Misteri Jalan Malioboro

 Misteri Jalan Malioboro

BAGI kebanyakan wisatawan, kata Malioboro melekat dengan nama kota pemiliknya, Yogyakarta. Sejumlah turis asing yang kemudian kembali lagi ke Kota Gudeg, biasanya akan berkorespondensi dengan teman lokal, dan berkata, “see you at Malioboro”. Betapa nama sebujur jalan ini, bisa diasosiasikan menjadi nama sebuah kota bersejarah.

Memang, bukan hanya Yogyakarta yang istimewa, Malioboro pun istimewah…. Tidak heran jika kemudian banyak orang penasaran dengan asal-usul nama Malioboro. Masyarakat mafhum, bahwa huruf vocal “o”, memang identik dengan kebanyakan kosakata Jawa. Tapi dalam ujaran sehari-hari, bahkan dalam kamus bahasa Jawa sekalipun, tidak ada kata “malioboro” dan artinya.

Jika Anda searching di internet, akan ditemukan dua kata yang “didekat-dekatkan” dengan Malioboro. Pertama, nama Malioboro diabadikan dari nama seorang bangsawan Inggris bernama Marlborough di tahun 1811. Sangat janggal dan susah dilesakkan ke akal. Pertama, mengapa harus menggunakan nama Inggris yang notabene pernah menyerbu keraton Yogyakarta, untuk menamai jalan utama di kota itu? Kedua, silakan dilafal kata “Marlborough”. Jauh nian dengan pelafalan “Malioboro”.

Ketiga, jalan itu sudah ada bahkan sejak Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi wilayah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Mengapa harus menunggu 56 tahun kemudian baru menamakannya dengan nama bangsawan Inggris, Marlborough? Keempat, mungkinkah nama seseorang yang dijadikan nama jalan kemudian berubah bunyi? Rasanya tidak. Itu artinya, kalau benar argumen di atas, maka hingga hari ini harusnya nama jalan adalah Jalan Marlborough.

Tapi seandainya Marlborough adalah benar cikal bakal nama jalan itu, maka besar kemungkinan untuk menghindari sentimen terhadap bangsa asing, maka Marlborough kemudian diubah menjadi Malioboro. Sekali lagi, itu pun kalau benar.

Masih kata sejumlah artikel di internet. Ada yang merujuk kata Malioboro diambil dari bahasa sansekerta, malyabhara yang artinya karangan bunga. Dari segi pelafalan kata, lebih masuk akal dibanding Marlborough. Vokal “a” dalam bahasa Jawa, khususnya Jawa Yogya, diucapkan “o”. Malyabhara diucap Malyobhoro. Malyobhoro menjadi Malioboro. Sampai di sini, argumen asal-usul Malioboro menjadi lebih rasional, lebih mudah diterima akal.

Menjadi sulit diterima jika merujuk pada toponimi. Toponimi adalah bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Nah, dari sudut toponimi, “karangan bunga” menjadi tidak nyambung. Sebab, belum ada data yang merujuk adanya pusat karangan bunga di sepanjang jalan itu, era tahun 1700-an, atau abad ke-17. Di samping itu, “apa pentingnya” karangan bunga menjadi nama jalan utama di kota sebuah “negara” Yogyakarta?

Ya, Kasultanan Yogyakarta ketika itu adalah daerah otonom, sekalipun wilayah Indonesia dalam cengkeraman penjajah. Orang sekitar kota Yogya zaman dulu, jika hendak ke kota selalu mengatakan, “bade dateng negoro”, mau ke negara. Ketika tahun 1945, Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tidak lama kemudian Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, “menyatakan bergabung” dengan Republik Indonesia. Itulah dasar pelekatan status “Istimewa” untuk Yogyakarta hingga sekarang.

Kembali ke laptop. Soal nama Malioboro. Anggap benar, kata Malioboro berasal dari Malyabhara, yang artinya karangan bunga. Argumen yang bisa didekat-dekatkan dengan itu barangkali nama Pasar Kembang. Ya, Jalan Pasar Kembang adalah salah satu jalan kecil di sekitar Malioboro, tak jauh dari Stasiun Tugu, ujung utara Malioboro. Jika merujuk pada toponimi, sangat mungkin di sekitar situ dulu terdapat pasar kembang. Apa karena itu, kemudian nama jalan utamanya Malioboro?

Rujukan lain, pada abad ke-18, di Belanda, rangkaian bunga digunakan untuk menghiasi rumah-rumah para pejabat dan keluarga kaya. Jenis rangkaian bunga yang populer saat itu “Tussie-Mussie atau Posy”, yaitu buket bunga melingkar. Bisa jadi, “latah karangan bunga di Belanda” sana, dibawa ke negeri jajahannya di Hindia Belanda. Tapi kalau itu alasannya, mengapa nama jalannya bukan Jalan Tussie Mussie, atau Jalan Posy? Mengapa justru mengambil kata Sanskerta? Entahlah.

Pendek kalimat, sependek pengetahuan penulis, belum ada satu catatan ilmiah pun yang mengupas tentang asal usul atau sejarah penamaan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Itu pula yang membuat jalan yang membujur lurus utara-selatan tadi menjadi penuh misteri. Misteri Malioboro yang belum terungkap hingga hari ini.

Sekadar me-refresh ingatan yang sudah pernah ke Malioboro, bahwa jalan ini membujur dari Tugu hingga Kantor Pos tak jauh dari alun-alun utara Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai “titik nol”. Sejarah jalan ini juga tak pernah lepas dari pembangunan stasiun kereta api Tugu Yogyakarta tahun 1887 oleh Staat Spoorweg. Bentang rel itu memotong Jalan Malioboro, yang kemudian membaginya menjadi dua bagian, utara rel dan selatan rel. Sekarang, utara rel hingga Tugu, dinamakan Jalan Mangkubumi.

Jika Anda cermati, simpang jalan di Kota Yogyakarta memiliki garis tegas mata angin utara-selatan, barat-timur. Potongan-potongan jalan berupa perempatan, selalu tegak lurus. Ihwal konsep tata ruang kota Yogya, barangkali di Leiden Belanda sana, lengkap data tersedia.

Dari banyaknya jalan besar di kota ini, Jalan Malioboro bukan saja penuh misteri, tetapi juga jalan sakral. Ada yang menyebut Malioboro sebagai sumbu imajiner utara-selatan yang menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton Yogyakarta Hadiningrat di tengah, dan Pantai Parang Kusumo di bibir Samudera Hindia. Inilah sumbu supranatural, jalinan ghaib antara Eyang Merapi, Sri Sultan (Raja Yogyakarta), dan Nyi Roro Kidul (penguasa laut selatan). Itu artinya, Jalan Malioboro bukan jalan-sembarang-jalan.

Sayang, di era kolonial Belanda (1790-1845), pola tata kerajaan Yogyakarta diganggu dengan sejumlah bangunan yang tak diinginkan. Belanda membangun dua gedung berhadap-hadapan di ujung selatan Malioboro yang dikenal dengan Benteng Vredeburg (1790) di timur jalan, dan The Dutch Governor’s Residence (sekarang Istana Negara) 1830. Di sekitarnya, berdiri banyak bangunan Belanda yang sekarang masih megah berdiri sebagai kantor Bank Indonesia, kantor Pos, dan Bank BNI.

Perkembangan pesat terjadi pada masa itu yang disebabkan perdagangan antara VOC dengan orang Cina. Komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII ( 1877 – 1921).

Jalan Malioboro juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sisi selatan Jalan Malioboro pernah terjadi pertempuran sengit antara pejuang tanah air melawan pasukan kolonial Belanda yang ingin menduduki Yogya. Pertempuran itu kemudian dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yakni keberhasilan pasukan merah putih menduduki Yogya selama enam jam dan membuktikan kepada dunia bahwa angkatan perang Indonesia tetap ada. Momentum pertempuran ini berada di titik nol, pojok barat daya Benteng Vredeburg.

Malioboro juga melahirkan banyak seniman. Seniman gaek, sampai senimian masa kini. Tidak satu pun di antara mereka yang tidak pernah menghabiskan malam di Jalan Malioboro. Sejumlah nama seniman yang dulu tenar, seperti Rendra, Hendra Cipta, Bagong Kussudiardjo, Linus Suryadi AG, dan lain-lain, pelan tapi pasti namanya makin samar terdengar.

Generasi berikut seperti Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto, Garin Nugroho, Pongky Barata sempat Berjaya, sebagian masih eksis, dan cepat atau lambat, nama mereka pun akan memudar, bersamaan munculnya seniman-seniman muda Yogya yang tumbuh begitu subur.

Waktu boleh berlalu, Malioboro tetap di situ. Peradaban boleh tergerus, Malioboro tetap misterius. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *