Kolom
Romantisme di Tengah Kecamuk Perang
Menonton berita perang antara Amerika-Israel versus Iran di jagat maya, ternyata tidak selalu menakutkan, apalagi menegangkan. Lama kelamaan seperti suguhan tontonan yang mengasyikan, meskipun sesekali menyelinap bayangan kelabu. Bagaimana ke depan jika eskalasinya makin meluas, yang dipastikan oleh para pengamat berdampak pada perekonomian global, sementara daya didih emosi pihak yang berkonflik kian bergolak-golak. Gairah perangnya sudah mengganas, meski hari-hari ini masih dinyatakan dalam masa gencatan senjata.
Jalan negosiasi yang sempat terbangun di Islamabad yang dimediasi Pakistan berakhir deadlock. Karena, seperti yang kita tahu, Amerika selalu menekan, dan Iran tetap keukeuh dengan prinsipnya. Sebagai negara berdaulat, bebas menentukan masa depannya, tidak mau ditekan apalagi didekte. Sementara Amerika masih konstan dengan arogansinya. Perang yang dipredikasi agresor tak sampai seminggu sejak 28 Februari, ternyata dua bulan lebih tak menunjukkan tanda-tanda kapan berakhir.
Narasi di sini bukan hendak menyoroti tentang perang, melainkan elemen-elemen lain yang mewarnai, dan membungkus situasi perang. Seperti selingan, entertain, begitulah.
Di tengah ketegangan, tiba-tiba muncul romantisme. Intermezo. Seorang bocah perempuan di Provinsi Hormozgan, Iran memainkan imajinasinya dan meminta agar rudal Iran dicat warna pink. Lalu pihak otoritas mengabulkannya dan memamerkan rudal warna pink tersebut serta diarak dalam suatu selebrasi. Detail kecil namun tidak dinafikan. Dalam memori anak kelak atensi yang diterimanya itu bisa menambah kebanggaan atas negerinya.
Ya, rudal warna pink itu diproduksi untuk memenuhi permintaan anak-anak perempuan Iran, sekaligus sebagai bentuk penghormatan bagi para siswa yang menjadi korban serangan di sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab, saat gempuran awal memborbardir tanah Persia itu. Ada pula anak-anak laki-laki minta rudal warna biru, dan hasratnya itu pun dipenuhi.

Seiring laju algoritma, muncul pula foto keluarga Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran yang konon banyak disukai emak-emak karena tampilannya yang kalem dan senyumnya yang menawan. Lalu muncul berselang-seling dengan foto keluarga Khamenei. Sang mullah Ali Khamenei, tentu saat masih hidup dan istrinya berfoto bersama putranya, Mojtaba yang juga didampingi sang istri, Zahra Haddad Adel. Tampak di foto dalam ekspresi riang gembira. Memanifestasikan kemesraan sebuah keluarga.
Postingan foto dan serpihan-serpihan berita terkait perang bersama para tokoh/ pejabat yang mengemuka, tidak hanya ditampilkan media massa siber, mainstream, ataupun lewat podcast, tapi banyak pula yang diunggah masyarakat biasa, para pengagumnya atau pendukung Iran lewat akun face book, tik tok dan lainnya.
Langkah emosonal yang cukup menggugah juga diperlihatkan oleh Jafar Panahi. Betapa epik langkahnya terhadap negerinya, Iran, dan menunjukkan keberaniannya untuk pulang. Sutradara film yang baru mendapatkan penghargaan di festival Cannes atas filmnya It was just as accident itu nekat pulang ke Iran lewat jalur darat atau melalui Turki setelah mempromosikan filmya di beberapa negara Eropa.
Banyak temannya yang melarang, karena mengkhawatirkan keselamatannya. Selain situasi Iran sedang dalam peperangan, Panahi terancam hukuman 1 tahun penjara serta tidak boleh bepergian selama dua tahun karena sikapnya yang bersebrangan dengan pemerintahnya, terutama terkait sensor-sensor terhadap karya sinemanya. Namun ia nekat kembali dan ingin mati di Iran demi tanah air tercinta yang sedang diserang musuh. Dan setibanya di Iran, kejutan besar dialaminya. Ia malah mendapat sambutan hangat serta terbebas dari hukuman.
Bagi seniman seperti Panahi, mengalami sendiri situasi perang adalah menyerap langsung bermacam detail realitas yang melingkupi perang, yang semua itu bisa menjadi bara gagasan dalam karya sinema selanjutnya. Punya daya sentuh kuat dengan segenap unsur-unsur dramatiknya yang kelak diharapkan nilai historisnya abadi untuk dikaji dan dipelajari.
Romantisme agaknya muncul tak pandang kondisi. Justru dalam kekalutan situasi perang yang membuat bangsa itu babak belur, terguncang dan menegangkan, romantisme seperti terbangun dengan sendirinya. Tengok dan kenang saja negeri sendiri, lagu-lagu perjuangan yang diciptakan Gesang seperti Selendang Sutra maupun Ismail Marzuki, Melati di Tapal Batas, dan Sepasang Mata Bola tercipta di tengah situasi perang.
Entertain yang mewarnai perang kali ini tak hanya romantisme, muncul juga anekdot dan kelucuan-kelucuan seronok. Kartun-kartun lucu hingga yang sarkastik pun terhampar di medsos hingga video konyol tentangi tokoh paling kontroversial Amerika, Donald Trump. Sang presiden ini didapuk mengenakan kostum celana pendek dan kaus serba pink berjalan bak wanita genit di jalan tol. Cukup komikal. Namun kita semua tentu mahfum, sajian jenaka itu kreasi AI semata, yang tentu dilatari kejengkelan, kekesalan, amarah atas kepongahan yang dipertontonkan.
Medsos dominan mewarnai dan membangun persepsi atas realitas perang ini. Mungkin persepsi itu benar-benar mendekati realitas, atau justru membentuk realitas baru, dan segenap rentetannya yang bisa mempertegas, siapa pemenang dengan elegansi moralnya, dan siapa pecundang yang senantiasa mau menghadang eksistensi suatu bangsa dengan arogan dan ucapan-ucapan yang acap meradang.
Tradisi Keilmuan
Di sisi lain, adanya perang ini juga membuka tabir baru, tersingkap lebih lebar bahwa Persia yang memiliki peradaban kuno tetap konsisten dengan tradisi keilmuannya hingga sekarang.
Mengutip artikel di Kompas, 28-29 April 2026 tulisan Bastian Zulyeno, dosen FIB Universitas Indonesia yang juga alumnus S3 Sastra Persia University of Tehran, menyebutkan: Di tengah tekanan geopolitik dan embargo ekonomi berlapis selama hampir lima dekade, negara ini menempati peringkat pertama dalam produksi publikasi ilmiah di Timur Tengah, dan masuk sekitar lima belas besar dunia. Berdasarkan data Scopus yang diolah SCI-mago, ilmuwan Iran menghasilkan 70.000-80.000 artikel ilmiah setiap tahun pada awal dekade 2020-an.
Dunia juga melihat, penguasaan terhadap ilmu dan teknologi setidaknya sudah ditunjukkan Iran dengan percaya dirinya melawan agresor–negara adidaya- , bahkan disebut oleh pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie, juga Dubes Indonesia untuk Iran (2012-2016) Dian Wirengjurit, meski perang belum benar-benar berakhir, Iran sudah di atas angin kendati dikeroyok Amerika dan Israel. Tentu itu tak lepas dari kecanggian persenjataan serta strategi ilmu perangnya.
Perang yang mengoyak tanah Persia ini makin membuka mata dunia atas keabadian peradaban yang digenggamnya. Di bagian lain tulisannya Bastian Zulyeno juga mengungkapkan adanya kitab kebudayaan Persia yang sangat berpengaruh yakni Shanameh dan Siyasatnameh karya negarawan Nirzham al-Mulk, Ada bait sederhana dari Shanameh yang merangkum seluruh hikmah sejarah Persia, bahwa yang kuat adalah mereka yang berilmu.
Ada sebuah video pendek memperlihatkan, seorang bocah laki-laki menyampaikan keinginannya untuk (mati) sahid kepada Ali Khamenei. Sang mullah saat itu menyergahnya, jangan sahid dulu, nanti saja kalau umurmu 80-an. Kamu harus sekolah dulu belajar matematika, fisika, dan lainnya agar hidupmu bermanfaat.
Cinta ilmu dan cinta tanah air, adalah pondasi sekaligus tiang yang kuat untuk tegak dan majunya sebuah bangsa, dan itulah yang tampak terus dikembangkan Iran. Tak heran jika keberanian melawan agresor yang selama ini dipandang digdaya, melahirkan slogan heroik pula. Inilah yang disampaikan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bahwa rakyat Iran akan terus melawan sampai orang terakhir yang tersisa.
Slogan itu senafas dengan semboyan perjuangan bangsa Indonesia dalam perang mempertahankan kemerdekaan, yakni Merdeka atau mati ! Terinspirasi ?! Wallahualam. Namun, sang ayah, Ali Khamenei yang gugur dalam serangan awal Amerika dan Israel, 28 februari lalu, sangat mengagumi Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Ia menyukai pemikiran-pemikiran Sukarno, dan yang paling mendobrak adalah anti imperialisme dan kolonialisme/ neokolonialisme, apapun bentuknya. *** Iswati
