Connect with us

Kolom

Daun Pisang Media Pengasihan

Published

on

Gde Mahesa

Daun pisang sebagai penangkal dan pengasihan putih, namun untuk media menyerang atau mengirim, hal tersebut pantang dibuka untuk umum di literasi, di dalam naskah aslinya pun kuncinya sengaja diputus satu suku kata agar tidak bisa dipakai sembarangan.

Ada 3 (tiga) arsip mantra asli yang memakai daun pisang sebagai media. Saya tulis aksara aslinya, latin, dan terjemah bebas untuk Jayakarters.

  1. Mantra Jawa – Penangkal Sawan & Santet
    Sumber: Serat Primbon Betaljemur Adamakna, Bab Sawan Mayit :

Ilmu ini dipakai untuk bayi rewel pada malam hari, juga untuk orang dewasa yang mimpi buruk terus setelah melayat.

Media : Daun pisang kluthuk (batu) yang dilayukan di atas api, bukan sobek.
Rapal asli (Jawa Ngoko Halus):
Godhong kluthuk, godhong tawa,
Siramu dudu godhong, siramu tameng,
Sing gawe loro, balio menyang kono,
Sing gawe panas, balio adhem,
Aku titip bayi / awakku marang Ibu Bumi.

Terjemah :
Daun kluthuk, daun penawar,
Kamu bukan sekadar daun, kamu adalah tameng,
Yang membuat sakit, kembalilah ke asalmu,
Yang membuat panas, kembalilah dingin,
Aku titipkan bayi / ragaku kepada Ibu Bumi.

Logikanya :
Daun dilayukan sampai lemas, lalu diusapkan dari ubun-ubun ke kaki, 3 kali. Setelah itu daunnya langsung dibuang ke sungai, tidak boleh dibuang di tempat sampah rumah.

Filosofinya :
Penyakit dipindah ke daun, dan daun yang sudah mati itu menghanyutkan penyakit. Daunnya yang pahit dan berbulu memang dipercaya tidak disukai makhluk halus.

  1. Mantra Bali – Penangkal Leak / Disti
    Sumber: Lontar Usada Teluh, Lembar 27a
    Dipakai saat merasa kebus / panas di rumah tanpa sebab.

Media: Daun pisang raja hijau tua, diisi garam kasar dan bawang merah tunggal, dibungkus bentuk takir.

Rapal asli (Bali Kuno):
Ong, Sang Kala Yoni,
Niki ron pisang raja, dados prahu,
Meme, Bapa, kala teka, kala lunga,
Sampunang ngenah, sampunang ngamah,
Mulih ke segara.

Terjemah:
Ong, Wahai Sang Waktu dan Rahim,
Ini daun pisang raja, jadilah perahu,
Ibu, Bapak, yang datang, silakan pergi,
Jangan menampakkan, jangan mengganggu,
Kembalilah ke lautan.

Takir itu lalu diletakkan di perempatan depan rumah jam 6 sore, bukan dilempar. Besok pagi takirnya akan kering sendiri. Itu tanda energinya sudah netral.

  1. Mantra Sunda – Pengasihan Putih / Kewibawaan
    Sumber: Lontar Pangasihan Sunda Buhun

Ini yang sering salah kaprah. Di Sunda, pengasihan dengan daun pisang tidak untuk memaksa orang lain jatuh cinta. Itu disebut pelet dan dilarang.
Yang ada adalah Pangasihan Diri, agar diri kita memancarkan welas asih, seperti daun pisang yang mengayomi.

Media: Pupus pisang raja yang belum mekar, diisi air embun 7 daun berbeda.
Rapal asli (Sunda Buhun):
Pupus pisang raja, can mekar, can merekah,
Aing can merekah haté ka sasaha,
Mere Kahadean, mere Kanyaah,
Sing ningali sing welas, sing nyatu sing asih.

Terjemah:
Pupus pisang raja, belum mekar, belum merekah,
Aku pun belum merekah hati kepada siapapun,
Tebarkan kebaikan, tebarkan kasih,
Siapa yang melihat jadi welas, siapa yang menyatu jadi asih.

Air embun di dalam pupus itu dipakai untuk membasuh muka pagi hari. Maknanya bukan untuk mengguna-guna orang, tapi sugesti diri: kalau hati kita belum mekar dengan dendam, maka wajah kita akan memancarkan kelembutan seperti pupus.
Itu yang boleh dibuka untuk umum.

Di naskah aslinya, setiap mantra di atas selalu diakhiri dengan kalimat:
Yen kanggo gawe ala, mantra balik marang awakmu dewe (
Jika untuk berbuat jahat, mantra kembali ke dirimu sendiri.)
Karena inti dari daun pisang adalah penolak, bukan penyerang. Sifatnya tan leketan – tidak menyerap. Jadi energi jahat pun tidak akan menempel kalau niat kita memakainya untuk jahat.

Daun pisang memang istimewa, dari kesederhanaannya semakin digali banyak manfaat lain, termasuk didaerah Jawa Tengah digunakan sebagai media oleh “Pawang Hujan”
Nama rapalannya “Aji Sawar / Aji Tagih”
Sumber Lisan: Turun-temurun

Media wajibnya harus Daun Pisang Raja yang disobek pucuknya saja, tidak putus. Disebut Godhong Suwir. Ditancapkan terbalik di tanah, 4 penjuru.

Logikanya : Daun pisang itu menolak air. Jadi kalau ditancapkan terbalik, dia memberi sinyal ke langit: di sini sudah ada yang menolak air.

Rapal Asli (Jawa Ngapak Alus):
Hong, Sang Hyang Bayu,
Aku ora nolak rejeki,
Aku mung nunda udan,
Godhong suwir, payung kuwalik,
Udan mulih menyang segara,
Bar hajatan, udan tak aturi kondur.
Sirr… sirr… sirr…

Terjemah Bebas:
Hong, Wahai Sang Penguasa Angin,
Aku tidak menolak rejeki,
Aku hanya menunda hujan,
Daun sobek, payung terbalik,
Hujan kembalilah ke lautan,
Setelah hajatan selesai, hujan saya persilakan pulang.
Sirr… sirr… sirr…

Kunci etikanya ada di kalimat kedua: Aku ora nolak rejeki, aku mung nunda. Pawang hujan Jawa pantang bilang tolak hujan. Yang ada nunda hujan. Karena hujan adalah rejeki.
Kalau ditolak, kualat. Hanya ditunda, lalu dipersilakan kembali. Itu kenapa setelah hajatan selesai, pawang wajib mencabut daunnya dan bilang monggo udan kondur – silakan hujan kembali.

Tanda kalau mantra diterima: daun pisang yang ditancap terbalik itu akan tetap kering padahal tanah sekitar basah.

Lain dari pada itu, terdapat pula “Mantra Tolak Angin” & Tolak Lesus
Nama di naskah: Aji Lembu Sekilan – Varian Daun
Sumber: Serat Centhini Jilid 5 & Lontar Bali Aji Grubug

Ini bukan tolak angin jamu sasetan yang diminum. Tapi tolak angin kencang, puting beliung, dan lesus – angin halus yang bikin anak kecil rewel dan padi roboh..

Media: Daun pisang kluthuk 3 lembar, diikat jadi satu seperti sapu, dilayukan. Ditaruh di atas wuwungan / bubungan rumah.

Rapal Asli (Campur Jawa Kuno – Kawi):
Godhong telu, siji rasa,
Bayu Bajra, Bayu Puyuh, Bayu Lesus,
Aja sira ngamuk ing kene,
Kene wis ana sing njaga,
Godhong kluthuk dadi tameng,
Angin liwat, omah slamet.

Terjemah:
Daun tiga, satu rasa,
Angin badai, angin puyuh, angin halus,
Jangan kau mengamuk di sini,
Di sini sudah ada yang menjaga,
Daun kluthuk jadi tameng,
Angin lewat, rumah selamat.

Versi Bali lebih pendek dan sering dipakai petani:
Ong, Bayu Bhuta,
Ron pisang batu dados benteng,
Lunga, lunga.

Artinya: Wahai roh angin, daun pisang batu jadi benteng, pergi, pergi, pergi.
Kenapa harus daun pisang kluthuk? Karena daun ini satu-satunya daun pisang yang kalau kena angin kencang tidak sobek berantakan, tapi sobek lurus rapi mengikuti urat. Leluhur melihat itu sebagai simbol angin yang diatur, tidak dibiarkan berantakan. Jadi daunnya dipakai untuk ngatur angin, bukan melawan.

Pantangan yang masih dipegang pawang sampai sekarang:

  1. Pawang hujan tidak boleh dibayar dengan tarif. Harus seikhlasnya, karena dia cuma menunda rejeki orang lain (petani butuh hujan).
  2. Daun pisang untuk tolak angin tidak boleh dipetik saat hujan turun. Harus saat panas terik jam 12 siang.
    Logikanya: daun yang kuat menahan panas, baru bisa menahan angin.
  3. Setelah selesai, daun tidak boleh dibuang di sampah. Harus dilarung di sungai atau dikubur di bawah pohon pisangnya lagi. Balik ke asalnya.

Bullllll…. Bullll… klepussss….

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement