Connect with us

Kabar

“Menemukan” Kembali Borobudur

Published

on

Wamenaker Imanuel Ebenezer, Pahrur Dalimunthe, Sohieb Toyaroja

Oleh Pahrur Dalimunthe, DNT Lawyers

Catatan Redaksi
Berikut adalah tulisan Pahrur Dalimunthe yang didedikasikan untuk pelukis Sohieb Toyaroja. Sejak 12 Juli 2025, Sohieb memamerkan sembilan karya relief Borobudur di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat. Pamerran akan berlangsung hingga 12 Agustus 2025.

***

Perkenalan saya dengan Sohieb bermula sejak 10 tahun yang lalu. Kali pertama melihat lukisannya, saya tahu bahwa Sohieb adalah seorang seniman luar biasa. Lukisan itu tidak hanya sekedar sapuan kuas pada sebidang kanvas, melainkan sebuah ‘ruang’ kehidupan yang diciptakan oleh Sohieb yang mengundang saya untuk masuk lebih dalam dan menggali gagasannya.

Sebagai seorang lawyer yang tak mampu berbicara banyak tentang teknik melukis, saya beranggapan bahwa lukisan Sohieb yang sederhana, justru menampilkan subjek dan materi yang kompleks serta jauh dari kesan sederhana. Ada ruh dan jiwa yang hidup dalam semua bentuk dan warna-warna yang ditampilkan oleh Sohieb. Ada kedalaman narasi yang berbicara tentang spiritualitas, harapan, dan konsistensi yang khas dari seorang Sohieb yang mampu tertangkap dan dipahami tiap audiens walau tanpa kata-kata.

Hal itulah yang selalu membuat saya tertegun dan merenung tiap kali datang untuk menikmati deretan karya lukisnya. Tak ayal beberapa karya besar Sohieb pun akhirnya menempati beberapa ruang di kantor saya, DNT Lawyers. Bukan sebagai pajangan karya seni, melainkan sebagai sebuah konektor yang mengingatkan saya tentang begitu dekatnya profesi sebagai praktisi hukum dengan seni yang saling berinteraksi dalam membentuk budaya hukum dengan menampilkan sikap menaati, menentang, dan berpartisipasi dalam penengakan hukum.

Kiri: Lukisan Pahrur Dalimunthe karya Sohieb Toyaroja (kanan).

Maka ketika Sohieb mengajak saya untuk terlibat dalam pameran “Borobudur: The Way of Life” ini, saya tak memiliki keraguan sedikit pun untuk mendukungnya.

Bagi kebanyakan orang, Borobudur terpandang sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia dengan menyandang gelar candi Buddha terbesar di dunia. Barangkali Borobudur masih menjadi sekedar simbol kejayaan dan keagungan masa lalu. Meski tak diragukan bahwa ia juga adalah mahakarya dari kebijaksanaan Indonesia kuno.

Dibangun pada kisaran 824 Masehi, Borobudur adalah magnum opus ayah dan putri kesayangannya, Maharaja Samaratungga dan Putri Mahkota Pramodhawardhani yang berasal dari dinasti Syailendra dan memimpin Mataram kuno sebagai Kerajaan Budha terbesar di Pulau Jawa.

Sempat terabaikan sejak abad ke-10 Masehi dan baru ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles di abad ke-19 Masehi, Borobudur “hilang” selama hampir 900 tahun di bawah timbunan abu vulkanik dan lebatnya hutan belantara. Upaya mengembalikan kejayaan Borobudur dimulai di abad ke-20 oleh para arkeolog Belanda.

Meski enggan mengakui, masyarakat Indonesia berhutang jasa besar pada bangsa penjajah yang telah menginisiasi revitalisasi Borobudur setelah diabaikan ratusan tahun oleh warga lokal yang justru menganggap bangunan megah itu sebagai sebuah timbunan batu kuno semata.

Belajar dari eskavasi Borobudur dan penggalian situs-situs besar lainnya seperti Trowulan, situs-situs purbakala kerap diabaikan, tidak dipedulikan, bahkan dianggap tidak memiliki signifikansi apapun dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang banyak pihak justru menganggap keberadaan situs bersejarah tersebut sebagai penghalang kemajuan modern.

“Samodra Raksa”, salah satu karya masterpiece yang dipamerkan.

Ketika situs-situs tersebut telah dipugar dan direvitalisasi, situs tersebut kerap difungsikan sebagai sekedar tempat wisata, wahana yang dianggap dapat mengundang pemasukan ekonomi dengan mendatangkan turis-turis yang berhasrat melihat reruntuhan dan bangunan bersejarah. Di era media sosial, mengunjungi situs bersejarah sering dipandang sebagai pencarian tempat pemotretan eksotik dan estetik untuk mempercantik laman postingan agar tampak instagramable.

Banyak yang lupa, situs-situs ini menyimpan pelajaran dan kearifan yang lama hilang dan terlupakan. Kearifan dan pengetahuan yang justru sangat dibutuhkan manusia modern dalam menjalani kehidupan yang serba tak pasti di tengah pesatnya perubahan dunia akibat perubahan geopolitik dan perkembangan teknologi.

Lewat pameran ini, Sohieb ingin “menemukan” kembali Borobudur yang luput dari pandangan awam. Borobudur bukan sekedar tentang menceritakan relief Ramayana yang menjadi sorotan lantaran epos ini merupakan yang paling umum dikenal. Borobudur bukan pula sekedar bangunan berundak-undak dikelilingi stupa berbentuk mandala nan megah.

Terlalu banyak sudut-sudut relief Borobudur yang belum terjamah, yang mengguratkan cerita tentang kehidupan yang jarang atau bahkan belum diketahui. Cerita-cerita tersebut masih menjadi enigma.

Oleh karenanya, Sohieb menampilkan seklumit pengetahuan dan misteri tersebut dalam setiap guratan lukisannya. Ada “penemuan” baru yang terkuak tentang Borobudur yang menjadi sumber kebijaksanaan dan pengetahuan.

Maka dari itu kepada yang ingin mempelajari kebijaksanaan hidup Borobudur, selamat menikmati pameran ini. Selamat menyelami rahasia tersembunyi Borobudur yang berhasil diungkap oleh Sohieb.

Selamat menemukan kembali Borobudur. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement