Peternakan Sapi di Tepi Hutan Jati

 Peternakan Sapi di Tepi Hutan Jati
Buyar Winarso dan istri, Ninik Yuliani saat menengok peternakan sapinya di bilangan Widoro, Karangsambung, Kebumen. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWSBelieve it or not… diam-diam, Buyar Winarso adalah trend setter. Pernah satu kali, ia “bermain” batu akik. Saat itu, akik belum lagi booming. Tak lama berselang, bukan saja teman-teman dekat, bahkan para pegawai dan pejabat Pemkab Kebumen sontak mengenakan batu akik.

Syahdan, ketika akik booming, Buyar Winarso telah mengoleksi banyak batu. Utamanya batu asli Kebumen. Kalau saja ia mau mengambil keuntungan, bakal meraup uang banyak. Tapi tidak. Ia gunakan akik justru untuk “diplomasi”. “Ketika itu, banyak urusan lancar gara-gara akik,” ujarnya sambil tertawa.

Ada satu lagi aktivitas dia yang kemudian banyak ditiru dan diikuti orang lain, yakni beternak. Ia pernah memelihara kambing. Mulai dari beberapa ekor, hingga akhirnya ratusan. Dari kambing, Buyar Winarso memelihara sapi.

Awalnya ia beternak kambing di desa kelahirannya, Wonokromo, Alian, maka ketika mulai mengembangkan sapi, ia membeli lahan di Desa Widoro, Kecamatan Karangsambung. Lokasinya sangat cocok. Berada di tepi hutan jati, jauh dari permukiman penduduk, suasana tenang. “Kalau lagi suntuk, saya pasti ke Widoro, refreshing,” ujarnya.

Buyar Winarso cukup serius menekuni peternakan sapi. Ia bereksperimen dengan banyak hal, utamanya dalam hal pakan. Selain itu, ia juga rajin mendengarkan masukan praktisi peternak sapi, termasuk masukan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kebumen. Bahkan, Buyar Winarso “belajar” kepada dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, serta pakar sapi lain.

Dari semua informasi dan ilmu yang didapat, lalu ia endapkan. Ada yang diterapkan, ada yang dimodifikasi, ada yang tidak ia terapkan. Ia sendiri kemudian menemukan trik dan cara bagaimana mengelola peternakan sapi dengan baik.

Dimulai dengan mencermati soal pakan. Seperti halnya manusia, sesungguhnya sapi juga memerlukan karbohidrat, aneka nutrisi dan gizi, termasuk vitamin, serat, protein, dan lain-lain. Selain konsentrat, Buyar Winarso meracik pakan sapi sendiri.

Sungguh tidak berlebihan jika Buyar Winarso disebut sebagai penemu pakan ternak sapi. Sebelum sampai predikat itu, dia telah melakukan banyak sekali uji lab terhadap aneka jenis bahan pakan sapi. Ia membawa kulit kedelai ke laboratorium. Ia membawa daun jati kering ke laboratorium. Ia membawa daun pisang ke laboratorium. Masih banyak bahan pakan lain yang ia uji ke lab untuk mengetahui kandungan yang ada.

“Dari hasil uji lab itulah saya meracik kebutuhan sapi akan serat, karbohidrat, gizi, protein, dan seterusnya. Setiap penemuan jenis pakan, saya selalu uji cobakan dan saya pantau langgsung. Dari hasilnya, ada yang saya revisi kemudian saya sempurnakan,” ujarnya, serius.

Hasil ketekunan meracik menu pakan sapi, akhirnya peternakan berkembang pesat. Dari belasan sapi menjadi puluhan. Dari puluhan menjadi ratusan. Jumlah pekerja dari tiga orang menjadi sepuluh orang.

Pakan sapi dapat dikatakan baik jika memenuhi dua hal, yakni “tepat” dan “hemat”. Dikatakan tepat, jika pakan tadi memberi efek menggemukkan bagi breeding peternakan sapi. Atau, tepat jika pakan tadi memberi efek peningkatan air susu, jika itu peternakan sapi perah. Sedangkan unsur “hemat”, dilihat dari beberapa variabel. Salah satunya, seberapa maksimal pakan tadi memberi manfaat peningkatan bobot sapi.

Dengan sukses meracik pakan sapinya sendiri, maka kalkulasi secara bisnis menjadi lebih menguntungkan. Yakin memiliki pakan sapi yang ampuh, maka ketika membeli bibit, tak jarang Buyar Winarso memilih sapi-sapi yang kurus.

“Yang jelas, sapi kurus lebih murah harganya… ha… ha… ha…. Dengan pakan yang baik, tidak perlu menunggu hitungan bulan, dalam hitungan minggu saja sudah bisa kita lihat bedanya. Coba lihat ini….,” ujar Buyar Winarso sambil menunjukkan foto-foto dan video sapi-sapi kurus di hari pertama masuk kandang, dan sapi-sapi yang sama dua minggu kemudian. Nyata benar bedanya. Lebih segar dan gemuk.

Tidak heran jika akhirnya sukses itu diikuti banyak orang. Bahkan, tidak sedikit peternak sapi dari luar Kebumen –bahkan luar Jawa– datang ke Widoro untuk belajar, atau setidaknya melihat langsung. “Ada yang datang perorangan, ada yang dari dinas,” katanya.

Saat buku ini disusun, jumlah sapi Buyar Winarso di kandang Widoro sekitar 450 ekor. Sapi-sapi itu meliputi jenis simmental, brahman, peranakan ongole (PO), dan Sumba ongole (SO). Jumlah sapi memang naik turun. Banyak pedagang sapi datang dan membeli. Apalagi menjelang musim kurban.

Peternakan sapi itu kini menjadi “klangenan” yang menyenangkan. Sesekali, Buyar Winarso memerlukan pulang ke Kebumen, menengok peternakan sapinya. Ia mengaku, jika sudah berada di kandang sapi, waktu seperti berlari sendiri. Buyar Winarso tidak peduli jika ternyata ia ada di kandang sejak pagi hingga malam.

“Setelah merasakan, baru bisa paham mengapa dulu Pak Harto senang sekali berada di peternakan sapi Tapos,” katanya. (Roso Daras/Bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *