Remy Sylado: Tak Satu pun Kritik Film yang Perkaya Pengetahuan Saya

 Remy Sylado: Tak Satu pun Kritik Film yang Perkaya Pengetahuan Saya

Remy Sylado–foto instagram

JAYAKARTA NEWS— Pengamat musik dan film serta budayawan Remy Sylado menegaskan tak ada penulis kritik film yang mustaid. Kritik film yang memandaikan pembaca?  “Nol. Tak ada karya kritik film untuk dibaca tentang pengetahuan berpendapat bebas terhadap tafsir yang objektif atas hasil kerja terpadu kesenian film tentang karya seni pertunjukan yang paripurna,” kata Remy Sylado kepada penulis di TVRI Stasiun Jakarta belum lama ini.

Dikatakan Remy dengan mohon maaf, tampaknya memang tak satupun kritik film yang memperkaya pengetahuan saya tentang seluk beluk film (film sebagai wujud pemikiran keindahan) yang dengannya dipertalikan dengan diskursus estetika nan rumit, yaitu bahan dasar cerita menyangkut kewidyaan dramaturgi.

Menurut Remy yang tiga kali menjadi juri Lomba Kritik Film AFI yang digelar oleh Pusbang Film Kemdikbud dan sekali jadi juri dalam FFI, berpendapat, ada rasa tawar karena artikel kritik yang diharapkan sebagai tulisan analisis terhadap film yang dibuat seorang ahli (jurnalis) dirasakan hanya sebagai awam yang bahkan tidak memiliki kecenderungan yang cukup untuk menerangkan seluk beluk film tersebut.

“Terutama dari sudut logika cerita yang dengannya berkaitan dengan keilmuan dramaturgi di satu pihak dan di lain pihak kaitannya pada keilmuan sinematografis menyangkut teknikalitasnya secara terpadu,” tegas Remy lagi.

Bagaimana dengan pemasukan bahasa asing dalam kritik, review dan ulasan film ?

“Saya banyak diganggu pemilihan istilah-istilah bahasa Inggris  yang ‘stel habis’ sekaligus rancu. Hal ini seakan-akan sudah menjadi gaya terkini dan mereka menyebut ‘gaya milenial’. Bahwa kalimat-kalimat naratif dalam bahasa Indonesia diselang-seling dengan kata-kata bahasa Inggris macam ‘by the way’, ‘so far’, ‘it’s okay’ sudah menjadi model yang gatal,” ungkapnya.

Apakah disiplin ilmu lain juga penting diajarkan dan diketahui oleh wartawan calon kritikus film?

“Jelas sangat penting. Unsur musik sangat penting dalam keterpautan film. Maka tak pelak dipikirkan oleh Wina Armada Sukardi dari kegiatan kritik film yang diadakan oleh Kemdikbud ini untuk membekali juga pengetahuan untuk bidang pers yang bertugas menulis kritik film. Banyak cendekia musik yang saya harapkan untuk membekali jurnalis misalnya Franky Raden, Dwiki Dharmawan, Tan De Seng dan Otto Sidharta,” tandas penerima penghargaan kepeloporan bidang media, tokoh penulisan musik dan puisi di media dari Panitia Pusat Hari Pers Nasional yang diserahkan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Remy Sylado adalah nama seni berdasar notasi angka 23761 bagi Yapi Panda Abdiel Tambayong yang dilahirkan di Makassar, 12 Juli 1945. Remy mengawali karier sebagai wartawan koran Tempo di Semarang ( bukan majalah Tempo ), kemudian redaksi majalah Aktuil, majalah TOP, lalu dosen Akademi Sinematografi Bandung serta Ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

Dia produktif menulis kritik, puisi, cerpen, senirupa, novel, drams, kolom, esai, roman populer, buku-buku musikologi, bahasa dan teologi sejak usia 18 tahun. Selain main film, Remy terkenal karena sikap berani melawan mainstream melalui pertunjukan-pertunjukan drama dan rekaman kaset yang disebutnya ‘gulayak cadas’ (folk rock) yang dipimpinnya. Remy juga memelopori penulisan Puisi Mbeling di majalah Aktuil bersama 3 seniman Bandung : Jeihan, Abdul Hadi WM dan ‘Presiden Penyair Indonesia’, Sutardji Calzoum Bachri. (pik).

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *