usaha peternakan ayam dan bebek di kampungnya, Wonokromo, yang juga berantakan.

Kegagalan dalam berusaha, menurut Winarso, adalah hal biasa dan tidak menjadikannya putus asa atau takut mencoba sesuatu yang baru. Justru sebaliknya, kegagalan benar-benar dimaknai sebagai pelajaran berharga.

Bisnis merupakan tantangan yang menggairahkan, karenanya ia tdak pernah frustrasi, sekalipun menemukan batu sandungan ataupun gagal. “Kalau tidak ada tantangan, mulus-mulus saja, justru saya yang merasa jenuh,” kata Buyar Winarso. (Roso Daras/Bersambung)

Buyar Winarso selalu melihat ke bawah…. Memperhatikan nasih bangsanya yang masih di bawah garis kemiskinan. (ist)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *