Ritual Persembahan Ratu Susuk buat Ratu Kidul

 Ritual Persembahan Ratu Susuk buat Ratu Kidul
Umi Monalisa saat melakukan ritual di Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Yogyakarta. Foto: Gde Mahesa

BULAN Suro adalah bulan ritual. Lihat saja, di bulan ini keraton-keraton “memandikan” pusaka. Biasa disebut “jamas pusaka”. Bahkan, sebagian besar masyarakat Jawa percaya, bulan Suro bukanlah bulan yang baik untuk melangsungkan hajatan. Inilah bulan yang penuh misteri, penuh nuansa gaib.

Tak terkecuali Bunda Monalisa yang bernama lengkap Monalisa Londok Khidam, seorang pelaku spiritual berdarah Manado, dan dialiri darah Belanda dari kakek-buyutnya. Wanita yang juga biasa disapa Umi Mona ini adalah seorang paranormal sekaligus aktivis. Tidak seperti kebanyakan paranormal lain yang banyak berdiam di rumah, maka ia justru aktif berorganisasi, aktif berkegiatan sosial.

Monalisa Londok Khidam, suka disapa Umi Monalisa, atau Bunda Monalisa

Dibesarkan di Surabaya, Umi Monalisa dikenal sebagai paranormal yang berpraktek menggunakan media kartu. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ahli susuk. Pemakai jasa pemasangan susuk Umi Mona, berasal dari berbagai kalangan, dari pejabat, artis, hingga wanita malam.

Menurut Mona, tradisi memakai susuk sudah ada sejak zaman para wali dan zaman raja-raja. Susuk lebih alami, serta memberi kekuatan pancaran aura. Baginya, jauh lebih baik memasang susuk daripada operasi plastik, menanam silicon, sulam alis, dan sejenisnya.

Umi menyebut susuk lebih alami, karena apa yang ditanam, berasal dari alam, ciptaan Tuhan. Misal, batu mulia dan emas. Sementara, pemakainya, manusia berasal dari tanah. Lewat kekuatan doa paranormalnya, Umi Monalisa menggabungkan semua elemen itu menjadi sebuah energi bagi pemakainya.

Ditanya ihwal adanya anggapan bahwa jika memasang susuk, menyulitkan si pemakainya ketika dijemput maut, Umi Mona menyanggah keras. “Bagaimana cara manusia meninggal dunia, sangat tergantung pada amal perbuatan semasa hidup. Bukan karena susuk. Saya justru menganjurkan kepada para klien saya untuk lebih meningkatkan ibadahnya. Sebab, jika pemakai susuk makin khusuk beribadah, apa pun agamanya, maka aura susuk pun semakin tajam,” ujarnya.

Sesaji yang antara lain berupa tumpeng lengkap dengan ingkung ayam jago. Foto: Gde Mahesa

Nah, memasuki bulan Suro, Umo Monalisa pun menjalankan ritual labuhan di pantai Parangkusumo, Keamatan Parangtritis, Bantul – Yogyakarta. Kali ini penulis mengikuti perjalanan ritual Umi Mona melakukan persembahan sesaji berupa tumpeng komplit dengan lauk ingkung ayam jago. Labuhan sesaji ini dimaksudkan sebagai umbul doa bagi keluarga dan orang-oroang yang meminta pertolongannya.

Pantai Parangkusumo merupakan daerah pesisir pantai selatan Yogya, yang dipercaya merupakan gerbang kerajaan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul. Bagi Umi Monalisa, Kanjeng Ratu Kidul itu antara ada dan tiada, bagaimana orang mempercayai atau tidak. Namun ia meyakini bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah Ibu Pertiwi, seorang dewi wanita yang cantik juga penguasa laut selatan.

Adapun perangkat sesaji yang dilabuh ke laut merupakan simbol atau media pisowanan dimana hal tersebut telah dilakukan turun-tumurun sebagai warisan leluhur dan menjadi adat istiadat masyarakat dalam budaya. Umi Monalisa sendiri mengaku belum pernah berjumpa secara fisik dengan Kanjeng Ratu Selatan. Meski begitu, ia merasakan kehadiran Kanjeng Ratu melalui tanda-tanda alam, seperti saat ombak mendatangi lokasi ia bersemedi. Ia juga bisa merasakan dari besar ombak yang datang.

Tanda lain, adalah terbangnya kelelawar di sekitar ia berada. Mereka bisa jadi adalah utusan Gusti Kanjeng Ratu Kidul. Kali lain, ia merasakan melalui gumpalan awan di atas laut yang menyerupai kereta kencana dengan kuda dan penumpangnya. Meski begitu, ia mengaku gagal mengabadikan semua tanda melalui lensa kamera. ***

Ritual yang dilakukan Umi Monalisa di Laut Kidul, pantai Parangkusumo, Yagyakarta. Foto: Gde Mahesa
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *