Buruh Gendong di Denyutnya Beringharjo

 Buruh Gendong di Denyutnya Beringharjo
Seti (60), salah satu buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Foto: Roso Daras

EMPAT perempuan buruh gendong, bercengkerama di lantai dua Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Satu di antaranya berbadan kecil, tetapi sangat cerewet. Apa saja dikomentari. Teman-temannya memanggil dia “Prenjak”. “Manuk prenjak kan gak bisa diem, makanya dipanggil Prenjak,” ujar Seti (60), mengibaratkan sahabatnya sebagai burung prenjak yang tak henti berkicau.

Jam menunjuk pukul dua siang. Kota Yogya mandi matahari. Terik bukan kepalang. Sesiang itu, Seti, Prenjak dan teman-temannya, masih bercokol di dalam pasar menawarkan jasa gendong bersama 250 buruh gendong lain yang semuanya perempuan, dan tak lagi muda. Sedikit saja buruh gendong yang berusia di bawah 50 tahun.

Di Kota Gudeg, profesi buruh gendong sudah lama ada. Keberadaan mereka barangkali setua usia pasar-pasar tradisional yang ada. Seperti di Pasar Giwangan, di sana juga ada sekitar 135 buruh gendong. Kemudian di Pasar Gamping, tak kurang dari 44 buruh gendong. Paling sedikit di Pasar Kranggan, hanya sekitar 13 orang.

Seti (60), menggendong belanjaan dari pasar Beringharjo ke parkiran. Foto: Roso Daras

Mereka mencari nafkah dengan menggendongkan belanjaan sejak matahari terbit hingga jam lima senja, saat pasar tradisional berhenti berdenyut. Jika melihat ada ibu-ibu memborong belanjaan, spontan mereka akan menawarkan jasa gendong, menggendongkan belanjaan keliling pasar, hingga membawakannya ke parkiran kendaraan, atau ke halte bus.

Ada kalanya, mereka menggendong belanjaan hingga 50 – 70 kg. Ada kalanya pula, bukan menggendong bawaan untuk satu trip, dari dalam pasar ke parkiran. Tak jarang mereka mengikuti pengunjung yang belanja, berkeliling pasar. Tidak hanya berkeliling, tetapi juga naik ke lantai dua, bahkan ke lantai tiga, lantai paling atas, kemudian turun lagi.

Berapa ongkos untuk sekali menggendong belanjaan? “Gak mesti mas….  gak pernah nyebut ongkos, seikhlasnya saja,” ujar Seti, ibu empat anak dan nenek dari 11 cucu itu kepada Jayakartanews. Dari pengunjung pasar yang lain, Jayakarta mendapat gambaran mengenai tarif buruh gendong. “Seikhlasnya mas…. Ada yang ngasih dua ribu rupiah, lima ribu rupiah…,” ujar seorang ibu sambil asyik memilih sayur mayur di lantai dua Pasar Beringharjo.

Akan tetapi, tidak jarang mereka mendapat rezeki lebih. Seperti yang didapat Seti siang itu. Wanita berambut putih asal dari Kulonprogo, 30 km barat Yogya itu, diberi pecahan Rp 50.000, usai menggendongkan belanjaan pengunjung ke parkiran mobil. Seti menerima uang itu dengan wajah berbinar. Matanya tampak berkaca-kaca. “Matur nuwuuun…,” katanya, sambil membungkukkan badannya yang mulai renta. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *