Remy Sylado Kritis !

 Remy Sylado Kritis !

Remy yang sehat. (Foto : CNN Indonesia).

JAYAKARTA NEWS—– Budayawan, kritikus musik, dramawan, sutradara drama, pemain film dan eseis Japi Tambayong alias Remy Sylado (75 tahun) masih kritis. Setelah 2 minggu dirawat di RS Premier, Jatinegara, Jakarta Timur, kini Remy Sylado dirawat di rumahnya, Bogor. Isterinya, Maria Louise, setia mendampingi Remy Sylado yang memelopori gerakan ‘puisi Mbeling’ di majalah Aktuil, Bandung di tahun 70an. “Dia masih kritis. Komplikasi akut. Hari ini, Kamis (19/11) bang Remy baru saja melakukan ‘hemodialisis’ (cuci darah) untuk ketiga kalinya,” ujar Evry Joe, produser film dan Ketua Humas Parfi.

Begitu juga pendapat sineas Dedi Setiadi dan dramawan Yose Rizal Manua. “Tolong doa teman-teman budayawan dan wartawan budaya, semoga kesehatan Remy Sylado bisa pulih kembali. Dunia sastra Indonesia masih perlu kehadiran Remy Sylado yang pernah meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2002,” kata Yose Rizal Manua kepada penulis di Balai Budaya, Jakarta, Kamis, hari ini.

Remy Sylado yang sakit ditemani isterinya (foto : dok keluarga)

Dedi Setiadi, yang ikut menjenguk Remy Sylado bahkan pernah mengajak Remy Sylado main di sinetron ‘Siti Nurbaya’ sebanyak 3 episode yang tayang di TVRI (masih hitam putih). Dalam kiprahnya sebagai wartawan dan pengamat musik, banyak nama samaran Remy Sylado yaitu : Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Sri Indarti Sulistyowati dan Yapi Panda Abdiel Tambayong (YPAT). Alumni ATNI Solo, ASRI Solo dan ABA Jakarta dan terakhir menjadi dosen di Sinematografi Bandung ini menguasai bahasa Mandarin, Jepang, Arab, Ibrani, Yunani, Inggris dan Belanda ini diakui sangat teliti memelajari dan mencari kata-kata Indonesia kuno di Perpustakaan Nasional. Tak heran kalau alur cerita dan plot dalam novel-novelnya selalu dipenuhi istilah-istilah kecik Indonesia.

“Dia seorang munsyi (ahli bahasa). Saya kagum atas ketelitiannya mencari kata-kata baru bahasa Indonesia yang sebenarnya kata-kata lama bahasa Indonesia,” ungkap pianis, kelirumolog dan jamulog Jaya Suprana yang berkali-kali membaca karya-karya Remy, diantaranya ‘Orexas’, ‘Ca Bau Kan’ (difilmkan), ‘Kerudung Merah Kirmizi’ (dimuat di Republika dan meraih award sebagai penulis kreatif Asia Tenggara.

Senada pendapat Gus Mus alias KH Mustofa Bisri, yang sedari remaja sudah menggemari rubrik puisi mbeling di Aktuil. “Orang setua dia masih menulis buku, novel, kolom dan artikel teologi, enggak ada duanya. Setahun, Remy mampu menulis 2 sampai 3 novel. Saya kagum atas novelnya berjudul ‘Namaku Mata Hari’ yang dimuat di Kompas. Sangat teliti, bahasa asingnya masuk. Unsur sejarahnya juga klop,” puji Gus Mus yang terakhir hadir dalam pameran ‘Masterpiece’ seni rupa, kaset musik dan poster di Balai Budaya Jakarta yang digagas oleh Wina Armada dari Dewan Pers dan Syahnagra Ismail, Ketua Balai Budaya dan perupa yang lama bergabung di Teater Alam Jogjakarta.

Mengawali karirnya sebagai wartawan majalah Tempo di Semarang tahun 1965 (bukan majalah Tempo yang sekarang), sejak usia 18 tahun, Remy sudah menulis puluhan kritik musik, puisi, cerpen, novel, drama populer, soal-soal dramaturgi dll di sejumlah media cetak yang bertebaran di Indonesia seperti Suara Merdeka, Kompas, Sinar Harapan Tempo, Selecta, Adam & Eva, Aktuil, Top, Vista, Gatra, Fokus dan seabreg media lain.

Sikap berani melawan pandangan umum diakui telah melejitkan namanya ke kancah su-sastra dan musik Indonesia. Dengarkan saja pernyataan Remy Sylado bahwa ‘tak ada major n tak ada minor di bidang seni. Gerakan puisi mbeling yang saya cetuskan bersama perupa Jeihan dan sastrawan DR. Abdul Hadi WM di majalah Aktuil yang terbit di Bandung adalah gerakan untuk mendobrak sikap rezim Orde Baru yang dianggap feodal dan munafik’ ucap Remy Sylado kala itu.

Maka, tak heran terbit karya-karya Remy Sylado yang ‘mbeling’ dan ‘nyleneh’ seperti ‘Genesis’, ‘Messiah 2’, ‘Generasi Semau Gue’, ‘Gali Lobang Gila Lobang’ dan ‘Orexas’ (Organisasi Sex Bebas). Beberapa kali Remy Sylado dipanggil Kepolisian Jawa Barat atas karya-karyanya yang menimbulkan polemik dan kontroversi. Tapi itulah Remy Sylado yang ditulis dalam not angka 23761. Dan kini…Remy Sylado tengah terbaring kritis. Semoga cepat sembuh Bro Remy dan kembali ‘meramaikan’ dunia musik, seni rupa dan kesusastraan kontemporer Indonesia. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *