Ada Leo di Antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang

 Ada Leo di Antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang
Penulis (Martua Silalahi) dengan latar belakang Candi Prambanan. (foto: dok jayakartanews)

JAYAKARTA NEWS – Ingat candi Prambanan, ingat Leo Patty. Mungkin Anda menebak-nebak, siapa Leo? Dia rekan kami di Jayakarta News. Pria Ambon berkulit bule ini, nyaris babak belur dihakimi rekan-rekannya sendiri. Untung, dia selamat, karena teman-teman merasa sungkan hati kepadanya.

Bagaimana duduk persoalannya?

Ini ada kaitannya dengan cerita Jayakarta News Goes to Jogja, 1 – 4 Februari 2019. Hari kedua, kami berwisata ke Candi Prambanan yang terletak di antara dua kabupaten (Sleman dan Klaten), dan dua provinsi (DI Yogyakarta dan Jawa Tengah). Selain berfoto-foto dengan latar belakang candi, tak henti-henti decak kagum teman-teman demi melihat hamparan komplek candi dengan pelataran taman yang luas, ridang lagi hijau.

Lantas, apa kaitannya dengan Leo?

Tunggu dulu. Ini tentang keindahan Candi Prambanan yang bahkan sudah ditetapkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural) sebagai warisan dunia sejak tahun 1991. Komplek candi Hindu terbesar di Indonesia ini pun berbenah dari waktu ke waktu. Tidak heran jika selain megah, juga indah.

Dengan tiket masuk seharga Rp 40.000, rasanya sepadan dengan keindahan dan kepuasan yang didapat. Hari itu, Sabtu (2/2/2019) kami sudah berada di lokasi menjelang pukul 07.00. Sebenarnya masih sangat pagi, tetapi seorang rekan mengatakan, komplek candi buka pukul 06.00, dan seharusnya pukul 06.00 kami sudah masuk.

Sampai bagian ini, di mana kisah Leo Patty? Dan apa yang membuat Leo yang baik hati itu nyaris menerima nasib tragis?

Sebentar dulu. Ini juga ada kaitannya. Yakni kaitan antara kisah yang mengingatkan Prambanan dengan Leo. Terkait dengan ratusan candi berukuran besar dan tinggi yang ada komplek Candi Prambanan. Tiga bangunan candi tampak paling menonjol yakni Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Candi Siwa adalah tempat arca legendaris Roro Jonggrang bisa dilihat. Fisik candi terbilang paling tinggi, 47 meter. Ratusan orang bergantian menapaki tangga ke atas untuk bisa masuk dan melihat penampakan arca Roro Jonggrang.

Dari kiri: Gatot, Martua Silalahi, Nina, Dini, Iswati, Katmin, Elty, Ridwan Maga, Herdi, dan Mahmud. (foto: dok jayakartanews)

Ridwan Maga, salah satu anggota rombongan Jayakarta News sangat mengagumi bangunan candi yang terbuat dari batu dan kaya akan relief simbolik. ”Lihat dan perhatikan, batu-batu itu tersusun dan saling mengikat satu sama lain dengan kokohnya,” ujarnya kagum. Belum habis memuji, ia melanjutkan, “betapa tinggi peradaban leluhur kita zaman dulu. Membangun candi seperti ini, butuh ilmu tinggi.”

Kami sekelompok rombongan Jayakarta News pun dengan antusias mengemukakan pendapat dan kekagumannya atas Candi Prambanan. Mendadak semua menjadi pengamat dan analis candi. Mendadak semua serasa arkeolog. Mendadak semua jadi sejarawan.

Ada yang mencermati relief atau motif ukiran di dinding batu candi. Ada yang berdebat perlu-tidaknya penangkal petir di bangunan candi. Yang berpendapat perlu, menganggap itu penting, agar bangunan candi tidak rusak jika tersambar petir. Sedangkan yang berpendapat sebaliknya, menganggap pemasangan penangkal petir di puncak candi, dengan bentang kawat atau kabel menjulur ke bawah sebagai arde, justru merusak orisinalitas bangunan candi.

Nah, di sinilah kisah tentang Leo bermula.

Sambil menenteng kamera SLR bak fotografer profesional, ia bergabung dengan kelompok yang sedang mendiskusikan keindahan Candi Prambanan. Seperti orang tidak berdosa, tiba-tiba Leo menyela pembicaraan dengan mengajukan sebuah pertanyaan. “Sebentar… sebentar… ada yang tahu nggak, siapa yang membangun candi Prambanan?”

Wah… sepertinya diskusi bakal makin menarik nih. Ada yang spontan menyebut, “Ditilik dari lokasinya, ini pasti dibangun oleh Raja Mataram Kuno.” Yang lain mencoba menjawab pertanyaan Leo, “Kalau tidak salah Wangsa Syailendra”…. sebuah jawaban yang sontak disanggah teman yang lain, “hussh… itu Borobudur!”

Kukira lebih dari tiga menit, kami berdiskusi tentang siapa yang membangun Candi Prambanan. Sejauh itu, Leo hanya senyum-senyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Persoalannya, mengapa tidak segera saja memberi tahu kami, siapa yang membangun candi Prambanan? Atau jangan-jangan Leo sendiri tidak tahu?

Setelah habis peluru jawaban dilontarkan dan tidak ada satu pun yang mengenai sasaran, barulah Leo berkata, “Mana mungkin raja membangun candi. Yang membangun ya kuli. Namanya kuli candi….”

Berkata begitu Leo tertawa ngakak sambil ngeloyor pergi. Kontan kami menggerutu setelah ikut tertawa lebar. “Kalau bukan Leo udah aku bikin rendang dia!”. Yang lain tak kalah bersungut, “Kalau bukan Leo sudah saya kutuk jadi patung dia.” Yang lain menimpai, “Iya benar… biar jadi 1001 candi!”

Tidak. Kami tidak benar-benar marah, dan sama sekali tidak berniat menyakiti Leo. Terlalu lucu untuk kami gebugi. Terlalu baik hati untuk kami sakiti. Oh Leooooo Leo…..!!! We love you full….

Empat di kiri: Roso D, Agus S, Gatot S, Martua S. Empat di kanan: Jumadi, Leo Patty, Katmin, dan Abah Fachrudin. (foto: dok jayakartanews)

***

Kendati menjelajahi komplek Candi Prambanan tidak ke semua area, tetapi melelahkan juga. Sepanjang berjalan dan berjalan, meski disediakan tempat istirahat di bawah teduhnya pohon rindang. Bahkan sambil istirahat, bisa juga berswafoto di sepeda gantung, ayunan, dan lan-lain.

Usai melewati pintu keluar candi, tersedia area belanja souvenir dan aneka kuliner. Komplek candi yang dibangun abad ke-9 Masehi, tetap menjadi destinasi utama bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta.

Dari berbagai cerita yang dikumpulkan, legenda terbentuknya candi Prambanan bermula dari seorang pemuda bernama Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik bernama Roro Jongrang. Dikisahkan sebenarnya Roro Jonggrang tidak suka dengan Bandung Bondowoso, tapi tidak enak hati untuk menolak mentah-mentah. Ia lalu mencari akal dengan cara membuat permintaan yang mustahil bisa dipenuhi. Roro Jongrang bersedia diperistri dengan syarat dibuatkan seribu arca dalam satu malam.

Permintaan Roro Jongrang pun langsung direspons Bandung Bondowoso dengan menyatakan kesanggupannya. Malam tiba. Pekerjaan membangun seribu arca pun dilakukan. Dengan bantuan makhluk halus, maka pekerjaan membuat seribu arca bukan persoalan yang sulit.

Melihat Bandung Bondowoso memenuhi permintaannya, maka Roro Jonggrang bersiasat. Dipanggillah semua dayang-dayang. Mereka diminta menabuh lesung laiknya orang menumbuk padi di pagi hari. Mendengar lesung ditalu, ayam jantan pun berkokok sahut-menyahut. Ayam berkokok adalah patokan pagi telah datang. Malam berganti siang.

Roro Jonggrang pun menemui Bandung Bondowoso dan menghitung jumlah arca yang berhasil dibuat dalam satu malam. Hasilnya, 999 arca, alias seribu kurang satu. Dengan dalih itu pula, Roro Jonggrang menolak pinangan Bandung Bondowoso.

Kesal dengan keputusan Roro Jonggrang, dan geram ketika tahu bahwa Roro Jonggrang berbuat curang dengan menabuh lesung sebelum waktunya, murkalah Bandung Bondowoso. Dengan kesaktiannya, ia pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu dan menggenapi semua karyanya menjadi seribu candi.  (Martua Silalahi)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *