Episode “Galih dan Ratna” Lupa Usia

 Episode “Galih dan Ratna” Lupa Usia
Penulis (Syarifah Lartifah) berpose cantik di pelataran Candi Prambanan. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Tak kusangka, perjalanan ke Yogyakarta kali ini mengingatkanku pada episode “Galih dan Ratna”, 30-an tahun lalu. Sebuah kenangan yang melanglang ke alam silam, saat  SMA-ku dulu mengadakan tour ke Yogyakarta. Teringat kembali kedekatan dan kekompakan selama di sana, yang menyisakan kenangan tak terlupakan.

Kota Istimewa itu pun aku injak kembali, 1 – 4 Februari 2019. Tujuan sama, dengan rombongan yang berbeda. Kali ini, kami berangkat bersama teman-teman Perkumpulan Jayakarta 98, dalam trip bertitel “Jayakarta News Goes to Jogja”. Wajah Yogya pun sudah berbeda dengan wajah Yogya 30-an tahun lalu. Fisik kami pun, tentu saja berbeda. Jika dulu remaja penuh vitalitas untuk bergerak, saat ini semangat-tinggi-pegal-linu setelahnya…..

Tapi ada satu kesamaan yang kulihat dan kurasakan, yakni semangat. Setidaknya, kami merasakan semangat muda. Yogya adalah faktor utama, kukira. Kota ini adalah kota semangat sekaligus kota penjaga tali persaudaraan. Perjalanan ke Yogya kali ini pun kami rasakan penuh semangat dan pengalaman baru. Yogya memang istimewa.

Hari kedua di Yogya, kami memulai perjalanan wisata dengan mengunjungi situs Candi Prambanan yang indah dan megah. Lelah mengitari pelataran candi, kami lanjutkan perjalanan menuju kawasan sejuk Kaliurang. Sebagian teman menikmati Museum Gunung Api Merapi, sebagian lain menikmati Tour Lava Erupsi Gunung Merapi.

Ketika perut berontak minta diisi, kami memenuhi undangan jamuan makan siang oleh Aqua Dwipayana, sang motivator “The Power of Silaturahim”. Kembali ke penginapan, kami mengadakan tumpengan syukuran ulang tahun ke-2 Jayakarta News, media online yang kami bangun awal tahun 2017, sebagai pengganti Harian Umum Jayakarta yang berhenti terbit akibat krismon, tahun 1998.

Lepas pukul 22.00, kami menyudahi acara santai sambil nyanyi-nyanyi. Setelah itu, kami menuju Angkringan Gadjah Jl. Kaliurang, memenuhi undangan Aqua Dwipayana (lagi). “Terima kasih Pak Aqua telah menjamu makan siang dan makan malam, serta memberikan ilmu kepada kami. Semoga kita semua selalu bermanfaat untuk orang banyak, khoirunnas anfa’ahum linnas,” kata hatiku buat Aqua.

Esok harinya adalah hari Minggu (3/2) yaitu hari bebas untuk berkunjung ke tempat wisata yang kami inginkan. Di antara teman-teman ada yang melakukan perjalanan ke Solo menggunakan Kereta PramEx (Prambanan Express), ada yang menjadi “anak pantai” ke Pantai Drini dan sekitarnya. Sementara, kami sepakat mengunjungi sekitar keraton dan Malioboro. Adalah kami bertujuh, di antaranya saya (Latifah), Rina, Melva, Dini, Ira, Elty, dan Dina.

Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah. Kami seperti bidadari yang akan mandi di pemandian Taman Sari (The Fragrant Garden). Tapi, tempat ini urung kami kunjungi. Kami hanya mengunjungi keraton. Itu pun sudah membuat hati kami sumringah.

Objek yang cantik nan klasik itu pun tidak kami sia-siakan untuk berfoto-foto, dan mulailah kami beraksi, camera roll…. action!! Ha… ha… ha…. Emak-emak Old-Milenial pun mulai beraksi dengan aneka gaya. Sungguh, saat itu, jangan ada yang berani tanya berapa usia kami, sebab kami pasti akan serentak menjawab, “sweet seventeen…..”

Foto kiri, di Keraton Yogyakarta. Paling depan, Dini, ke belakang Elty, di belakangnya lagi Melva dan Latifah, dan paling belakang Ira dan Dina. Foto Kanan di Malioboro. Dari kiri: Dini, Rina, Latifah, Melva, Elty. (foto: dok pri)

Matahari terus merangkak naik, sinarnya mengukir kepala dengan panasnya. Tujuan selanjutnya adalah jalan legendaris Malioboro. Sesungguhnya, bisa saja kami jalan kaki. Bukankah jarak keraton dan Malioboro hanya berbatas alun-alun utara dan sepenggal jalan raya? Tapi, apa Anda semua lupa, kami bukan lagi anak SMA?

Karena itu, kami pun memesan taksi online. Tapi mimpi apa semalam, kami mengalami pengusiran oleh seorang sopir taksi, gara-gara jumlah kami lebih banyak dari ketentuan maksimal empat orang. Sempat terjadi ketegangan antara kami dan sopir. Ketegangan itu berakhir dengan diusirnya kami semua dari mobilnya. Saat itu, terasa sungguh pahit hidup ini….. Akhirnya, kami yang bertujuh orang itu, terpisah menjadi dua kelompok.

Tidak lama kemudian kami mendapatkan taksi pengganti. Dan sampailah kami di Malioboro. Mimpi buruk bersama sopir taksi online barusan, seketika menjadi mimpi indah, demi melihat Jalan Malioboro yang sekarang sungguh cantik. Pedestrian yang lebar dengan banyak tempat duduk di sana-sini, sungguh memanjakan wisatawan dengan banyak usia seperti kami.

Jalan-jalan, berbelanja, dan berfoto-foto di sekitar Malioboro sungguh membuat bibir kami kembali merekah dengan senyuman indah. Meski, bibir kami tak lagi merah, karena sudah terenggut kuah soto ayam saat makan siang tadi….. (syarifah latifah)

Penulis (Latifah) berpose di bawah papan nama jalan legendaris di kota Yogyakarta, Jl. Malioboro. (foto: dok pri)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *