Tetap Mandiri di Usia Senja

 Tetap Mandiri di Usia Senja

 

KADANG-kadang kita temukan keberkahan dalam kesahajaan kehidupan. Kadang juga kita dapati kearifan dalam kepapaan  wong cilik.

Di usia sepuh, 90-an tahun (senjakala hidup)  masih mandiri, sungguh hal yang menyenangkan keluarga. Apalagi jika masih dapat membantu pekerjaan rumah, patut disyukuri.  Itulah Pak Sohib, warga Desa  Karangsono, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Siang itu ia sedang membelah-belah bambu untuk dijadikan usuk (tulang rusuk atap rumah). Alat yang dipakai golok, dan sabit untuk menghaluskan. “Anakku membangun rumah,  mau pasang genteng belum ada usuknya. Kapan itu sudah kubuatkan usuk tapi dijual karena sedang butuh uang, “ papar Pak Sohib.

Ia tinggal berdua dengan istrinya di rumah bambu yang berlantai tanah. Namun ketiga anaknya tinggal di sekitar rumahnya.   Ayah dari 9 anak, 17 cucu, dan 7 buyut ini hampir saban hari mencari rumput untuk 5 ekor kambingnya.

Istrinya  yang konon berumur lebih 80 tahun masih melakukan pekerjaan sebagai dukun pijat. Tidak hanya pijat karena cedera atau keseleo, tapi juga melayani panggilan  bagi ibu yang baru melahirkan, termasuk  bayi-bayi yang perlu  dipijat. Ketika masih agak muda, istrinya dikenal sebagai dukun beranak, tapi belakangan hanya  menangani proses persalinan cucu dan buyut-buyutnya sendiri.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, kakek-nenek ini masih dapat dikatakan mandiri meski sangat sahaja. Bagi orang kota mungkin dikatakan, sekadar makan minum untuk hidup. Beberapa waktu lalu ia memperoleh bantuan langsung tunai (BLT) karena tergolong warga miskin.

Pak Sohib masih merokok yang diracik/diklinting sendiri.  Ketika ngobrol maupun mencari rumput tak  ketinggalan sambil merokok. Hidupnya sangat sederhana, tapi pasangan ini tampak  selalu sehat. Pak Sohib tidak punya penyakit degeneratif seperti  jantung, hipertensi, diabet, osteoporosis dan lainnya yang belakangan “ngetren” seperti,  kolesterol tinggi, asam urat, kanker, dan lainnya. Memang, mereka tak luput dari sakit, cuma ringan saja, seperti demam, mules, sariawan.

Namun, benarkah usianya sudah 90 tahun seperti yang diyakininya ? Pak Sohib yang buta huruf punya patokan begini; orangtuanya bilang bahwa ia lahir di tahun yang sama dengan anak tetangganya yang bernama Suwarjono, teman mainnya ketika kecil.  Suwarjono yang kemudian pindah ke desa lain  meninggal tahun 1972 dalam usia 46 tahun.  Berarti usia  Pak Sohib sekitar 91 tahun.

Tak hanya tampak sehat, penglihatan dan pendengarannya masih tajam. Berjalan pun masih tegak. Giginya masih cukup rapat. Daya ingatnya juga kuat. Ia bisa menceritakan keadaan di desa  sebelum kemerdekaan, dan jika dikonfirmasi kepada keluarga tetangganya, memang benar adanya.

Ketika ditanya apa resep jamunya,  “Jamu godogan mimba, “  sahutnya cepat. Istrinya lalu menjelaskan, daun mimba secukupnya dicampur daun jarak, temu item dan daun jambu direbus. Diminum selagi hangat atau dingin.

“Awak atos, nyamuk  ga mau gigit ,   kan darahku pahit, “  ujar Pak Sohib sambil terkekeh, istrinya pun menambahkan, “Rasanya ke badan juga enteng, keringat tidak bau. ”

Lalu bagaimana menyikapi permasalahan, karena setiap manusia tak luput dari kerumitan persoalan hidup? Dengan entengnya Pak Sohib berkata,  ‘Opo jare sing nggawe urip.” .  Jawabannya bisa dimakna sebagai kepasrahan. Ikhlas. Kita serahkan saja kepada Yang Maha Pencipta/ Yang Maha Berkehendak.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *