Mengenang Danarto, Awan, Amoroso, dan Deddy Sutomo

 Mengenang Danarto, Awan, Amoroso, dan Deddy Sutomo

KABAR duka selalu menyentak dan tentu mengejutkan. Dalam satu pekan ini para sahabat dan guru itu telah pergi dan tak akan kembali lagi. Saya pernah berinteraksi dengan Mas Danarto, Awan Sanwani, Amoroso Katamsi dan Deddy Sutomo dalam suatu kurun waktu.

Yang pertama Mas Danarto, sastrawan hebat. Hampir semua karyanya pernah saya baca dan yang tetap kental adalah buku “ORANG JAWA NAIK HAJI. Saya sering berjumpa sekitar 1984, saat beliau duduk sebagai redaktur Majalah Zaman, yang berkantor di Proyek Senen Jakarta Pusat. Saya kerap ke kantor itu karena Bos saya Putu Wijaya sama sama bekerja sebagai wartawan dengan Mas Danarto. Dalam produksi pentas Teater Mandiri Mas Danarto hampir selalu terlibat. Bahkan logo teater Mandiri “api yang menyala tak kunjung padam” adalah hasil goresannya.

Kedua, Awan Sanwani, saya lebih senang memanggilnya Wawan. Kami kerap berjumpa di Taman Ismail.Marzuki sekitar 1983 sampai 1985. Pernah latihan teater bersama di bawah arahan Jose Rizal Manua. Saat itu, setidaknya kami menyeruput kopi bersama di warung Daeng Amir di pojok belakang TIM yang kini berubah menjadi bangunan megah bernama Teater Jakarta. Awan rebah dan tidak bangun lagi saat melatih anak anak teater FISIP UI Senin 16 April 2018.

Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film G 30 S PKI. Dua tiga kali saya mewawancarainya saat saya menjadi wartawan tabloid Wanita Indonesia milih Bu Tutut putri Pak Harto. Hampir semua pertunjukan Grup Teater Ketjil karya Arifin C Noer, dimana Amoroso bermain tidak saya lewatkan. Aktingnya memukau dan mengkilat. Beliau seorang aktor dan jenderal bintang satu Angkatan Laut yang bersahaja. Terakhir saya berjumpa dengan Mas Amoroso sekitar 2014 saat sama sama antri di restauran China Mandala di Jalan Monginsidi Jakarta Selatan. Rupanya kami sama-sama pecinta kuliner olahan restoran legenda nan jadul itu.

Pagi ini, kabar duka kembali.mampir. Aktor kawakan Deddy Sutomo Rabu (18/4) pagi pergi menghadap Ilahi Rabbi. Politisi asal PDI ini menghembuskan nafas terakhirnya di RS Harapan Kita dalam usia 76 tahun. Ia dirawat akibat sakit jantung sejak 30 Maret lalu.

Setidaknya dua kali saya berinteraksi dengan Deddy Sutomo. Yang pertama ketika Septian Dwi Cahyo secara mendadak mengajak saya syuting serial TVRI Rumah Masa Depan karya Ali Shahab. Kami syuting di Studio Alam TVRI Cimanggis Depok sekitar tahun 1984. Interaksi kedua ketika Putu Wijaya kembali dari Amerika dan mendapat job menyutradarai serial Keluarga Pak Rahmat produksi PPFN. Itu terjadi tahun 1985. Kami syuting di kompleks perumahan perwira Cijantung Jakarta Timur. Saya bermain bersama Deddy Sutomo. Artis lainnya yang juga terlibat Anneke Putri, Shirley Malinton yang kini menjadi diplomat di KJRI Houston USA dan Sitoresmi P.

Selamat jalan para pejuang seni peran. Pejuang kesenian, pahlawan panggung Indonesia. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *