Tujuh Bidadari Mencari Spot Selfie

 Tujuh Bidadari Mencari Spot Selfie
Tujuh “bidadari” Jayakarta News. Dari kiri: Rina Ginting, Irawati, Latifah, Elty, Syahdina, Dini, dan Melva. (foto: rina g)

JAYAKARTA NEWS – Perjalanan HUT ke-2 Jayakarta News Goes to Jogja, 1-4 Februari 2019, makin sempurna dengan kisah ‘melipir’ ke Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Perjalanan tujuh ‘putri’ Jayakarta News pada Minggu siang, 3 Februari 2019 itu bukan study tour seperti para siswa yang saat itu ada di bangunan nan agung itu. Ke-7 perempuan cantik bak bidadari turun dari Khayangan ini, adalah turis lokal yang memang ingin melihat, mengagumi, sekaligus menciptakan foto-foto elok untuk dibagi di dunia maya.

Perkenalkan, ketujuh bidadari Jayakarta News yang turun ke bumi Keraton Yogya adalah: Penulis sendiri (Melva) sebagai bidadari wajah berseri-seri, kak Rina Ginting sebagai bidadari sadar kamera, mbak Dini sebagai bidadari pandai bergaya, mbak Dina sebagai bidadari cantik jelita, Elty sebagai bidadari kembang khayangan, mbak Ira sebagai bidadari lembut hati, dan mbak Latifah sebagai bidadari manis manja. (Maaf ya man-teman…. just kidding…..)

Zaman canggih begini, feeling harus peka. Di mana pun berada, ambil foto dan posting di medsos. Bahkan, sekalipun berada di tempat yang kurang asyik, bisa jadi menyenangkan asal dibarengi senyum lebar dan berpura-pura bahagia… ha… ha… ha…..

Apalagi, di tempat ini, di keraton ini. Berada di situs megah Istana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, ikon-nya Kota Yogya, adalah kesempatan langka yang harus dimaksimalkan. Maksudnya, maksimal dalam urusan bergaya di depan kamera.

Boleh percaya, tidak percaya kebangetan…. setelah melihat hasil jepretan kamera kak Rina Ginting, kami semua takjub, hasilnya sungguh luar biasa. Aura kecantikan kami seperti muncul bak putri-putri jelita dari keraton. Tidak percaya? Lihatlah dua foto berikut ini:

Dari kiri: Syahdina, Melva, Dini, Rina, Elty, Latifah, dan Irawati. (foto: rina g)
Lihatlah, Rina yang memegang kamera, dan para bidadari bergaya laiknya baru turun ke bumi, dengan sayap yang masih terkepak. (foto: rina g)

Riwayat Singkat Keraton Yogya

Dalam brosur yang tersedia di loket retribusi, disebut Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, namun umumnya diucapkan dan ditulis dengan Keraton Yogyakarta. Didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1775. Kemudian, resmi dibuka untuk umum pada 1 Oktober 1969 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, agar masyarakat bisa melihat kebudayaan dan tradisi keraton dari dekat. Hingga saat ini, keraton adalah tempat tinggal sultan dan masih lestari menjalankan tradisi.

Memperhatikan bangunan nan megah ini, akan tersirat betapa Indonesia sejak dahulu, mempunyai kebudayaan yang tinggi. Struktur bangunan dengan arsitektur Jawa yang rumit dan segala macam ornamen yang penuh makna, menunjukkan kebudayaan tinggi nenek moyang kita.

Sebagaimana makna sesungguhnya dari Keraton, yaitu lebih dari sekadar istana raja. Bukan sekadar tempat tinggal raja yang berkuasa. Istana bukan keraton. Tapi keraton adalah istana yang mengandung arti keagamaan, filsafat, dan kebudayaan. Keraton berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang sangat esensi, yaitu “Sangkan Paraning Dumadi” berarti “dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati”. Dan, Keraton Yogyakarta penuh dengan makna ini bila kita lihat dari arsitektur bangunan, letak bangsal-bangsal, ukiran-ukiran, hiasan, dan pewarnaan pada tiap-tiap bagian.

Masuk area keraton, Jayakarta News langsung menuju Bangsal Pagelaran. Di bangsal ini terdapat ruangan kaca yang diisi manekin-manekin sultan dan keluarga, manekin prajurit, serta manekin yang menggambarkan prosesi pernikahan. Dari ruang ini tergambar busana keluarga sultan yang menggambarkan mana sultan, mana permaisuri, mana putra pangeran, mana putri sultan, mana emban (pengasuh), dan kerabat kesultanan lain. Bahkan, pada sisi yang lain, terdapat gambaran prosesi pernikahan keluarga sultan, prosesi dan busana khitanan pangeran, dan lain-lain.

Di deretan prajurit keraton yang acap disebut bregada (bisa jadi bermakna brigade, satuan pasukan di bawah divisi yang berkekuatan sekitar 3.000 – 5.000 prajurit – pen) dengan nama dan busana khas yang menjadi ciri bregada masing-masing. Di antaranya Bregada Bugis (dulunya memang terdiri dari orang-orang Bugis, Sulawesi Selatan), Bregada Surakarsa, Bregada Wirabraja, Bregada Dhaeng (dari kata Daeng, yang juga dulunya berasal dari Sulawesi Selatan), Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawiratama, Bregada Nyutra, Bregada Ketanggung, dan Bregada Mantrijero.

Nama-nama Bregada sekaligus menjadi nama perkampungan mereka. Bregada Bugis disebut Bugisan, Surakarsa disebut Surakarsan, Wirabraja disebut Wirabrajan, Dhaeng disebut Ndaengan, Patangpuluhan, Jagakaryan, Prawirotaman, Nyutran, Ketanggungan, dan Mantrijeron.

Menuju ke selatan, kita akan melewati dua buah bangsal kecil di kiri dan kanan, yang disebut Bangsal Pacikeran. Bangsal ini digunakan bagi abdi dalem Singonegoro dan Mertolutut (sebutan bagi abdi-dalem algojo Kraton). Tempat ini menjadi tempat foto-foto para pengunjung. Kami pun melakukannya.

Dari sini, masuk ke Bangsal Manguntur Tangkil. Di tengah bangsal ini terdapat batu persegi atau Selo Gilang yang dipergunakan untuk meletakkan singgasana Sultan ketika berlangsng upacara penobatan serta pada waktu digelarnya Pisowanan Agung. Di bangsal ini pula pada 17 Desember 1949 Ir Soekarno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar.

Adapun luas Keraton Yogyakarta adalah 14.000 meter persegi. Tidak semua bagian dijelajahi. Namun, kunjungan singkat ini menjadi kenangan indah tersendiri. Kebersamaan dan keceriaan bergaya cantik saat foto-foto di beberapa bagian keraton, tentu menjadi ‘sejarah’ tersendiri bagi kami, para “bidadari” Jayakarta News. Berkah Dalem Jayakarta News….. (melva tobing)

Berfoto di depan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. (foto: rina g)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *