Lagu ‘Titi Kolo Mongso’ Ilhami Novel ‘Rainbow Cake’

 Lagu ‘Titi Kolo Mongso’ Ilhami Novel  ‘Rainbow Cake’

Fiksi adalah bagian aliran darah
Fiksi adalah dunia
(Rayni M. Massardi)

JAYAKARTA NEWS – Rainbow Cake. Mungkin ada yang menduga, ini novel tentang makanan (kuliner). Bukan!

Ya, ini adalah judul novel ke-9 karya Rayni M. Massardi yang mengambil genre psycho thriller.

Bersama sahabatnya, Christyan AS (kini tinggal di Bali), karya fiksi pengarang dari 2 generasi yang berlainan gender ini, memang termasuk langka. Proses penulisannya cukup unik. Gagasan utama dituliskan Rayni pada 2018 hingga selesai, baru kemudian diserahkan kepada Christyan untuk ditambahkurangi dan dilengkapi sesuai imajinasi dan kreasinya sendiri.

Setelah rampung, mereka mendiskusikan, menyuntingulang dan saling melengkapi hingga mencapai bentuk final pada 2019.

Tugas Christyan tidak hanya menulis dan melengkapi teks, tapi juga membuat ilustrasi di setiap bab dan kemudian membuat rancangan sampulnya. Dan mereka kemudian meminta Nanang Gani untuk membuat disain sampul bukunya.

Novel setebal 260 halaman dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan dijual seharga Rp 78.000 kemudian disoft launching di Emerald Gramedia, Bintaro dan digrandlaunching di Lounge XXI Plaza Indonesia Jakarta Pusat, 30 Mei 2019 (bertepatan ultah Rani M. Massardi ke 62). Tampil sebagai pembahas adalah budayawan Radhar Panca Dahana dan Sujiwo Tejo (dalang).

“Ini adalah pengalaman pertama saya menulis karya fiksi dalam genre thriller,” kata Rayni dalam acara ‘Ngabuburit dan Buka Buku Novel Rainbow Cake’ belum lama ini.

Rayni mengatakan, karyanya ini seolah digerakkan dan dijiwai oleh enerji luar biasa dari 2 lagu berbahasa Jawa karya seniman dalang eksentrik H (Hadi, bukan Haji) Sujiwo Tejo berjudul ‘Titi Kolo Mongso’ dan ‘Ingsun’.

Sujiwo Tejo (mantan wartawan budaya Kompas) mengakui, lagunya berbahasa Jawa klasik. “Orang Jawa saja enggak ngerti. Rayni yang berdarah Sumatera Barat justru menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Titi Kolo Mongso (Pada Suatu Ketika), orang bertanya tentang kejahatan…di halaman 132, Rayni menulis 2 lagu ini karya terbaik Sujiwo Tejo..Saya senang tapi sedih. Semua lagu yang saya ciptakan adalah terbaik. Karya lagu ini selalu berkembang dan belum final,” lontar Sujiwo Tejo.

Rayni sendiri berdalih, enggak penting artinya. “Tapi saya perlu banget 2 lagu karya Sujiwo Tejo itu,” sahut Rayni.

Berisi 58 Bab (Paris-Bali/Ubud-Jakarta), Rayni di kata pendahuluan menulis -:Novel ini kami persembahkan untuk : manusia yang punya rasa, manusia yang menghargai perbedaan, manusia yang tahu adat, manusia yang tidak akan pernah melakukan bullying. Atau untuk : manusia yang sudah TIDAK PUNYA rasa, etika, hati nurani. Bully adalah luka dunia.

Pengalaman dibully pada masa remaja, membuat Hilda (tokoh di novel) tidak nyaman dengan dirinya hingga hatinya semakin mengeras.

Melanjutkan sekolah ke Paris, ia perlahan mengubah cara pandang terhadap diri dan gaya hidupnya. Di Kota Budaya itu, Hilda belajar memasak dan bikin kue.

Kegemaran barunya mengunjungi galeri seni, membuatnya terpaku di hadapan sebuah lukisan yang menggetarkan dan perlahan membuka pengalaman aneh pada tubuhnya.

Hijrah ke Ubud-Bali, ia mulai dihantui musik dan lagu yang tiba-tiba bersarang di kepala dan telinganya. Selain merasa ngeri dan membuatnya mual dan pening, ia juga menikmati gairah dan energi ganjil dari apa yang didengarnya. Sampai ia bertemu dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah melukai hati dan sangat dibencinya.

Balik ke Jakarta, dan sukses sebagai pembuat dan pemilik tokio kue, masa lalunya kemudian menghantui dan merusak jiwanya. Cinta, benci, rindu, dan dendam telah mengaduk-aduk emosi dan energinya yang luar biasa.

Alunan musik dan lagu misterius yang terus menghantuinya telah mendorongnya untuk melakukan hal-hal tak terduga termasuk mewujudkan seni instalasi :kue Terindah’.

Sebuah ‘Rainbow Cake’ yang berakhir dengan kengerian dan malapetaka. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *