Djaka Lodang, Menolak Jadi Pecundang

Jayakarta News – Hidup segan mati tak mau, begitulah nasih sejumlah majalah berbahasa Jawa. Kondisi yang kurang lebih sama, juga dialami oleh majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang. Meski begitu, majalah yang terbit di Yogyakarta ini menolak jadi pecundang.

Terbit 1 Juni 1971, artinya saat ini sudah berusaia 49 tahun. Momentum jelang setengah abad, majalah itu mengibarkan inovasi peluncuran websita www.jakalodang.com. Oleh pendiri dan para punggawanya, inovasi tersebut didedikasikan bagi usaha aktualisasi terhadap perkembangan zaman.

Media Djaka Lodang Online diluncurkan tanggal 2 Juni 2020, dikaitkan dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila dan halal bihalal 1441 Hijriyah. Salah satu pengisi acara adalah R. Bambang Nursinggih, S.Sn, seorang pemerhati kebudayaan Jawa, sastrawan Jawa, juru beksa penulis dan juru dongeng.

Bambang membawakan kidung donga berbahasa Jawa berjudul “Kidung Kepyakan Djaka Lodang Online”. Begini kidung lengkapnya:

Kidung Kepyakan Djaka Lodang Online

Dening: R. Bambang Nursinggih, S. Sn.

Nadyan negara lagi prihatin, kambah ambah-ambah COVID-19// kang mahanani pangupa jiwa, panguripane gotrah susah // Kalawarti Djaka Lodang gumregah, panggah gagah jumangkah // Leladi sutresna lan pamaose, asung panglipur lan warta amrih ora semplah //  Mahanani  Djaka Lodang kalawarti Basa Jawa rahayu widada //  niskala adoh saka sapu dhendha klawan tulah sarik

Djaka Lodang kalawarti Basa Jawa, mangka kawah candradimuka // lan wadhah kanggo gladhen megar mekare kabudayan Jawa // mligine kasusastran, datan ngemot Warta Ngayawara // Temah bisa ambuka wiwara kaptine sutresna kang maos, // nggennya nyecep ngelmi ing kalawarti nyaring warta kanthi tliti // mahanani cipta, karsa lan rasane para maos mongkog

Kacihna kalawarti Djaka Lodang ing ambalwarsane kang ka-49 // Nglenggana lamun jamane wis maju, amrih tan kepancal jaman, // nuli ngenut ombyake kahanan, kanthi ngepyakake Djaka Lodang Online, // pamrihe nggampangake bebadan Djaka Lodang anggone sesambungan // klawan sutresnane gangsar tanpa pepalang // Kanthi ngugemi pamrayogane pamarentah, // Resikan ora sanja-sinanjan lan cedhak-cedhakan, // nanging lumantar piranti kang aran media sosial

 Sarehne pengetan ambalwarsane kang ngancik setengah abad // Tan lali kalawarti Djaka Lodang mengeti laire Pancasila dhasare negara 1 Juni, // lan ambalwarsane isih ana ing wektu sasi Sawal, kalawarti Djaka Lodang  // tan ninggal adat kang wis kelumrah ya kuwi ngadani Halal bi halal

Buuul, kabul, kabula, // sedya luhure kalawarti Djaka Lodang ngepyakake Djaka Lodang Online // kang mungguh, ngukup kanugrahan kang nirmala, ndayani minangka // papan megar mekare kabudayan Jawa kang resep // lan kuwagang mambengi Warta Ngayawara // kang sengaja gawe gendra, ngrusak adab budayane bangsa, // uga mangka sumbering wur kang sempulur // mahanani mulyane kulawangsa bebadan Djaka Lodang

Minomartani, 1 Juni 2020

Pendiri Djaka Lodang, Abdullah Purwodarsono (kiri) dan Bambang Nursinggih (kanan). (foto: ist)

Sekilas Djaka Lodang

Mengutip situs jogja.suara.com, tersingkap sejarah menarik Djaka Lodang yang berjaya di tahun 90-an. Saat itu, banyak orang yang meramalkan bacaan demi peruntungan, hingga oplah mencapai 20 ribu per minggu. Banyak tulisan Djaka Lodang ditafsir menjadi kode buntut atau judi togel.

Menempati kantor di Jalan Patehan Nomor 29 Kota Yogyakarta majalah ini masih memiliki pelanggan setia, meski usia pelanggan rata-rata generasi manula. Abdullah Purwodarsono, adalah satu (di antara dua) pendiri yang masih hidup dan menggulirkan majalah ini.

Hampir setiap hari, Senin hingga Jumat, Abdullah menghabiskan waktu untuk membaca dan mengoreksi tulisan kiriman wartawan maupun kontributor. Akibat kesibukan mengoreksi tulisan, ia sendiri mengaku jadi jarang menulis.

Pria berusia 90 tahun itu cukup dikenal sebagai perawat bahasa Jawa yang dilestarikannya melalui Djaka Lodang. Ia adalah pensiunan guru SMA Negeri 2 Yogyakarta. Kariernya sebagai penulis dimulai dengan menjadi kontributor di majala berbahasa Jawa Kembang Brayan, yang terbit di Yogya.

Sejak ia rajin menulis, oplah majalah itu merangkak naik hingga 3.000 eksemplar. Tetapi, satu saat harus berhenti terbit karena mis-manajemen.

Atas desakan sejumlah teman, ia menggandeng sahabatnya Koeswandi, seorang pemimpin percetakan ternama di Yogya. Keduanya sepakat mendirikan Yayasan Kartika Sakti, dan menerbitkan majalah Djaka Lodang tahun 1971. Abdullah mengurus redaksional, Koeswandi mengurus produksi. Koeswandi sendiri sudah wafat tahun 2002.

Abdullah dan Koeswandi yang mencetuskan nama Djaka Lodang yang diadaptasi dari karangan Pujangga Jawa, Rangga Warsita. Awal penerbitannya, sempat kena sindir.

Protes melalui tulisan dalam koran mingguan Pelopor Yogya bertajuk: ‘Hidup dari perpecahan dalam perpecahan, didominasi parpol tertentu dan dibiayai Jenderal Surono Rp 200.000’, pun dituai Djaka Lodang di masa awalnya melangkah.

Salah satu cover majalah Djaka Lodang. (ist)

Banyak yang mengira Djaka Lodang berhubungan dengan kepentingan politik, karena hadir bertepatan di masa tenang Pemilu yang digelar kali pertama pada masa Pemerintah Orde Baru di Tahun 1971. Selain itu, kehadiran Djaka Lodang kerap dikaitkan dengan kelompok. Pun dikaitkan dengan perpecahan yang dialami ‘saudara tuanya’, Kembang Brayan.

Bukannya kesal, Abdullah justru senang dengan pemberitaan ‘miring’ tersebut. Bagi Abdullah, pemberitaan tersebut adalah iklan gratis yang bisa menaikkan pamor Djaka Lodang.

Pada masa awal kehadirannya, Djaka Lodang memilih berkantor di Taman Hiburan Rakyat (THR), Yogyakarta yang saat itu dijadikan terminal. Bukan tanpa sebab lokasi tersebut dipilih di masa-masa awal membangun citraan majalah tersebut.

“Setahun kita berkantor di THR. Orang yang naik turun bus pasti lihat kantor Djoko Lodang, jadi mereka bisa beli,” katanya.

Sebagai media massa yang baru terbit, Djaka Lodang memiliki satu rubrik unggulan yang hingga kini tetap legendaris, Jagading Lelembut. Rubrik yang memuat cerita mistis dan mitos ini langsung digandrungi pembaca Djaka Lodang kala itu dan bertahan hingga kini.

Banyak orang menaruh perhatian dengan cerita dalam rubrik tersebut. Bahkan, konon rubrik bertema horor ini menjadi yang pertama di dunia pers Indonesia.

Dari tabloid delapan halaman, Djaka Lodang bertransformasi menjadi selembar koran dan puncaknya berubah menjadi majalah di akhir 1978.

Yang menarik adalah slogan Djaka Lodang berbunyi, ‘Ngesti Budi Rahayu, Ngungak Mekaring Jagad Anyar’ (Berusaha mencari keselamatan tanpa tertinggal informasi baru). Tulisan itu pula yang mewakili filosofi Djaka Lodang untuk terus eksis sembari memberikan informasi kepada pembaca.

Hingga akhirnya, masa kejayaan Djaka Lodang pun hadir setelah 18 tahun berdirinya, majalah tersebut memanen kejayaan bersamaan dengan zaman judi buntut di akhir 1980-an. Kala itu, oplah pembaca mencapai 10 ribu hingga 20 ribu per minggu. Banyak orang yang membeli hanya untuk membaca tafsir demi peruntungan

Penetrasi dunia digital tak bisa dipungkiri membuat Djaka Lodang sulit menemukan kejayaannya kembali, meski tetap memesona di kalangan pembaca setia. Majalah yang tahun depan berusia setengah abad ini pun masih berusaha eksis dengan menghadirkan Djaka Lodang Online. (roso daras)

Penampilan Djaka Lodang versi online.

Kidung Pisungsung, sebuah Sastra Mantra Corona

Jayakarta News – Penggiat sastra mantra Jawa, R. Bambang Nursinggih, S.Sn seperti biasa, dengan bahasa Jawa halusnya hari ini (28/4/2020) berkirim pesan WhatsApp, “Punten dalem sewu menika kula kintuni gurit kangge waosan, gurit menika badhe kagiyaraken ing RRI Pro4 Yogyakarta mangke dalu.”

Jika diartikan, kurang lebih, “Mohon maaf, ini saya kirimi gurit (puisi berbahasa Jawa) untuk bacaan. Gurit ini akan disiarkan di RRI Pro4 Yogyakarta nanti malam”. Selama ini, penulis buku-buku Geguritan (puisi berbahasa Jawa) itu memang acap didaulat tampil di berbagai hajat.

Bambang Nursinggih, adalah sedikit sastrawan Jawa yang tinggal di Yogyakarta dan konsisten menekuni geguritan. Bukan hanya puisi berbahasa Jawa, oleh banyak kalangan, gurit karya Bambang Nursinggih bahkan masuk ranah sastra mantram atau sastra mantra. Mantram atau mantra, adalah doa.

Yang menarik, dalam banyak sastra mantra, Bambang tak lupa menukil ayat-ayat suci Alquran, dengan tetap diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa yang puitis. Ia mengingatkan banyak orang kepada kiprah Sunan Kalijaga atau para wali yang lain.

Tak heran jika Bambang, yang juga anggota Teater Alam Yogyakarta angkatan tahun 80-an itu acap diminta berbagai pihak, baik perorangan, korporat atau institusi pemerintah untuk melakukan ritual sastra mantram. Suatu ketika, Bambang dan rombongan melantunkan geguritan di tengah sawah. Sebuah geguritan memohon berkah atas panen yang melimpah.

Kali lain, ia ada di tengah sungai juga mengidungkan geguritan sastra mantra sebagai penghargaan atas peran sungai dalam kehidupan manusia, pertanian, dan lain sebagainya. Tidak saja sebagai pengalir air, tetapi juga “penyedia” ikan-ikan yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Bahkan, panitia acara pembukaan atau peresmian tempat usaha, pembukaan pameran lukisan, dan berbagai kegiatan lain sering pula meminta Bambang Nursinggih membacakan geguritan sastra mantram. Peran yang sesungguhnya lazim dibawakan oleh “pembaca doa” dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Menjadi beda, karena Bambang membawakannya dengan geguritan yang dilantunkan dengan nada-nada tembang Jawa. Bambang dan kelompoknya (LKJ Sekar Pangawikan) juga berbusana Jawa, lengkap dengan blangkon dan kerisnya. Suasana yang terbangun menjadi sangat magis. Bahkan, orang tidak perlu harus mengetahui artinya, untuk bisa terhipnotis dalam suasana doa yang khusuk.

R. Bambang Nursinggih, S.Sn (tengah) memimpin pembacaan geguritan sastra mantram di RRI Pro4 Yogyakarta. (ist)

Sastra Mantra Corona

Akan halnya kegiatan malam ini. Saat Bambang dan kelompok geguritannya diminta RRI Pro4 Yogyakarta membawakan kidung sastra mantra berjudul “Kidung Pisungsun, Katur Pejuang Kamanungsan”. Begini gurit lengkapnya:

Dhokter, perawat, Tentara, Pulisi / lan Relawan pejuang kamanungsan kang tulus, / saguh nempuh kewuh, minangka beteng lan cucuk laku kang teguh / Panjenengane luruh ora adigang, adigung, adiguna, gumyur lan bingung, / kepara puguh, ngadhepi virus Korona kang angkuh / Lila legawa toh nyawa, ora keguh senajan pupus nempuh virus ampuh / Panjenengane tan lumuh mamrih harjane negara dimen saya kukuh bakuh

Atine sapa kang ora treyuh, / senajan dudu sanak, dudu kadang, kepara durung wanuh, / weruh Dhokter, perawat, Tentara, Pulisi lan Relawan / pejuang kamanungsan minangka cucuk laku, keluluh ing pupuh / Kang gugure gawe angluh sesepuh pinisepuh

Panjenengane gugur minangka tawur ing perang brubuh / Kang gawe angluh, ora gugur campuh mungsuh, / nanging mungsuh virus Korona ampuh / Panjenengane gugur minangka pejuang kamanungsan kang teguh

Minangka atur panuwun, sun sungsung Kidung pisungsung kang ampuh / minangka donga tetulak dimen virus Korona enggal mamprung ora tansah gawe kisruh

Ayo sedulur, cancut gumregut nyalik kampuh nglawan virus Korona kang ampuh / Memuji lan ngupiya cara, ora sembrana lan ngremehake ampuhe virus / Kanthi legawa, sawetara ora kumpul-kumpul ngalor ngidul, nggedebus, / kang resikan, kerep wisuh ara lumuh adus / Pambrasthane virus Korona mawa cara kang alus / Katempuh kanthi guyub rukun, ora bingungan lan kumenthus / Kanthi umbul donga kang tulus, virus Korona mesthi lampus / Temah negara negara rahayu lulus tulus

Minómartani, 27 Maret 2020

(roso daras)

SIMAK VIDEO-nya

Dhahar Kembul Jenang Lemu di Malam Tirakatan Harlah Pancasila

Ritual budaya Malam Tirakatan Harlah Pancasila di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis (31/5) malam. Foto: Ist

YOGYA kota budaya. Malam Tirakatan Hari Lahir Pancasila, Kamis (31/5) pun sarat ritual budaya. Acara yang digelar mulai pukul 20.00 WIB itu, tak pelak menjadi kegiatan kebangsaan yang dikemas secara menarik. Tak heran jika wisatawan pun antusias mengikuti, bahkan terlibat dalam acara yang digelar di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta.

Acara yang digelar Komunitas Perempuan Yogyakarta itu, didukung elemen lain seperti Kagama, Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan, Koseta, Padi, LKJ Sekar Pengawikan, dan lain-lain. Doa bersama disusul dhahar kembul jenang lemu (makan bersama jenang lemu) bersama Sujarjoso SK Margono Widyasworo, Ki Sutikno, Miftah Bacria Saadah, Leana and Friends, Ivy Laurens, Bambang Nursinggih, dll.

Acara dibuka dengan Ritual Kidung Rumeksa Pancasila (berbahasa Jawa) karya R. Bambang Nursinggih oleh LKJ-Sekar Pangawikan pimpinan R. Bambang Nursinggih. Kemudian renungan serta orasi kebudaayaan bersama Dewan Kebudayaan Yogyakarta, Kharis Zubair, serta musikalisasi puisi.

Puncaknya, pembacaan deklarasi oleh Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan, disusul gragmen lahirnya Pancasila oleh Teater Gadjah Mada. Dalam kesempatan itu, Ki Sutikno membawakan Renungan Pancasila. Partisipan lain, menghibur dengan sejumlah repertoar musik dan lagu.

Bambang Nursinggih juga tampil membacakan geguritan (puisi bahasa Jawa), berjudul “Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila”. Seluruh rangkaian ditutup dengan pembacaan doa lintas agama. Setelah itu, makan jenang lemu bersama (dhahar kembul jenang lemu). ***

R. Bambang Nursinggih, membacakan geguritan (puisi berbahasa Jawa) “Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila”. Foto: Ist

 

Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila*

Karacik dening ; R. Bambang Nursinggih, S. Sn.**

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon

Lir wukir ginoncang angin, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, oooo

 

Gara-gara, apa ta tandhane gara-gara kang nggonjak Yogyakarta.

Kawula gendra nggugu karsa priyangga, gawe sengsara kawula

Ya jalaran pakartine tetunggul tan bisa tinuladha,

ngangsa-angsa dhemen ngumbar nepsu candhala

Pindha brahala ngumbar angkara nedya nguntal negara,

mulyaake kawula minangka pawadan, jebul ngugung kersane wangsa

 

He durjana, aja padha murang tata. Nggonjak Ibu Pertiwi. Ponang Indonesia.

Kang adil paramarta. Bebarengan dipepetri. Murih raharja. Kuncara kadi wingi.

 

Lamun kawula paham bab Pancasila, negara ora bakal geger gombel

beda karep lan tata cara, bab-bab kang remeh digawe udreg,

becik Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila

 

Muji hayu, ing ngarsane Gusti. Warga Yogja nyadhong pangayoman. Andhap asor adhedhepe.

Cipta tansah angidung. Ngreksa yuwanane Pertiwi. Tinebihna king walat. Srana jenang lemu.

Rumeksa pan Pancasila. Patik nggadhang Indonesia makmur adil. Bangsa nunggal sajuga.

Amung dhateng, Jengandika Gusti. Inggih Pangeran Kang Maha Wikan. Tuhu welas myang dasihe.

Patik nyuwun panjangkung. Ngidung laire dhasar nagri. Pun ponang Pancasila. Ical malanipun.

Temah Pancasila lana. Mangka dhasar nagri Indonesia adi. Amin tutuping puja.

Mangka Pancasila dudu asil pamikire politisi lan ahli demokrasi jaman saiki.

Kepara Pancasila wis ngumandhang sadurunge Indonesia disebut NKRI

Kena apa, pendhak-pendhak arep tumapake gawe, Pancasila diucik-ucik

Dimen ora nuwuhake gendra,

pangukir Pancasila koma-koma lan bedhamen anggone ngukir.

Kenapa bedhamen kuwi ditindakake,

jalaran pangukir ngajap Pancasila minangka dhasaring NKRI.

Bangsa Indonesia salah sawijine bangsa kang ora nate njajah bangsa liya.

Jalaran rasa kamanungsane kajiret rapet ing sanubarine bangsa kang luhur berbudi bawalaksana

Lamun ngajap kehing dur bisa kabirat, ayo Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila dhasaring negara kang wis lawas angslup datan kacatur, enggal-enggal karangkul murih ora kebanjur nyrunthul ucul.

Kawula-gusti, narapraja lan wira mudha, pundhinen Pancasila minangka keblating bangsa Indonesia.

Murih Ibu Pertiwi ora duhkita, kawulalit kentas king kasangsayan, bisa nyecep adil kang sanyata,

bisa icip-icip kamulyan lan antuk payung kukum kang murwat

Kanthi ngregem semangate Bung Karna pahlawan nasional,  presidhen RI kapisan

kang nggagas laire Pancasila dhasaring negara, klawan mandhe semangat persatuan,

tan mangrwa mring darma, linambaran semboyan Bhineka Tunggal Ika, kekancing UUD ’45,

ayo gandheng konca, nunggal tekad njlumat NKRI dimen kaloking rat

 

Merdeka, merdeka, merdekaIndonesia, tetap Jaya !!!!

Rahayu, rahayu, rahayu

 

Minomartani, 31 Mei 2018

*) Kawaos ing Titik 0, adicara tirakatan mengeti hari lahir Pancasila 2018,  tgl 31 Mei 2018.

**) Pametri kabudayan Jawa, Sastrawan Jawa, juru beksa, panulis lan juru dongeng, Ketua LKJ-Sekar Pangawikan (Bima Kunthing no. 2, Ngayogyakarta), Ketua PSJKS (Paguyuban Sastrawan Jawa Kabupaten Sleman), Ketua Sekar Nawung Bujano, Ketua GPMB D. DIY, peng. LSBO Kab. Sleman, mapan ing Jln. Gurameh II/04, Perum. Minomartani, Ngaglik, Sleman, telp. 0274. 886165, 0274. 520511,  0851 0087 5883, 0822 7333 7487, Email: skr.pangawikan@gmail.com.

 

Ramesan Dongeng dengan Diakritik

Buku “Dongeng Ramesan”, buku dongeng berbahsa Jawa, karya R. Bambang Nursinggih, S.Sn. Foto: Ist

DI sebuah grup whatsapp, seorang sahabat lama, R. Bambang Nursinggih, S.Sn tampak sedang berada dalam sebuah forum bedah buku. Penasaran dengan kegiatan yang ada dalam foto itu, segera saya japri yang bersangkutan, “Sugeng dalu mas Bambang. Minta keterangan acara njenengan yaaa, buat saya jadikan berita di www.jayakartanews.com.”

Tidak lama kemudian, Bambang pun menjawab, “Buku ramesan dongeng menika dongeng basa Jawi mawi ‘diakritik’ utawi tandha waos supados nggampilaken pamaos. Kejawi menika, saget negesi tembung kanthi trep lan leres. Isinipun 15 dongeng uger irah-irahan/judul wonten gambar tangan, jinurung/kata pengantar saking Kepala Balai Bahasa Yogyakarta. Oh inggih, dhimas ndika samenika mapan ing pundi? Saupami ing Ngayogya kula caosi.”

Ah… mas Bambang ini memang Jawa tulen. Sisi kejawaan saya dibuat gelagapan mendapat jawaban dalam bahasa Jawa yang begitu halus dan runut. Meski paham maksudnya, tetapi ketika harus menerjemahkan ke Bahasa Indonesia, ternyata sulit, sesulit membalik telapak kaki. Apa boleh buat, karena itulah inti dari pertanyaan saya terkait acara Bambang, mau tidak mau harus di-bahasa-Indonesia-kan.

Kalimat di atas, kurang lebih begini: “Buku Ramesan Dongeng ini (berisi) dongeng bahasa Jawa dengan ‘diakritik’ atau tanda baca supaya memudahkan pembaca. Selain itu, bisa memberi penegasan pada kalimat dengan pas dan benar. Isinya 15 dongeng dengan judul, gambar, kata pengantar dari Kepala Balai Bahasa Yogyakarta. Oh ya, Anda sekarang tinggal di mana? Kalau di Yogya, saya beri (buku ini).”

Suasana diskusi bedah buku “Ramesan Dongeng” karya R. Bambang Nursinggih, S.Sn. Foto: Ist

Lebih lanjut, masih dalam bahasa Jawa halus, lelaki kelahiran Madiun, 10 Desember 1952 itu menambahkan, diskusi buku Ramesan Dongeng, berlangsung Selasa (8/5), pukul 13.30 sampai selesai, di Lantai 2 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta Jl. Letjen Suprapto No.33A, Ngampilan.

Buku Ramesan Dongeng itu ditulis menggunakan bahasa Jawa oleh R. Bambang Nursinggih, S.Sn dibahas oleh dua narasumber. Mereka adalah Dra. Suyami, M.Hum, (Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY) dan Drs. Riyanta (Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta) dengan moderator Suwarta, S.Pd. (Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan). Acara bedah buku yang diikuti para TK dan SD itu berlangsung menggunakan bahasa Jawa.

Bambang Nursinggih sendiri seorang pensiunan, seniman, sastrawan, penari, pendongeng, penulis cerita anak, dan penggurit (penulis puisi bahasa Jawa). Karya buku Bambang Nursinggih sebelumnya, antara lain “Aja kok Ijoli Warisanku”, “Alam Desaku”, “Jogja Sinangling Gurit” (geguritan), “Dongeng Sato Kewan 1” (cetak ulang) dan “Ramesan Dongeng 1”. Di luar buku yang ia tulis sendiri, tercatat lebih dari 15 judul buku lain yang ia tulis bersama penulis lain.

Berkat konsistensi dan ketekunannya, Bambang Nursinggih meraih sejumlah penghargaan. Tahun 2015, ia tercatat sebagai penerima Hadiah Sastra Yasayo (Yayasan Sastra Yogyakarta) sebagai Sastrawan Jawa. Tahun 2017, tercatat sebagai “nomine” kategori Tokoh Penggerak Bahasa dan Sastra Jawa dari Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat ini, Bambang Nursinggih tercatat sebagai Ketua GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Provinsi DI Yogyakarta dan Ketua Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan. ***

R. Bambang Nursinggih, S.Sn (duduk kedua dari kiri) bersama para pembahas, moderator, dan peserta diskusi, bedah buku Ramesan Dongeng. Foto: Ist