Fleksibel Collaboration, Tiga Perupa Pamer Karya

 Fleksibel Collaboration, Tiga Perupa Pamer Karya
Tiga perupa: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja gelar pameran bersama “Refleksi Collaboration” di Tugu Kunstkring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, 21 Februari – 21 Maret 2018.

TUGU Kunstkring Paleis yang terletak di Jl. Teuku Umar No. 1, Menteng Jakarta Pusat relatif tidak terlalu sering dijadikan ajang pameran lukisan. Akan tetapi, hampir semua pameran lukisan yang diadakan di gedung tua peninggalan Belanda itu selalu berkualitas.

Nah, selama sebulan, dimulai tanggal 21 Februari dan berakhir 21 Maret 2018, Kunstkring kembali mengadakan pameran bertajuk “Fleksibal Collaboration”. Tiga perupa sudah selesai menjalani proses kurasi, dan siap memamerkan karya-karya terbaiknya. Mereka adalah: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja.

Edi Markas adalah pelukis kelahiran Surabaya, 12 April 1968. Ia pernah studi di Institut Kesenian Jakarta. Melukis sejak kecil dan sering menjuarai lomba lukis semasa sekolah. Sejak tahun 1990 aktif berpameran di berbagai tempat.

Sejak 1986, berturut-turut Edi pernah menggelar pameran di TIM, Galeri Nasional, Gallery Millenium, Ancol, Hotel Indonesia, Hotel Sahid, WTC, dan lain-lain. Sejumlah pameran tunggal pernah ia gelar di Siadja Gallery Ubud – Bali, Museum of Sampoerna, dan Arma Museum Ubud Bali, dan beberapa tempat lain. Tahun 2014, ia mendirikan komunitas “Lintas Rupa”.

Karya Edi Markas

Sementara, Revoluta S adalah pelukis yang lahir di Jakarta 30 April 1975. Ia belajar melukis dari ayah yang juga seorang pelukis bernama Syafri. Selebihnya ia belajar melukis secara otodidak. Ibarat pepatah, buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Sejumlah pameran bersama pernah dilakukan Revoluta. Antara lain pameran bersama di Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Heritage BI, Museum Indonsia, Balai Budaya, Koi Gallery Kemang, Ubud, TIM, dan lain-lain. Selain ikut mendirikan “Seniman Indonesia Baru”, Revoluta juga aktif mengajar melukis.

Karya Revoluta

Sedangkan, Sohieb Toyaroja adalah pelukis beraura maestro. Pria gondrong kelahiran Kediri tahun 1968 itu, bukan “pelukis sekolahan”. Teknik melukis ia dapat dari seorang gurunya sewaktu duduk di bangku SMP. Setelah itu, ia mengembara dan mencari jati diri. Pernah tinggal di Bali, Jakarta, Batam… kemudian memutuskan menetap di Jakarta dengan membuka Sanggar Galih sebagai workshop sekaligus galeri mininya, di bilangan Cinere, Jakarta Selatan, bersma beberapa perupa, di antaranya Sahyo, Pamuji, Afrizal, dll.

Karya Sohieb Toyaroja

Sejumlah pameran bersama dilakoni sejak tahun 1999 di Sari Pan Pacific, Jakarta. Berturut-turut kemudian di Batam, Hotel Sahid Jakarta, Hotel Millenium Jakarat, Hotel Crown Jakarta, Smesco Jakarta, Gandaria City Jakarta, Galeri Cipta II TIM, Museum Basuki Abdullah, Gallery Yulian Kemang, Grand Kemang, dan lain-lain. Ia bahkan pernah juga pameran bersama di Kunstkring tahun 2014.

Tiga kali pameran tunggal, dilakukan pertama tahun 2010 dalam titel “The Name of Flowers” di Galeri Tembi, Yogyakarta. Kemudian tahun 2016, Sohieb kembali pameran tunggal di Kunstkring Paleis Jakarta dengan titel “The Spiritual Journey”. Terakhir, tahun 2017, menggelar pameran tunggal akbar, “72 Tokoh dan 7 Presiden” di Epicentrum, Jakarta.

Kini, tahun 2018, Sohieb Toyaroja bersama Revoluta dan Edi Markas terpilih oleh Kunstkring Paleis untuk memamerkan karya-karya terbaiknya. Pameran ini sedianya akan dibuka oleh aktris, presenter, politisi sekaligus sosialita, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.