Entertainment
Film ‘Tanah Runtuh’: Anak Mencari Ibu di Tengah Kerusuhan Poso
JAYAKARTA NEWS— Kerusuhan Poso, Sulteng meletus antara tahun 1998 – 2001. Konflik primordial yang dipicu soal sepele menjadi sejarah hitam bangsa Indonesia yang toleran.
Masuknya orang dari luar Poso menambah kecamuk dan ruwet yang menyebabkan luka, kehilangan dan jatuh korban yang sia-sia.
Sutradara Rudi Soedjarwo mengangkat konflik agama ini kedalam film barunya berjudul ‘Tanah Runtuh’ yang akan tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026.
Lokasi syuting full di Teluk Naga, Tangsel yang ‘disulap’ menjadi pantai Poso nan elok dan pasar tradisional yang selalu ramai. Juga tenda-tenda pengungsi dan rumah ibadah gereja yang dibom oleh para pelaku tak bertanggung jawab.
Yang menjadi korban utama adalah anak-anak kehilangan ibunya dan ibu atau ayah yang sibuk mencari anak-anaknya.
Dua anak bernama Kai dan Ringgo yang down syndrome terpisah dari ibunya bernama Emmy dan harus bertahan hidup dan berpindah tempat.
Beruntung mereka bertemu Komandan polisi TNI Idham dari Jakarta yang sedang ditugaskan pimpinannya guna meredam meluasnya konflik kerusuhan Poso.

Dicari di gereja yang porak poranda akibat dibom – sampai salib di belakang altar terbalik – , tak bertemu.
Dengan kasih sayang, Idham berusaha mempertemukan kembali ke dua anak dengan ibunya. Tidur dan makan ditemani seperti layaknya anak sendiri.
Kai dan Ringgo sebelum makan tak lupa berdoa atas nama Tuhan Jesus sementara Idham dan jajarannya khusyuk bersembahyang sebagai penganut muslim yang taat.
“Toleransi ini sangat kami utamakan dan divisualisasikan di film ini,” ujar Rudi Soedjarwo yang sudah membuat sekitar 30an film.
Idham adalah sosok polisi yang baik dan diperankan oleh Vino Giovani Bastian secara apik dan mengesankan dalam film drama kemanusiaan ini.
Setelah bertemu ibu Emmy dan pelaku kerusuhan Poso berhasil ditangkap, di ending Idham harus balik ke Jakarta.
Tugas telah usai. Perpisahan mencuat. Sebuah happy ending yang mengharukan dan emosional.

Metode penegakan hukum dan upaya rekonsiliasi total antara kelompok Islam (diwakili ustad) dan kelompok Kristen Protestan (diwakili pendeta Dominique) diteken di Malino, Sulteng.
Sebuah deklarasi perjanjian damai yang terjadi pada 25 Desember 2001.
“Saya ingin mengangkat sejarah ke ranah film agar peristiwa getir di masa lalu tak terulang lagi dan memberi lembaran pelajaran dan peradaban yang berguna untuk generasi hari ini dan masa mendatang,” pesan Rudi Soedjarwo.
Tanah Runtuh adalah petilan dan perpisahan yang berakhir dengan pertemuan kembali antara ibu dan anak menjadi magnitude alur cerita di film ini.
Film yang diproduseri Denny Siregar ini wajib tonton bagi para pelaku sejarah dan pengamat politik di Republik ini.
Tanah Runtuh dibintangi banyak pemeran yaitu Vino G. Bastian, Sigi Wimala, Tike Priatnakusumah, Jenda Munthe, Tubagus Ali, Luna Allegra, Agnes Naomi, Rohyan Hidayat, Umar dan masih banyak lagi.
Yang paling mengesankan adalah akting dua pemeran aktor anak yaitu Ridho Chalik yang berkebutuhan khusus (down syndrome) sebagai Ringgo dan Yoan Cocohamida yang berprofesi penyanyi sebagai Kai.
“Sebenarnya pemeran utama film ini ya mereka berdua, Yoan dan Ridho. Tanpa mereka, film ini tak ada apa-apanya,” timpal Vino G. Bastian mantap. (pik)
