Kolom
Kiblat Sepuluh: Ketika Leluhur Jawa Memetakan Semesta di Dalam Dada
Oleh : Heri Mulyono
Di balik empat arah mata angin yang dikenal umum, masyarakat Jawa kuno menyimpan peta batin yang jauh lebih rumit: sepuluh penjuru yang menyatukan langit, bumi, dan diri manusia dalam satu garis kesadaran.
Bagi kebanyakan orang, arah mata angin hanyalah alat bantu bepergian—penunjuk agar tidak tersesat di jalan. Namun bagi leluhur Jawa, arah bukan sekadar koordinat geografis. Ia adalah cermin jiwa.
Konsep yang dikenal dengan istilah Kiblat Sepuluh ini menempatkan manusia bukan sebagai penonton yang berdiri di luar semesta, melainkan sebagai pusat kecil yang harus menyelaraskan dirinya dengan pusaran besar alam raya. Dalam bahasa kosmologi Jawa, hubungan itu disebut penyatuan antara jagad alit, dunia kecil dalam diri manusia, dengan jagad ageng, dunia besar tempat manusia hidup.
Konsep ini tidak lahir dalam semalam. Ia adalah endapan panjang dari perjumpaan berbagai zaman, keyakinan, dan bahasa yang saling menumpuk selama ribuan tahun di tanah Jawa, hingga akhirnya membentuk satu sistem orientasi ruang yang unik: separuh geografis, separuh spiritual.
Jejak yang Bermula dari Gunung dan Laut
Sebelum aksara Sanskerta menyentuh tanah Jawa, leluhur Nusantara sudah memiliki cara sendiri untuk membaca ruang. Orientasi hidup mereka tidak dibangun dari peta, melainkan dari lanskap yang mereka tinggali sehari-hari: gunung di satu sisi, laut di sisi yang lain.
Di Bali, warisan pola pikir ini masih hidup hingga kini dalam istilah kaja dan kelod, arah menuju gunung dan arah menuju laut. Di Jawa, jejak yang sama bertahan dalam istilah lor dan kidul, utara dan selatan, yang bagi masyarakat pesisir maupun pedalaman memiliki muatan makna jauh lebih dalam daripada sekadar penunjuk arah.
Pada masa itu, ruang dipahami sebagai sesuatu yang hidup dan bertenaga. Gunung dianggap sebagai pusat kekuatan, tempat bersemayamnya leluhur dan penjaga alam. Laut dipandang sebagai batas sekaligus sumber kehidupan yang penuh misteri. Cara pandang animisme-dinamisme inilah yang menjadi fondasi pertama dari apa yang kelak berkembang menjadi sistem kiblat spiritual yang jauh lebih rumit.
Ketika Dewa-Dewa Hindu Menjaga Setiap Penjuru
Perubahan besar terjadi ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk dan berakulturasi dengan kepercayaan asli Nusantara. Istilah-istilah seperti purwa, duksina, pracima, dan utara mulai diserap dari bahasa Sanskerta, menggantikan atau melengkapi istilah lokal yang sudah ada. Dalam kosmologi Hindu, setiap arah mata angin dijaga oleh dewa tertentu, sebuah konsep yang dikenal sebagai Dikpala atau Lokapala. Delapan penjaga arah, yang kemudian berkembang menjadi sembilan dalam konsep Dewata Nawa Sanga, menempatkan kekuatan ilahi di setiap sudut ruang.
Gagasan ini bukan sekadar mitos yang hidup dalam cerita. Ia diwujudkan secara nyata dalam arsitektur candi dan tata ruang kerajaan-kerajaan besar di Jawa, termasuk pada masa keemasan Majapahit. Tata letak bangunan suci, orientasi pintu masuk, hingga penempatan area kerajaan, semuanya mengikuti logika arah yang sarat muatan kosmologis. Ruang fisik dan ruang spiritual, pada masa itu, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Wayang, Wali, dan Penataan Ulang Makna
Babak paling menarik dari perjalanan konsep ini datang ketika Islam mulai menyebar di tanah Jawa. Alih-alih menghapus sistem sepuluh arah yang sudah mengakar, para penyebar Islam yang dikenal sebagai Wali Songo memilih jalan akulturasi. Melalui seni pertunjukan wayang kulit, yang mereka adaptasi sebagai media dakwah, konsep sepuluh penjuru arah tidak dibuang melainkan dikontekstualisasikan ulang.
Arah-arah yang semula identik dengan nama-nama dewa Hindu perlahan dihubungkan dengan nafsu manusia, warna batin, dan tahapan makrifat menuju pemahaman tentang keesaan Tuhan. Strategi ini terbukti efektif. Alih-alih menciptakan pertentangan antara yang lama dan yang baru, masyarakat Jawa justru memperoleh kerangka berpikir baru yang lebih dalam, di mana orientasi ruang menjadi jalan untuk memahami orientasi batin.
Empat Poros yang Menopang Kehidupan
Dalam laku batin Jawa, sepuluh arah ini terbagi ke dalam tiga dimensi besar. Yang pertama adalah empat arah utama, poros yang menopang seluruh siklus kehidupan manusia. Purwa, arah timur, berarti permulaan. Ia adalah tempat matahari terbit, melambangkan kelahiran, kesucian, dan pancaran energi batin yang masih murni. Dalam dunia pewayangan, arah ini kerap dikaitkan dengan cipta dan keheningan, ruang batin tempat gagasan pertama kali muncul.
Berbeda dengan purwa yang lembut dan penuh harap, ada duksina, arah selatan, yang melambangkan ketegasan dan kekuatan. Selatan sering dimaknai sebagai samudra kemauan, tempat manusia berhadapan dengan ambisi dan diuji kemampuannya menguasai gejolak duniawi.
Sementara itu, tepat berseberangan dengan timur, pracima atau barat menjadi arah terbenamnya matahari, simbol akhir, perenungan, dan masa tua. Di titik inilah manusia diajak untuk menoleh ke belakang, mengevaluasi seluruh amal perbuatannya, sebuah proses yang dalam falsafah Jawa disebut ngunduh wohing pakarti, memetik buah dari apa yang pernah ditanam.
Arah keempat, utara, melambangkan keteguhan iman dan keluhuran budi. Ia menjadi titik fokus, pilar batin yang diharapkan tidak mudah goyah oleh godaan zaman. Empat arah ini, timur, selatan, barat, dan utara, bukan sekadar penanda ruang, melainkan empat tahap perjalanan hidup manusia: dari kelahiran, ambisi, perenungan, hingga keteguhan akhir.

Empat Penjuru Penyeimbang
Di antara empat poros utama itu, terdapat empat penjuru tambahan yang berfungsi sebagai penyeimbang energi. Byabya, arah tenggara, menjadi penghubung antara awal kehidupan di timur dan kekuatan ambisi di selatan. Kaneya, arah barat laut, menjaga transisi antara keteguhan iman di utara dan perenungan masa akhir di barat. Nurwitri, arah barat daya, menjadi titik temu antara evaluasi akhir di barat dan samudra kekuatan batin di selatan.
Yang paling istimewa di antara keempatnya adalah narasunya, arah timur laut. Ia berada di ruang antara kesucian awal dan keteguhan batin, dan dalam banyak tradisi penghayatan kejawen, sudut ini dianggap paling sakral untuk bermeditasi. Bukan kebetulan jika banyak pertapaan dan tempat laku prihatin di tanah Jawa condong mengarah ke penjuru ini, seolah para leluhur telah lama memahami bahwa di titik pertemuan antara cahaya dan keteguhanlah, ketenangan batin paling mudah ditemukan.
Dua Arah yang Tak Terlihat Mata
Jika delapan arah sebelumnya masih bisa dijejakkan di atas tanah, dua arah terakhir dalam sistem ini justru melampaui bidang horizontal. Inilah yang membuat Kiblat Sepuluh berbeda secara mendasar dari sistem mata angin manapun: kesadaran akan poros vertikal, antara langit dan bumi.
Gegana, arah angkasa yang disebut juga Bapa Angkasa, melambangkan asal-usul ruh, keluhuran akal budi, dan ketergantungan manusia pada Sang Pencipta. Sementara itu, pratala, arah bumi yang dikenal sebagai Ibu Pertiwi, melambangkan jasad fisik manusia yang tercipta dari tanah, kesuburan, dan sikap rendah hati yang dalam bahasa Jawa disebut andhap asor.
Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Jawa juga akrab menyebutnya Ibu Bumi, sebutan yang lebih membumi dan langsung merujuk pada tanah sebagai asal kelahiran sekaligus tempat jasad kembali setelah ajal, sementara Ibu Pertiwi lebih sering dipakai dalam konteks yang lebih formal atau puitis. Keduanya merujuk pada satu gagasan yang sama: bumi sebagai ibu yang memberi makan dan menaungi kehidupan. Antara Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi inilah, manusia berdiri: separuh berasal dari langit, separuh berpijak di bumi.
Dari Papat Kiblat Lima Pancer Menuju Kesadaran yang Lebih Luas
Masyarakat Jawa umumnya lebih akrab dengan konsep yang lebih sederhana, papat kiblat lima pancer, empat arah dengan diri sendiri sebagai pusat di tengah. Konsep ini menjadi pijakan awal, semacam kelas dasar dalam sekolah batin Jawa. Namun bagi penghayat yang menempuh laku prihatin lebih jauh, atau dalam dunia pewayangan digambarkan sebagai satria yang menuntut ilmu kesempurnaan, kesadaran itu meluas menjadi Kiblat Sepuluh.
Ini berarti manusia tidak cukup hanya menyelaraskan diri dengan delapan arah mata angin di bumi. Ia harus pula menyadari posisinya di antara langit dan bumi, antara gegana dan pratala. Ketika kesepuluh arah ini telah menyatu dan selaras di dalam dada, seorang penghayat dipercaya akan mencapai kondisi yang disebut manunggaling kawula Gusti, keselarasan total antara hamba dan Sang Pencipta. Pada titik itu, manusia dianggap telah memahami sangkan paraning dumadi, asal dan tujuan hidupnya, dan mampu memancarkan kedamaian ke segala penjuru tanpa terkecuali.
Empat Saudara dan Warna Nafsu di Setiap Penjuru
Kiblat Sepuluh tidak berdiri sendiri sebagai sistem arah. Ia berkelindan erat dengan konsep sedulur papat, empat saudara batin yang diyakini menyertai setiap manusia sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam tradisi kejawen, keempat saudara gaib ini lazim disimbolkan dengan empat warna nafsu: amarah yang berwarna merah, lawwamah yang berwarna kuning, sufiyah yang berwarna putih, dan mutmainnah yang berwarna hitam. Masing-masing warna nafsu ini dipercaya memiliki kecenderungan menempati arah tertentu, saling tarik dan saling imbang satu sama lain.
Amarah, nafsu yang mendorong manusia pada amukan dan ketergesaan, sering dikaitkan dengan arah selatan yang keras dan penuh ambisi. Sufiyah, nafsu yang condong pada kesenangan dan keindahan duniawi, lebih dekat dengan arah timur yang segar dan penuh gairah kelahiran. Lawwamah, nafsu yang gemar menyesali dan mempertanyakan diri sendiri, berpadanan dengan barat yang identik dengan perenungan dan evaluasi. Sementara mutmainnah, nafsu yang tenang dan condong pada kebaikan, berimpit dengan utara yang melambangkan keteguhan.
Empat penjuru tambahan di antaranya, byabya, kaneya, nurwitri, dan narasunya, dipahami sebagai ruang tempat keempat nafsu itu saling bernegosiasi, tarik-menarik membentuk watak seseorang. Seorang penghayat yang telah matang lakunya dipercaya mampu mengenali kapan amarah sedang menguasai dirinya, kapan sufiyah mendominasi, dan bagaimana menariknya kembali menuju keseimbangan mutmainnah, sebuah proses batin yang dalam banyak hal setara dengan apa yang dalam bahasa psikologi modern disebut kesadaran diri.
Arah yang Membentuk Rumah dan Kota
Filosofi sepuluh arah ini bukan sekadar ajaran abstrak yang hidup dalam batin, ia juga mewujud secara nyata dalam ruang fisik yang bisa dijejaki, salah satunya rumah adat Joglo. Dalam tata bangun Joglo, orientasi bangunan tidak pernah ditentukan sembarangan.
Bagian depan rumah, yang biasa disebut pendapa, umumnya diarahkan menghadap ke arah yang dianggap membawa keterbukaan dan penerimaan tamu, sementara ruang inti keluarga di bagian dalam, dalem ageng, ditempatkan pada posisi yang lebih terlindung, mencerminkan gagasan bahwa ruang privat harus berada lebih dekat dengan pusat, dengan pancer, layaknya diri sendiri di tengah papat kiblat lima pancer.
Logika yang sama, dalam skala yang jauh lebih besar, dapat ditemukan pada tata kota keraton-keraton Jawa. Keraton Yogyakarta misalnya, dibangun mengikuti satu garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di sisi berlawanan, sebuah poros yang oleh banyak peneliti budaya diyakini merupakan penerapan langsung dari kosmologi arah yang menyeimbangkan kekuatan gegana di atas dan pratala di bawah.
Alun-alun, masjid agung, pasar, dan istana ditempatkan pada koordinat yang bukan hasil kebetulan, melainkan cerminan dari keyakinan bahwa tata ruang kota harus menjadi miniatur dari tata ruang semesta itu sendiri. Sultan, dalam kerangka ini, tidak sekadar menjadi pemimpin administratif, melainkan juga pancer, poros yang menyeimbangkan sepuluh arah bagi seluruh rakyatnya.
Satria yang Menguasai Sepuluh Penjuru
Dalam dunia pewayangan, penguasaan atas laku batin sepuluh penjuru sering digambarkan sebagai puncak pencapaian spiritual seorang satria. Tokoh-tokoh yang telah menempuh tapa dan laku prihatin panjang biasanya digambarkan mampu membaca tanda-tanda dari segala arah, tidak lagi terkejut oleh godaan yang datang dari selatan, tidak lagi goyah oleh perenungan gelap dari barat, dan mampu menahan diri dari kesombongan ketika berada di puncak, di arah gegana sekalipun.
Kisah-kisah pewayangan kerap menempatkan pencapaian ini sebagai syarat sebelum seorang satria layak memimpin atau mengemban tugas besar, sebab kepemimpinan sejati, dalam pandangan Jawa, tidak mungkin lahir dari orang yang belum selesai menata dirinya sendiri.
Gambaran ini pula yang menjelaskan mengapa banyak lakon wayang tidak hanya berisi pertempuran fisik, melainkan juga pergulatan batin yang panjang dan sunyi. Musuh yang paling berat bagi seorang satria bukanlah raksasa atau kesatria dari negeri lain, melainkan sepuluh penjuru dalam dirinya sendiri yang belum sepenuhnya selaras. Dalam pengertian inilah, Kiblat Sepuluh berfungsi sebagai peta ujian batin, sebuah kompas yang tidak menunjukkan ke mana harus melangkah di dunia luar, melainkan seberapa jauh perjalanan yang masih harus ditempuh di dalam diri.
Warisan yang Terus Dijaga di Malang
Di tengah gempuran budaya global yang serba cepat, pengetahuan semacam ini kerap terpinggirkan, dianggap sebagai cerita lama yang tidak relevan dengan kehidupan modern. Padahal, di baliknya tersimpan cara berpikir yang jauh lebih holistik daripada sekadar navigasi. Konsep Kiblat Sepuluh mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari alam semesta; ia adalah bagian kecil yang terus-menerus dituntut untuk mencari keseimbangan.
Upaya menjaga dan menghidupkan kembali pengetahuan semacam ini menjadi salah satu perhatian Ruang Budaya Nusantara (RUBANA) di Malang, ruang belajar yang berupaya mendekatkan kembali generasi muda dengan kekayaan filsafat leluhurnya. Bagi para penggeraknya, mempelajari Kiblat Sepuluh bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan cara untuk mengingatkan bahwa leluhur Jawa memiliki cara pandang yang luas dan multidimensional dalam melihat kehidupan dan ketuhanan, sebuah warisan pemikiran yang, jika digali lebih dalam, masih relevan untuk menjawab kegelisahan manusia modern yang kerap kehilangan arah, bukan secara geografis, melainkan secara batin.
Sepuluh arah itu, pada akhirnya, bukan tentang ke mana kaki melangkah, melainkan tentang ke mana hati harus kembali. (*)
