Fragment Kini Hingga Esok

Frigidanto Agung

Tulisan ini menjadi bagian dari katalog pameran lukisan tunggal “Borobudur” The Way of Life oleh Sohieb Toyaroja. Pameran berlangsung di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat hingga akhir Agustus 2025.

***

Eksplorasi visual merupakan kerja menyeluruh dari tahapan sebelum kerja melukis dilakukan. Bagian terpenting dari proses pencarian gagasan adalah keterlibatan pemikiran. Keseluruhan proses tersebut kemudian melahirkan ‘jiwa’ dalam lukisan.

Apa yang terjadi dalam pencarian gagasan sebelum melukis? Pilihan dan pilahan visual yang hendak dituang di atas kanvas. Sohieb Toyaroja melakukan proses memilih dan memilah visual saat menemukan konsep melukis.

Menampakkan jiwa “ketok” (terlihat) dalam ranah visual, terutama lukisan, membutuhkan keutuhan tinggi terhadap obyek lukisan yang sudah ada. Totalitas Sohieb tampak di sini. Gambar yang muncul di atas kanvas terlihat estetis.  Di situlah perjuangan menampakkan estetika. Pendalaman konsep menandakan jiwa “kethok” yang merasuk dalam jiwa si pelukis. Sohieb mempunyai ketajaman dalam membentuk visual dari lukisan yang dibuatnya agar tampak berjiwa. Demikianlah yang terlihat dalam gelar karya kali ini.

***

Acap kali, pemindahan visual (foto) ke bentuk lukisan, disepelekan, alih-alih “copy paste”. Dalam konteks objek visual situs bersejarah sebesar Candi Borobudur, sikap meremehkan proses pendalaman dan penjiwaan adalah sikap yang “sembrono”.

Seorang Sohieb harus melarutkan emosi dan imaji pada abad ke-8, saat raja Samaratungga dari dinasti Syailendra membangun candi, yang hingga hari ini tercatat sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Sohieb bahkan membenamkan diri pada banyak literasi tentang Borobudur. Termasuk “ngangsu kaweruh” kepada peneliti, jurnalis, akademisi, tokoh Buddha, demi memperdalam –sekaligus mempertajam—visinya tentang objek yang hendak dilukis.

Saat ia memindahkan objek visual berupa relief candi, jiwanya telah terpenuhi landasan filosofis dan historis. Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, lengkap dengan relief dekoratif simbolis dan relief naratif yang menceritakan kisah-kisah keagamaan Buddha.

Karakter Buddha, 120cm x 270cm, Oil on Canvas, 2025

Kerja belum selesai sampai di situ. Sohieb, pelukis kelahiran Kediri, Jawa Timur, menggugah karyanya yang penuh konsep itu dengan penekanan pada bidang tertentu. Karya-karya yang terpajang pada pameran ini memuat keseluruhan tentang bagaimana proses Sohieb memindahkan gambar, proses mimesis, yang melahirkan impresi berbeda. Karya-karya yang menunjukkan kedalaman penjiwaan seorang pelukis.

Melalui warna, hitam, putih dan sedikit kecoklatan, Sohieb bermain tentang sudut pandang itu. Seperti yang terlihat dalam gambar yang terlukis dalam bidang kanvasnya. Melihat beberapa lukisannya tampak sudut pandang yang disorot Sohieb menunjukkan ketajaman batinnya. Anda boleh menyebutnya sebagai “point of interest”, tetapi saya lebih senang menyebutnya sebagai “soul” atau jiwa lukisan.

Pada beberapa karya, “jiwa” tadi termanifestasi ke dalam pewarnaan yang lebih terang di objek tertentu dalam relief.

Hal ini menunjukan bahwa apa yang dibuat Sohieb bukan peniruan semata, tetapi konseptualisasi terhadap apa yang dikehendaki terhadap gambar atau foto yang dia temukan.

Sohieb Toyaroja

Pada beberapa karya, “jiwa” tadi termanifestasi ke dalam pewarnaan yang lebih terang di objek tertentu dalam relief. Hal ini menunjukan bahwa apa yang dibuat Sohieb bukan peniruan semata, tetapi konseptualisasi terhadap apa yang dikehendaki terhadap gambar atau foto yang dia temukan.

Sohieb menawarkan estetika pada gambar dengan cerdas. Bisa jadi, pengamatan sekilas pandang, akan membuat audiens gagal menemukan “jiwa” dalam karya Sohieb.

Simpul yang menarik dari konsep-konsep lukisan Sohieb adalah “mata kamera” yang digunakan Sohieb untuk mempertajam gambar. Sesungguhnya keterampilan menggunakan pisau palet yang dikuasainya memperjelas gurat-gurat lukisan yang diinginkan.

Sohieb berusaha membuat komunikasi visual lebih mudah dimengerti tanpa harus mempertanyakan subyek lukisan. Sohieb mencoba menarik kedalaman jiwa gambar ke dalam bidang lukisnya, sehingga muncul jiwa “ketok” tanpa harus mengubah gambar atau foto yang ditemukan sebagai sumber literatur yang hendak dia sampaikan sebagai keutuhan konsepnya.

Jakarta, Mei 2025
Frigidanto Agung,
Kurator dan Penulis Seni Rupa

“Menemukan” Kembali Borobudur

Oleh Pahrur Dalimunthe, DNT Lawyers

Catatan Redaksi
Berikut adalah tulisan Pahrur Dalimunthe yang didedikasikan untuk pelukis Sohieb Toyaroja. Sejak 12 Juli 2025, Sohieb memamerkan sembilan karya relief Borobudur di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat. Pamerran akan berlangsung hingga 12 Agustus 2025.

***

Perkenalan saya dengan Sohieb bermula sejak 10 tahun yang lalu. Kali pertama melihat lukisannya, saya tahu bahwa Sohieb adalah seorang seniman luar biasa. Lukisan itu tidak hanya sekedar sapuan kuas pada sebidang kanvas, melainkan sebuah ‘ruang’ kehidupan yang diciptakan oleh Sohieb yang mengundang saya untuk masuk lebih dalam dan menggali gagasannya.

Sebagai seorang lawyer yang tak mampu berbicara banyak tentang teknik melukis, saya beranggapan bahwa lukisan Sohieb yang sederhana, justru menampilkan subjek dan materi yang kompleks serta jauh dari kesan sederhana. Ada ruh dan jiwa yang hidup dalam semua bentuk dan warna-warna yang ditampilkan oleh Sohieb. Ada kedalaman narasi yang berbicara tentang spiritualitas, harapan, dan konsistensi yang khas dari seorang Sohieb yang mampu tertangkap dan dipahami tiap audiens walau tanpa kata-kata.

Hal itulah yang selalu membuat saya tertegun dan merenung tiap kali datang untuk menikmati deretan karya lukisnya. Tak ayal beberapa karya besar Sohieb pun akhirnya menempati beberapa ruang di kantor saya, DNT Lawyers. Bukan sebagai pajangan karya seni, melainkan sebagai sebuah konektor yang mengingatkan saya tentang begitu dekatnya profesi sebagai praktisi hukum dengan seni yang saling berinteraksi dalam membentuk budaya hukum dengan menampilkan sikap menaati, menentang, dan berpartisipasi dalam penengakan hukum.

Kiri: Lukisan Pahrur Dalimunthe karya Sohieb Toyaroja (kanan).

Maka ketika Sohieb mengajak saya untuk terlibat dalam pameran “Borobudur: The Way of Life” ini, saya tak memiliki keraguan sedikit pun untuk mendukungnya.

Bagi kebanyakan orang, Borobudur terpandang sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia dengan menyandang gelar candi Buddha terbesar di dunia. Barangkali Borobudur masih menjadi sekedar simbol kejayaan dan keagungan masa lalu. Meski tak diragukan bahwa ia juga adalah mahakarya dari kebijaksanaan Indonesia kuno.

Dibangun pada kisaran 824 Masehi, Borobudur adalah magnum opus ayah dan putri kesayangannya, Maharaja Samaratungga dan Putri Mahkota Pramodhawardhani yang berasal dari dinasti Syailendra dan memimpin Mataram kuno sebagai Kerajaan Budha terbesar di Pulau Jawa.

Sempat terabaikan sejak abad ke-10 Masehi dan baru ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles di abad ke-19 Masehi, Borobudur “hilang” selama hampir 900 tahun di bawah timbunan abu vulkanik dan lebatnya hutan belantara. Upaya mengembalikan kejayaan Borobudur dimulai di abad ke-20 oleh para arkeolog Belanda.

Meski enggan mengakui, masyarakat Indonesia berhutang jasa besar pada bangsa penjajah yang telah menginisiasi revitalisasi Borobudur setelah diabaikan ratusan tahun oleh warga lokal yang justru menganggap bangunan megah itu sebagai sebuah timbunan batu kuno semata.

Belajar dari eskavasi Borobudur dan penggalian situs-situs besar lainnya seperti Trowulan, situs-situs purbakala kerap diabaikan, tidak dipedulikan, bahkan dianggap tidak memiliki signifikansi apapun dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang banyak pihak justru menganggap keberadaan situs bersejarah tersebut sebagai penghalang kemajuan modern.

“Samodra Raksa”, salah satu karya masterpiece yang dipamerkan.

Ketika situs-situs tersebut telah dipugar dan direvitalisasi, situs tersebut kerap difungsikan sebagai sekedar tempat wisata, wahana yang dianggap dapat mengundang pemasukan ekonomi dengan mendatangkan turis-turis yang berhasrat melihat reruntuhan dan bangunan bersejarah. Di era media sosial, mengunjungi situs bersejarah sering dipandang sebagai pencarian tempat pemotretan eksotik dan estetik untuk mempercantik laman postingan agar tampak instagramable.

Banyak yang lupa, situs-situs ini menyimpan pelajaran dan kearifan yang lama hilang dan terlupakan. Kearifan dan pengetahuan yang justru sangat dibutuhkan manusia modern dalam menjalani kehidupan yang serba tak pasti di tengah pesatnya perubahan dunia akibat perubahan geopolitik dan perkembangan teknologi.

Lewat pameran ini, Sohieb ingin “menemukan” kembali Borobudur yang luput dari pandangan awam. Borobudur bukan sekedar tentang menceritakan relief Ramayana yang menjadi sorotan lantaran epos ini merupakan yang paling umum dikenal. Borobudur bukan pula sekedar bangunan berundak-undak dikelilingi stupa berbentuk mandala nan megah.

Terlalu banyak sudut-sudut relief Borobudur yang belum terjamah, yang mengguratkan cerita tentang kehidupan yang jarang atau bahkan belum diketahui. Cerita-cerita tersebut masih menjadi enigma.

Oleh karenanya, Sohieb menampilkan seklumit pengetahuan dan misteri tersebut dalam setiap guratan lukisannya. Ada “penemuan” baru yang terkuak tentang Borobudur yang menjadi sumber kebijaksanaan dan pengetahuan.

Maka dari itu kepada yang ingin mempelajari kebijaksanaan hidup Borobudur, selamat menikmati pameran ini. Selamat menyelami rahasia tersembunyi Borobudur yang berhasil diungkap oleh Sohieb.

Selamat menemukan kembali Borobudur. (*)

Fleksibel Collaboration, Tiga Perupa Pamer Karya

Tiga perupa: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja gelar pameran bersama “Refleksi Collaboration” di Tugu Kunstkring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, 21 Februari – 21 Maret 2018.

TUGU Kunstkring Paleis yang terletak di Jl. Teuku Umar No. 1, Menteng Jakarta Pusat relatif tidak terlalu sering dijadikan ajang pameran lukisan. Akan tetapi, hampir semua pameran lukisan yang diadakan di gedung tua peninggalan Belanda itu selalu berkualitas.

Nah, selama sebulan, dimulai tanggal 21 Februari dan berakhir 21 Maret 2018, Kunstkring kembali mengadakan pameran bertajuk “Fleksibal Collaboration”. Tiga perupa sudah selesai menjalani proses kurasi, dan siap memamerkan karya-karya terbaiknya. Mereka adalah: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja.

Edi Markas adalah pelukis kelahiran Surabaya, 12 April 1968. Ia pernah studi di Institut Kesenian Jakarta. Melukis sejak kecil dan sering menjuarai lomba lukis semasa sekolah. Sejak tahun 1990 aktif berpameran di berbagai tempat.

Sejak 1986, berturut-turut Edi pernah menggelar pameran di TIM, Galeri Nasional, Gallery Millenium, Ancol, Hotel Indonesia, Hotel Sahid, WTC, dan lain-lain. Sejumlah pameran tunggal pernah ia gelar di Siadja Gallery Ubud – Bali, Museum of Sampoerna, dan Arma Museum Ubud Bali, dan beberapa tempat lain. Tahun 2014, ia mendirikan komunitas “Lintas Rupa”.

Karya Edi Markas

Sementara, Revoluta S adalah pelukis yang lahir di Jakarta 30 April 1975. Ia belajar melukis dari ayah yang juga seorang pelukis bernama Syafri. Selebihnya ia belajar melukis secara otodidak. Ibarat pepatah, buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Sejumlah pameran bersama pernah dilakukan Revoluta. Antara lain pameran bersama di Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Heritage BI, Museum Indonsia, Balai Budaya, Koi Gallery Kemang, Ubud, TIM, dan lain-lain. Selain ikut mendirikan “Seniman Indonesia Baru”, Revoluta juga aktif mengajar melukis.

Karya Revoluta

Sedangkan, Sohieb Toyaroja adalah pelukis beraura maestro. Pria gondrong kelahiran Kediri tahun 1968 itu, bukan “pelukis sekolahan”. Teknik melukis ia dapat dari seorang gurunya sewaktu duduk di bangku SMP. Setelah itu, ia mengembara dan mencari jati diri. Pernah tinggal di Bali, Jakarta, Batam… kemudian memutuskan menetap di Jakarta dengan membuka Sanggar Galih sebagai workshop sekaligus galeri mininya, di bilangan Cinere, Jakarta Selatan, bersma beberapa perupa, di antaranya Sahyo, Pamuji, Afrizal, dll.

Karya Sohieb Toyaroja

Sejumlah pameran bersama dilakoni sejak tahun 1999 di Sari Pan Pacific, Jakarta. Berturut-turut kemudian di Batam, Hotel Sahid Jakarta, Hotel Millenium Jakarat, Hotel Crown Jakarta, Smesco Jakarta, Gandaria City Jakarta, Galeri Cipta II TIM, Museum Basuki Abdullah, Gallery Yulian Kemang, Grand Kemang, dan lain-lain. Ia bahkan pernah juga pameran bersama di Kunstkring tahun 2014.

Tiga kali pameran tunggal, dilakukan pertama tahun 2010 dalam titel “The Name of Flowers” di Galeri Tembi, Yogyakarta. Kemudian tahun 2016, Sohieb kembali pameran tunggal di Kunstkring Paleis Jakarta dengan titel “The Spiritual Journey”. Terakhir, tahun 2017, menggelar pameran tunggal akbar, “72 Tokoh dan 7 Presiden” di Epicentrum, Jakarta.

Kini, tahun 2018, Sohieb Toyaroja bersama Revoluta dan Edi Markas terpilih oleh Kunstkring Paleis untuk memamerkan karya-karya terbaiknya. Pameran ini sedianya akan dibuka oleh aktris, presenter, politisi sekaligus sosialita, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo. ***