• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Candakarana, Kitab Kamus dan Pedoman Sastra Tertua di Tanah Jawa

Candakarana, Kitab Kamus dan Pedoman Sastra Tertua di Tanah Jawa

August 20, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
TEI 2026 Buka Peluang Kerja PMI, Rusia hingga Timur Tengah Jajaki Penempatan Tenaga Terampil RI

TEI 2026 Buka Peluang Kerja PMI, Rusia hingga Timur Tengah Jajaki Penempatan Tenaga Terampil RI

October 17, 2026
Membaca Jejak Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BNPB

Membaca Jejak Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BNPB

October 16, 2026
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Cerita Dampingi Doni Monardo dalam Satgas Penanganan Covid-19

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Cerita Dampingi Doni Monardo dalam Satgas Penanganan Covid-19

October 16, 2026
Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

October 16, 2026
Empat Petugas Meninggal di Karhutla Bromo, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

Empat Petugas Meninggal di Karhutla Bromo, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

October 16, 2026
Nyawa Warga Ukraina Jadi Taruhan di Tengah Taktik Tekanan Politik Donald Trump

Nyawa Warga Ukraina Jadi Taruhan di Tengah Taktik Tekanan Politik Donald Trump

October 16, 2026
Cetak Pengusaha Baru, Partai Gelora Luncurkan Program ‘Nusantara Bisnis Academy’

Cetak Pengusaha Baru, Partai Gelora Luncurkan Program ‘Nusantara Bisnis Academy’

October 16, 2026
KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

October 16, 2026
BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

BNPB Semai 1.600 Kilogram Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla Sumsel

October 15, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Saturday, October 17, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Candakarana, Kitab Kamus dan Pedoman Sastra Tertua di Tanah Jawa

by admin
August 20, 2026
in Kabar
0
Candakarana, Kitab Kamus dan Pedoman Sastra Tertua di Tanah Jawa
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

Di rak-rak filologi Nusantara, ada satu naskah yang jarang disebut namun menjadi fondasi sastra Jawa Kuno: Kitab Candakarana, kamus sekaligus pedoman menggubah puisi yang diperkirakan lahir sekitar tahun 778 Masehi, jauh sebelum kakawin-kakawin besar lahir.

Nama Candakarana mungkin tidak sepopuler Nagarakretagama atau Sutasoma. Namun bagi para filolog, naskah ini menempati posisi yang jauh lebih fundamental. Ia bukan kitab yang mengisahkan raja atau perang, melainkan kitab yang mengajarkan bagaimana bahasa Jawa Kuno—atau yang lazim disebut Bahasa Kawi—harus ditulis, dirangkai, dan diperindah. Tanpa Candakarana, boleh jadi tradisi kakawin yang kelak melahirkan Ramayana Kakawin, Arjunawiwaha, hingga Bharatayuddha tidak akan memiliki kerangka aturan yang sama kokohnya.

Sejarah kemunculan Candakarana terkait erat dengan salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Jawa Tengah: Wangsa Syailendra. Para ahli sejarah menyimpulkan penanggalan abad ke-8 pada kitab ini karena teksnya secara eksplisit menyebut nama raja keturunan Syailendra, dinasti yang pada masa itu tengah membangun mahakarya arsitektur Candi Borobudur dan diperkirakan turut mendirikan Candi Kalasan sekitar tahun 700 Saka atau 778 Masehi.

Penanggalan ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh sejarawan Belanda N.J. Krom dalam karyanya Hindu-Javaansche Geschiedenis yang terbit tahun 1931, dan kemudian dipertegas oleh filolog Indonesia Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka dalam Kepustakaan Djawa. Poerbatjaraka menyimpulkan bahwa Candakarana adalah naskah Jawa Kuno tertua yang pernah ditemukan, mendahului bahkan Prasasti Sukabumi yang bertarikh 25 Maret 804 Masehi dan selama ini dianggap sebagai tonggak awal Bahasa Kawi dalam bentuk prasasti batu.

Perbedaan keduanya penting untuk dipahami. Prasasti Sukabumi adalah bukti tertulis tertua Bahasa Kawi dalam bentuk inskripsi resmi kenegaraan, dipahat di atas batu sebagai dokumen hukum atau catatan penetapan tanah. Candakarana, sebaliknya, adalah naskah sastra dan linguistik—sebuah karya intelektual yang disusun bukan untuk mencatat peristiwa, melainkan untuk mengajarkan kaidah berbahasa dan bersastra. Jika kedua klaim penanggalan itu benar, maka Candakarana berhak menyandang gelar sebagai jejak tertulis kesusastraan Jawa Kuno yang lebih tua ketimbang prasasti resmi kenegaraan sekalipun.

Namun para filolog juga mengingatkan agar penanggalan ini tidak diterima secara mutlak. Disebutnya nama seorang tokoh dalam sebuah karya sastra tidak selalu berarti karya itu ditulis pada masa hidup tokoh tersebut; bisa jadi naskah baru disusun jauh setelah era Syailendra berakhir, dengan tetap menyebut nama dinasti itu sebagai rujukan sejarah atau penghormatan. Kehati-hatian semacam ini adalah ciri khas kerja filologi: menimbang bukti tekstual dengan cermat, tanpa terburu menetapkan kepastian mutlak atas naskah yang telah melewati banyak generasi penyalinan.

Sebab memang begitulah perjalanan panjang Candakarana bertahan hingga hari ini. Naskah ini lahir di lingkungan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, pusat kebudayaan Hindu-Buddha yang melahirkan candi-candi agung pada abad ke-8 dan ke-9. Namun seiring pergeseran pusat kekuasaan dan kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, dan kemudian meluasnya pengaruh Majapahit hingga ke Bali, banyak naskah Jawa Kuno—termasuk Candakarana—turut berpindah dan disalin ulang oleh para penulis lontar di Pulau Dewata.

Berkat tradisi penyalinan manuskrip lontar yang dijaga ketat oleh masyarakat Bali selama berabad-abad, teks Candakarana yang aslinya ditulis di Jawa Tengah dapat diselamatkan dari kepunahan, meski Jawa sendiri sempat kehilangan jejak fisik naskah aslinya akibat iklim tropis yang tidak bersahabat bagi bahan-bahan organik seperti daun lontar dan kertas dluwang.

Bentuk fisik Candakarana adalah naskah prosa, bukan puisi, meski isinya banyak membahas kaidah puisi. Ditulis dalam Bahasa Kawi, bahasa sastra klasik Jawa yang menyerap kosakata Sanskerta secara masif namun tetap berakar pada struktur tata bahasa Austronesia, kitab ini disusun sebagai buku pegangan praktis. Sejumlah kajian filologis menempatkannya dalam kategori naskah gancaran atau prosa, berbeda dari kakawin yang terikat metrum. Justru dari sinilah keunikan Candakarana: ia adalah kitab prosa yang mengajarkan cara menulis puisi, semacam buku tata bahasa dan retorika yang menjembatani dunia bahasa sehari-hari istana dengan dunia sastra tinggi yang dilantunkan dalam upacara ritulojkkojjlal keagamaan.

Secara garis besar, isi Candakarana dapat dipetakan ke dalam tiga pilar utama yang saling menopang. Pilar pertama adalah aturan metrum puisi, atau candra, yang mengatur kaidah penulisan kakawin. Di sini kitab ini mengadopsi sistem puitika India yang membedakan bunyi suku kata panjang, disebut guru, dan suku kata pendek, disebut laghu. Pembedaan bunyi panjang-pendek ini bukan sekadar aturan estetika, melainkan syarat teknis agar sebuah kakawin dapat dilantunkan dengan tembang yang berirama harmonis dalam upacara-upacara ritual keraton, sebuah fungsi yang menegaskan bahwa sastra Jawa Kuno tidak pernah lepas dari dimensi lisan dan performatif, bukan sekadar teks yang dibaca dalam sunyi.

Pilar kedua adalah kamus istilah dan kosakata, yang dalam tradisi keilmuan Jawa disebut bausastra. Bagian ini berfungsi sebagai kamus ekabahasa pertama yang pernah disusun di Nusantara, memuat daftar kosakata kuno beserta maknanya. Fungsi paling krusialnya adalah menjadi jembatan linguistik yang menerjemahkan istilah-istilah serapan dari Bahasa Sanskerta ke dalam bahasa lokal, sehingga dapat dipahami oleh masyarakat Jawa pada masanya. Mengingat betapa derasnya pengaruh Sanskerta yang masuk bersama agama Hindu dan Buddha ke tanah Jawa sejak abad-abad awal Masehi, kehadiran kamus semacam ini menjadi kebutuhan mendesak bagi para pujangga dan pendeta yang harus menerjemahkan konsep-konsep keagamaan India ke dalam bahasa yang dipahami rakyat maupun kalangan istana.

Pilar ketiga adalah daftar sinonim kata, yang dikenal dengan istilah nghabehi. Bagian ini memuat kelompok-kelompok kata yang memiliki arti sama namun berbeda bunyi dan bentuk. Fungsinya sangat praktis: agar para pujangga tidak terjebak dalam pengulangan kata yang membosankan ketika menulis kakawin panjang atau prasasti resmi, dan memiliki lebih banyak pilihan diksi yang estetis. Bayangkan seorang pujangga istana yang harus menggubah ratusan bait kakawin tanpa pernah mengulang kata secara kaku—daftar sinonim dalam Candakarana adalah alat kerja yang membuat variasi bahasa semacam itu mungkin dicapai secara sistematis, bukan hanya mengandalkan hafalan atau intuisi bahasa semata.

Sistem guru-laghu yang diajarkan Candakarana ini sesungguhnya bukan penemuan asli Jawa, melainkan adaptasi dari tradisi puitika India yang telah lama mengenal pembagian matra dalam menyusun syair Sanskerta. Setiap baris kakawin dibangun dari kombinasi suku kata panjang dan pendek yang jumlah dan urutannya diatur ketat menurut nama-nama wirama atau pola metrum tertentu, sehingga ketika dilantunkan seorang juru tembang, iramanya akan terdengar konsisten dari bait ke bait. Kompleksitas aturan ini menuntut penguasaan yang tidak main-main: seorang pujangga tidak cukup memahami makna kata, ia juga harus menghitung bobot bunyi setiap suku kata sebelum menuliskannya. Di titik inilah Candakarana berfungsi sebagai kitab rujukan wajib, semacam buku pegangan teknis yang menuntun proses kreatif agar tetap patuh pada disiplin bentuk, sekalipun daya imajinasi sang penulis melayang jauh ke dalam kisah-kisah wiracarita.

Ketiga pilar ini menjadikan Candakarana pada dasarnya sebuah buku panduan atau handbook bagi para pujangga kraton dalam menggubah karya sastra tinggi. Fungsinya mirip dengan kamus sekaligus buku tata bahasa dan buku sinonim yang digabung menjadi satu, sebuah perangkat literasi terpadu yang mendukung lahirnya karya-karya besar sastra Jawa Kuno di masa-masa berikutnya. Tanpa perangkat semacam ini, sulit membayangkan bagaimana para pujangga di era Kerajaan Kediri dan Majapahit kelak dapat menghasilkan kakawin-kakawin monumental seperti Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada 1365 atau Sutasoma karya Mpu Tantular, yang keduanya masih tunduk pada kaidah metrum dan kekayaan diksi yang fondasinya telah diletakkan berabad-abad sebelumnya.

