Industri Perhotelan Ikuti Perkembangan Zaman

 Industri Perhotelan Ikuti Perkembangan Zaman

Nadya Anathassya seorang Executive Assistant Manager (EAM) di Hotel Ayani di Banda Aceh. (Foto. Ist)

Jayakarta News – Industri perhotelan merupakan suatu usaha yang menyediakan pelayanan (hospitality) kepada tamunya. Selain itu sarana layanan penginapan, ada juga makanan, minuman dan lainnya. Banyak orang datang menginap dari berbagai daerah, bahkan negara dengan ragam tujuan, serta maksud kepentingannya.

Begitulah hotel merupakan usaha yang menyediakan pelayanan. Maka dalam pengelolaannya butuh yang sesuai dengan keahliannya masing-masing. Tentu terkait itu untuk mengoperasionalkan usaha hotel ini, dibutuhkan orang yang terampil mumpuni dan berdedikasi tinggi di bidangnya, dengan membuat managemen handal di struktural hotel agar usaha hotel tersebut bisa berjalan dengan lancar.

Masing-masing dengan keahlian dan tanggung jawab nya, misalkan satu diantara nya EAM (Executive Assistant Manager). ini merupakan salah satu termasuk di dalam struktural managemen hotel. EAM itu adalah Executive Assistant Manager, dimana ia adalah assistant dari General Manager (GM). Tugasnya terkadang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan hotel tersebut.

“Misalnya saja seperti di Hotel Ayani di Banda Aceh. EAM membawahi department sales marketing jadi seluruh kegiatan marketing dan seluruh revenue hotel adalah tanggung jawab EAM itu sendiri,” ujar Nadya Anathassya melalui WhatsApp, Kamis (2/4) malam hari

Kemudian dilanjut Ibu satu anak ini, mengatakan seorang EAM haruslah mumpuni dibidangnya, karena dalam bidangnya dimana saja akan ada menemukan kendala-kendala dalam kerja. misalnya tidak sejalan atau tidak sepaham dengan rekan kerja ketika menjalankan kebijakan.

“Namun hal tersebut terkadang bisa muncul dikarenakan basic yang berbeda, dari berbagai department misalnya. Dan itu merupakan bagian dari kecakepan serta tanggungjawab seorang EAM untuk mencari solusi bagaimana cara harus menjelaskan, kepada yang tidak sepaham sehingga ada kesepakatan bersama apa-apa yang harus kita lakukan agar hotel mendapatkan revenue dengan maksimal atau sesuai dengan budget,” jelas Nadya.

Ditambahkan Nadya yang sudah tiga bulan menjadi EAM di Hotel Ayani Banda Aceh ini, “Saya bekerja di Hotel, memulai karir di tahun 2001 setelah tamat kuliah, dengan posisi telephone operator di front office department saat itu,”

“Jadi ada beberapa hotel yang sudah pernah menjadi tempat saya bekerja, antara lain Hotel Tiara Medan, Hotel Nikko Bali, JW Marriott Medan, Mercure Jakarta Kota dan lainnya. Tetapi sempat dua tahun vakum karena mengurus, jadi jika dihitung sampai tahun ini, kira-kira 16 tahun di dunia perhotelan,” ungkap Nadya yang pernah menjadi GM di Hotel Royal Idi, Aceh Timur.

Dan sebelumnya EAM di Hotel Ayani saya juga sudah pernah menjadi EAM di Griya Prapanca Apartment daerah kemang Jakarta selatan selama dua tahun.

Jadi selama posisi EAM yang pernah menjadi pencapaian yang saya perbuat, yaitu pernah ikut mentraining staff dalam hal Online Travel Agencies (OTA) dari mulai register sampai live, revenue di atas budget, training tentang make up room dan ikut sebagai pembicara di sekolah perhotelan tingkat SMA.

Nadya Anathassya seorang Executive Assistant Manager (EAM) di Hotel Ayani di Banda Aceh. (Foto. Ist)

Maka mengingat hal perkembangan industri perhotelan saat ini yang sangat pesat, perlu disikapi. Apa lagi di era digital, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi media promosi seperti media sosial yang berperan sangat penting mislakan bisa dijadikan media promosi.

Jadi makin tahun sebagai hotelier harus cepat tanggap tidak boleh gagap teknologi (gaptek) kalau tidak maka akan jauh ketinggalan. Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya di era 90-an. Pada saat itu ada beberapa hotel menawarkan sistem check in hotel secara manual seperti ketika kita di bandara. Berbeda dengan saat ini semua melalui digital.

“Maka diimbau dan diharapkan untuk anak-anak angkatan sekarang yang ingin terjun ke dunia perhotelan harus banyak membaca, melihat dan belajar perkembangan di era digital ini. Selain itu juga yang lebih penting lagi jangan lupa menjaga perilaku (attitude), karena itu yang nomer satu. Walaupun kita pintar, jika tidak dibarengi prilaku baik itu akan bisa sia-sia, karena perhotelan itu industri menyediakan pelayanan. Karena orang hotel itu tetap ketemu dan melayani tamu. Jika sekali anda melakukan bad attitude maka itu akan jadi referensi dan akan sulit mendapatkan kerja di hotel lainnya, maka bangunlah attitude yang baik dan positif” saran Nadya.

Masih dalam kesempatan yang sama Nadya berharap melihat kondisi saat ini  yang memprihatinkan, sedang berlangsungnya wabah virus Corona (covid-19) sehingga berdampak dengan perkembangan industri perhotelan, sehingga banyak hotel-hotel yang merumahkan karyawannya karena occupancy hotel sepi, membuat sebagian tamu-tamu yang berkunjung takut untuk datang disebabkan virus tersebut.

“Dan saya sangat berharap wabah virus corona (covid-19) ini, cepat dan segera selesai agar dunia pariwisata kita yang berdampak ke industri perhotelan bisa kembali terus berjalan lancar, di mana pendapatan negara kita juga banyak bersumber dari Pariwisata,” tutup Nadya. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *