Tebing Breksi, Saksi Silaturahmi

 Tebing Breksi, Saksi Silaturahmi
Penulis (Jumadi) berpose ala manusia bersayap di objek wisata Tebing Breksi, Yogyakarat. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Rasa syukur kepada Tuhan disertai ucapan terima kasih kepada Perkumpulan Jayakarta 98 dan terima kasih kusemat yang telah membawa saya ‘melayang jauh’ e Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Keikutsertaan saya dalam rombongan Raker dan Ultah Jayakarta News  ke-2 bertajuk “Jayakarta News Tour de Jogja 2019” , tanggal 1 – 4 Februari 2019 sangatlah berkesan, sekaligus pengobat penat rutinitas kerja di Jakarta.

Meski bukan seorang jurnalis, baru kali ini aku beranikan diri menulis kesan-kesan tak terlupakan, sekadar berbagi cerita sebagai ungkapan rasa, begitu indahnya kebersamaan menyambung silaturahmi bersama teman-teman Jayakarta. Dua hari pertama dipenuhi agenda Raker, silaturahmi dan bincang-bincang dengan motivator kondang, Aqua Dwipayana, rekreasi ke Prambanan dilanjutkan ke Kaliurang, ditraktis makan Aqua di Resto Jejamuran, acara puncak HUT Jayakarta News ke-2, dan ditutup malam minggu dengan memenuhi undangan makan kedua kalinya dari Aqua, di Angkringan Gadjah, Jl. Kaliurang.

Tibalah hari ketiga panitia membebaskan peserta untuk memilih aktivitasnya masing-masing atau berkelompok-kelompok. Ada yang ke Malioboro dan sekitarnya, ada yang wisatat pantai, ada yang wisata ke Mataram Kuno, dan lain-lain, Saya memanfaatkan kesempatan hari bebas itu untuk bersilaturahmi ke adik kandung saya yang tinggal di Sleman, Yogyakarta..

Entah kebetulan atau tidak, kenyataannya pertemuan tanpa rencana ini mungkin juga pengamalan nyata yang terinspirasi dari wejangan Sang Motivator, Aqua Dwipayana setelah dua hari sebelumnya saya mendapat pencerahan pentingnya menjaga tali persaudaraan.

Singkat cerita, saya dijemput di penginapan Wisma Ainard di Jl Miliran, Yogyakarta, Minggu pagi (3/2) ke tempat tinggal adik di daerah Sleman. Setelah ngobrol ‘ngalor-ngidul’ dengan adik dan istrinya, anak, cucu, serta mertuanya, saya diajak ke lokasi rekreasi Candi Ijo dan Tebing Breksi yang lokasinya berdekatan. Meski badan terasa lelah, dalam hati terbersit mengapa tidak? Selagi ada kesempatan. Dengan semringah ajakan tersebut saya turuti.

Jumadi di kawasan wisata Candi Ijo, Prambanan, Yoygakarta. (foto: dok pri)

Candi Ijo

Candi Ijo. (foto: jumadi)

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, saya dan rombongan keluarga adik menuju obyek wisata Candi Ijo di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Dengan perasaan ‘ngeri-ngeri sedap’ melewati rute jalan yang terus menanjak menuju bukit tempat lokasi candi berada. Konon Candi Ijo merupakan candi tertinggi dibandingkan candi-candi lain. Candi Ijo berada di lereng bukit dengan ketinggian 425 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas kurang lebih 0,8 hektare. Dinamakan Candi Ijo, karena lokasinya beradai di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Hanya dengan tiket masuk seharga Rp 5.000, dari ketinggian Candi Ijo kita bisa menikmati panorama indah Kota Yogyakarta seperti, Bandara Adisucipto, hamparan persawahan, bentangan alam nan rupawan, dan Pantai Parangtritis. Setelah puas mengitari area candi dan sesekali berfoto ria, selanjutnya dari Candi Ijo rombongan kecil ini turun dari lokasi kurang lebih satu kilometer menuju obyek wisata Tebing Breksi.

Jumadi dan keluarga adik, menikmati Candi Ijo dan Tebing Breksi. (foto: dok pri)

Tebing Breksi

Setibanya di Tebing Breksi yang berlokasi di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY, perasaaan makin takjub melihat panorama bekas pertambangan batu alam karst ini. Menurut informasi, kawasan wisata ini mulai 1 Januari 2019 telah menetapkan harga tiket masuk Rp 5.000 per orang untuk pengunjung lokal dan Rp 10.000 untuk wisatawan mancanegara. Tahun-tahun sebelumnya wisatawan yang datang ke tempat rekreasi ini hanya membayar parkir Rp 2.000 dan biaya masuk obyek wisata seikhlasnya.

Setelah berjalan-jalan mengitari lokasi, semakin takjub dengan pemandangan dinding tebing dengan ornamen patahan yang terlihat memesona dan artistik. Konon tebing ini sudah terbentuk ribuan tahun. Wahana yang disediakan di lokasi wisata ini antara lain; menikmati keindahan tebing dari bawah, jeep wisata, panggung terbuka, dan aneka spot foto yang menarik, unik dan instagramable. Untuk mendapatkan foto optimal sebaiknya saat matahari pagi (sunrise), menjelang petang (sunset), atau pada malam hari dengan pancaran lampu. Fasilitas pendukung tempat rekreasi ini semakin lengkap dengan area parkir luas, toilet, tempat ibadah, gazebo, dan tak ketinggalan aneka kuliner.

Tidak terasa hampir dua jam dimanjakan keindahan Tebing Breksi, saatnya rombongan kecil kami menikmati kuliner murah meriah, wedang uwuh dan aneka gorengan yang masih hangat sambil melihat pemandangan Gunung Merapi dari kejauhan. Wedang uwuh konon merupakan minuman para raja Mataram, serta memiliki banyak khasiat. Wedang uwuh, terdiri dari rempah-rempah seperti daun/batang cengkih, daun pala, serutan kayu secang, jahe, daun kayu manis. Semua rempah tersebut sudah dikeringkan, ditambah gula batu sebagai pemanis. Penyajiannya diseduh air panas, diminum selagi hangat, membuat badan terasa segar dan hangat. Kehangatan wedang uwuh juga membawa kehangatan sekaligus mempererat silaturahmi saya dengan keluarga adik di Tebing Breksi. (jumadi)

Fasilitas rekreasi di Tebing Breksi. (foto: jumadi)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *