• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Hari Sungai Nasional 2026, “Sungai sebagai Investasi Masa Depan”

Hari Sungai Nasional 2026, “Sungai sebagai Investasi Masa Depan”

Redaksi by Redaksi
July 27, 2026
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Seluruh elemen masyarakat harus memperkuat gerakan kolaboratif dalam menjaga dan memulihkan sungai sebagai investasi bagi keberlanjutan kehidupan dan pembangunan.

Terlebih, pelestarian sungai tidak dapat lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga generasi muda.

Hal itu disampaikan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam momentum Hari Sungai Nasional 2026 yang diperingati pada Senin (27/7) dengan mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan.”

Khofifah menegaskan, sungai merupakan penyangga kehidupan yang memiliki peran vital bagi ketahanan pangan, penyediaan air bersih, keberlanjutan ekosistem, hingga penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun di sisi lain, sungai kini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari pencemaran, penumpukan sampah, kerusakan lingkungan, hingga tekanan akibat aktivitas manusia.

“Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Karena itu, upaya pemulihan dan pelestarian sungai harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar sungai tetap menjadi sumber kehidupan yang terjaga,” ujarnya.

Gubernur merinci sungai yang dimiliki Provinsi Jawa Timur yang berkontribusi terhadap penyediaan air baku, irigasi pertanian, industri, serta pengendalian banjir, berikut daftar sungai paling strategis di Jawa Timur: Sungai Brantas (dan cabang utamanya: Kali Mas & Kali Porong); Sungai Bengawan Solo (serta anak sungainya Kali Madiun); Sungai Sampean (Situbondo/Bondowoso); Sungai Bondoyudo & Bedadung (Lumajang & Jember); Sungai Rejoso & Welang (Pasuruan).

Maka dari itu, ia menekankan, Hari Sungai Nasional harus menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan sungai menentukan kualitas hidup masyarakat hari ini maupun generasi mendatang.

“Selama peradaban manusia berlangsung, sungai senantiasa menjadi sumber kehidupan yang menopang ketahanan pangan dan mendukung perekonomian. Tapi seiring berjalannya waktu, kita memiliki tantangan berat seperti kerusakan lingkungan dan penumpukan sampah yang akhirnya mencemari sungai,” ungkapnya.

“Untuk itu, di peringatan Hari Sungai Nasional ini perlu menjadi momentum bersana untuk berkomitmen dalam menjaga dan memulihkan sungai. Karena kita membutuhkan sungai, tapi seringkali aktivitas manusialah yang malah merusak sumber kehidupan kita ini,” lanjut Khofifah.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menjalankan berbagai program pelestarian sungai secara berkelanjutan. Di antaranya melalui kegiatan susur sungai, patroli sungai, serta perlindungan mata air sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas sumber daya air sekaligus memperkuat ekosistem lingkungan.

Dijelaskan, kegiatan susur sungai dilakukan untuk mengidentifikasi secara langsung kondisi sungai beserta berbagai persoalan yang terjadi di sepanjang aliran sungai. Sementara patroli sungai menjadi bagian dari pengawasan sekaligus penguatan koordinasi antar-pemangku kepentingan dalam menangani potensi pencemaran maupun kerusakan lingkungan.

“Koordinasi menjadi kunci dalam menangani berbagai persoalan sungai, termasuk pencemaran yang berasal dari aktivitas industri. Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak,” tegasnya.

Selain menjaga sungai, Pemprov Jawa Timur juga terus mendorong perlindungan mata air sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

“Perlindungan mata air tidak hanya berkaitan dengan menjaga kualitas air, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut,” imbuhnya.

Khofifah juga mengapresiasi semakin kuatnya gerakan masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai yang tercermin melalui penyelenggaraan Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Forum tersebut mempertemukan sekitar 170 komunitas sungaidengan hampir 500 pegiat lingkungan dari Aceh hingga Papua, sebagai wadah berbagi praktik baik sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam pelestarian sungai.

Berbagai kegiatan digelar mulai dari seminar, diskusi panel, lokakarya pengelolaan sungai berbasis masyarakat, aksi bersih sungai, penanaman pohon di kawasan sempadan sungai, hingga penyusunan rekomendasi bersama.

“Puncak kegiatannya diisi dengan penanaman pohon, dialog interaktif untuk menumbuhkan dan meningkatkan_awareness_, dan pembacaan deklarasi komunitas sungai. Saya sangat mengapresiasi ini karena menjaga sungai merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Khofifah menilai, keberadaan komunitas sungai memilikiperan strategis karena hadir langsung di tengah masyarakat sebagai motor penggerak berbagai aksi pelestarian lingkungan.

“Jadi mereka-mereka inilah yang mengawal langsung keberlanjutan program pelestarian sungai. Kehadiran mereka khususnya di Jawa Timur saya pikir merupakan wujud nyata dari semangat Hari Sungai Nasional yang kita rayakan ini,” tuturnya.

Pihaknya berharap Hari Sungai Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi penguat budaya gotong royong dalam menjaga sungai di lingkungan masing-masing.***poedji

Tags: gubernur khofifahjayakartanews
Previous Post

“Pagar Gaib” Versi Psikologi Modern

Next Post

International Job Fair 2026, Mukhtarudin: Kami Punya 300 Ribu Lowongan, Baru 25 Persen Terisi

Redaksi

Redaksi

Next Post
International Job Fair 2026, Mukhtarudin: Kami Punya 300 Ribu Lowongan, Baru 25 Persen Terisi

International Job Fair 2026, Mukhtarudin: Kami Punya 300 Ribu Lowongan, Baru 25 Persen Terisi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version