‘Toean Besar’ – Tertawakan dan Renungkan Sesuatu Dalam Istana di Sebuah Negeri

 ‘Toean Besar’ – Tertawakan dan Renungkan Sesuatu Dalam Istana di Sebuah Negeri

Salah satu adegan pementasan ‘Toean Besar’ di TIM Jakarta–foto istimewa

Salah satu adegan dalam pementasan ‘Toean Besar’ di Graha Bhakti Budaya TIM–foto istimewa

Jayakarta News – Apa yang disebut Istana? Istana adalah tempat sang Presiden, Perdana Menteri atau Baginda Raja mengadakan rapat dengan pembantu-pembantunya, menteri-menterinya serta menerima kunjungan tamu kenegaraan dari luar negeri.

Namun, dimata Agus Noor, salah seorang Direktur Kreatif dan sutradara dari pementasan lakon ‘Toean Besar’ produksi ke-33 Indonesia Kita yang digelar di Graha Bhakti Budaya, TIM, imajinasi ihwal Istana bisa bermacam-macam artinya. Ada yang mengambil  kesempatan dalam kesempitan, dan banyak pula yang mengambil peluang untuk mencari keuntungan sesaat. Padahal semuanya belum tentu benar.

Istana bisa dipenuhi kasak kusuk, intrik dan sarat kepentingan politik dari beberapa tokoh yang ada didalamnya. Di beberapa negeri, baik yang sudah mapan maupun yang baru berdiri (kecuali Istana Hoya), gejolak sosial dan politik terus marak.

Ada kabar beredar, seseorang yang disebut sebagai ‘Toean Besar’ akan datang. Kabar ini membuat panik dan pusing banyak orang dari bawahan hingga Kepala Istana dipenuhi kesibukan bercampur penasaran. Ada yang berpendapat, ‘Toean Besar’ adalah sosok yang misterius.

Yang lain bilang, ‘Toean Besar’ adalah orang yang super kaya dan mau menggelontorkan modalnya untuk kepentingan rakyat. Ada pihak lain yang menambahkan dengan komentar lucu tapi benar, ‘Toean Besar’ itu selain kaya raya, juga ganteng dan bertubuh besar, kekar.

Mana yang benar ? Siapa sebenarnya Toean Besar, tak ada yang benar-benar tahu. Mendengar namanya disebut saja, sudah membuat banyak orang di lingkungan Istana untuk bertemu dan berfoto bersama. Situasi ini kemudian memicu mencuatnya sikap saling memengaruhi dan perilaku juga ikut berubah, tidak sehat dan tidak nyaman.

Bermacam intrik dan tindakan konyol mulai terjadi. Ada yang mengubah penampilan agar status sosial meningkat, ada pula yang nekad menyamar dan mengaku dirinya sebagai Toean Besar. Penuh kepura-puraan. Tukang obat berpura-pura jadi politisi. Kecap harus dijual nomor satu, tidak ada kecap nomor 10 kan.

Tindakan menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan tertentu akhirnya sah-sah saja dijalankan.

“Ketika orang mulai mengubah diri, tak hanya gaya dan penampilan, tetapi identitas diri dan sikap juga berubah. Ada semula bermusuhan dan jadi lawan, berubah menjadi kawan, ada pula yang tadinya kawan mendadak berubah menelikung begitu melihat peluang. Yang abadi akhirnya adalah kepentingan.

Mereka akhirnya saling berbohong dan mencuatkan hoax dan gosip politik serta saling menipu. Kita lihat saja dalam skala lebih kecil di tengah masyarakat kita saat ini, dari pemilihan Bupati, Lurah sampai Ketua RT dan Ormas tertentu dipenuhi kebohongan, kepura-puraan dan intrik-intrik enggak etis,” kata Agus Noor, sutradara lakon ini.

Kita bisa melihat lakon berdurasi 3 jam ini bagimana identitas dan sejarah bisa dimain-mainkan demi mendapatkan kesempatan yang diinginkan. Hanya seperti yang sudah-sudah, Agus Noor mengemasnya dalam gaya Dagelan Mataram dan Srimulat, membungkus peristiwa politik dengan bumbu komedi satire dan humor cerdas.

Tampilnya Cak Lontong yang populer di layar televisi dan Marwoto cukup menyegarkan suasana dimana penonton dibuat terpingkal-pingkal melihat ‘ping pong’ humor mereka dengan humor yang cerdas dan berbobot.

Tak ketinggalan Inaya Wahid, (puteri almarhum Gus Dur)yang jadi pembantu Istana juga tak ayal melontarkan kata dan dialog lucu nan pintar. Dalam satu kesempatan, improvisasi banyolan Inaya Wahid terlontar begitu saja, ketika ditanya oleh Marwoto, kenapa ketika ayah Inaya Wahid yaitu Gus Dur keluar dari Istana, Inaya enggak ikut ? “Kirain ayah cuma sebentar keluar dari Istana. Kan ayah cuma pakai celana kolor. Tahunya lama dan seterusnya….,” jawab Inaya Wahid. Terdengar geeerrrr panjang di Graha Bhakti Budaya, TIM dari seluruh penonton.

Tampilnya empat punakawan Istana(pembantu yang jenaka dalam Wayang Purwa/Jawa) yaitu Semar, Gareng Petruk dan Bagong yang diperankan oleh empat jurnalis yaitu Putu Fajar Arcana, Benny Benke, Al Sobry dan Budi Adiputro di awal dan jelang penutup pertunjukan yang mencuatkan humor daan gelitikan konstektual.

‘Ibadah Kebudayaan’ (seperti pada sambutan Butet Kartaredjasa, tim Kreatif) ini memang selain menghibur, juga menggiring penonton ke peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air, padahal kejadian di panggung adalah fiktif. Istananya saja bukan Istana Negara. Dari penguatan KPK, pemindahan Ibukota oleh ‘Bapak’ Kota ke Kalimantan dan kobaran asap menjadi fenomenal ketika dilontarkan di panggung.

Pertunjukan ini juga dipenuhi musik dan lagu serta tarian.nan menghibur. Ada lagu dari beberapa daerah di Indonesia, dari Jawa, Sulawesi, Sunda, Batak sampai Papua digebrak untuk mengingatkan penonton bahwa persatuan lebih penting dari semuanya. Persatuan harus terus dirawat oleh kita bersama, dan kembali menyepakati bahwa identitas kita terletak pada keberagaman.

“Politik identitas acap dikedepankan hanya untuk merebut kekuasaan. Di era kekinian, sudah enggak zamannya lag,” jelas Agus Noor.

“Menonton pertunjukan ini jangan stel kenceng dan penuh amarah. Tertawalah dan bersenang-senang saja, dengan menari dan bernyanyi. Karena, pada hakekatnya, Toean Besar yang diharapkan tampil ternyata hanya seorang badut  dan Badut adalah Rakyat,” ucap Butet Kartaredjasa di akhir pertunjukan.

Jadi, Rakyat adalah pemegang kekuasaan di negeri ini. Ingat kata WS Rendra : Daulat Rakyat, bukan Daulat Ratu atau Daulat Raja. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *