Deklarasi “Perusak Lingkungan Pengkhianat Negara”

 Deklarasi “Perusak Lingkungan Pengkhianat Negara”
Prof  Dr Jimly Asshidiqie, SH (Ketua Umum ICMI) menanam pohon serta ikut terlibat dalam gerakan deklarasi “Perusak Lingkungan adalah Pengkhianat Negara-Bangsa”. (foto: ist)

Jayakarta News – Simak larik-larik kalimat putisi berjudul “Alam Lingkungan” berikut ini: Kalau terpelihara alam lingkungan/ Banyak manfaat dapat dirasakan/ Ada kayu untuk beramu/ Ada tumbuhan untuk ramuan/ Ada hewan untuk buruan/ Ada getah untuk faedah/ Ada buah membawa berkah/ Di situ tempat bersandar/ Di situ dapat membuang lapar/ Di situ adat dapat didengar/ MAKAN jangan MENGHABISKAN/ MINUM jangan MENGERINGKAN. #tunjuk ajar melayu

Bersamaan itu, sebuah gerakan lintas budaya, agama, dan generasi sudah digelindingkan di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan membuat deklarasi “Perusak Lingkungan Adalah Pengkhianat Negara-Bangsa.”

Tiga butir deklrasi itu, pertama, Pelestarian lingkungan hidup merupakan tugas dan kewajiban setiap warga negara, maka negara menjamin keberlangsungan pelestarian lingkungan hidup demi masa depan bangsa.

Kedua, Penanaman cinta terhadap lingkungan hidup harus dimulai sejak usia dini dan program pelestarian lingkungan hidup harus disesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai kearifan lokal. 

Ketiga, Perusakan lingkungan hidup merupakan sebagian dari pengkhianatan atas nilai-nilai budaya luhur bangsa dan negara.

Deklarasi itu dibacakan bersama-sama oleh gerakan lintas budaya, lintas agama, lintas generasi untuk penyelamatan lingkungan pada Jumat (27/9) pekan lalu,  di La Tansa Hall, Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Jalan Soekarno – Hatta no 1, Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Prof  Dr Jimly Asshidiqie, SH menanam pohon disaksikan para deklarator dan inisiator. Antara lain tampak Sam Bimbo, Raja Asdi, dll. (foto: ist)

Para tokoh nasional, gerakan lintas budaya dan lintas generasi yang hadir adalah Prof  Dr Jimly Asshidiqie, SH (Ketua Umum ICMI), Dr M. Jafar Hafsah (Sekjen ICMI), Dr Ir Saleh Abdurahman, MSc (Staf Ahli Bidang Lingkungan dan Tata Ruang Kementerian ESDM RI), Dr Ir Hariynato MT (mewakili Dirjen EBTKE Kementerian ESDM RI), perwakilan Direktorat Konservasi Energi Kementerian ESDM RI, Ir Helmi Basalamah MM (Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian LHK RI), Budi Satyawan Wardhana (Deputi I-Perencanaan dan Kerjasama Badan restorasi Gambut RI), Ade Sumarna (Wakil Bupati Lebak), Ir Priyono (Kepala Bagian Umum Ditjen PSP, Kementerian Pertanian RI), mewakili Dirjen PSP, Kolonel TNI Windiatno, Danrem 064 Maulana Yusuf, Propinsi Banten, mewakili Panglima TNI, Dr Suharno M.Kes (staf ahli Bidang Kesra dan SDM Kota Tangerang Selatan) mewakili Walikota Tangsel, seniman dan penggiat lingkungan Raja Asdi (inisiator), budayawan Remy Sylado (inisiator), musisi Sam Bimbo (inisiator), Ully Sigar Rusady (inisiator),  tokoh R. Dono Sumarwoto  serta jurnalis Didang mewakili kalangan pers.

Menurut Pimpinan Ponpes La Tansa, Dr Sholeh MM, salah satu inisiator kegiatan Deklarasi Nasional penyelamatan lingkungan hidup, keseimbangan ekologis sekarang ini mulai rusak. “Padahal kita sebagai manusia punya kewajiban menjaga keseimbangan ekologis yang sudah diciptakan sejak Nabi Adam. Fakta sekarang,  terjadi kerusakan alam, maka manusia harus bertanggungjawab. Perguruan tinggi La Tansa mengajak mahasiswa-mahasiswi peduli telingkungan. Kami berupaya menjadi ujung tombak dalam menjaga lingkungan dengan menanam sejuta pohon,” ujarnya.

Sementara, pada hari yang sama, Ketua Umum ICMI Prof Dr Jimly Asshidiqie SH memberi Studium Generale Green Contitusion. Jimly mengatakan bahwa Indonesia menghadapi situasi lingkungan yang sangat ekstrem. Di Jambi, misalnya, gara-gara asap, pada jam 12.00 siang, gelapnya seperti jam 12.00 malam. Indonesia itu mempunyai alam yang ringkih. Kalau tidak ringkih tidak akan terpecah menjadi 17 ribu pulau. Di atas tanah Indonesia terdapat gunung berapi. Sementara di bawah tanah dan lautan terdapat patahan-patahan. Itu sebabnya harus dijaga bersama-sama. Dulu mungkin soal sosialiasi kesadaran penjagaan lingkungan hidup sebagai fardu kifayah, tapi saat ini setiap orang wajib menjaga lingkungan hidup merupakan fardu ain.   

“Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bukan hanya menyangkut kita. Tapi masyarakat dunia ikut menjadi korban. Inilah perlunya menyadari pentingnya posisi Indonesia di dunia.  Saatnya Indonesia memimpin dunia. Kita adalah bangsa keempat terbesar di dunia. Kekayan alam kita nomor empat. Hasil karet kita nomor dua di dunia setelah Brasil. Jumlah penduduk nom0r 4 di dunia. Tinggal masalah  kualitas manusianya. Baik kualitas intelektual, kualitas moral, dan akhlaknya. Kalau sudah sesuai standar internasional, maka pada saatnya Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat,” ungkap Jimly Asshidiqie. 

Sementara menurut Raja Asdi, sebagai salah satu inisiator Deklarasi Nasional, lahirnya gerakan tersebut dari keprihatinan kita setelah melihat rusaknya lingkungan hidup di Indonesia. Kebetulan mereka yang hadir mempunyai keprihatinan yang sama. Di saat masyarakat berpikir jangka pendek, mereka kurang  memperhatikan lingkungan. Persoalan asap, sampah, sampah plastik maupun sampah elektronik, langkanya pangan dan lain-lain merupakan persoalan nyata yang harus dihadapi masyarakat Indonesia.

“Persoalan asap sudah terjadi sejak tahun 1997. Gangguan asap bukan hanya mengganggu masyarakat Sumatera dan Kalimantan, tapi negara tetangga juga ikut merasakan. Tapi pada tahun 2015 dan 2016, persoalan asap mulai berkurang banyak. Nah sekarang persoalan itu naik lagi,” ungkap Raja Asdi.

Raja Asdi menjadi penggiat lingkungan hidup sudah sejak lama. Bahkan pada 5 Juni 2000, Raja Asdi bersama Datuk Seri Al Azhar, Alm. Edi Ruslan P.Amanriza dan Almh Amarzan Loebis pernah memproduksi siaran Live selama di lima TV swasta, SCTV TPI, Indosiar, RCTI dan ANTV dalam acara bertajuk Persembahan Kepada Bunda Alam dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia.

Tampak Remy Sylado, Ully Sigar Rusady, Sam Bimbo, dan para deklarator “Perusak Alam adalah Pengkhianat Negara-Bangsa”. (foto: ist)

Sementara musisi dan seniman Sam Bimbo, yang juga bertindak sebagai inisiator dalam acara ini, telah lama berjuang dalam penyelamatan lingkungan. Sam Bimbo, tak bosan-bosan menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup melalui karya musik dan karya lukis. Selain itu, dirinya aktif dalam organisasi Walhi.     

Sam Bimbo pada kesempatan itu juga menyanyikan dua buah lagu yang berjudul ‘Sajadah Panjang’ dan ‘Bumiku Nusantara’.

Acara berlangsung dengan baik bersama 1.000-an mahasiswa La Tansa 2 Rangkasbitung hadir. Acara itu sesungguhnya lanjutan dari acara sebelumnya yang digelar Kamis (26/9/2019) berjudul Mahabbah Alam dengan di La Tansa 5 Lebak Banten dalam rangkaian salat Isya dan salat Istisqo (salat permohonan hujan), menampilkan Sam Bimbo, Jodhi Judono, Chavchay Syaifullah, Ully Hary Rusady memotivasi memelihara lingkungan hidup dipimpin Kyai Adrian bersama 3.000an santri.

Adapun sebagai Dewan Penasehat Gerakan Lintas Budaya/Agama/Generasi Bersama Merawat Lingkungan Hidup Bumi Pertiwi adalah Prof Dr.H. Jimly Asshidiqie SH, Prof Dr H Buya Ahmad Syafii Maarif, Ir Sarwono Kusumaatmadja, Prof Dr H Said Aqil Siradj, Hendardi, Datuk Seri H. Al Azhar, Kafi Kurnia, Remy Sylado,  Romo Benny Susetyo, Dr Ronny F. Sompie, Dr Jerry Marmen, PhD,  WS Budi S Tanuwibowo. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *