“Pak Tua” itu Tidak Sendiri

 “Pak Tua” itu Tidak Sendiri
Totok Tewel saat performed di Warung Apresiasi, Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan.

“Saya merasakan dia, malam ini, hadir di sini. Nova yang menginspirasi saya membuat album ini”

MALAM sudah jatuh di Bulungan. Mendung bergelayutan di atas langit Jakarta Selatan; hujan tak kunjung turun. Toto Tewel melangkah ke panggung dengan suasana hati yang gegap gempita dan, segera ia menyapa penonton..

Kamis (19/4) malam, di atas panggung berukuran kecil Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Toto Tewel – dengan gitarnya – mengalunkan instrumental yang bernuansa etnik tanpa harus menghilangkan musik rock, genre yang puluhan tahun ia geluti.

Tewel tampil sendiri – sebelum dia mengundang satu per satu kawan-kawannya – sebagai awal peluncuran Miberdhewen, solo album yang sudah ia rancang sepuluh tahun lalu yang, juga menandai 45 tahun ia bermusik.

Miberdhewen yang menurut Toto berarti “terbang sendiri”, bukan berarti dia sendiri dan merasa kesepian. Malam itu, hatinya terasa berbunga-bunga lantaran dia merasa di antara penonton yang memadati Wapres – café milik Anto Baret, ada seorang wanita.

“Saya merasakan dia hadir di sini,” kata Toto.

Dia yang “hadir di sini” itu adalah Nova Ruth, putrinya yang sudah lama menetap di Paris, Prancis. Bersama “Filastine and Nova”, kelompok musiknya, Nova menjelajah daratan Eropa, Amerika. Februari lalu, Nova menyinggahi enam kota di Jepang dengan “Japan Tour 2018”; Fukuoka, Onomichi, Nagoya, Kyoto, Sapporo, dan Tokyo.

“Nova yang menginspirasi saya membuat album ini. Abba (sebutan sayang Nova pada ayahnya, Toto Tewel) harus punya album, kata Nova. Itu yang saya ingat dari Nova,” kata Toto Tewel.

Penampilan solo guitar Totok Tewel. Tetap prima.

Tujuh lagu instrumental yang berada di dalam album “terbang sendiri”; Kontra (Contradiction), Macan Lanang (Tiger), Java Lydian, Macan Wedok (Tigress), Depok 1880, La Villa Strangiato/Rush (Bonus Track), YYZ/Rush (Bonus Track), kemudian singgah di hati para penonton. Dengan gaya dan karakter Toto Tewel, tujuh lagu itu mengalir begitu saja. Malam itu, Tewel seperti sedang menari-nari.

“Album ini saya garap sendiri. Ngisi drum sendiri, gitar sendiri, bass sendiri. Aransemen sendiri,” kata Toto. “Tapi album ini bisa terwujud karena saya banyak teman,” kata Toto lagi.

Selanjutnya, lewat pembawa acara Febrira Galib – mantan penyiar radio classic rock legendaris, yang dikenal panggilan Ifeb, Tewel memanggil satu per satu kawan-kawannya naik panggung.

Toto mengawali kolaborasinya dengan berduet dengan Adrian Yunan, personel Efek Rumah Kaca, yang kehilangan penglihatan, dengan lagu “Mainan”.

Setelah itu, berturut-turut, Toto mengiringi dua vokalis El Pamas, Baruna Priyotomo dan Doddy Katamsi. Bersama Baruna, Toto membawa lagu “Semu” yang diambil dari album pertama El-Pamas, Dinding Dinding Kota (1989).

Bersama Doddy, Toto membawakan lagu yang membuat nama El-Pamas melambung di jagad musik Indonesia, “Pak Tua”. Lagu ini berada di album Tato yang dirilis tahun 1991.

Aslinya, dalam rekaman, lagu jenaka itu dinyanyikan Toto. Namun, malam itu, Doddy Katamsi pun membawakannya dengan begitu sempurna. Penonton pun ikut bernyanyi; “Pak Tua…sudahlah…..”

Jelly Tobing dan Bangkit Sanjaya, serta gitaris Edi Kemput naik pentas. Bersama Toto, mereka menyanyikan lagu “Aku Indonesia” karangan Rumi Aziz.

Acara peluncuran album ditutup dengan penampilan Toto dengan dedengkot Kelompok Penyanyi Jalanan, Anto Baret. Dua lagu milik Anto Baret, “Di sana Di Sini” dan “Gonjang Ganjing” dibawakan begitu ekspresif, sehingga penonton pun ikut larut.

Toto Tewel – lahir di Malang, 1 Januari 1958 dengan nama Emmanuel Herry Hertoto – adalah gitaris sejati dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.

Nama Toto Tewel mulai naik ke langit ketika bergabung dengan Elpamas pada 1983. El-Pamas semula dikenal sebagai “Elektronik Payung Mas” yang kemudian diplesetkan ke dalam Bahasa Jawa; “Elek-elek Pandaan Mas”, karena kelompok band ini berasal dari Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur.

Bersama El-Pamas, Toto Tewel meraih “hat-trick” sebagai “the best guitaris” Festival Rock se-Indonesia pada 1984, 1985, dan 1986. Elpamas meraih gelar juara pada 1985 dan 1986, setelah sebelumnya berada di peringkat tiga pada 1984. Bersama El-Pamas pula Toto ikut merilis album “Dinding-dinding Kota” (1998), “Tato” (1991), “Bos” (1993), “Negeriku” (1997), “Dongeng” (2000), dan “60km/jam” (2003).

Toto Tewel juga ikut dalam proyek album rekaman sejumlah artis; Mel Shandy, Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C. Sasmi, Yossie Lucky, dan Metal Boyz. Toto juga pernah bergabung dengan kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, Kantanta Takwa hingga Kantata Barock.

Penulis bersama Totok Tewel.

“Dulu Bapak aku ingin aku pandai bermain biola,” kata Toto. “Tapi biola yang Bapak belikan, aku kasih ke teman Bapak,” kata Toto lagi.

Toto Tewel sudah mengenal dan mencintai musik sejak kecil. Ayahnya, pecinta musik keroncong, sering mengajak Toto kecil kemana-mana. Menurut pengakuan Toto, awalnya dia adalah bassis dengan memainkan lagu-lagu The Beatles. Pada suatu ketika, teman-temannya membutuhkan sosok player gitar, mungkin karena kecocokan itulah Totok Tewel serius menekuni instrument gitar, dan hingga jadi keterusan sampai saat ini.

Toto Tewel, sang maestro gitar, tidak lantas berhenti di Bulungan. Dia tetap berkarya, meski sendiri, tapi dia, Pak Tua itu, tak sendirian dan merasa kesepian, karena dia banyak kawan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *