• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Tumpeng “The Point of No Return”

Tumpeng “The Point of No Return”

admin by admin
July 22, 2019
in Feature
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Prof Yudiaryani (kanan) saat memotong tumpeng, didampingi Silvia Purba, Pimpinan Produksi “Pusaran”. (foto: dok Pusaran)

Jayakarta News – Sebuah nasi tumpeng tersedia di depan stage Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (21/7/2019) malam. Malam itu adalah malam gladi bersih pementasan teater musikal “Pusaran” (A Streetcar Named Desire karya Tenneessee Williams, 1947). Sehari sebelumnya, mereka telah menuntaskan agenda gladi kotor.

Pentas “Pusaran” yang berlangsung nanti malam (22/7/2019) dan Selasa besok (23/7/2019) di TBY, sudah masuk fase peak. “Kita sampai pada situasi the point of no return,” ujar Prof Dr Hj Yudiaryani, MA, sang sutradara, dalam briefing sebelum gladi bersih. Bahkan ia menambahkan dengan kalimat yang lebih heroik, “ever onward never retreat.”

Pendukung “Pusaran” yang merupakan kolaborasi aktor-aktris Teater Alam dan ISI Yogyakarta hingga tadi malam, tampak penuh semangat. Suntikan sutradara, bahwa sudah tidak ada lagi titik untuk kembali, serta harus maju terus pantang mundur, makin memompa semangat pemain dan kru.

Yudiaryani (sutradara) usai memotong tumpeng. Dari kiri tampak, Dr Memet Chairul Slamet (penata musik), Daning Hudoyo (pemeran Steve), Gola Bustaman (pemeran Mitch), dan Silvia Purba (pimpinan produksi). (Foto: Rano Sumarno)

Dus, nasi tumpeng untuk makan malam bersama, pun menjadi penguat tekad. Persis seperti filosofi tumpeng, ‘yen metu kudu mempeng’.  Ritual potong tumpeng saat gladi bersih jelang pementasan “Pusaran” pun diniatkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan sekaligus pelaksanaan petuah leluhur ihwal kebersamaan dan kerukunan.

“Semua relatif sudah siap!” tandas Bambang Wartoyo, asisten sutradara.

“Masih ada sedikit sekali koreksi setting. Tidak prinsip. Besok malam sudah OK,” kata Gunadi, penata artistik.

“Pagi tadi take vokal di studio saya dengan lirik lagu dan puisi yang baru. Alhamdulillah lancar. Puisi dan lirik yang baru, lebih bagus,” ujar Dr “Memet” Chairul Slamet, sang penata musik.

“Waktu untuk make up pemain sesuai perhitungan. Busana juga sudah OK, tinggal setrika ulang. Insya Allah beres,” ujar Erlina “Eyin” Panca, koordinator penata rias dan busana.

“Sedikit masalah dengan sepatu, tapi sudah nemu solusinya. Pokoknya bahagia berteater ha… ha… ha….,” ujar Viola Alexsandra, pemeran Blanche DuBois yang mahasiswa teater ISI Yogyakarta semester 6 itu.

Meritz Hindra (Stanley), Dinar Saka (Pablo), Daning Hudoyo (Steve), dan Gola Bustaman (Mitch) saat gladi bersih Minggu malam (21/7/2019). (Foto: Kevin Abani)

“Bagaimana artikulasiku malam ini…. Lebih bagus kan?” pertanyaan yang dijawab sendiri oleh Meritz Hindra, aktor senior Teater Alam, pemeran Stanley Kowalsky.

“Stop… jangan tanya apa pun…,” kata Naning Kartaatmaja sambil jalan cepat menjauh. Ia adalah pimpinan produksi mewakili Teater Alam, bersama Silvia Purba dari ISI Yogyakarta.

Ketika didesak untuk memberi komentar, Naning malah berpromosi. “Tiket tinggal untuk pementasan hari kedua, Selasa 23 Juli 2019, mulai pukul 19.00,” ujarnya, seraya menambahkan, pembelian tiket bisa langsung di loket Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. (rr)

Tags: ISI Yogyakartajayakartanewspusaranteater alam yogyakarta
Previous Post

“Puasa HP” Tiga Jam Saja

Next Post

Konser Musik Jeddah Siram Dahaga Kaum Milenial Arab

admin

admin

Next Post
Konser Musik Jeddah Siram Dahaga Kaum Milenial Arab

Konser Musik Jeddah Siram Dahaga Kaum Milenial Arab

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version