Kepentingan Candakarana juga terletak pada posisinya sebagai penanda awal lahirnya tradisi literasi di tanah Jawa. Sebelum ada kitab hukum, kronik kerajaan, atau kakawin epik, yang lebih dulu dibutuhkan adalah perangkat bahasa itu sendiri: kamus, aturan metrum, dan daftar sinonim. Dalam pengertian ini, Candakarana dapat dipandang sebagai infrastruktur intelektual generasi pertama peradaban tulis Jawa, tempat di mana bahasa lisan sehari-hari mulai dibakukan menjadi bahasa sastra yang bisa diwariskan lintas generasi. Ia berperan serupa dengan kamus dan buku tata bahasa dalam peradaban manapun—karya yang jarang dibaca oleh masyarakat awam, namun menjadi rujukan diam-diam bagi setiap penulis yang datang setelahnya.

Bagi para peneliti sastra dan bahasa Jawa Kuno hari ini, Candakarana tetap menjadi objek kajian yang menarik justru karena posisinya yang liminal, berada di persimpangan antara linguistik, sastra, dan sejarah politik Wangsa Syailendra. Sejumlah kajian filologis kontemporer bahkan menelusuri kemungkinan kaitan antara Candakarana dengan naskah-naskah bertema serupa yang kerap disebut dengan nama Candrakirana dalam kajian tradisi tulis dan lisan Jawa Kuno, meski hubungan pasti antar-naskah tersebut masih menjadi bahan diskusi akademis yang belum tuntas. Perdebatan semacam ini justru menunjukkan betapa kayanya khazanah naskah Jawa Kuno yang hingga kini belum sepenuhnya terpetakan, dan betapa pentingnya kerja filologi untuk terus menelusuri jejak-jejak yang tersisa.

Yang tidak kalah menarik adalah bagaimana naskah setua ini bisa bertahan hingga era digital. Warisan tersebut hanya mungkin terjaga berkat tradisi penyalinan lontar Bali yang berlangsung turun-temurun, sebuah praktik budaya yang sering luput dari sorotan namun sesungguhnya menjadi kunci penyelamatan sebagian besar khazanah sastra Jawa Kuno dari kepunahan total. Setiap kali seorang penyalin lontar Bali menggoreskan pisau pengrupak di atas daun lontar untuk menyalin ulang teks Candakarana, ia sesungguhnya sedang menjalankan tugas sunyi menjaga ingatan kolektif Nusantara, jauh sebelum konsep pelestarian warisan budaya dirumuskan secara formal dalam kerangka hukum atau kebijakan modern.

Jejak pengaruh Candakarana juga dapat dilacak jauh melampaui masanya sendiri. Tradisi menyusun bausastra atau kamus istilah yang dirintisnya menjadi cikal bakal genre leksikografi Jawa yang terus hidup hingga masa kolonial dan modern, ketika para filolog Belanda maupun pribumi menyusun kamus-kamus Jawa Kuno dan Jawa Baru yang lebih sistematis. Demikian pula tradisi menyusun daftar sinonim yang dirintis lewat konsep nghabehi kelak menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari kesusastraan istana, terlihat jelas dalam kekayaan diksi kakawin-kakawin besar yang lahir berabad-abad sesudahnya. Seorang filolog yang menelusuri genealogi kamus dan tata bahasa Nusantara pada dasarnya sedang menelusuri jejak yang bermuara pada Candakarana, meski banyak generasi pembaca modern tidak pernah mendengar namanya secara langsung.

Minat akademis terhadap Candakarana pun tidak pernah benar-benar padam. Sejumlah kajian filologi kontemporer, termasuk yang dipublikasikan melalui platform akademik dan proyek digitalisasi naskah Nusantara, terus berupaya menelaah ulang teks ini dari sudut pandang linguistik historis maupun kajian tradisi lisan. Upaya semacam ini penting sebab naskah-naskah Jawa Kuno pada umumnya hanya tersisa dalam bentuk salinan yang berjarak ratusan tahun dari versi aslinya, sehingga setiap kata dalam Candakarana yang bertahan hingga kini sesungguhnya adalah hasil rantai panjang ketekunan para penyalin lontar yang tidak tercatat namanya dalam sejarah, namun jasanya menentukan apakah sebuah peradaban tulis akan dikenang atau justru hilang ditelan zaman. (*)

Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version