Orang Tanimbar Kian Kerdil

 Orang Tanimbar Kian Kerdil
Gudang tua peninggalan Belanda di Pelabuhan Larat. (foto: Sagitarius Mitakda)

Catatan Redaksi

Redaktur Senior Jayakarta News, Sergius Mitakda, mengikuti kunjungan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mochamad Basoeki Hadimoeljono di Kepulauan Tanimbar pada 10 dan 11 Januari 2019. Ia menurunkan catatannya dalam lima tulisan. Berikut tulisan kelima (terakhir).

 

JAYAKARTA NEWS – Selepas Bandara Mathilda Batlayeri, sepanjang perjalanan menuju Larat di setiap kampung yang dilalui rombongan Menteri, mulai dari Desa Lorulung hingga Arma, di tengah terik matahari yang menyengat, ratusan pelajar pada pelbagai tingkat sekolah. Mereka berbaris sejajar, membentuk pagar betis di sepenggal jalan utama di kampung mereka sambil memegang bendera-bendera kecil di tangan. Dengan senyum tersungging, anak-anak bertubuh mungil dibungkus seragam sekolah, calon pemimin masa depan ini, melambai-lambaikan bendera merah putih menyambut setiap mobil yang melintas.

Selepas Desa Arma, panjang perjalanan menuju Larat saya merenung dan bertanya-tanya, mengapa anak-anak Tanimbar masa kini tumbuh menjadi semakin kerdil. Bukankah moyang-moyang orang Tanimbar terkenal sebagai raksasa yang memiliki tubuh sangat besar. Dalam buku mengenai kebudayana Tanimbar, ‘Etnologi Tanimbar’, Misionaris Katolik dan Antropolog, P. Drabbe MSC menulis pada tahun 1936 bahwa orang-orang Tanimbar bertubuh kekar hampir mencapai 6 kaki atau sekitar 170 cm untuk laki-laki dan 160 cm untuk anak perempuan.

Apa yang salah dan siapa yang bertanggung-jawab atas semua ini. Dalam era yang sudah sangat terbuka, tanpa ada sekat dan hambatan, anak-anak kita tumbuh tidak normal, justru menjadi manusia katek, kerdil. Ini tantangan di depan mata Bupati Petrus Fatlolon yang ingin menjadikan masyarakat Tanimbar, cerdas dan sehat.

Saya mencoba bertanya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dr. Julia Ratuanak mengapa keadaan ini bisa terjadi. Menurut Ibu Dokter, mata rantai dan tali-temali persoalan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pihaknya, akan tetapi semua pihak. Dimulai dari pimpinan daerah hingga masyarakat akar rumput di pedesaan.

Dinas Kesehatan sudah sangat siap dengan segala sarana dan prasarana mulai dari ibukota Kabupaten, Desa hingga Dusun. Di Tanimbar Selatan terdapat 3 buah rumah dan satu lagi di Ibukota Kecamatan Tanimbar Utara di Larat dan 12 Pusat Kesehatan Masyarakat yang tersebar di 10 Kecamatan. Dengan demikian, masalah kesehatan standar atau tindakan medis yang lebih besar dapat ditangani di Tanimbar tanpa harus dirujuk ke Ambon atau Jakarta.

Apa yang sekarang dialami oleh generasi Tanimbar masa kini, merupakan jawaban dari generasi sebelumnya yang abai terhadap kesehatan. Kemajuan jaman dan pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat pedesaan. Terjadi goncang budaya yang hebat, sehingga pola dan kebiasaan hidup berubah total.

Anak-anak masa lalu gemar mengomsumsi “makanan tanah” yang dihasilkan dari kebun yang tidak berpestisida seperti ubi jalar, keladi dan kombili. Anak-anak zaman new, berteman dengan nasi dan makanan yang dipoles dengan penyedap rasa yang justru berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, mie instan dimakan mentah, tanpa diolah.

Sudah ada empat rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap mampu melayani pasien yang minta dilayani, tiga rumah sakit di ibukota Kabupaten, Saumlaki dan satu rumah sakit lagi di Kecamatan Tanimbar Utara di Larat. Puskesmas yang ada di 10 Kecamatan mencapai 12 unit dan empat Klinik atau Balak Kesehatan serta 11 buah Poliklinik Desa. Tenaga kesehatan yang bertugas hingga pelosok sudah sangat mumpuni.

Tercatat 48 orang dokter, 265 orang tenaga perawat, bidan sebanyak 104 orang dan tenaga farmasi sebanyak 20 orang.  Bantuan dan control sejak kehamilan hingga cakupan imunisasi telah ditangani dengan baik. Berikut pelaksanaan program di bidang Kependudukan dan Kesehatan dalam upaya mencapai masyarakat sehat sejahtera, adil dan makmur dengan norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) melalui upaya perencanaan.

Persoalan yang dihadapi saat ini lebih disebabkan pada kebiasaan laki-laki Tanimbar yang gemar minum minuman keras produk lokal yakni sopi. Minuman beralkohol berdosis tinggi ini sangat digemari dan menjadi keseharian hidup. Ditingkahi dengan kebiasaan anak-anak yang gemar makanan yang sarat dengan zat kimia, ditambah dengan asupan gizi yang kurang pada saat mereka memasuki masa emas, maka terciptalah generasi bonsai tadi.

Kepala Dinas Kesehatan setuju untuk mencari jalan pintas agar Tanimbar dapat keluar dari tahapan awal krisis gizi buruk. “Ini bukan proyek, tetapi upaya mendorong masyarakat untuk dapat mengkonsumsi makanan bergizi. Tanaman yang mudah dan cepat tumbuh serta memiliki segala unsur yang dibutuhkan tubuh adalah pohon kelor.”

Pohon ajaib atau yang lebih dikenal dengan Morienga ini yang sudah lama direkomendasikan oleh badan kesehatan Perserikatan Bangsa Bangsa, WHO, memiliki khasiat yang lengkap. Pohon ini sudah sangat familier di Tanimbar, tinggal mendorong agar masyarakat dapat memahami betapa banyak manfaat baik yang akan diterima tubuh bila mengonsumsi daun kelor. “Kami akan berusaha memberi pemahaman hingga pelosok desa agar mereka mau menanam di pelataran halaman rumah serta secara rutin memakannya,” tandas dr. Jul Ratuanak.

Upaya menanam dan mengonsumsi daun kelor harus diupayakan dan didengungkan oleh semua pihak, mulai dari pimpinan daerah, pimpinan desa, tua-tua adat dan pemuka agama. Harus menjadi gerakan sehingga setiap orang baik di desa maupun kota dapat memperoleh manfaat dari khasiat daun keluar yang luar biasa. Dengan begitu, anak-anak Tanimbar dapat memperoleh asupan gizi yang cukup sehingga mampu mengejar ketertinggalannya dalam bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Peranan guru dalam upaya kampanye peningkatan gizi lewat penanaman serta konsumsi kelor bagi anak murid menjadi mutlak dan perlu. Sebab, untuk mencapai kecerdasan, diperlukan tubuh yang sehat. Kerjasama antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan sangat diharapkan agar program kerja Bupati dapat dicapai dengan baik. Tidak ketinggalan dengan kepala desa dan perangkatnya untuk berada di depan.

Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa bersama perangkatnya dapat menjadi pengerak utama di desanya. Tua-tua adat dapat memberikan fatwa yang mengikat agar warganya mau menanam pohon kelor. Juga para guru dan anak-anak yang menganjurkan kepada orang tuanya agar ikut ambil bagian serta mimbar-mimbar agama di Gereja dan Masjid.

Kendati para guru Guru di Tanimbar menghadapi kendala dengan begitu banyaknya guru-guru bantu, tidak mengurangi peranan mereka sebagai salah satu penggerak utama. Jumlah guru yang ada di Tanimbar saat ini tercatat sedikitnya 2.738 orang, sebagian besar bertugas sebagai Guru Sekolah Dasar. Mereka tersebar di Desa-desa terpencil yang sarana transportasinya terbatas. Kesulitan besar yang dihadapi adalah kian membengkaknya rasio guru bantu/honor dengan guru tetap yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Kiranya guru-guru honor di pedalaman diberi perhatian khusus agar kesenjangan antara guru tetap yang diangkat dari Jakarta dapat diperkecil. Sebab, untuk mengangkat seorang guru menjadi pegawai negeri sangatlah sulit lantaran harus mengikuti ujian lewat sistem one line. Dalam waktu dekat, Tanimbar akan menghadapi persoalan tersendiri, bila Jakarta tidak dapat mengatasi persoalan ini.

Mimbar-mimbang Gereja dan Masjid harus dilibatkan dalam upaya menjadikan kelor sebagai sayur mayur utama dalam menu makanan. Di Tanimbar, di samping Saumlaki disusul Larat yang memiliki jumlah umat Muslim cukup, ada tiga Desa di Tanimbar Utara seluruhnya beragama Islam, Kilon, Karatat dan Labobar. Sudah ada 26 Masjid berdiri di Tanimbar dengan jumlah umat Muslim tercatat 6,59% dari penduduk Tanimbar sebanyak 125.000 jiwa.

Potensi tanaman jagung di Tanimbar, sangat subur tanpa pemupukan. (foto: Sergius Mitakda)

Badan Usaha Milik Desa bisa dilibatkan dalam upaya mendorong peningkatan konsumsi daun kelor. Misalnya, dibuatkan pasta atau pudding dari daun kelor untuk dikonsumsi anak-anak sekolah setiap tiga kali seminggu, Senin, Rabu dan Jumat. Pemanfaatan potensi daerah ini akan dapat meningkatkan nilai tambah dengan lantaran dihasilkan sendiri, berarti lokal konten.

Program peningkatan gizi anak-anak balita dan remaja ini dapat juga dikombinasikan dengan program pemberian susu kedelai yang tidak mengandung laktosa yang tidak akan membuat kegemukan. Kita tidak perlu memelihara sapi, akan tetapi BUMDes tadi bisa menanam kedelai untuk kemudian diolah menjadi susu kedelai. Program semacam ini sudah diterapkan secara baik dan berhasil di India guna mengatasi gizi buruk di sana.

Kita tinggal menunggu gerakkan Pemerintah Daerah untuk mendorong program yang memberikan dampak yang luar biasa bagi kesehatan khalayak. Kedelai yang akan dihasilkan memberikan banyak manfaat baik bagi peningkatan kesehatan balita dan anak-anak, akan tetapi dapat dimanfaatkan untiuk keperluan. Seperti lauk pauk, tahu dan tempe dan pelbagai varian lain dan makanan ternak.

Salah satu masalah besar yang tidak dilihat sebagai ancaman adalah perlakuan dan perlindungan Pemerintah Daerah pada pilar yang sangat penting, tua-tua adat. Peraturan Daerah yang dibuat kurang mengakomodir tua-tua adat sebagai pilar yang penting dan perlu mendapat perhatian khusus. Mereka hanya dinilai dengan sebelah mata dengan memberi bantuan setiap tahun sebesar Rp. 5 juta.

Sementara, hampir setiap hari, tua-tua adat selalu rapat di rumah adat untuk membicarakan keadaan atau kasus-kasus yang terjadi di desanya silih berganti. Rapat adat ini biasanya didahului dengan upacara adat yang berarti ada pengeluaran berupa penyediaan minuman adat yang diperoleh dengan cara membeli. Belum lagi makanan ringan, makan siang atau malam yang juga memerlukan biaya cukup besar.

Kehadiran tua-tua adat dalam konteks kearifan budaya lokal, seharusnya diperlakukan lebih manusiawi. Bukankah Kepulauan Tanimbar mengenal falsafah Duan (pihak laki-laki) dan Lolat (pihak saudara perempuan) yang menjadi ikon. Kearifan Budaya Lokal ini masih memiliki daya dan kekuatan yang dapat menghukum dan langsung berdampak dan sumpah adat masih sangat ditakuti di Tanimbar.

Proses pergantian nama Kabupaten Maluku Tenggara Barat menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebentar lagi mencapai titik akhir. Bila Presiden merestui pergantian nama ini, diharapkan peranan tua-tua adat dapat ditingkatkan sehingga ikatan persekutuan antara pementah daerah, agama dan adat dapat memberi manfaat yang maksimal. Tinggal menunggu itikad baik dan realisasi mewujudkan Tanimbar yang cerdas, sehat, berwibawa dan mandiri.

Pada bagian akhir dari wawancara di Larat, seorang rekan media bertanya kepada Menteri Sri Mulyani, mengenai kesiapan Tanimbar membuka penerbangan langsung Saumlaki ke Darwin – Australia yang hanya berjarak 500 mil itu. Menteri Keuangan ini menandaskan bahwa penerbangan langsung tidak berkaitan dengan Bea Cukai, tetapi merupakan kewenangan Menteri Perhubungan. Diharapkan, hubungan Saumlaki – Darwin pulang pergi sangat tergantung pada persiapan landasan untuk didarati pesawat berbadan lebar.

Bila tahun ini sudah ada penerbangan langsung antara Saumlaki – Darwin dan Saumlaki – Denpasar misalnya, apakah Bumi Duan Lolat ini sudah siap menerima tamu atau wisatawan yang berkunjung? Pertanyaan itu sudah pasti jawabannya, ya bagi orang awam. Akan tetapi bila diajukan kepada para praktisi yang berkarya di bidang penyediaan sarana dan prasarananya, jawaban yang pasti adalah belum siap.

Sebagai contoh nyata, untuk berkunjung ke Desa Matakus di Selat Egron yang menjadi destinasi wisata di Tanimbar, masih belum siap. Sarana dan prasarana yang standar saja belum tersedia, baik transportasi maupun komunikasi. Angkutan regular saja belum tersedia, hal mana sangat menyulitkan wisatawan lokal sekalipun yang ingin berkunjung.

Contoh lain, sepanjang jalan nasional menuju Larat yang berjarak sekitar 115 km itu, tidak ada satu tanda pun yang memberi petunjuk, obyek-obyek wisata yang dilalui. Seharusnya ada petunjuk yang jelas dan mencolok akan adanya obyek wisata di suatu Desa. Dengan begitu, setiap orang yang melintas dapat memperoleh gambaran tentang adanya obyek wisata yang kemungkinan, bila tidak terburu-buru, dapat mampir untuk memberi manfaat bagi desa bersangkutan.

Tempat destinasi wisata di Pulau Matakus. (foto: Sergius Mitakda)

Ada sebanyak 16 buah obyek wisata bahari di pelbagai tempat di Tanimbar, termasuk Desa Matakus di pulau yang terletak di antara Pulau Yamdena dan Selaru. Obyek wisata di Pulau Kore Nusmese di antara Desa Lorulung dan Atubul. Atau Skaru atau tenusan di Desa Kandar dan Desa Lingat di Selaru.

Ada sedikitnya 36 obyek wisata alam di Tanimbar yang sangat menarik untuk dikunjungi. Berikut, wisata budaya yang berjumlah 33 buah dan beberapa obyek wisata buatan. Sayang, tempat wisata ini tidak dipromosikan sehingga sepi dari pengunjung.

Sudah saatnya dan waktunya telah tiba agar semua pihak yang terlibat dan peduli akan kemajuan Tanimbar dapat memberi hati untuk berkembangnya Tanimbar yang lebih maju dan bersahabat dengan para pengunjung agar lebih betah singgah sebentar. Dunia pariwisata akan dapat meningkatkan pendatan masyarakat secara tetap dan berkesinambungan, termasuk industri pendukungnya berupa makanan, transportasi dan penginapan serta soufenir.  Ratu Nor Kit Manuk Dedesar (Tuhan senantiasa berserta kita). (selesai)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *