Djaka Lodang, Menolak Jadi Pecundang

 Djaka Lodang, Menolak Jadi Pecundang

R. Bambang Nursinggih, S.Sn membacakan “kidung donga” memperingati 49 tahun majalah berbahasa Jawa “Djaka Lodang” sekaligus meluncuran website jakalodang.com. (foto: ist)

Jayakarta News – Hidup segan mati tak mau, begitulah nasih sejumlah majalah berbahasa Jawa. Kondisi yang kurang lebih sama, juga dialami oleh majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang. Meski begitu, majalah yang terbit di Yogyakarta ini menolak jadi pecundang.

Terbit 1 Juni 1971, artinya saat ini sudah berusaia 49 tahun. Momentum jelang setengah abad, majalah itu mengibarkan inovasi peluncuran websita www.jakalodang.com. Oleh pendiri dan para punggawanya, inovasi tersebut didedikasikan bagi usaha aktualisasi terhadap perkembangan zaman.

Media Djaka Lodang Online diluncurkan tanggal 2 Juni 2020, dikaitkan dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila dan halal bihalal 1441 Hijriyah. Salah satu pengisi acara adalah R. Bambang Nursinggih, S.Sn, seorang pemerhati kebudayaan Jawa, sastrawan Jawa, juru beksa penulis dan juru dongeng.

Bambang membawakan kidung donga berbahasa Jawa berjudul “Kidung Kepyakan Djaka Lodang Online”. Begini kidung lengkapnya:

Kidung Kepyakan Djaka Lodang Online

Dening: R. Bambang Nursinggih, S. Sn.

Nadyan negara lagi prihatin, kambah ambah-ambah COVID-19// kang mahanani pangupa jiwa, panguripane gotrah susah // Kalawarti Djaka Lodang gumregah, panggah gagah jumangkah // Leladi sutresna lan pamaose, asung panglipur lan warta amrih ora semplah //  Mahanani  Djaka Lodang kalawarti Basa Jawa rahayu widada //  niskala adoh saka sapu dhendha klawan tulah sarik

Djaka Lodang kalawarti Basa Jawa, mangka kawah candradimuka // lan wadhah kanggo gladhen megar mekare kabudayan Jawa // mligine kasusastran, datan ngemot Warta Ngayawara // Temah bisa ambuka wiwara kaptine sutresna kang maos, // nggennya nyecep ngelmi ing kalawarti nyaring warta kanthi tliti // mahanani cipta, karsa lan rasane para maos mongkog

Kacihna kalawarti Djaka Lodang ing ambalwarsane kang ka-49 // Nglenggana lamun jamane wis maju, amrih tan kepancal jaman, // nuli ngenut ombyake kahanan, kanthi ngepyakake Djaka Lodang Online, // pamrihe nggampangake bebadan Djaka Lodang anggone sesambungan // klawan sutresnane gangsar tanpa pepalang // Kanthi ngugemi pamrayogane pamarentah, // Resikan ora sanja-sinanjan lan cedhak-cedhakan, // nanging lumantar piranti kang aran media sosial

 Sarehne pengetan ambalwarsane kang ngancik setengah abad // Tan lali kalawarti Djaka Lodang mengeti laire Pancasila dhasare negara 1 Juni, // lan ambalwarsane isih ana ing wektu sasi Sawal, kalawarti Djaka Lodang  // tan ninggal adat kang wis kelumrah ya kuwi ngadani Halal bi halal

Buuul, kabul, kabula, // sedya luhure kalawarti Djaka Lodang ngepyakake Djaka Lodang Online // kang mungguh, ngukup kanugrahan kang nirmala, ndayani minangka // papan megar mekare kabudayan Jawa kang resep // lan kuwagang mambengi Warta Ngayawara // kang sengaja gawe gendra, ngrusak adab budayane bangsa, // uga mangka sumbering wur kang sempulur // mahanani mulyane kulawangsa bebadan Djaka Lodang

Minomartani, 1 Juni 2020

Pendiri Djaka Lodang, Abdullah Purwodarsono (kiri) dan Bambang Nursinggih (kanan). (foto: ist)

Sekilas Djaka Lodang

Mengutip situs jogja.suara.com, tersingkap sejarah menarik Djaka Lodang yang berjaya di tahun 90-an. Saat itu, banyak orang yang meramalkan bacaan demi peruntungan, hingga oplah mencapai 20 ribu per minggu. Banyak tulisan Djaka Lodang ditafsir menjadi kode buntut atau judi togel.

Menempati kantor di Jalan Patehan Nomor 29 Kota Yogyakarta majalah ini masih memiliki pelanggan setia, meski usia pelanggan rata-rata generasi manula. Abdullah Purwodarsono, adalah satu (di antara dua) pendiri yang masih hidup dan menggulirkan majalah ini.

Hampir setiap hari, Senin hingga Jumat, Abdullah menghabiskan waktu untuk membaca dan mengoreksi tulisan kiriman wartawan maupun kontributor. Akibat kesibukan mengoreksi tulisan, ia sendiri mengaku jadi jarang menulis.

Pria berusia 90 tahun itu cukup dikenal sebagai perawat bahasa Jawa yang dilestarikannya melalui Djaka Lodang. Ia adalah pensiunan guru SMA Negeri 2 Yogyakarta. Kariernya sebagai penulis dimulai dengan menjadi kontributor di majala berbahasa Jawa Kembang Brayan, yang terbit di Yogya.

Sejak ia rajin menulis, oplah majalah itu merangkak naik hingga 3.000 eksemplar. Tetapi, satu saat harus berhenti terbit karena mis-manajemen.

Atas desakan sejumlah teman, ia menggandeng sahabatnya Koeswandi, seorang pemimpin percetakan ternama di Yogya. Keduanya sepakat mendirikan Yayasan Kartika Sakti, dan menerbitkan majalah Djaka Lodang tahun 1971. Abdullah mengurus redaksional, Koeswandi mengurus produksi. Koeswandi sendiri sudah wafat tahun 2002.

Abdullah dan Koeswandi yang mencetuskan nama Djaka Lodang yang diadaptasi dari karangan Pujangga Jawa, Rangga Warsita. Awal penerbitannya, sempat kena sindir.

Protes melalui tulisan dalam koran mingguan Pelopor Yogya bertajuk: ‘Hidup dari perpecahan dalam perpecahan, didominasi parpol tertentu dan dibiayai Jenderal Surono Rp 200.000’, pun dituai Djaka Lodang di masa awalnya melangkah.

Salah satu cover majalah Djaka Lodang. (ist)

Banyak yang mengira Djaka Lodang berhubungan dengan kepentingan politik, karena hadir bertepatan di masa tenang Pemilu yang digelar kali pertama pada masa Pemerintah Orde Baru di Tahun 1971. Selain itu, kehadiran Djaka Lodang kerap dikaitkan dengan kelompok. Pun dikaitkan dengan perpecahan yang dialami ‘saudara tuanya’, Kembang Brayan.

Bukannya kesal, Abdullah justru senang dengan pemberitaan ‘miring’ tersebut. Bagi Abdullah, pemberitaan tersebut adalah iklan gratis yang bisa menaikkan pamor Djaka Lodang.

Pada masa awal kehadirannya, Djaka Lodang memilih berkantor di Taman Hiburan Rakyat (THR), Yogyakarta yang saat itu dijadikan terminal. Bukan tanpa sebab lokasi tersebut dipilih di masa-masa awal membangun citraan majalah tersebut.

“Setahun kita berkantor di THR. Orang yang naik turun bus pasti lihat kantor Djoko Lodang, jadi mereka bisa beli,” katanya.

Sebagai media massa yang baru terbit, Djaka Lodang memiliki satu rubrik unggulan yang hingga kini tetap legendaris, Jagading Lelembut. Rubrik yang memuat cerita mistis dan mitos ini langsung digandrungi pembaca Djaka Lodang kala itu dan bertahan hingga kini.

Banyak orang menaruh perhatian dengan cerita dalam rubrik tersebut. Bahkan, konon rubrik bertema horor ini menjadi yang pertama di dunia pers Indonesia.

Dari tabloid delapan halaman, Djaka Lodang bertransformasi menjadi selembar koran dan puncaknya berubah menjadi majalah di akhir 1978.

Yang menarik adalah slogan Djaka Lodang berbunyi, ‘Ngesti Budi Rahayu, Ngungak Mekaring Jagad Anyar’ (Berusaha mencari keselamatan tanpa tertinggal informasi baru). Tulisan itu pula yang mewakili filosofi Djaka Lodang untuk terus eksis sembari memberikan informasi kepada pembaca.

Hingga akhirnya, masa kejayaan Djaka Lodang pun hadir setelah 18 tahun berdirinya, majalah tersebut memanen kejayaan bersamaan dengan zaman judi buntut di akhir 1980-an. Kala itu, oplah pembaca mencapai 10 ribu hingga 20 ribu per minggu. Banyak orang yang membeli hanya untuk membaca tafsir demi peruntungan

Penetrasi dunia digital tak bisa dipungkiri membuat Djaka Lodang sulit menemukan kejayaannya kembali, meski tetap memesona di kalangan pembaca setia. Majalah yang tahun depan berusia setengah abad ini pun masih berusaha eksis dengan menghadirkan Djaka Lodang Online. (roso daras)

Penampilan Djaka Lodang versi online.
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *